Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Siapakah Sindy Purbawati Si Pelantun "Kidung Gaza Palestina"?

Siapakah Sindy Purbawati Si Pelantun "Kidung Gaza Palestina"?

 

Tidak seperti pesinden lain, Sindy Purbawati adalah nama asli. Sindhi Purbawati adalah penyanyi atau Sinden Campursari, Keroncong, Rock dan Dangdut. Sindy Purbawati memulai kariernya dari masih di bangku sekolah dasar. Sindy Purbawati juga dikenal sebagai artis cilik atau sinden cilik. Ia kelahiran, Banyuwangi, Jawa Timur, 22 Agustus 1991.

Nama Sindy Purbawati telah masuk dalam jajaran tokoh dalam wikipedia. Pada awal 2017, Sindy Purbawati bergabung dengan perusahaan rekaman dan publishing PT Pancal Records Indonesia yang kemudian merilis album perdana Ora Keturutan karya dari Pancal 15. Sebelumnya Sindy Purbasari awal tahun 2016 berada di bawah label SK Pro PT. Semar Kembar Production dan merelease album Campursari.

Lagu lain yang sekarang sedang hits adalah Ramalan Joyoboyo. Lagu tersebut diluncurkan di channelnya sendiri pada  3 Februari 2021. 

Seperti apakah lagu tersebut? Silakan simak video berikut.





 Kidung Doa Untuk Palestina

Kidung Doa Untuk Palestina


Berempati terhadap duka yang dialami rakyat Palestina, diluncurkanlah doa dalam bentuk kidung (lagu dalam bahasa Jawa) berjudul Kidung Gaza "Palestina.” Dinyanyikan oleh Sindy Purbawati. Kidung tersebut ditulis oleh Pancal15 (bukan nama sebenarnya) sekaligus dengan garapan komposisi  musiknya.

 

Berikut lirik lagu Kidung Gaza "Palestina."

 

Nyawa Tanpa aji

Kulumur Ngerah Pati

Mbrubuh Tan wisana

Njarah Donya uga kuta

 

Ragaku Tan Daya

Nora kuat kaya Dewa

Mung iso ndedongo

Marang Gusti kang kuasa

 

Panyuwunku Enggal kretya

Tan ana angkara murka

Mugia palestina sageta merdeka

 

Terjemahannya”

 

Nyawa tak berharga

Berlumuran darah menuju kematian

Pertempuran dahsyat tiada henti

Penjarahan dunia dan kota

 

Ragaku tak berdaya

Tidak sekuat dewa

Hanya bisa berdoa

Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

 

Permohonanku segera damai aman tentram

Tak ada lagi angkara murka

Semoga Palestina bisa merdela

 

Berikut video Kidung Gaza "Palestina"



 

Kitab Tauhid Anak - Untuk Sekolah Umum

Kitab Tauhid Anak - Untuk Sekolah Umum

 




Muatan religius menjadi Kompetensi Inti dalam kurikulum pendidikan nasional. Muatan religius sama pentingnya dengan Kompetensi Sosial dan Kompetensi-Kompetensi Dasar lain di dalamnya. Semua bermuara pada tujuan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lebih-lebih dalam visi-misi Presiden RI dinyatakan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menjadi kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi oleh institusi pendidikan, yang dalam kurikulum disebut sebagai Kompetensi Inti. Desakan tersebut untuk menanggulangi era industri 4.0 - 5.0 dan globalisasi. Hanya dengan memperkuat dimensi religius dan akhlaklah yang mampu menjadi tameng agar bangsa ini selamat dari gerusan zaman sehingga identitas dan personalitas bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang beradab tetap lestari.

Terbatasnya pengetahuan religius di institusi pendidikan umum (SD, SMP, SMA) lebih-lebih di era milenial (langgas) bahkan pada generasi Z menjadi alasan utama lahirnya buku ini. Jumlah jam pengetahuan religius yang dalam kategori mata pelajaran dipenuhi hanya oleh guru Pendidikan Agama, sebenarnya tidak cukup memenuhi kehausan akan pengetahuan religius. Diharapkan dengan lahirnya buku ini, sedikit membantu rasa dahaga tersebut dengan baik. Semoga dengan niatan yang baik dan dalam keridaan Allah, buku ini banyak memberikan manfaat kepada para penerus bangsa besar ini. Aamiin. #kitabtauhidanak


Kitab Tauhid Anak: Berkenalan dengan Allah.  Penulis: S. Herianto & Liza Ulfa Maesura. Editor: Liza Ulfa Maesura. Penata Letak: S. Herianto. Pendesign Cover: S. Herianto. Penerbit: Kanaka. Cetakan: Pertama. Tahun terbit: 2021. ISBN: 978-623-258-601-7

 

Pemesanan dapat menghubungi penulis: 081934989152
Harga Rp. 99.000,-
(transfer ke BNI rek. 8907031974)

Buku Baru: Serial Salimin & Dalimin

Buku Baru: Serial Salimin & Dalimin


Buku baru


Serial Salimin & Dalimin

Penulis : S. Herianto

Ukuran : 14 x 21 cm

Terbit : Maret 2021

Harga : Rp 71000

www.guepedia.com


Sinopsis :


Salimin dan Dalimin adalah dua tokoh sentral dalam buku cerita Serial Salimin dan Dalimin. Salimin dan Dalimin adalah tokoh fiktif. Begitu pula dengan latar tempat, situasi, dan peristiwa yang melingkupinya.

Serial Salimin dan Dalimin adalah potongan-potongan potret fakta dialektika dalam masyarakat yang majemuk, mewakili rekam fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Masyarakat yang multi pemahaman tentang kehidupan. Permasalahan-permasalahan yang diangkat dalam serial ini adalah nyata terjadi dalam kehidupan bermasyarakat walaupun tentu disajikan dalam bahasa yang berbeda sehingga menarik untuk memikirkan ulang segala sesuatu. Dialog antara Salimin dan Dalimin berikut pemeran pendukungnya setidaknya mengurai permasalahan tersebut untuk menemukan pemahaman yang utuh dan mandiri dari pembaca, apapun bentuknya.

Serial Salimin dan Dalimin dibuat dalam bentuk cerita per topik per judul. Walaupun singkat-singkat, tapi setidaknya hasil rekonstruksi tersebut berharga untuk mengisi ruang kosong dan menata ulang pemahaman tentang sesuatu. 

Salimin dan Dalimin berasal dari satu rahim ibu yang sama dengan takdir yang berbeda. Kehidupan mereka jomplang tidak terkira. Keduanya sebentuk simbol bahwa dalam kehidupan pasti ada karakter jahat dan karakter baik. Ada sifat yang pure manusia dan sifat yang berkerabat dengan iblis. Keduanya wajib ada sebagai penyeimbang roda kehidupan agar bertahan dalam perputarannya.

Eksistensi Salimin dan Dalimin ini tidak untuk mempertontonkan siapa yang menang dan kalah atau mana yang benar atau salah, tapi lebih kepada kemerdekaan meraih pemahaman mandiri dari sejumlah masalah yang telah terurai. Tuhan berkata: “Menjadi manusia saja sudah membuatKu tersenyum.”


Pemesanan bisa langsung ke penerbit atau WA penulis 081934989152

Apa Kabar Kelamin?

Apa Kabar Kelamin?

06 Mar @Kolom oleh Taufiku

Terlambat setengah jam dari jadwal yang tertera di undangan ketika saya menjejakkan kaki di Dapur Kultur. Ruangan yang dindingnya banyak gambar tokoh pejuang itu telah dipenuhi peserta bincang buku. Hampir tidak ada kursi kosong. Di deretan depan, tak jauh dari kursi yang diduduki Mas Herianto, penulis buku yang akan dibedah, tersisa satu kursi kosong. Di kursi itulah saya duduk.

Acara ruang tamu yang digagas komunitas membaca Tore Maos sore itu membedah buku Bibir Merah Dari Alhambra (BMDA). Saya mendapatkan buku bersampul putih dengan gambar bibir merah merekah ini seminggu sebelumnya dari penulisnya.

Seorang gadis tanggung duduk di depan peserta sedang bernyanyi. Ia memakai kerudung dan celana berwarna hitam. Bajunya berwarna merah seperti merah warna tulisan di sampul buku yang hendak dibincangkan. Ada motif bunga di kedua lengan bajunya. Sesekali ia tersenyum kepada orang-oranng di depannya, tetap sambil bernyanyi. Santai sekali, seperti menikmati lagu yang dilantunkannya. Sesekali pula tangannya menyentuh layar hape yang dipegangnya. Mungkin membaca lirik yang tidak begitu dihafal atau entahlah saya tak tahu apa yang dilihatnya.

Di samping kanan gadis, duduk remaja laki-laki berkacamata. Di pangkuan lelaki berkaos hitam itu ada gitar berwarna cokelat yang dari tadi tak berhenti mengeluarkan bunyi. Di atas paha kirinya yang dibungkus celana hatam, ada hape yang layarnya menyala. Pandangan remaja itu tak lepas dari hape. Mungkin melihat kunci nada lagu yang dimainkannya.

Satu lagi lelaki yang duduk di hadapan peserta. Di depan memang ada tiga kursi dan satu meja, tetapi yang seorang ini tidak di kursi. Ia duduk di kotak kayu yang dipukulnya dari tadi. Pukulannya berirama, rancak dengan suara gitar dan lagu yang dinyanyikan gadis.

Setelah saya mendengar dua lagu dinyanyikan, tiga anak muda itu berpindah tempat ke deretan kursi di belakang. Tiga kursi di depan diganti S.Herianto, pria bersandang tas, dan seorang perempuan yang kedua orang itu saya tak mengenalnya. Perempuan duduk di kursi kanan, Herianto di kursi tengah, dan lelaki itu di kursi sebelah kiri.

Perempuan yang saya sebut tadi rupanya menjadi moderator dalam perbincangan itu. Ia mulai memperkenalkan dua lelaki yang duduk di sebelahnya kepada peserta. S.Herianto penulis BMDA sehari-hari mengajar di SDN Pangarangan III. BMDA adalah buku solonya yang kelima.

Pria di samping Herianto adalah guru SMA I Sumenep. Namanya Hidayat Raharja. Ia penyair Sumenep yang sore itu akan membedah buku BMDA.

Hidayat memulai analisisnya dengan menyayangkan kedataran konflik di cerpen pembuka. Ya, BMDA merupakan antologi cerpen. Judul cerpen pembuka sekaligus menjadi judul buku ini.

Yang sangat menarik menurut guru biologi ini, justru cerpen terakhir dengan judul Apa Kabar Kelamin. Cerpen ini mengisahkan seseorang yang kehilangan telinga kanannya. Tak adanya dau telinga sebelah ini menyebabkan ia selalu mendengar kata kelamin dalam setiap pembicaraan. Kisah ini sangat aktual dengan kondisi kekinian saat masyarakat tidak banyak yang mempergunakan telinganya. Mereka lebih banyak menggunakan mulutnya hingga banyak bicara dan berebut bicara.

Genetika spritual yang dikandung buku ini ada dalam cerpen Tuhan Mengapa Aku Dimasukkan ke Surga? Badrul menolak masuk ke surga karena merasa tidak pernah berbuat kebaikan. Ia mengajak Tuhan berdialog. Cerpen ini syarat pesan moral dan spritual.

Puisi Maut dan Tuhan Aku Lelah adalah dua cerpen diantara cerpen lainnya yang dikupas di sore itu. Moderator yang turut berkisah pengalamannya saat membaca buku ini dihantui kecemasan. Bayang kematian mengancam dirinya hingga ia melompati cerpen yang memuat puisi berbahasa benua Afrika. Cerpen setelahnya bertutur tentang kemanusian.

Berbeda dengan Hidayat, Juwairiyah, sastrawan muda Sumenep yang hadir dalam perbincangan kala itu justru menemukan prospek gemilang dalam cerpen BMDA. Cerpen roman ini akan diburu kaum remaja bila dipublikasikan di media dengan segmen remaja.

Setiap karya punya takdir masing-masasing. Entah seperti apa takdir selanjutnya. Yang pasti buku ini sekarang telah ditakdirkan lahir dan saya turut berbahagia dengan kelahirannya.


Sumber: 

https://taufiku.gurusiana.id/article/2019/03/apa-kabar-kelamin-676936?bima_access_status=not-logged

Novel Baru: BLUE EYES  (Kisah Cinta Tiga Negara)

Novel Baru: BLUE EYES (Kisah Cinta Tiga Negara)

 


Latar tempat, bahasa, sejarah, dan budaya kisah cinta dalam novel ini adalah Yogyakarta, Indonesia; Istanbul, Turki; dan Granada, Spanyol. Berikut potongan paragraf di dalamnya.

 Setangkai mawar segar, dibungkus kertas yang bertulis puisi tentang rindu dan cinta. Kalau cinta dan rindu itu mawar, maka benar bahwa keindahannya tetap menusukkan duri menjadi luka. Rindu itu menyiksa dan menyiksa itu luka. Dan, luka itu manis. Siapapun yang terluka karena cinta dan menanggung rindu, ia akan enggan sembuh dari luka itu.

 “Tataplah mataku, Kelana. Aku bersaksi dengan mata biruku ini dan bibir merah yang kamu suka ini, aku siap untuk menjadi isterimu lahir batin! Bukan karena aku terusir dari rumah, tapi karena hatiku memilihmu!”

 Hanya senyummu yang melukis semesta begitu indah. Gemuruh ombak pasang tak segemuruh risau di dada memanggilmu. Laut itu, pantai itu, pasir itu, dalam dadaku. Kau bermain di dalamnya. Dan kau tak sadar. Tak sadar menghuni hati. Hai bibir yang merah. Bisunya saja melagukan kesyahduan. Bila cinta itu keindahan, kuburkan aku bersamanya. Hai mata yang bintang, jika mata itu menenangkanku, hantam dan bakar aku dengan bintangmu. Terangilah hati ini dengan cintamu agar kau tahu siapa pemilik hati yang kau huni dan katakan: aku tak mau pergi. Aku selamanya di sini bersamamu.

 Ada tiga judul lagu dalam novel ini yaitu: Uskudara Giderken, Habla Me, dan Sultanim. Ketika tepat pada judul lagu itu disarankan untuk diputar sambil meneruskan membaca. Pasti mengalami sesuatu! Keren!





Tadarus Kultur Sebuah Kristal Budaya

Tadarus Kultur Sebuah Kristal Budaya

book

Telah terbit buku antologi puisi berjudul Tadarus Kultur. Buku tersebut merupakan butir-butir kristal budaya, khususnya Kemaduraan Sumenep. Ada pula beberapa budaya lain dalam buku tersebut berupa budaya Jawa dan negeri Papua. Sungguh butiran kristal tersebut layakna butiran permata, butiran bintang yang abadi cahaya sebagaimana lestarinya budaya tersebut dari generasi ke generasi.

Antologi puisi tersebut ditulis oleh para penyair pada Komunitas Kata Bintang, Penyair yang merangkum budaya dalam buku tersebut adalah: Moh. Rasul Mauludi, Nok Ir, S. Herianto, Ali Harsojo, Ach. Azzamah Sari, Ach. Rasyid, Ipunk El Akbar, Sri Indriyana, Ayush Fitria, Indrawahyuni, Liza Maesura, Muhajir, Nurlena Nursal, dan Tohir.

Buku terbitan tahun 2020 dan cetakan pertama tersebut diterbitkan oleh Rose Book. Background hijan dan bergambar lambang keraton Sumenep tempo dulu membuatnya mempesona. Buku tersebut dapat diperoleh pada Komunitas Kata Bintang dengan narahubung atas nama Widayanti: 0852-3461-5678. Segera, jumlah cetak terbatas.

Salam literasi!

Keseruan Akting Topeng Habbe & Meik

Keseruan Akting Topeng Habbe & Meik



Sebuah pertunjukan topeng Jerman berjudul Clown Mime Mask Pipifaxen yang diperankan oleh Habbe & Meik benar-benar sangat menarik. Dua aktor bertopeng remaja ini sangat kental karakternya. Dengan hanya melihat wajah topeng itu, tampak sekali remaja yang centil, nakal, dan agresif.

Tayangan pada youtube tersebut telah diterbitkan pada 16 Februari 2013. Berdasarkan viewernya yang sekitar 712 ribu sekian, tampaknya tidak banyak peminat yang menontonnya. Menurut penulis, pertunjukan panggung tersebut sangat menarik dan unik. Sungguh tayangan tersebut walaupun tanpa kata-kata atau verbal, pertunjukan tersebut membuat para penontonnya bergelak tawa meriah. 

Ada banyak judul dari karya mereka. 
Antara lain: Pipifaxen, Bettgeflüster, TV, Und so Leiter, dan sebagainya. 

Untuk jelasnya silakan tonton sendiri kemudian terbukti menarik atau tidaknya.
Bibir Merah dari Alhambra (BMDA)

Bibir Merah dari Alhambra (BMDA)

Bibir Merah dari Alhambra (BMDA) adalah kumpulan cerpen yang cerita utamanya menjadi judul buku tersebut. Cerita utamanya berlatar tempat Indonesia dan Spanyol. Sebagaimana kita tahu, Alhambra adalah pusat ibukota kerajaan Andalusia di Spanyol. Memories of the Alhambra, sebuah film seri Korea yang sekarang lagi booming juga menggunakan Alhambra sebagai latar tempat.

Kisah Izzi dan Kelana Nugraha mengawali dengan apik bagian pertama buku ini dengan seting tempat juga menggunakan Alhambra. Selain BMDA ada 9 cerita yang tak kalah serunya seperti perjuangan Sadria, yang kata banyak orang disebut gila ternyata sangat nasionalis; ada juga cerita tentang Badrul yang masih sibuk bertanya mengapa ia dimasukkan ke surga; ada juga tokoh hatimau yang menggugat takdir; dan sebagainya.
Yang jelas semua ceritanya dikemas sangat menarik.



Bagi yang ingin memilikinya segera hubungi: Wa 081934989152 atau inbox via IG dan FB
Harga PO 45k sd. 10 Februari 2019. Normal 55k

#drakor
#memoriesofthealhambra
#bukubaru
#antologicerpen
#diandracreative
SIAP TAYANG FILM SANG HUFFADZ

SIAP TAYANG FILM SANG HUFFADZ


Produser : Hamzah Fansuri
Eksekutif Produser : Ning Elliz dan Buya Busyro Kariem
Sutradara : Nurkholish (NK Gapura)
Produksi : Aura Picture
Tayang Bulan Desember 2018




Film Sang Huffadz, karya teman-teman sineas Sumenep, yang diambil dari kisah inspiratif Nyai Nuraniyyah (Ibunda KH.Abuya Busyro Karim Pengasuh Pondok Pesantren Al-Karimiyyah), Sosok Beliau adalah seorang feminis, jauh sebelum feminisme dikoar-koarkan para aktivis feminis. Ia jauh sekali dari buku-buku barat tentang feminisme. Perempuan dalam adat ketimuran, punya cara tersendiri bertahan hidup sebagai orang tua tunggal dalam memikul beban sebagai seorang ibu sekaligus bapak, yang menjadikan AlQur'an tidak sekedar sebagai hafalan semata tetapi ia mempraktekkannya dalam mengarungi kehidupannya bersama anak tunggalnya. Perjuangan hidupnya yang sarat akan islami, adat ketimuran serta menunjukkan bagaimana sosok ibu sesungguhnya begitu inspiratif. Apa yang dilakukannya juga secara tidak langsung menunjukkan kesetaraannya terhadap lelaki. Mereka tak banyak bicara dan berteriak. Ia hanya terus berjuang, bekerja tanpa banyak kata. Dalam film ini kalian tidak hanya akan mengetahui perjuangan seorang ibu, tetapi juga perbedaan feminisme barat dan timur.

Buku Cerita Adalah Gizi Bagi Otak Anak

Buku Cerita Adalah Gizi Bagi Otak Anak

12 cerita imajinatif
Cerita fiksi merupakan cerita hasil imajinasi seorang penulis. Banyak sekali genre cerita fiksi di antaranya: cerpen, novel, dan cerita fantasi. Cerita fantasi sedikit berbeda dengan cerpen dan novel. Cerita ini memiliki ciri tokoh unik, ada kesaktian, keajaiban bahkan kemisteriusan. Peristiwa yang tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata, bisa terjadi dalam cerita fiksi. Ratna Perwitasari dan S. Herianto mencoba menciptakan cerita fantasi pada beberapa judul dalam 12 Cerita Imajinatif seperti: Sebutir Bintang Warna Pink, Istana Masa Kecil, Labirin, dan Kamera Ajaib.
Jangan  takut,  gadis  cantik.  Aku  adalah pohon tua yang selalu kau ajak bermain.”
Ayo panjatlah aku! Bangunlah istana kecil di atas sana. Kamu bisa menggunakan dahan kecilku jika kamu mau. Juga daun-daunku yang berlimpah bisa kamu buat untuk atapnya.”
(dalam Istana Masa Kecil)

Buku karangan Ratna Perwitasari dan S. Herianto ini mengangkat permasalahan dan peristiwa-peristiwa keseharian dan hal-hal yang sering dialami oleh anak-anak. Bahasa yang digunakan sederhana sehingga anak-anak dengan mudah dapat memahami hal yang ingin disampaikan oleh penulis. Pada beberapa judul juga memuat pesan atau koda yang  disampaikan secara tersurat di akhir cerita oleh penulis. Pembaca tidak perlu lagi mereka-reka pesan. Misalnya pada judul pertama  Kata Rahasia Bima.
Semuanya dapat diambil pelajaran bahwa anak-anak tidak boleh mudah ikut dengan orang lain yang tidak dikenal meski dengan iming-imingi makan dan mainan    kesukaan.  Bima sudah mengalaminya dan ia telah membuktikan bahwa ia harus berhati-hati dengan orang tidak dikenal.

Sayang tidak semua cerita koda diungkapkan secara tersurat di akhir cerita. Jika saja semua koda diungkapkan hal itu akan mempermudah pembaca memahami setiap pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.
Cover buku sangat kekinian, di desain hardcover, berwarna-warni  sesuai target sasarannya yaitu anak-anak. Ketika memasuki judul pertama mata kita akan dimanjakan dengan ilustrasi di setiap judul. Hal tersebut akan membantu anak-anak dalam membangun imajinasi awal tentang isi cerita terlebih karena anak-anak lebih menyukai cerita yang bergambar. Setiap peristiwa diceritakan dengan gamblang, terstruktur dan runtut hingga membuat pembaca merasa benar-benar bisa merasakan, melihat, bahkan seperti mengalami setiap detil ceritanya.
Kehadiran buku ini menambah kekayaan karya buku anak-anak, di tengah gersangnya karya untuk anak. Karya buku tersebut juga mampu mengalihkan perhatian anak-anak yang saat ini selalu disibukkan dengan gadget. 12 Cerita Imajinatif tidak hanya enak dibaca anak-anak, tetapi untuk semua kalangan, tidak luput orang tua, karena dengan membaca 12 Cerita Imajinatif tersebut akan memberikan ide baru dalam mendampingi anak-anak kita. Bisa kita bacakan saat menjelang tidur. Tepatnya, buku ini bukan hanya sebagai bahan bacaan semata, sebagai sahabat ramah anak, dan sekaligus menjadi media parenting untuk orang tua.

YULIANTI Guru SMPN 1 Dasuk, [Penggiat Rumah Literasi Sumenep (Rulis)


Mitos, Mistis, Etos, dan Romantisme dalam Novel "Laskar Lempung"

Mitos, Mistis, Etos, dan Romantisme dalam Novel "Laskar Lempung"


Oleh Yosuki Kiyabaru, Penikmat Sastra dan Budaya


Penulis berhasil merekam dan menyusun cerita Si Badrul tentang kegetiran, kegelisahan, dan kebahagiaan bahkan ia juga menceritakan mitos, mistis, etos serta dari perjalanannya. Penulis berhasil menguak semua protes sosial tentang bobroknya sistem pendidikan pada di daerah tempat tugasnya. Ada sisipan romantism pada kisah Badrul ketika mendapatkan pujaan hatinya.
Yang paling saya kagumi dari kisah Laskar Lempung yang mewakilkan tokoh utamanya kepada Badrul, penulis menyebut nama Tuhan berkali-kali. Seakan-akan si penulis dan Badrul ingin mengatakan bahwa Tuhan selalu ada meskipun di tempat yang terpuruk. Penulis telah berhasil membuat pembaca merasakan semua perjalanannya.
Dikisahkan pula di dalamnya tentang angka-angka dan doa-doa yang tidak biasa. Muatan tersebut seolah-olah mengajak pembaca berpikir mendalam tentang apa sebenarnya yang disisipkan penulis dari kisah Badrul dalam Laskar Lempung tersebut.
Penulis juga begitu lengkap menampilkan sosok negeri Tanah Liat, Negeri Lempung, yang berada di desa Paliat, Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep mulai dari kultur, struktur, dan adat budayanya. Walaupun dikemas sekelumit berupa cuplikan dan potongan kisah hal tersebut telah sangat menggambar situasi dan kondisi yang dialami Badrul secara utuh.
Ada temuan unik, ketika penulis mengulang-ulang kisah Badrul di beberapa bagian, namun sebenarnya merupakan penjelasan selanjutnya dari potongan-potongan kisah sebelumnya. Penulis sengaja membuat kepingan puzzle yang akhirnya utuh menjadi kisah Laskar Lempung yang memukau.
()


"Dalam kenyataan terburuk pun selalu ada mimpi yang terindah.”
(Badrul Komar, Pendidik)

Buku 12 Cerita Imajinatif

Buku 12 Cerita Imajinatif


12 Cerita Imajinatif
Penulis
Ratna Perwitasari & S. Herianto
Ilustrator
Misnaya
Penerbit & Percetakan
Nuwailah Ahsana
Cetakan Pertama, September 2018
Hardcover, tebal 123 halaman
ISBN 978-602-60016-3-4






Cerita tentang Bima yang berhasil selamat karena mempunyai kata rahasia; tentang Sebutir Bintang Warna Pink untuk adik; tentang Istana Masa Kecil di atas pohon; tentang persahabatan Diaf Dan Aris; tentang Nana dan Bi Ijah yang mengharukan; tengan Memey yang berhasil membuat orang tuanya  lepas dari gadget; tentang Udin yang super; tentang Geo yang terjebak dalam lorong waktu; tentang Si Manis yang membuat macet jalan raya; tentang Kamera Ajaib yang dapat memotret surga; tentang nenek pejuang kemerdekaan yang terlupakan dan tinggal menyendiri di hutan; dan Syasya Si Penjaga Selimut.
Cerita yang sangat menarik dan berkesan serta imajinatif. Fantasinya pure anak-anak. Sarat dengan pesan moral tersembunyi. Membacanya seperti sedang mendengarkan dongeng langsung dari penulisnya. Penasaran? Langsung saja pesan melalui WA 081934989152.


Layar Berselimut Maut Karya Yulianti

Layar Berselimut Maut Karya Yulianti



Antologi Cerpen Layar Berselimut Maut ini diawali dengan sebuah subjudul Senyum dan Airmata. Awal paragraf pada bagian tersebut mengarah langsung pada konflik lahir batin sang tokoh utama. Sebuah pergulatan dan perjuangan hidup seorang anak perempuan untuk membahagiakan sang ibu di masa-masa kritis hingga menjelang detik-detik terakhir nafasnya. Ternyata bukti kebahagiaan yang telah diraih sang anak, hanya mampu ia bawa tepat di atas pusara sang ibu. Sungguh kisah yang memeras air mata, tapi mengandung kenikmatan batin yang bergizi.
Syaf Anton WR memberikan beberapa catatan dalam pengantar antologi cerpen tersebut sebagai berikut. Menurutnya kehadiran Layar Berselimut Maut merupakan fenomena menarik. Guru penulis mulai bermunculan. Hal itu menandakan bahwa guru tidak selalu cerdas di kelas, tapi juga cerdas dalam membangun kreativitas dalam dunia kepenulisan. Wajar bila guru menjadi inspirator dari kanal kehidupan, yang selanjutnya dirindukan untuk hadir di ruang kelas dan di luar kelas. Menulis bagi guru tampaknya menjadi alternatif terbaik dalam menyiasati proses kemampuan kreativitasnya. Inspirasi seorang guru seharusnya juga dapat dilakukan ketika ia mampu menginspirasi diri sendiri sebelum menginspirasi anak didik maupun masyarakat lingkungannya. Karena guru yang kreatif dan elegan adalah guru yang mampu berbagi pengalaman.
Syaf Anton meyakini bahwa guru yang luar biasa seperti matahari bagi anak didiknya atau bagi siapa saja yang membenarkan sebuah kreasinya. Kesadaran seorang guru yang tertinggi adalah ketika dia menyadari bahwa dia berdiri di puncak lembah, kemudian berusaha keras memanggil suara hati anak-anak gembalaannya untuk mendaki. Kesadaran itulah posisi guru akan lebih tampak wujudnya dari segala arah dan sisinya.
Syam S.Tamoe juga memberikan kesan bahwa mengabdi dan bertanggung jawab nerupakan bagian dari karakter dan identitas diri seorang guru yang patut diapresiasi. Yulianti, dalam antologi cerpen Layar Berselimut Maut berhasil menciptakan medium inspirasi bagi para pembaca, khususnya para guru di kepulauan. Dengan tutur kata dan bahasa yang sederhana dan penuh makna, Yulianti sangat lihai dan mampu meracik hasil kontemplasinya ke dalam sebuah cerita apik yang mampu menggetarkan jiwa.
Dari beberapa subjudul dalam antologi cerpen tersebut sangat tampak bahasa seorang anak kepada ibu dan bahasa ibu kepada anak, yang menyiratkan bahwa antologi tersebut sangat intens dengan bahasa perempuan. Hanya pada subjudul awal beralur flashback. Subjudul berikutnya beralur maju. Semua alur mudah diikuti dan dicermati karena penulis menggunakan bahasa realitas dirinya. Penulis terlibat penuh dengan apa yang ditulisnya. Itulah yang membuat antologi cerpen tersebut sangat menggugah dan menyentuh.
Dari keseluruhan kisah, penulis menyertakan muatan romantisme, idealisme, dan egosentris yang kuat. Penulis juga sangat berhati-hati meramu alur sehingga narasinya menguatkan imajinasi dari realitas yang ditulisnya. Penulis seolah-olah membawa pembaca ke dalam layar besar kehidupan pribadinya. Pembaca seolah-olah diajak melihat langsung seluruh peristiwa hingga denyut jantung si penulis.
Air Mata dan Senyuman, Jejak Baru, Warna Baru di Pulau Pengabdian, Rintihan Malaikat kecilku, Hampir Karam, Entar Nuro’, Layar Berselimut Maut, Mengapung, Surat Cinta dari Kepala Sekolah, Berlayar Tanpamu, Loncat Indah, Jawaban Firasat Itu, dan Akhir dari Penantian adalah subjudul lengkap dari semua kisah penulis. Layar Berselimut Maut pada subjudul antologi tersebut menjadi judul besar buku antologi cerpennya. Walaupun subjudul tersebut bukan fokus tujuan penulis, tapi menurutnya cerita tersebut layak dibagi kepada publik bahwa tidak semua orang berkesempatan mengalami seperti yang ia alami.
Buku antologi cerpen Layar Berselimut Maut bukan satu-satunya yang berkisah tentang kehebatan guru seperti yang pernah ditulis oleh penulis lain, tapi Layar Berselimut Maut menjadi warna baru yang layak disaksikan penggambarannya melalui narasi-narasi sang penulisnya sebagai khasanah yang memperkaya dunia pendidik dan pendidikan. Yulianti juga bukan satu-satunya guru kepulauan yang punya kisah, tapi kisahnya merupakan salah satu kisah yang luar biasa. Yulianti adalah seorang guru SMPN 1 Arjasa kepulauan Kangean yang kemudian hijrah ke SMPN 1 Dasuk Sumenep.

(Dimuat di Jawapos Radar Madura, 20 Juli 2018)

Na, Dalam Lingkaran Angan

Na, Dalam Lingkaran Angan




“Esok..., saat sang waktu membawa kita menua. Aku ingin kita selalu saling dekap. Esok..., saat senja menggantung di pucuk dahan itu, aku ingin kau di sini, di sisiku. Saat hati tergurat gundah, resah selimuti hati, aku ingin hanya kamu,usap gundah singkirkan resah dengan hangat dekapmu.”




Itulah kalimat pembuka yang tertulis di buku Dalam Lingkaran Angan, karya Ratna Perwitasari, dengan nama panggilan Na. Antologi cerpen dan sekaligus puisi dalam buku tersebut melambangkan perkasihan yang romantis antara cerpen dan puisi. Perkasihan yang merupakan simbol dari keseluruhan isi Dalam Lingkaran Angan. Semua rasa rindu, resah, sedih, senang menjadi pancaran kemesraan yang menghiasi buku tersebut.
Buku antologi yang dicetak dan diterbitkan oleh Ellunar, April 2018, merupakan kristal-kristal cinta yang diungkapkan penulis dalam dua jenis fiksi. Seolah-olah penulis sengaja menyuguhkan hidangan pembuka dan penutup sekaligus dalam jamuan makan istimewa para pekasih.
Cerita pertama diawali dengan tokoh Awang, sang pacar. Sebuah narasi yang mengejutkan. Awang tiba-tiba meminta baju putih untuk berangkat bekerja ke luar kota padahal tidak pernah ada baju putih di lemarinya. Ternyata sebuah isyarat bahwa kekasih Dona, Awang tercintanya, meninggal kecelakaan saat perjalanan dengan baju merah muda. Cerita itu ditutup dengan diary Awang yang tertulis:

“Teruslah melangkah, gapai cita dan cinta, meski aku tak di sisimu lagi. Kamu tahu, suatu hari nanti, kamu akan kehilanganku. Aku dengan candaku, aku dengan sabarku padamu, kamu tahu suatu hari nanti, kamu akan begitu merindukanku. Seperti aku yang selalu merindukanmu. Tanpa pernah dapat mendengar suaraku lagi. Tak pernah dapat melihat senyumku lagi. Langit tak akan lagi sama. Meski kau tahu itu langit kita. Tak perlu risau kasih, hingga saat itu datang. Kamu adalah damar hatiku, selalu selamanya.” WOW.

Itu baru cerita awal. Dalam narasi selanjutnya lebih banyak lagi kejutan-kejutan seperti sengatan listrik tapi nikmat. Hanya ada beberapa kata yang lolos dari kekuasaan sang editor, tapi secara keseluruhan isinya luar biasa. Selamat, Na, untuk Dalam Lingkaran Angan. Ditunggu karya berikutnya.

(Pemesan bisa langsung ke penulis Na Wa di 081233888590)

FILM PUN MENCOBA MENGUAK TABIR KETUHANAN

FILM PUN MENCOBA MENGUAK TABIR KETUHANAN



Bermunculannya film-film yang membahas tentang eksistensi diri sejati menggelitik penikmat film untuk berpikir keras tentang eksistensi yang Maha Besar. The Gateway, Curvature, Doctor Strange, dan sebagainya merupakan film serius yang mempelajari tentang eksistensi.

The Gateway
The Gateway, sebuah film produksi Australia tahun 2018 diperankan oleh Jacqueline McKenzie sebagai Jane. Dalam film tersebut diceritakan bahwa Jane, Fisikawan Partikel yang dengan keilmuannya dapat mengembalikan kehidupan suaminya Matt  (yang diperankan oleh Myles Pollard) telah meninggal dalam kecelakaan mobil. Jane meyakini tentang konsep Dunia Paralel. Dalam pemahamannya, ada Jane yang lain yang hidup di dunia yang lain yang bahkan bisa bertukar tempat dengan data yang sama. Di dunia pararel ia menjumpai Matt masih hidup dan sehat. Film tersebut ditulis John V. Soto, Michael White dengan sutradara John V. Soto.

Curvature
Tokoh utama dalam film Curvature, Helen ( Lyndsy Fonseca ). Ia mencari tahu tentang kematian suaminya– Wells (Noah Bean) yang diduga bunuh diri. Wells telah mengerjakan sebuah proyek mesin rahasia dengan rekannya, Tomas ( Glenn Morshower), dan kematiannya yang mendadak membuat Helen bertanya-tanya apakah dia tidak melihat tanda-tanda masalah dalam kehidupan rumah tangga mereka yang tampak bahagia. Setelah tertidur di sofa pada suatu malam, dia terbangun dan mendapati dirinya mengenakan pakaian yang berbeda. Sangat mirip dengan konsep Dunia Paralel pada film The Gateway. Helen bisa melompat ke dunia lain kapan saja atau mengajak orang-orang di dunia lain ke dunianya. Film yang disutradarai oleh Diego Hallivis merupakan wujud dari karya Brian DeLeeuw, penulis.

Doctor Strange 
Dr. Stephen Strange’s (Benedict Cumberbatch) biasa dipanggil Doctor Strange berlatar belakangan ilmu kedoteran. Ia tidak percaya dengan dengan pengobatan tradisional, keyakinan, bahkan terhadap ruh. Akhirnya bertekuk letut setelah dibukakan mata batinnya oleh guru spiritual (Sang Leluhur) dengan cara memisahkan badan kasar dan halus Doctor Strange. Doctor Strange menyadari bahwa kekuatan badan kasar itu sangat lemah. Doctor Strange merupakan film based on the comic book by Jon Spaihts. Film tersebut diproduksi tahun 2016 dan disutradarai oleh Scott Derrickson.
Ada apa sebenarnya? Pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh dunia perfilman? Pada derajat pamahaman seperti apa dunia Barat dalam bahasan eksistensi Tuhan?


BUKU CERITA ANAK INSPIRATIF: IVA & PINKY

BUKU CERITA ANAK INSPIRATIF: IVA & PINKY

Karya S. Herianto (penulis, fotografer, pendidik)
Harga Rp 35.000
Tebal 77 halaman berilustrasi
Ukuran A5
Hard Cover Warna
Tahun terbit 2018
Penerbit Abida Mahran PH
ISBN 978-602-51160-0-1


Buku-cerita-anak-iva-pinky-s-herianto-2018
Buku Cerita Anak Iva & Pinky

Telah terbit buku cerita anak inspiratif berjudul Iva & Pinky. Membuka halaman pertama terasa telah menjadi sahabat Iva. Membuka halaman berikutnya waktu terasa berjalan makin cepat karena rasa penasaran. Tiap lembar halaman dibuka semakin cepat. Itulah keistimewaan cerita Iva & Pinky. Ketika membacanya tak ingin ada yang mengganggu.
Mengapa bisa begitu? Di dalamnya penuh dengan kisah-kisah inspiratif mengenai kehidupan Iva, Kholif, dan Pak Guru Omar, serta teman-teman sekelas Iva. Ada tokoh inspiratif juga bernama Katsujiro Ueno, yang di dalam kehidupan nyata ia sebagai motivator pendidikan. Ia berkebangsaan Jepang, tapi sangat mahir berbahasa Indonesia. Dan ia adalah teman dan motivator Iva.
Ada cerita tentang Taman Rahasia Iva, tentang Imajinasi, tentang teknik membuat puisi, tentang permainan anak, mandi hujan, piala terindah, kartu pos istimewa dari Jepang, cupsong pantun, dan sebagainya.

Tidak rugi, lho dengan mengeluarkan kocek Rp 35.000 untuk buku yang sangat inspiratif. Segera pre-order (PO) ke WA 081934989152. Masa PO berakhir tanggal 26 Januari 2018 dan harga berubah normal menjadi Rp. 40.000,-