Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Cinta Itu Terucap Sekali

Cinta Itu Terucap Sekali



Cinta Itu Terucap Sekali


Aku takkan menukar nyawa sekuntum mawar

Untuk pernyataan cintaku kepadamu

Cukup percayalah bibir ini

Pada mata ini

Cinta itu akan terucap sekali

Tapi tertancap mengakar di dalam hati

Adapun dusta

Takkan pernah lahir dari cinta

Pegang kata-kataku

Ketika aku telah tidak lagi bersama

Ia abadi sebagaimana nama

Cinta itu hidup bersamamu

Dan menemani kematianku


Sumenep, 17 Oktober 2021

Daging dan Tulang Ini Adalah Beban Bagi Jiwa

Daging dan Tulang Ini Adalah Beban Bagi Jiwa

 


Puisi September 2021

 

Daging dan Tulang Ini Adalah Beban Bagi Jiwa

 

Daging dan tulang ini adalah beban bagi jiwa

Terperangkap terbebaskan adalah dinding kegelapan

Yang harus ditempuh badan

Tercerahkan atau gelap gulita adalah takdir

Satu pun takkan terbebas dari hukum ini

Hanya yang telah berubah wujud

Dari materi ke immaterilah yang benar-benar

Melihat cahaya atau dalam kegelapan sempurna

Beberapa manusia melakukan ritual

Meningkatkan kecerdasan dan kesadarannya

Tapi tetaplah tulang dan daging itu beban bagi jiwa

 

Malang, 25 September 2021

 

Liarnya Pikiran

 

Mesjid ka’bah surau adalah bentuk materi kehambaan

Salat puasa haji adalah bentuk laku penghambaan

Ada wujud kehambaan

Ada wujud laku penghambaan

Bisa saja ada bentuk menuhankan

Bisa jadi ada bentuk menuhan

Ah, liar sekali pikiran ini!

 

Malang, 25 September 2021

 

Surga Itu di Dalam Bukan di Luar

 

 

Surga itu di dalam bukan di luar

Sebagaimana semesta bekerja dari dalam bukan dari luar

Begitulah surga berada dan bekerja

Ketika engkau berdosa masuklah ke dalam hadirat

Tutuplah semua pintu

Undanglah sejuta sepi

Haturkan semuanya dalam bahasa rahasia

Maka engkau telah mengetuk pintuNya

Serahkan saja dan pasrahkan

 

Malang, 25 September 2021

 

Materi Itu Abadi

 

Materi itu abadi

Hey, jangan kau kira materi itu musnah

Materi itu dari Tuhan

Bahkan dari zat ketuhanan

Sama halnya tidak ada kematian

Dalam semesta ini

Bukankah hidup adalah zat Tuhan

Yang menempel pada materi?

Apa yang dari Tuhan mungkinkah bisa musnah?

 

Malang, 25 September 2021

 

Apa Itu Waktu

 

Ketika ada yang bertanya pukul berapa sekarang

Tentu saja kita bisa menjawabnya dengan menengok jam

Tetapi ketika ada yang bertanya apa itu waktu

Maka kita butuh waktu untuk menjawab dengan sedikit tepat

Jika dalam hukum ruang

Apa yang tertinggal di suatu tempat

Kita dapat mengambilnya dengan cara kembali ke tempat itu

Berbeda sekali dengan waktu

Jika suatu peristiwa tertinggal di dalam waktu

Kita hanya akan menemukan tempat kejadian

Tidak lagi menemukan peristiwa tersebyt sesuai waktu kejadian

Waktu terus bergerak maju

Kita hanya bisa mundur di dalam ruang

Apa yang tertinggal di dalam waktu

Kita takkan bisa menemuinya lagi

Kecuali dalam kenangan

 

Malang, 25 September 2021

 

Siapakah Saya?

 

Pertanyaan sulit lagi

Jawaban saya tentang saya

Jawaban anda tentang saya

Jawaban mereka tentang saya

Ketika ditanyakan siapakah saya

Tidak sepenuhnya bisa mewakili siapa diri ini

Tak seorangpun termasuk diri saya

Mampu menjawab dan menjelaskan siapa diri saya

Begitu pula dengan anda dan mereka

Bidikan tepat

Tapi tak pernah mengenai sasaran

Makin dibidik makin meleset

Titik diri seperti lentur

Cepat dalam lesatan

Jangan-jangan kita membidik Tuhan?

 

Malang, 25 September 2021

 

Susu Beruang

Susu Beruang

 


Ada susu beruang

Ada susu nona

Ada susu bendera

Dari tiga di atas hanya beruang dan nona

Yang menghasilkan susu

Bendera tidak

Bendera hanya dipaksakan menghasilkan susu

 

Selama pandemi

Susu nona tidak banyak laku

Panic buying hanya terjadi pada susu beruang

Permintaan pasar meningkat

Harga pun bermain

Sementara beruang di kutub

Sudah pada banyak mati oleh pemburu

Susu nona tidak ada yang memburu

Syukurlah, nona aman

Beruang tidak aman


Malang, 14 Juli 2021


Tuhan Tak Tidur (Puisi Masa Pandemi)

Tuhan Tak Tidur (Puisi Masa Pandemi)




Ada lengking dari gunung

Yang disenyapkan oleh duka

Bumi menyimpan ratapan

Tersembunyi paling dalam dari duga

Kicau burung bertukar tangis

Menggarami sakit

Negeri ini dihajar habis

Sendi-sendinya siap runtuh

Ibu yang ceria tampak menua beribu tahun

Kibaran bendera menguasakan merah dan sedikit putih

Senjata yang terkenal kejam membunuhi

Lumpuh tak bertulang

Ada yang lebih kuat mengambil nyawa

Seperti memanen hutan dengan api

Satu-satunya kekuatan adalah pasrah

Pilihan yang sanggup menghibur adalah yakin

Bahwa Tuhan tak tidur

 

Malang, 5 Mei 2020


Gerakan 1000 Guru Asean Menulis Puisi Oleh Rumah Seni Asnur

Gerakan 1000 Guru Asean Menulis Puisi Oleh Rumah Seni Asnur


Dalam rangka menyambut Hari Puisi Indonesia 2018, Perkumpulan Rumah Seni Asnur membuat Gerakan Akbar 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi. Siapa saja yang tertarik untuk bergabung dengan gerakan tersebut, berikut syarat dan ketentuannya:
1. Peserta adalah guru atau dosen di wilayah ASEAN;
2. Mengirimkan 3 puisi beserta biografi singkat (maksimal 8 baris) dan foto (close up) paling lambat 26 Juni 2018;
3. Puisi dalam format file MS Word (A4, Times New Roman, 12, 1,15 spasi) 1 halaman 1 puisi
4. Mengirimkan dana kontribusi minimal Rp250.000,00 ke nomor rekening: 0538-01-006046-53-0 (BRI) a.n Perkumpulan Rumah Seni Asnur.
5. Bukti transfer dana kontribusi difoto dan dikirim ke WA: +62 812-4884-5289 (Anin)
6. Setiap peserta akan mendapatkan 1 eks buku (sekitar tebal 1000 halaman) dengan ongkos kirim ditanggung masing-masing apabila tidak dapat hadir saat acara peluncuran;
7. Peserta mengirim karyanya sesuai domisili masing-masing ke surel:
wilayah1@gmail.com  (Banten, Jabodetabek, Sumatra)
wilayah2hpi@gmail.com  (Jawa, Bali)
hpiwilayah3@gmail.com (Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara dan Negara Tetangga)
hpiwilayah4@gmail.com (Papua, NTB, dan NTT)
8. Pendaftaran dan konsultasi peserta melalui WA:
- wilayah 1 : +6285921392702 (Rini Intama)
- wilayah 2 : 089672805169 (Srikandi Indung)
- wilayah 3 : +62 857-9563-6269 (Lily Siti Multatuliana)
- wilayah 4 : +62 898-5517-458 (Eddy Pramduane)
9. Akan dipilih 25 Puisi Pilihan, dan 5 Guru dengan Puisi Terbaik berhak mendapat Piagam Penghargaan, Tropi, dan Uang Pembinaan;

10. Buku gerakan 1000 guru menulis puisi ini nantinya akan didaftarkan di Museum Rekor Indonesia (MURI)
11. Buku ini akan diluncurkan pada Hari Puisi Indonesia, 26 Juli 2018, di Gedung Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, dan semua peserta akan diundang untuk hadir;

Demikian informasi ini, atas perhatian dan partisipasinya kami sampaikan terima kasih.






Poem of the Day

Poem of the Day


Untuk Mata-Mata Yang Kutinggalkan


kutahan tumpahan air mata di rongga dada
kutahan arus kesedihan di ujung tenggorokan
agar tangis tidak menjadi luka
sedih di mata-mata itu tak sanggup kutatap
semakin dalam kutatap
semakin dalam pula luka menggurat
rasa kehilangan yang memekat
merusak warna langit hati
kepergian ini untuk perjumpaan yang sarat rindu
kepergian ini membawa bermacam kenangan
yang tak dapat dibeli
antara kita ada ikatan hati
terbungkus oleh berkesannya hari-hari
ikatan yang tak mungkin diputus oleh sejuta kerusakan
ikatan yang bila berada di hadapan tuhan
akan disambut dengan senyum ketentraman
perjumpaan yang pernah terjadi takkan pernah berakhir
bila kepergian ini diartikan jarak
maka nantikan sebuah perjumpaan meluapkan samudera rindu
rindu yang memuncakkan kedamaian
luka dan air mata yang pernah menyayat hari dan hati
menjadi sapuan angin yang menumbuhkan harapan
wahai, mata-mata yang menyimpan kesedihan sesaat
tapi menyinarkan semangat hidup yang kuat
bila suatu hari tiba masa perjumpaan
pastikan aku melihat mata-mata yang pernah kutinggalkan
mengerling lincah diikuti sebaris senyum
yang tumbuhnya dari dasar hati
kan kupinta hadiah kemenanganmu tlah lalui jarak ini
berupa kerling mata dan senyum itu
seperti saat kutinggalkan
semoga tuhan menyayangimu selalu
sehingga tak ada satu pun permintaanmu kepada-Nya
yang tak Dia kabulkan.

(Malang, Mei 2012)


Sejak Mengenalmu

jantung ini cuma bisa berdetak
menghasilkan irama
tapi sejak mengenalmu
jantung ini berani menyebut namamu
bahkan memanggil-manggil

sejak mengenalmu
jantung ini telah berani merindu
bahkan telah berani mencinta
aku tak kuasa menahannya
kubiarkan mengalir
karena kalau kubendung
ia akan menyerang jantungku
menghentikannya berdetak
(Malang, 070312)


Beri Aku Cahaya


daun-daun akan segera ditinggalkan warna
warna pun kembali ke pusat cahaya
ranting yang menopang daun juga dahan batang dan akar
yang saling mendukung tegaknya tumbuh
akan diminta kembali kepada tanah

bulan pun dimakan oleh waktu
akan meninggalkan masa-masa purnama
akhirnya lenyap dari pandangan berganti bulan baru dan muda

ya allah sisakan hijau daun untuk kunikmati
sisakan keindahan purnama untuk kesyukuranku pada malam yang berrselimut
engkau pemilik warna dan penggenggam purnama

atau

beri saja aku cahaya

(Sumenep, 290212)
Potret Kecil


potret kecil itu
membuat rindu ini besar
hanya itu yang kupunya
tapi mengundang harapan perjumpaan
yang menghebat setiap saat

potret kecil itu
masih saja kubawa
membuat rindu ini kian besar
kerinduan dan pengharapan ini
membuat segalanya berarti
(Paliat, 18 Juni 2011)


Yang Terindah : Mati Dalam Tatapanmu


tatapanmu lembut
lebih-lebih kepada bayi hati
hingga seluruh gerak dalam tubuhku merasa bersalah
dalam arah tatapanmu aku senang bermanja seperti bocah
kadang pergi jauh
kadang di pangkuanmu dengan rasa aman
bila tatapanmu engkau tarik
siapa lagi yang akan perrhatikan tingkahku yang nakal
dan memanggilku dengan teguran
bila tatapanmu engkau tarik
siapa lagi yang akan mengusap air mata dan memberiku mainan
bila tatapanmu saja sudah kau tarik
tentu tidak ada lagi tempat berharap
bila tatapanmu saja sudah kau tarik
bagaimana bisa aku memandang
bila tatapanmu saja sudah kau tarik
ke mana akan kuhadapkan wajahku
bila tatapanmu saja sudah kau tarik
bukankah aku menjadi bangkai
wahai pemilik tatapan maha lembut
bila sampai mati pun hanya tatapan itu
anugerah terbesarmu bagiku
sungguh nikmat dapat menutup mata dalam tatapanmu  yang terindah

(Sumenep, 190311)

Salam Sejahtera Dari Para Malaikat

mama zi, salam sejahtera dari timur
melalui ini ada yang harus kusampaikan dari hati
kuharap diterima pula oleh hati

tak terhitung pengorbanan kita dalam jarak ini
tapi allah tidak tidur
paham betul dengan keinginan kita
sampai tiap detik kegelisahan kita waktu terlelap
ketahuilah jarak ini putusannya
pilihannya
keridhaannya
yang ada di sekitar kita adalah para malaikat
sibuk menghitung tetesan air mata

hati ikhlasku meninggalkanmu dan zi
membuat para malaikat menangis karena tak sanggup
melakukan seperti yang kita bisa
hati ikhlasmu melepasku pergi dengan lambaian kesabaran
membuat para malaikat bersama-sama turun dari langit
mendoakan keselamatan dan kesejahteraan buat kita dengan rasa haru
sekali-kali mereka tak sanggup berbuat demikian untuk tuhan mereka

harimu dengan berbagai beban yang mestinya kita pikul bersama
demikian pula dengan hariku
telah membuat langit terkuak buat kita
mengundang kita menatap wajah
mencicipi nikmatnya tatapan maha lembut

malammu dan malamku yang semestinya selimut
ketahuilah, para malaikat menjaga tidur kita
merelakan jubah-jubah mereka menyelimuti kita
dan berdoa agar dosa-dosa kita diampuni dalam silih bergantinya terbit fajar

begitulah, sehingga saat kita bertemu kembali
para malaikat pun ikut bersuka melihat kita semua dalam lingkaran kemesraan
yang tak ada bandingannya dengan keluarga ‘siapapun’ saat ini

atas semua ujian keimanan ini semoga kita ikhlas
sehingga kita termasuk orang-orang yang sabar dan pandai bersyukur
sebab dari nafas saja kita sudah tak sanggup menghitung curahan nikmatnya
walau begitu tetap saja tuhan mahatahu apa yang baik buat kita

mama, zi, salam sejahtera dari para malaikat!  
(Sumenep, 130311)

Kerinduan


bulan sabit mengintip dari celah pelampung
angin menusuk-nusuk kulit
laut menghitam menyimpan kerinduan
cahaya cinta membuat sinar di mata
seraut wajah menampak nyata
ombak yang bergelora membawa diri
lari menjauhi rembulan
meninggalkan negeri yang jauh
dengan rindu yang tak habis-habis
pergi untuk menemukan cintanya
yang hampir busuk merindu
(Banyuwangi, 26 Juni 2010)


LOVE IN NAGA CITY

you have to know
since I’ve been meeting
I like u
can't be explained why
but I can  feel
with the time I fall in love
I know this is impossible situation
however you will never forget
here
 a foreigner always loving you

I will bring this feeling
like I bring my heart
feel it
like I feel this love
forever until the last second tick
(phillipiness, 18-12-2008)


yang

yang datang saat sepi
yang menyinari saat  gelap
yang mendampingi saat menangis
yang mengulur tangan saat tenggelam
yang menghapus air mata saat derai
yang mengobati saat luka
yang memapah saat lumpuh
yang menengok saat sakit
yang menjaga saat sehat
yang merangkul saat takut
yang memeluk saat cemas
yang mengingatkan saat lupa
yang menegur saat khilaf
yang membangunkan saat lelap
yang mengantar saat berangkat
yang menyambut saat datang
yang merasakan saat sedih
yang menyenangkan saat bertemu
yang mengenang saat berdoa
kau-lah yang datang

(Surabaya, Juni 2009)

Di Balik Dinding Itu Ada Rahasia
                                                                     

di balik dinding itu
ada warna-warna
endapan suara-suara
terekam kenangan paling manis
tak ada yang tahu
hanya seorang yang telah lama meninggalkannya
tak ada yang ‘kan menengok-nengoknya lagi
karena tak ada yang berani terluka
tak ada yang ‘kan membuka-bukanya lagi
selain terkelupas
                            sendiri
                                              oleh
                                                          takdir
di balik dinding itu
ada rahasia-rahasia
yang menyimpan gerak-gerak
yang menyimpan getar-getar lembut
menguatkan pori-porinya semakin kukuh
tak ada yang menyentuhnya
hanya seorang yang setia menikmati sakit yang termanis
tak ada yang kan menyentuhnya lagi
karena tak ada yang mampu merobohkannya
selain rubuh
                      sendiri
                                  oleh
                                              takdir
(Malang, Mei 2009)






Yang Menggoda Untuk Mencinta

bila semua sudah tiada
baru terasa berarti

bila semua telah hilang
baru terasa hadir

bila semua sudah sunyi
baru terasa lengkap

bila semua telah usai
baru terasa genap

tapi apa yang pernah ada, tiada
yang pernah datang, hilang
hanyalah perjalanan
yang jejaknya pun memudar

tapi apa yang pernah ada tiada
yang pernah datang hilang
hanyalah putaran samudera kasih
yang takkan ada kasih itu
kecuali selalu menggoda untuk mencinta

(Sumenep, Oktober 2004)



le Avila

honesty since fist time i know
flowers
light of the sun
light of the moon and stars
the gold
all of them say about who you are
but so hard to be sure
what did happen before we meet
I thought just dream

so hard to find you
long trip and distance
I do with one reason : love
when I really see your face
sure the angel has been coming for me with smile
I hug you, angel
we are to be one
all of flowers to became smell of you
sun moon and stars in my heart bright again
my soul full spirit cause you
all of my tired restored
thank God sent me the angel in my life
deep faith for you
and thanks giving to angel
the one who present in my heart
love you so much
(Batangas-Philippine, 2009)