Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
TONGKANG SENJA

TONGKANG SENJA

 



Oleh Moh. Rasul Mauludi

 

Dalam sebuah perjalanan dalam kabupaten menyisakan sesuatu yang mungkin bisa diurai dalam bentuk tulisan sehingga menjadi semacam bacaan ringan dan menandakan belum terjadi kebuntuan pada kreativitas menulis. Suatu perjalanan bisa ditulis dari berbagai sisi sesuai suasana dan tujuannya.

Dari kecamatan Lenteng menuju kecamatan Talango yang berjarak kurang lebih 20 kilo meter. Menempuh tidak butuh berjam-jam waktu. Namun, menuju kecamatan Talango pada jam-jam tertentu akan memakan waktu yang lama. Sebabnya harus melalui penyeberangan laut. Meski jaraknya seperti sumgai besar, tetap saja masih butuh waktu lumayan lama untuk bisa tiba di Talango.

Pelabuhan Kalianget sebagai penghubung ke pelabuhan Talango selalu dipadati antrean panjang. Sementara perahu yang sering disebut dengan istilah kapal tongkang hanya tersedia 2 armada yang melayani penumpang, baik pejalan kaki, pemotor, mobil, truk, dan lainnya.

Untuk kendaraan, kapal tongkang hanya mampu muat kurang lebih 7 kendaraan roda empat. Roda dua kurang lebih10 - 15 kendaraan. Antrean dipastikan mengular pada saat jam efektif, seperti pagi hari dan sore hari.

Sempat berfikir sejenak dan bukan mimpi. Apakah tidak bisa Kalianget - Talango disambung dengan sebuah jembatan...!? Secara akal tentu sangat bisa, karena jaraknya dekat. Tidak butuh anggaran sebesar jembatan Suramadu.

Andai saja dibangun jembatan Kalianget - Talango akan menambah keefektifan perjalanan laut sama halnya jembatan Suramadu yang sudah terasa manfaatnya oleh masyarakat Madura.

Tetapi, Talango akan dipertanyakan dalam segala hal, bila direncanakan jembatan ke Kalianget. Mulai dari potensi alam dan kemanfaatan lainnya yang menunjang jembatan tidak sia-sia bila sudah dibangun. Kemudian dampak bagi rakyat pemilik perahu yang melayani jasa penyeberangan. Tentu, semua itu tidaklah mudah diselesaikan. Namun, tidak ada kemustahilan jembatan Kalianget - Talango untuk dibangun.

Bagi para penentu kebijakan tidak akan sulit selama masyarakat bisa merasakan dampak positifnya dengan tidak dipenuhi oleh kepentingan-kepentingan sesaat apalagi sesat. Jembatan itu milik antrean panjang dan milik kebutuhan semuanya.

Tongkang senja yang padat dan ramai seperti membayangkan bahwa nantinya di Talango penuh dengan wisata. Mulai wisata alam, religi, kuliner, dan lainnya yang lebih menarik untuk dikunjungi semua orang. Tongkang senja menjadi alternatif yang nyaman dalam penyeberangan.


Kera Ngalam, Ker!

Kera Ngalam, Ker!

 


 

 Dengan judul di atas, warga Malang menduga bahwa bahasan tulisan ini adalah tentang bahasa khas Malang, Walikan (pembalikan kata). Benar, bahasa Walikan merupakan bahasa khas Kota Malang yang eksis sejak dipopulerkan pertama kali oleh Suyudi Raharno. Ia adalah satu pejuang pada zaman sebelum kemerdekaan. Menurutnya bahasa Walikan sangat unik dan tepat dijadikan bahasa sandi ketika masa perjuangan. Unik karena tidak semua kata dalam bahasa Jawa bisa disepakati untuk dibalik. Tepat karena tidak semua orang bisa dengan mudah mengerti bahasa Walikan tersebut.

Secara struktur, bahasa Walikan tidak mentah-mentah membalik semua huruf dalam kata bahasa Jawa ataupun Bahasa Indonesia, melainkan terdapat seni dan kreativitas di dalamnya. Pembentukan pembalikan kata dilihat dari dua aspek. Pertama, enak atau nyaman diucapkan dan didengar. Kedua, untuk tujuan penghalusan kata.

Pada aspek enak, banyak kata yang mudah dan enak diuucapkan setelah mengalami pembalikan seperti: taseh dari kata sehat, sam dari kata mas, orip dari kata orip, dan sebagainya. Sedangkan pada aspek penghalusan kata beberapa contoh di antaranya: keat dari kata taek, ketam dari kata matek, kampes dari kata sempak, dan sebagainya.

Tidak semua kata Jawa dan Bahasa Indonesia dapat dibalik. Misal kata kasur, tidak dibalik menjadi rusak karena kata kasur dan rusak memang ada pembalikannya yang secara otomatis memiliki arti mandiri. Kata Indonesia tidak bisa dibalik menjadi aisenondi karena pada pelafalannya mengalami kesulitan dan tidak enak diucapkan atau pun didengar. Kata-kata yang sulit dibalikkan akan tetap dibiarkan karena selain lebih mudah dieja pada kata aslinya juga agar kata-kata tersebut dapat lebih dikenal.

Menurut Pakar bahasa dari Universitas Negeri Malang (UM) Dr. Imam Agus Basuki, Bahasa Walikan tidak memiliki struktur seperti halnya bahasa secara umum. Juga tidak pula struktur pada bahasa Jawa. Karena itulah ia menjadi unik. Menurutnya pula setiap kata Walikan sebagian besar berakhiran a dan an. Itulah mengapa kemudian menjadi ciri khas dan identitas warga Malang.

Beberapa hasil penelitian tentang bahasa Walikan antara lain dilakukan oleh Wahyu Puji Hanggoro, Mahasiswa S-2 program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Hasil  penelitiannya  menunjukkan  bahwa  bahasa  walikan merupakan  salah  satu  dari  ragam  bahasa  Malang-an  yang  memiliki  variasi unik, yaitu dengan membalikkan setiap kata dari belakang. Seperti membaca kata melalui cermin.

Peneliti juga menyampaikan beberapa fungsi bahasa  walikan  tersebut  sebagai berikut.  (1)  Sebagai  pengenal  bahwa  pengguna bahasa  walikan  adalah  orang  Malang.  (2)  Sebagai  pembeda  antara warga  Malang dengan masyarakat Jawa dari daerah lain. (3) Sebagai pemersatu masyarakat Malang, dan (4) sebagai identitas Malangan.

Penelitian lain dilakukan oleh Aji Setyanto, M.Litt, Universitas Brawijaya Malang dengan judul penelitian Osob Ngalaman (Bahasa Slang Asal Malang) Sebagai Salah Satu I-Con Malang (Studi Struktur Osob Ngalaman, dalam Sosial Network). Dalam penelitian tersebut ia menjelaskan bahwa Bahasa Malang itu sendiri/dialek Malangan (osob ngalaman) dan bahasa Walikan keduanya bergabung dan tidak dapat dipisahkan dalam penggunaan bahasa Walikan baik secara lisan maupun tertulis.

Penelitian deskriptif kualitatif yang ia lakukan bertujuan untuk menentukan dialek Malangan yang terdiri dari struktur kata, frasa dan struktur bahasa yang digunakan oleh masyrakat sosial. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam Osob Ngalaman memiliki banyak struktur, walaupun sebenarnya tidak ada aturan antara penutur dalam membalikkan atau mengucapkan bahasa walikan yang berbeda.

Untuk membalikkan susunan huruf dalam sebuah kata dalam bahasa Malangan biasanya juga masih menggunakan bahasa aslinya seperti Genaro, Lawet, Sibun. Osob Ngalaman menggunakan kata-kata dari dua atau bahkan tiga bahasa (Jawa, Indonesia, dan Inggris).

Kadang ada juga kalimat yang semua kata-katanya dibalik. Pada umumnya, tidak semua kata dalam Osob Ngalaman dibalik. Jumlah banyaknya kata-kata yang dibalik juga bergantung pada penutur itu sendiri.

Sebagai sisipan pada penelitiannya, ia mengusulkan agar Osob Ngalaman perlu ditetapkan atau dibuatkan Osob Ngalaman Center yang tugas utamanya adalah untuk mendokumentasikan Osob Ngalaman yang ditindaklanjuti dengan studi untuk mengembangkan Osob Ngalaman; memformulasikan textbook sederhana; membuat kamus Osob Ngalaman; membuat pusat belajar Osob Ngalaman; merancang dan merencanakan penggunaan Osob Ngalaman sebagai salah satu promosi wisata.

Dua peneliti lain yakni Riesanti Edie Wijaya dari Universitas Surabaya dan Yenni Mangoting dari Universitas Kristen Petra Surabaya menyimpulkan bahwa bahasa Walikan merupakan bahasa yang muncul dari bawah (dari masyarakat) yang mengandung kreativitas dari para penggunanya untuk saling mengerti pembicaraan di antara para interaktan. Bahasa Walikan merupakan hasil kreativitas penggunanya.

Lebih jauh tentang bahasa Walikan, ada yang memetaan pembagian kata dan kosakata bahasa Walikan menjadi beberapa bagian. Pembagian tersebut disampaikan oleh seorang anggota Kaskus berakun Zam sebagai berikut.

1.      Kata benda: - adapes: sepeda - rotom: motor - libom: mobil - utapes: sepatu - landas: sandal - soak: kaos

2.      nama tempat: - hamur: rumah - ngalam: malang - ayabarus: surabaya - arudam: madura - amalatok: kotalama - onosogrem: mergosono - nahelop: polehan - rajajowas: sawojajar

3.      nama makanan/minuman: - oges: sego - lecep: pecel - ipok: kopi - oskab: bakso - senjem: menjes/sejenis tempe - itor: roti

4.      kata kerja: - ngayambes: sembahyang - rudit: tidur - nakam: makan - halokes: sekolah - hailuk: kuliah - ngalup: pulang - ladub: budal/berangkat - rekem: meker/mikir - uklam: mlaku - utem: metu - ibar: rabi - kolem: melok/ikut - helom: moleh/pulang

5.      kata sifat/keterangan/predikat: - tahes: sehat - sinam: manis - ewul: luweh/lapar - kadit: tidak - itreng: ngerti - kipah: apik/bagus - kewut: tuwek/tua - baiks: seweng/sinting - licek: kecil - komes: semok - nayamul: lumayan

6.      kata sebutan: - sam: mas/kakak/bro! - ayas: saya - umak: kamu - kodew: wedok/cewek - nganal: lanang/cowok - ngonceb: bencong - ojob: bojo/pacar/pasangan hidup - teles ketep: selet petek/dubur ayam - tenyom: monyet - sukit: tikus - ongis nade: singo edan - nawak ewed: kawan dewe/dekat

7.      kata tanya/sebut: - orip: piro/berapa - oyi: iyo/ya!

8.      nama orang: - tigis: sigit - uyab: bayu - kidnep: pendik (vokalis Flanella) - suga: agus

Bagi orang di luar Kota Malang, bahasa ini memang sulit diadaptasi. Butuh semacam cermin imajinasi dalam pikiran sehingga bisa mendapatkan visualisasi kata asli dan pembalikannya. Tapi, bagi warga asli Kota Malang, begitu mudah mengucapkan dalam komunikasi karena telah dilestarikan dengan baik.

Banyak masyarakat yang tidak tahu akan bahasa ini, sehingga membalik-balik seenaknya, akibatnya kita menjadi bingung untuk mengartikannya, untuk itu saya mengajak agan-agan kaskuser arema untuk bersama-sama mengorganisir dalam database ini.

Bahasa Walikan masa kini  menjadi bahasa gaul masyarakat Malang. Yang menjadi garda terakhir pelestarinya adalah supporter sepak bola yang disebut Arema (arek-arek Malang) yang berlambang Singo Edan. Singo Edan sendiri dibalikkan kata menjadi Ongis Nade.

SEKOLAHKU MENYENANGKAN

SEKOLAHKU MENYENANGKAN

Karya  Agatha Neysha Anindiar//Kelas IV-akademik//

Namaku Agatha Neysha Anindiar, biasa dipanggil Neysha. Aku bersekolah di satu-satunya SDN rujukan di Kabupaten Sumenep yaitu SDN Pangarangan III. Sekolah ini sejak awal berhasil membuatku tertarik. Banyak hal yang berbeda dengan sekolah lain. Biasanya murid-murid di sini datang ke sekolah antara jam 06.00 – 06.30 karena ada jam ke 0 yang harus kami ikuti sesuai jadwal. Jam ke 0, digunakan untuk melakukan pembiasaan kegiatan positif, dimulai jam 06.30 hingga 07.00. Senin hingga Sabtu. Dimulai dari upacara tiap Senin, kemudian hari Selasa hingga Jumat bergantian antara membaca buku di pojok literasi yang tersedia di setiap kelas dan membaca Al-Qur’an. Khusus hari Sabtu kami semua senam pagi.

Tiap pagi guru termasuk Kepala Sekolah menyambut siswa di depan gerbang, menyapa kami satu per satu dengan senyum hangat. Bahkan tak jarang juga menyapa wali murid yang mengantarkan putera-puterinya. Kami diajarkan untuk mencium tangan atau “salim” ke guru-guru. “Salim” ini pun tidak sembarang, salim sesuai adat istiadat Keraton Sumenep. Salim dimulai dengan “nun” (posisi kedua telapak tangan merapat seperti posisi menyembah) kemudian kepala menunduk dan mencium tangan guru tepat di hidung bukan di kening atau pipi. Gerakan salim ini ada maknanya, ada nilai penting yang ingin disampaikan yaitu kami orang Madura sangat menghormati dan berharap barokah ilmu dari guru. Murid yang membawa sepeda memarkir dulu sepedanya di luar untuk melakukan kegiatan “salim” ini, setelah itu baru sepeda dituntun memasuki area parkir.

Fasilitas di sekolahku cukup lengkap. Ruangan kelas, laboratorium komputer, perpustakaan, dan ruang pertemuan tersedia. Fasilitas Unit Kesehatan Sekolah (UKS) tersedia lengkap dengan program dokter ciliknya. Toilet yang bersih serta kantin yang menyediakan jajanan sehat juga ada. Sekolahku juga memiliki halaman rindang nan luas, tempat kami bermain, upacara, atau kegiatan sekolah lainnya.

Laboratorium komputer digunakan bergantian oleh semua kelas sesuai jadwal. Seru ketika belajar di ruang ini karena siswa bisa belajar teknologi informasi ditemani guru yang sabar dan telaten. Aku juga sering ke perpustakaan. Jajaran buku yang tertata rapi hampir semua telah kulahap. Aku punya mimpi semoga suatu saat ada donatur yang mau memberi sekolahku buku-buku lebih banyak lagi. Semakin banyak buku semakin membuat kita semangat.

Oh ya, ini bagian yang paling aku suka, aku akan bercerita tentang kegiatan di UKS. Kebetulan cita-citaku adalah ingin menjadi dokter. Bukan berarti ikut-ikutan karena hampir semua anak bercita-cita menjadi dokter, tapi bagiku menjadi dokter itu bisa membantu banyak orang. Jadi ketika ada program sekolah “Kader Tiwisada” atau dokter cilik, aku mengajukan diri untuk ikut serta. Untuk bisa menjadi dokter cilik, ada persyaratan yang harus dipenuhi yaitu siswa harus berpakaian bersih dan rapi serta harus selalu menjaga kebersihan diri. Aku diterima menjadi dokter cilik di sekolah. Dokter cilik memiliki tugas untuk membantu guru mengobati siswa yang sedang sakit. Dokter cilik ini diberi pelatihan untuk pertolongan pertama oleh dokter dari Puskesmas atau dinas kesehatan.

Selain bercerita tentang kondisi fisik sekolah, aku juga ingin bercerita tentang pembiasaan makan makanan sehat yang diwujudkan dengan “Gerakan membawa bekal”. Bekal sekolah ini dibawa siswa dengan menu rumahan, menu yang bergizi untuk menghindari anak memakan jajanan yang tidak sehat. Acara membawa bekal ini diikuti dengan acara makan bersama. Guruku juga ikut membawa bekal ke sekolah. Tiap makan bersama, kita bisa berbagi cerita, atau bahkan berbagi lauk. Tak jarang kami juga sering tertawa bersama.

Sekolahku juga mendukung pengembangan jiwa seni siswanya dengan memberikan fasilitas berupa sanggar “Karembangan”. Aku dan teman-teman bisa belajar bernyanyi lagu daerah, tarian daerah, teater hingga sekolah kami menciptakan pertunjukan cupsong. Cupsong sesuai namanya berarti bernyanyi dengan mengandalkan keterampilan menggunakan gelas plastik untuk menghasilkan suara rancak dan menjadi nada mengiringi alunan lagu Madura. Seru sekali sekolahku, aku bisa belajar apa saja. Belajar tentang pelajaran bahkan belajar kesenian khas “Madura.”  Semakin semangat, semakin cinta kesenian Madura.

Aku sekarang  berada di kelas IV Akademik. Kelas IV akademik ini berarti untuk anak-anak yang memiliki minat terhadap bidang akademik. selain akademik, ada kelas IV kreatif, untuk mereka yang memiliki minat dan tingkat kreatifitas seni yang tinggi, dan kelas IV Bina prestasi. Pembagian kelas ini untuk memaksimalkan minat siswa. Di sekolahku, guru dan siswa bebas menentukan tema kelas. Proses belajar mengajar tidak kaku, tapi dikembangkan sesuai kondisi masing-masing kelas. Guru-guruku di sekolah sangat kreatif mengembangkan cara menemani anak-anak belajar. Di Kelasku bertema “Kelas Nasionalis”. Tiap pagi, kelas selalu dimulai dengan berdoa, hormat kepada bendera sambil menyanyikan lagu indonesia Raya. Setelah itu, aktivitas jam ke 0 dimulai sesuai jadwal. Pelajaran pun dimulai dengan cara berkelompok, presentasi, diskusi, atau sambil melakukan permainan. Di kelasku semua anak bebas menyalurkan bakat dan kreatifitas.

Sistem poin digunakan di kelasku. Sistem ini bukan semata-mata mengambil nilai dari mata pelajaran saja, namun semangat dan kreatifitas siswa juga dihargai dengan poin. Contoh apabila mereka telah selesai membaca di pojok literasi kemudian meringkas buku yang dibaca, maka akan mendapat poin. Siswa yang bisa bernyanyi kemudian tampil bernyanyi dan diunggah ke grup wali siswa, maka juga akan mendapat poin, dan masih banyak lagi yang lainnya. Poin ini dikumpulkan tiap minggu, ditulis sendiri oleh siswa (belajar jujur), dan ditandatangani oleh wali siswa di buku poin. Pemilik poin tertinggi akan mendapat pin Garuda dan terendah akan mendapat pin hitam. pin ini adalah semacam penghargaan atas “semangat” bukan  nilai akademis saja. Semua siswa sangat bersemangat, ada teman yang pertama masuk dapat pin hitam, kemudian karena usahanya bisa berubah menjadi pin Garuda. Begitulah cerita sistem poin di sekolahku. Saat bel pulang berbunyi, kelas nasionalis membaca doa, setelah itu membaca naskah proklamasi. Sungguh nuansa nasionalisme yang kental sangat terasa setiap hari.  Selain siswa tahu tentang simbol dan sejarah penting bangsa, juga agar semanagat cinta tanah air tertanam kuat dalam diri mereka. Semoga ke depan di antara kami ada yang menjadi pemimpin negeri ini. Begitulah harapan guru kami. Keren kan?

Oh ya, selain cinta tanah air, kelasku juga berusaha menanamkan cinta bahasa Madura. Setiap hari Sabtu kita semua menggunakan bahasa Madura dalam setiap percakapan. Banyak kejadian lucu kalau hari Sabtu karena mereka yang aslinya berasal dari suku di luar Madura, sering “medok” atau intonasinya lucu ketika mengucapkan bahasa Madura. Kami sering tertawa, tapi kami tidak mem-bully-nya.  Kami senang bisa berbahasa Madura bersama.


Selain  jiwa nasionalisme,  kelasku juga  belajar berwirausaha. Siswa bergiliran berjualan kue. Modal untuk berjualan sebesar Rp 30.000. Hasilnya akan dikumpulkan sebagai kas kelas. Kas kelas sudah cukup untuk membeli kaos “merah putih”, identitas kelas nasionalis. Cita-cita besar kami adalah uang kas kami cukup untuk berziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Di kelasku juga memberikan wadah bagi anak-anak yang minat di teknologi informasi untuk menjadi admin di media sosial kelas. Instagram  kelasku @kelasnasionalis dan channel Youtube “kelas nasionalis.” Pokoknya kelasku benar-benar seru. Aku memiliki teman-teman yang baik, guru yang asik, dan banyak pengalamanku di sini. Tak lupa aku juga suka berteman dengan kelas lain. Pokoknya sekolah ini adalah sekolah terbaik bagiku.
Buku Adalah Jendela Dunia

Buku Adalah Jendela Dunia

(Karya Assyura Syuriyani, 11 tahun).

Selama ini, aku belum bisa mengerti mengapa buku itu disebut ‘Jendela Dunia.’ Aku sering orang-orang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Artinya dengan membaca buku dapat menambah wawasan. Jujur aku tetap tak mengertu dan tidak peduli bahwa buku adalah jendela dunia. Guruku berkali-kali menjelaskan bahwa membaca buku itu penting. Membaca buku harus dibiasakan setiap hari. Terus terang, membaca buku kadang kadang membuatku merasa bosan.

Aku pernah bertanya epada kakak kelasku mengapa membaca buku itu penting? Ia menjawab membaca buku merupakan syarat kesuksesan, syarat menjadi juara apa pun. Kita dapat menambah wawasan dengan membaca buku. Yah, seperti itulah cara yang tepat, katanya. Aku tetap belum mantab dengan jawaban itu. Aku mencoba membiasakan membaca buku, tapi terasa sangat berat dan terbebani. Sayangnya aku lebih suka bermain untuk mengisi waktuku dengan begitu aku merasa senang dan tidak beban.

Suatu malam, menjelang tidur, ibuku ke kamarku. Aku sempatkan bertanya. Mengapa buku menjadi jendela dunia? Kemudian ibuku balik bertanya kepadaku: bukankah sejak kecil kamu suka berada di dekat jendela? Aku mengangguk sambil mengingat kembali. Kamu bercerita tentang burung-burung yang terbang, layang-layang yang berkelahi, dan orang-orang yang sedang berjalan semua terlihat dari jendela. Semua terlihat dari bingkai jendela. Perjalanan siang dan malang, terbit dan terbenamnya matahari juga terbingkai oleh jendela, bukankah begitu? Kamu bilang itu alasanmu yang membuat kamu suka berada di dekat jendela, lanjutnya. Buku lebih besar dari jendela. Apa yang bisa dilihat dan dibaca di buku lebih luas lagi dari sekedar memandang dari jendela rumah kita. Aku hanya bisa menjawab ya, ya, ya. Aku paham sekarang, batinku sejak malam itu.

Keesokan harinya, mulailah aku mencoba bersahabat dengan buku. Aku mulai membacanya tanpa terpaksa. Sedikit demi sedikit, lembar demi lembar, ternyata asyik juga membaca buku. Aku tidak lagi beranggapan membaca buku itu membosankan.

Suatu saat aku dan temanku di beri tugas oleh guruku untuk mencari buku bacaan di perpustakaan dan harus membacanya. Sejak itulah aku mulai menyadari bahwa membaca buku itu bukanlah sekedar jendela rumahku, tapi jendela dunia. Pintu masuk pengetahuan yang tak terbatas. Justru dengan membaca buku aku banyak menemukan hal-hal yang baru yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Benar apa kata orang-orang dan slogan yang pernah aku baca di perpustakaan bahwa buku itu ‘Buku adalah jendela dunia.’ Sejak aku paham maksudnya, waktuku mulai terasa berharga. Aku meluangkan waktu untuk membaca buku dan terbukti aku kemudian meraih juara olimpiade MIPA tingkat Kabupaten Sumenep, sama seperti kakak kelasku. Ternyata dengan buku aku bisa membanggakan kedua orang tuaku dan mengharumkan nama sekolahku.
          Setelah ku mendapatkan piala penghargaan, lalu aku diberikan hadiah oleh kedua orang tuaku atas keberhasilanku meraih juara. Apa hadiahnya? Ternyata sepuluh buku yang isinya tentang IPA. Materi yang aku suka. Setelah hadiah itu diberikan ibuku hanya berpesan kepadaku ‘’Kamu harus banyak membaca buku selain pengetahuanmu bertambah kamu juga termasuk orang yang dimuliakan.’’  Aku mengangguk dan mengaminkan.

Saat aku membaca buku-buku hadiah dari ibu, aku terkejut. Ternyata banyak sekali hal yang belum pernah aku ketahui hingga aku punya impian ingin membagi pengalaman membiasakan membaca buku ini kepada teman-temanku atau siapa saja berikut buktinya. Sungguh buku itu bukanlah kebiasaan yang membosankan maka aku tidak boleh  menyia-nyiakan waktu senggang. Kalau belum terbiasa, harus dipaksa.

             Suatu malam aku melihat film Harry Poter kisahnya sama sepertiku yaitu jarang membaca buku. Aku melihat film itu sampai tuntas .Saat aku tidur aku bermimpi hal yang sama seperti Harry Potter, tapi buku itu judulnya sederhana saja dan tidak menarik  menurutku. Saat kubuka ternyata ada sebuah pesan yang isinya ‘’Aku akan mensukseskanmu bila kau membaca buku ini. Kau boleh meminta apa saja yang kau inginkan setelah usahamu membaca buku ini sudah selesai.”. Lalu aku membacanya dari awal sampai akhir. Mula-mula aku ragu sekali untuk membacanya, tapi lama-lama akhirnya selesai juga baca bukunya. Tiba tiba keinginanku menjadi terkabulkan, tapi sayangnya aku terbangun. Ternyata aku tersadar kalau bermimpi. Aku merenungkan isi mimpiku. Pesan itu akan kujadikan prinsipku begitu pula pesan ibuku. Dengan dua pesan itu dan jendela dunia itu, aku akan membuktikan bahwa aku bisa mencapai kesuksesan seperti yang aku cita-citakan.                                         
INI BUDI

INI BUDI

Karya Enda Muharromah

Kau tahu ada sebuah Desa bernama Panaongan -Kampung nelayan yang terletak di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, Madura-? Baru kau dengar ini kali kan nama Desa Panaongan? Desa Panaongan sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan. Garis pantai di sepanjang desa membuat masyarakatnya mau tidak mau menjadikan laut sebagai tempat mereka mencari nafkah. Tetapi tak mengapa, apa salahnya menjadi nelayan? Kau bahkan bisa memandangi langit malam bertabur bintang dengan bunyi debur ombak dan menyaksikan matahari terbit di kaki langit tanpa satupun benda menghalangi. Nelayan sebagai pilihan pekerjaan bukanlah sebuah soal, anak yang lahir dari orang tua yang bekerja sebagai nelayanpun bukan sebuah soal. Jika kau menganggap ini cerita tentang aku, kau salah kira. Ini cerita tentang murid SD di rentang waktu 2000-2006. Sebut saja namanya Budi (aku yakin dia tidak akan mau namanya ku sebutkan jika ia tahu aku menulis cerita tentangnya). Ia anak nelayan. Kusebut saja dia Budi karena di tahun 2000-2006 nama itulah yang sering muncul di buku-buku pelajaran dan tokoh Budi juga digambarkan sebagai tokoh yang baik sama halnya dengan Edo dan Lani di buku-buku pelajaran kekinian.
Anak laki-laki bernama Budi itu berlari kecil menyusuri gang-gang sempit menuju sekolahnya, SDN Panaongan 1 –satu-satunya sekolah yang paling dekat dengan rumahnya-. Tak jarang ia berpapasan dengan teman-temannya yang berjalan santai sambil membicarakan dongeng Kiyai yang mereka dengar saat mengaji di langgar malam tadi. Ia tetap berlari bahkan ketika seorang perempuan tua mengingatkannya untuk lebih baik berjalan saja agar tidak banyak keringatnya di pagi hari. Ia berlari. Ia tidak ingin ada murid lain yang tiba di kelas mendahuluinya.  Aku murid pertama yang tiba di kelas, begitu inginnya. Sekolah sudah di depan mata, hanya 100 meter kira-kira jaraknya. Ia bisa melihat dengan jelas nama sekolahnya yang tertulis di bagian depan sekolah, huruf-hurufnya terbuat dari semen yang sudah dicetak-cetak dan dicat warna biru tua. Selokan kecil di depan sekolah ia lompati dengan semangat. Ia sudah sampai di halaman sekolah, tapi ia masih saja berlari. Setelah melewati pot bunga besar di depan ruang guru ia berbelok ke kanan kemudian ke kiri menuju kelas paling pojok dengan pintu berwarna biru. Kelas 1 begitu kelas itu dinamai bapak ibu guru.
Benar saja, ia menjadi murid pertama yang tiba di kelas. Ia tidak langsung masuk. Ia berhenti di pintu kelas, mengedarkan pandangan ke dalam kelas dengan nafasnya yang sedikit tersengal-sengal. Meja guru, bangku-bangku dan asbak yang terbuat dari batok kelapa karyanya dan teman-temannya (mungkin juga karya bapak ibunya atau bapak ibu teman-temannya) yang diletakkan di atas lemari. Kemarin ia sendiri yang menawarkan pada ibu guru untuk meletakkannya di atas lemari agar tidak rusak akibat ulah usil teman-temannya. Ia tahu betul bagaimana kelakuan teman-temannya jika sudah asyik bermain. Ia masuk kelas menuju bangku yang bisa di bilang berada di bagian tengah, di situ ia duduk sembari melepas tas yg sejak tadi digendongnya. Ia melihat sepatunya yang tidak seberapa hitam namun tidak kotor, ia cukup lihai menghindari kotoran ayam dan genangan air di jalan saat ia berlari tadi. Namun malang, kaos kakinya yang mulai kusam melorot. Ahh desisnya, ia menunduk menarik kaos kakinya ke atas. Waah Budi kamu selalu menjadi yang pertama datang setiap hari, kata Bu guru sambil tersenyum. Budi tersenyum tersipu. Bu guru yang berasal dari Jawa, dengan logat Jawanya itu selalu membuat Budi tersenyum. Bu Warni namanya, begitu cantik dan halus tutur katanya. Bu warni selalu menggunakan rok di bawah lutut, sepatu fantofel berwarna hitam yang runcing ujungnya, rambutnya yang panjang disisir ke belakang dan menggunakan jepit rambut berbentuk pita berwarna hitam, rambutnya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri setiap kali Bu Warni berjalan.  Teman-temannya mulai berdatangan, kelasnya perlahan-lahan menjadi semakin ramai. Ia memerhatikan kelasnya yang menjadi riuh gelak tawa teman-temannya. Bahkan ia memerhatikan seorang teman yang mengeluarkan ketapel dari dalam tasnya dan mengajak teman di sebelahnya untuk mencari burung sepulang sekolah. Ahh bukankah pulang sekolah masih lama, kenapa harus dibicarakan ketika bahkan kelas belum juga dimulai batinnya.
Budi selalu semangat saat berada di dalam kelas. Ketika ketua kelas memimpin doa bersama sebelum pelajaran di mulai, suara Budi selalu paling nyaring. Seolah dia ingin mengatakan “aku juga membaca doa!”. Begitu juga saat bu guru memanggil nama murid satu-persatu untuk mengetahui kehadiran murid-muridnya. Budi akan berseru dengan nyaring, “ada!”. Jika sudah begitu bu guru tersenyum menatap Budi dan Budi kembali tersenyum tersipu. Ahh senyum guru yang berasal dari Jawa itu begitu meneduhkan.
Budi suka sekali menggambar. Suatu hari ketika mendapat tugas dari bu guru untuk menggambar apapun yang ingin di gambar oleh murid, Budi senang bukan kepalang. Bu guru memang sering kali mengajak murid menggambar apapun yang ingin di gambar oleh muridnya. Malang, hari itu Budi tidak membawa buku gambar berwarna hijau bergambar Micky Mouse miliknya. Dengan takut-takut ia sampaikan hal itu pada bu guru. Bu guru tersenyum kemudian bertanya kepada murid lainnya adakah yang mau membagi buku gambar miliknya untuk Budi?. Pakai punyaku saja, kata Ani. Budi tersenyum senang menerima kertas gambar yang diberikan Ani untuknya. Terimakasih Ani, kata bu guru. Budi terkejut, ia bahkan lupa tidak segera mengatakan terimakasih kepada Ani saking senangnya. Budi mengucapkan terimakasih pada Ani meski telah didahului oleh bu guru. Ani tersenyum mendengar Budi mengucapkan terimakasih padanya. Tapi kamu tidak boleh pinjam pensil warna punyaku, kata Ani. Aku punya, kata Budi. Kali ini bu guru yang tersenyum. Budi mengeluarkan pensil warnanya . Ia berpikir gambar apa yang akan dibuatnya, kertas gambar yang diberi Ani tidak seperti miliknya. Kertas gambar yang di beri Ani lebih kecil dari miliknya. Seandainya aku tidak lupa memasukkan buku gambar ke dalam tas setelah aku mendengar ibu mendongeng, batinnya. Budi mulai menggambar dengan hati-hati. Mewarnainya dengan hati-hati. Menulisinya dengan hati-hati. Selesai sudah Budi menggambar. Di gambarnya terdapat tulisan INI BUDI, INI IBU BUDI, INI BAPAK BUDI. Hari itu Budi menggambar dirinya sendiri,  ibu, dan bapaknya.
Budi kini sudah kelas 4. Ia masih saja berlari untuk menuju sekolah. Semakin banyak alasan yang membuat Budi selalu berlari menuju sekolahnya. Ia masih tetap ingin menjadi murid pertama yang sampai di kelasnya. Ia ingin menjadi murid pertama yang meletakkan sepatu di rak  sepatu yang terbuat dari bambu yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya ketika kegiatan pramuka akhir bulan lalu. Ia ingin menjadi murid yang menghapus tulisan pak guru kemarin siang saat pelajaran jam terakhir (untuk yang satu ini Budi selalu mendapat pujian dari pak guru). Akhir-akhir ini alasan yang membuat Budi berlari menuju sekolahnya bertambah. Ia ingin menyapa nenek yang biasa berjemur didepan pintu rumahnya. Rumah nenek itu tidak jauh dari sekolah, berada tepat di depan pasar yang berada di samping kanan sekolah. Jika Budi terlambat sedikit saja, nenek itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Saat melewati rumah nenek itu Budi akan memperlambat langkahnya, menyapa si nenek sambil tersenyum. Nenek membalas senyum Budi sambil berkata lirih “baiknya anak itu, berangkat sekolah pagi-pagi dan masih menyapaku yang sedang berjemur. Semoga dia menjadi anak yang mulia akhlaknya”. Budi tersenyum girang, ia didoakan oleh nenek itu!. Budi kembali berlari ketika sudah berlalu dari rumah nenek itu. Ia berlari sambil tersenyum girang. Besok aku harus menyapanya lagi batin Budi. Bukan hanya itu, alasan lain Budi berlari ke sekolah adalah ia juga ingin menyiram bunga mawar yang ada di depan kelasnya yang seringkali tidak dirawat oleh temannya yang bertugas piket (untuk yang satu ini Budi sadar betul bahwa bunga mawar yang ada di depan kelasnya juga makhluk hidup yang perlu makan, perlu  disayangi dan perlu dirawat seperti kata Bu Warni saat Budi masih duduk di kelas 1).
Itu adalah hal-hal yang aku ingat tentang si Budi. Jangan kau tanya siapa aku. Kau pasti tidak menyangka siapa aku dan terheran-heran mengapa aku bisa menceritakan tentang si Budi. Budi anak laki-laki yang selalu berlari menuju sekolah. Budi yang selalu menarik kaos kakinya ke atas karena melorot akibat ia berlari. Untung saja kaos kakiku tidak melorot, batinku. Ahh anak perempuan memang selalu memperhatikan hal-hal kecil yang tidak terlalu penting bukan? Kaos kaki yang melorot saja kuperhatikan. Kini aku tak tau persis bagaimana kabar Budi. Aku sempat mendengar kabar bahwa ia sekarang  tetap berada di Desa Panaongan menjadi nelayan sama seperti ayahnya. ada di kota besar sibuk ini itu bersama komunitasnya. Katanya komunitasnya bergerak di bidang literasi. Bidang yang berhubungan dengan buku-buku, baca-membaca pikirku. Memangnya Budi suka membaca? Bukankah dulu dia suka menggambar? Ahh mungkin dia tiba-tiba suka membaca. Pernah suatu kali aku membaca tentang dirinya di sebuah surat kabar. Katanya pemuda yang ku sebut Budi ini baik orangnya, peduli pada lingkungan sekitarnya dan sering pergi ke daerah-daerah yang haus akan pengetahuan dan buku-buku. Di daerah-daerah yang seperti itu ia akan menyampaikan gagasan-gagasannya, pengalaman-pengalamannya dan membagikan buku-buku secara cuma-cuma. Aahh Budi, Budi. Kalau kau begitu sukanya berbagi gagasan dan pengalaman kenapa kau tidak jadi PNS saja, jadi guru seperti aku misalnya. Ya, aku adalah seorang guru (honorer) di sebuah sekolah dasar negeri. Kau tahu Desa Patean? Di sana sekolahku berada. Ahh Budi, seingatku kau cukup cerdas untuk menyelesaikan soal-soal tes CPNS. Tapi aku cukup bangga padamu. Kau menjadi salah temanku yang berhasil menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Kau juga berhasil menjadi orang yang berakhlak mulia seperti doa nenek yang sering kau sapa ketika kau kelas 4 yang rumahnya di dekat sekolah dasar dulu, mungkin juga itu doa ibu dan bapakmu Budi. Mana ku tahu. Tapi yang aku tahu pasti Bu Warni pasti akan selalu tersenyum padamu.
Ahh aku terlalu lama mengingat kenangan tentang Budi. Lihat kelasku jadi ramai,  murid-muridku banyak yang berlari-lari dalam kelas, sedangkan muridku lainnnya berdiri di depan sudut baca mengambil buku, membolak-balik buku, lihat ada juga yang rebutan buku dan lihat lagi, di pojok kelas murid perempuan menangis karena pensilnya hilang. Baiklah, baiklah. Dengan situasi seperti ini kelasku memang jadi ramai, tetapi bukankah ini semua merupakan bagian dari proses kreatif anak? Jika aku adalah Bu Warni, kira-kira apa yang akan di lakukan Bu Warni untuk menghadapi kelasku ini? Akankah Bu Warni tetap akan tersenyum di kelasku? Atau seandainya Budi menjadi guru kira-kira apa yang akan diperbuatnya?
Budi kau jangan berburuk sangka padaku. Aku tidak lupa untuk mengajar dan mendidik murid-muridku untuk memperhatikan akhlak mereka seperti yang guru kita ajarkan dulu. Aku tidak lupa untuk mencontohkan langsung kepada mereka untuk membuang sampah pada tempatnya, aku juga mencontohkan secara langsung mengucap maaf dan terimakasih kepada murid-muridku seperti yang dilakukan oleh guru kita dulu. Lihatlah murid-muridku yang bernama Lani dan Edo (ku sebut saja mereka Lani dan Edo karena nama-nama inilah yang populer di buku pelajaran kekinian untuk menggambarkan murid yang pandai dan baik). Lani dan Edo adalah murid terbaik di kelasku. Mereka melakukan semua hal yang aku ajarkan pada mereka. Mereka membuang sampah pada tempatnya, mereka mengucap maaf jika salah dan mengucap terimakasih jika ada teman yang membantunya, mereka juga suka merawat tanaman di depan kelas tanpa aku suruh. Mirip denganmu bukan? Tapi mereka tidak suka menggambar.
Budi, lihatlah ini Lani dan Edo. Aku tidak bermaksud mengabaikan muridku yang lainnya seperti Susi (sebut saja begitu) misalnya. Tapi Lani dan Edo memang yang paling menonjol di kelas ini. Budi taukah kau apa saja yang sudah kulakukan untuk membentuk karakter Lani dan Edo? Kalau suatu hari kita bertemu akan kuceritakan padamu bagaimana aku merancang program kelas, bagaimana aku menyisipkan nilai-nilai luhur agama dan sosial pada Rencana Program Pembelajaran yang aku buat. Aahh kau tidak tau tentang RPP bukan? Makanya kubilang seharusnya kau menjadi guru saja (meskipun hanya guru honorer sepertiku). Aku merancang program pembelajaran sedemikian rupa. Sebelum pembelajaran dimulai aku akan mengajak murid-muridku berdoa, kemudian mengajak mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya agar muncul rasa cinta tanah air pada diri mereka, kemudian aku ajak mereka untuk membaca buku-buku yang disukai yang tersedia di sudut baca kelas kami, sesekali aku tanyakan kepada mereka apa isi buku yang mereka baca (kau tentu ingat bukan guru kita tidak mengajak kita untuk membaca sebelum pelajaran dimulai). Tidak hanya sampai di situ Budi, aku juga menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan dan rasa syukur kepada Tuhan ketika aku menyampaikan materi-materi yang berkaitan dengan nilai-nilai itu. Ketika jam pelajaran berkahir aku juga mengajak mereka berdoa dan bersyukur atas apa yang terjadi hari ini, dan sebagai pemanisnya aku mengajak mereka untuk menyanyikan lagu-lagu nasional atau lagu daerah. Bagaimana menurutmu Budi? Apa yang aku lakukan sudah cukup baik bukan? Aahh tapi jangan kau bandingkan aku dengan guru kita dulu, guru kita dulu memang yang terbaik sepanjang masa. Budi, lihat. Lani dan Edo begitu bersemangat bukan?.
Kuceritakan satu lagi cerita tentang mereka. Ceritanya persis sama dengan cerita tentangmu dulu. Cerita ini juga ketika mereka masih di kelas 1. Suatu waktu ketika itu aku mengajak murid-muridku untuk menggambar apapun yang mereka ingin gambar. Kelasku menjadi ramai karena murid-muridku seolah berdiskusi dengan temannya untuk menentukan apa yang ingin mereka gambar. Edo ketika itu diam saja sambil menatap ke arahku. Aku heran dan segera aku menuju tempat dimana ia duduk. Kau tahu Budi apa yang terjadi? Belum sampai aku di tempat di mana Edo duduk, sudah ada Lani yang menghampiri Edo. Lani berkata “ Edo kamu tidak membawa buku gambar? Ini pakai punyaku, aku kasih kamu satu”. Dengan segera Edo menjawab “Terimakasih Lani. Kamu mau pinjam pensil warna punyaku?. Aku tersenyum, percakapan mereka setelahnya tidak aku hiraukan. Bagaimana aku tidak langsung mengingatmu Budi ketika itu?. Aku biarkan murid-muridku menggambar sesuka hati. Selesai mereka menggambar aku kumpulkan hasil pekerjaan mereka dan aku puji mereka sekedarnya, bahwa mereka hebat, mereka sudah berusaha untuk menggambar. Lalu kulihat hasil pekerjaan mereka satu-persatu. Gambar milik Edo membuat aku tersenyum (Budi sekali lagi bukan maksudku untuk mengabaikan gambar milik murid-muridku yang lainnya). Rupanya Edo menggambar dirinya sendiri, orang tua, dan temannya. Baiklah,seketika itu juga aku merasa iri pada Lani. Budi, bukankah ketika itu kau seharusnya juga menggambar aku di kertas gambarmu? Bukankah aku yang memberikan kertas gambar itu padamu?
Bu Ani, apa kami sudah boleh istirahat? Tanya Edo padaku. Aaahhh Ani tentu saja bukan namaku yang sebenarnya. Lagi-lagi aku menggunakan nama  yang cukup populer digunakan di buku pelajaran sekolah dasar pada tahun 2000-2006. Aku pilih nama Ani tentu saja karena Ani adalah teman Budi, Ani juga digambarkan sebagai tokoh yang juga pintar dan baik, bisa juga dibilang Ani adalah tokoh idolaku semasa itu. Aku mengiyakan saja mereka untuk beristirahat di luar kelas. Budi tahukah kau apa yang sangat kurisaukan sekarang ini sebagai seorang guru? Aku tidak khawatir akan prestasi muridku, karena aku sudah menyusun program kelas yang menurutku dapat meningkatkan prestasi akademik mereka, orangtua murid juga  tidak kalah semangat menyuruh anak mereka ikut les ini itu. Aku khawatir program kelas yang sudah aku susun tidak cukup memfasilitasi mereka untuk bisa memiliki karakter dan budi pekerti yang baik. Aku tidak cukup yakin bahwa program yang aku susun seperti menyanyikan lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah ataupun mengajak mereka bersyukur setiap harinya bisa membuat mereka memiliki budi pekerti yang baik.
Budi andai saja kau jadi guru. Kau akan tahu persis bagaimana kerisauanku. Ahh dan aku ingat Bu Warni, guru kita yang berasal dari Jawa itu.  Akankah dulu ia juga risau bagaimana mengajarkan akhlak dan budi pekerti pada kita? Aku yakin  di balik senyumnya kala itu Bu Warni juga risau. Seandainya Bu Warni masih hidup kira-kira apa yang akan ia katakan padaku, apa yang akan ia katakan padamu Budi?


PANGGIL SAYA 'PAK GURU'

PANGGIL SAYA 'PAK GURU'

Sebagai salah satu sekolah dasar rujukan nasional, berproses dengan berbagai bentuk pembiasaan berperilaku baik menjadi pilot project yang harus dipikul bersama oleh sekolah. Pembiasaan berperilaku baik selanjutnya disebut dengan program Penguatan Pendidikan Karakter atau disingkat PPK. PPK menjadi salah satu bagian dari prioritas pembangunan yang menjadi misi pemerintah dengan revolusi mentalnya. Untuk bahasan bentuk-bentuk pembiasaan berperilaku baik tersebut, secara khusus akan ditampilkan potret salah satu guru dari satu kelas secara zoom in yakni SDN Pangarangan 3, Kabupaten Sumenep. Sebut saja nama guru tersebut Pak Badrul karena ia tidak mau disebut nama aslinya. Ia adalah guru kelas 4-A. Guru ini nantinya hanya mau dipanggil Pak Guru, bukan Pak Badrul. Alasannya akan disampaikan pada bagian akhir tulisan ini.
Langsung saja ke tempat kejadian peristiwa. Di depan pintu gerbang SDN Pangarangan 3 sudah berdatangan wali murid mengantar putera-puterinya. Para guru telah menanti kedatangan mereka sejak pukul enam pagi. Mereka menyambut kedatangan para murid dengan pembiasaan melakukan ’salim’ (memposisikan kedua tangan dalam keadaan menyembah sebagai tanda penghormatan, kemudian meraih dan mencium tangan para guru).
Setiba di kelas, murid-murid melanjutkan aktivitasnya dengan melaksanakan jadwal piket harian membersihkan dan menata perabotan kelas. Mereka yang tidak sedang piket memburu buku bacaan umum di etalase buku kelas, mencatat identitas buku, kemudian mencatan hal-hal yang menurut mereka penting. Ini disebut sebagai kegiatan literasi. Kegiatan ini dilaksanakan sekitar tiga puluh menit sebelum pelajaran dimulai. Aktivitas tersebut tentu didampingi guru kelas.
Ketika bel penanda masuk kelas berbunyi, murid-murid keluar kelas kemudian berbaris rapi dipimpin oleh ketua kelas. Sang guru sudah berdiri di pintu masuk menyambut para murid masuk kelas sambil kembali ‘salim’ sebagai tiket masuk mereka. Pemandangan yang sama dijumpai pula ketika mereka pulang.
Dimulailah proses pembelajaran diawali dengan mengucapkan salam, berdoa, menghormat bendera, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya (saat ini ditulis, mereka sudah mampu menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza diiringi musik). Guru kelas menyapa mereka dengan greeting berbahasa Inggris seperti good morning, how are you today? Mereka pun menjawab dengan membalas sapaan good morning, dan I am fine. Tak lupa pula meneriakkan yel-yel kelas sebagai penyemangat pagi. Ketika guru kelas meneriakkan kata “4-A” mereka menyambutnya dengan yel “Yes, the best, uing uing uing, huh hah, hihihihi (tertawa kecil).”
Kelas tersebut memiliki beragam aksesoris kelas yang semuanya diduga dapat bersinergi untuk tujuan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Di dalamnya meriah dengan atribut dan perlengkapan yang mendukung program PPK sepeti bendera merah putih, gambar presiden dan wakil presiden, papan pajang karya siswa per kelompok, papan pengumuman, papa reward, papan struktur, perpustakaan mini kelas yang bertema hutan baca (lebih besar dari sudut baca), sudut agama, sudut pasar, dan sudut prakarya.
Bagian muka kelas selain terdapat perabotan kelas, di bagian atas dinding berbaris foto para murid ukuran  A4 berwarna hasil cetak banner. Pada foto-foto tersebut terdapat identitas siswa seperti nama, tanggal lahir, dan cita-cita. Setiap hari mereka selalu melihat foto mereka dan mengingat cita-cita. Dengan harapan semakin diingat semakin kuat cita-cita tersebut terwujud kelak. Cita-cita dan mengafirmasinya setiap hari adalah bentuk lain dari doa. Hal itu selaras dengan spanduk panjang yang menempel di tembok bagian belakang yang berisi kalimat ‘Imagination is more important than knowledge.’
Tidak lupa pula terpajang pada tembok foto guru kelas 4-A sebagai bentuk partisipasi guru membuat suasana kelas bernuansa kekeluargaan. Mirip seperti ruang keluarga. Ketika guru sedang tidak berada di kelas karena tugas lain, paling tidak foto guru mereka menjadi hipnosis bagi mereka bahwa mereka tetap dalam perhatian guru kelas mereka atau sebagai pengobat rindu mereka ketika sang guru lama mengikuti pendidikan dan pelatihan di luar kota.
Saat proses pembelajaran berlangsung, guru hampir tidak pernah duduk di kursi. Guru berkeliling ke tiap-tiap kelompok kadang duduk bersama mereka dalam kelompok secara bergilir. Pada waktu tertentu pengelompokan diatur ulang kembali sehingga tidak terjadi dominasi menoleh ke arah tertentu saja dan selalu mendapat teman kelompok yang berbeda setiap bulannya.
Saat proses pembelajaran juga guru tidak pelit untuk memberikan satu atau dua tanda bintang untuk satu atau beberapa murid sebagai penghargaan karena pertanyaan kritis murid, tepat menjawab pertanyaan guru, atau dengan senang hati membantu teman sekelas tentang materi tertentu. Bintang yang mereka peroleh berlabel sesuai dengan kemampuan mereka pada materi-materi tersebut. Bintang tersebut mereka tempel sendiri di papan reward kadang dibantu temannya untuk sekedar merekatkannya.
Sang guru juga membentuk para asisten di bidang-bidang tertentu seperti murid ahli dalam muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Matematika, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan sebagainya. Ketua kelas dan murid yang memperoleh bintang terbanyak akan mendapatkan sematan pin garuda Pancasila di dada sebelah kiri diiringi tepuk tangan hangat teman sekelas. Menghargai pencapaian mereka walau sedikit memberikan kepercayaan diri yang besar kepada mereka untuk lebih pesat berkembang.
Ketika para murid tampak kelelahan atau jenuh, sang guru kelas mengajak mereka menonton film anak-anak seperti ‘Di Timur Matahari,’ ‘5 Elang,’ atau bermain alat musik recorder dan memainkannya dengan iringan musik yang sudah disiapkan. Sang guru sering mengajak murid untuk memainkan recorder dengan lagu sederhana yang hanya terdiri dari dua atau tiga not seperti Flying Kite, Hot Cross Burns, Stairs Race, Mary Had A Little Lamb, Andante, dan Buzz Buzz Buzz. Ada pula lagu dengan not yang lebih kompleks seperti lagu Hymne Guru dan Trimakasihku. Sang guru yakin musik membantu memberikan keseimbangan otak kiri dan kanan serta memberikan endorphin alami bagi murid. Mereka merasa senang. Ketika senyum dan tawa mereka telah kembali, guru mengajak mereka kembali pada tematik pembelajaran.
Uniknya, ketika proses pembelajaran berlangsung kemudian ada tamu mengetuk pintu kelas dan mengucapkan salam, mereka serentak menjawab salam tersebut dan dilanjutkan dengan menyapa balik dengan good morning/good day mr./mrs. Kalau mereka tidak mengenal tamu tersebut mereka akan memanggilnya dengan good morning/good day visitor.  Kebiasaan tersebut tentu telah dibiasakan oleh sang guru. Tanpa pembiasaan, mustahil dapat tertanam dengan baik.
Sebelum mereka asyik mengerjakan tugas menghitung, guru selalu menanyakan lagu kesukaan mereka. Setelah sepakat dengan satu atau dua lagu yang sekiranya cukup waktunya, diputarlah lagu mereka sekaligus sebagai penanda saat lagu kesukaan mereka habis berakhir pula waktu yang disediakan untuk pekerjaan mereka. Lumayan, mendengarkan musik sambil mengerjakan tugas.
Setiap hari, walaupun bel penanda istirahat berbunyi, mereka enggan keluar kelas. Mereka lebih asyik di dalam kelas. Ada banyak alat-alat permainan di kelas seperti catur, alat-alat musik, wayang kardus, atau alat permainan yang mereka bawa sendiri dari rumah. Mereka keluar sebentar hanya untuk membeli minum atau kue kemudian kembali ke kelas. Ramailah kelas setiap hari.
Selama kegiatan proses pembelajaran, sang guru juga selalu merekam momen-momen penting dan unik. Selain merekamnya dalam bentuk catatan pada buku anekdot/catatan murid juga diabadikan dengan kamera baik dalam bentuk foto atau video. Beberapa momen istimewa dibagikan di media sosial dan grup paguyuban. Ketika salah satu dari mereka tertidur di kelas, guru melarang membangunkannya, tapi tetap merekamnya dengan baik sebagai bahan diskusi pribadi dengan wali murid.
Begitulah sekilas penampakan kelas dan kegiatan pra dan pasca pembelajaran harian. Bentuk-bentuk kegiatan yang intra dan ekstra sekolah juga saling mendukung penguatan pendidikan karakter seperti kegiatan Sanggar Karembangan dengan kegiatan teater, tari tradisional, dan gamelannya. Gugus Depan 0115/0116 dengan kegiatan ekstrakurikuler wajib pendidikan kepramukaannya juga berkiprah. Visioner (nama majalah sekolah per tengah tahunan) dengan kegiatan redaktur cilik dan majalah sekolah juga mendukung dan saling menguatkan penerapan program PPK.
Sebagai akhir dari keseluruhan proses pembelajaran setiap hari, selalu ditutup dengan berdoa, memberi salam, kemudian menyanyikan lagu wajib Syukur. Sang guru menetapkan pilihan yang tepat atas lagu tersebut sebagai bentuk dan cara yang lain dari wujud rasa bersyukur atas ilmu yang diperoleh para murid hari itu. Setelah lagu Syukur, mereka kembali duduk menunggu ditunjuk secara berkelompok untuk pulang lebih dulu. Dasar penunjukannya cukup sederhana. Kelompok yang paling rapi, atau paling bersih di bawah bangku-bangku mereka, atau sikap paling manis senyumnya.
Pilihan doa penutup yang dibaca para murid adalah doa akhir majelis. Doa tersebut sangat tepat mewakili rasa syukur dan tekad untuk senantiasa memperbarui keimanan. Doa Pembuka Kepahaman Ilmu dilanjutkan dengan Doa Nabi Musa yang memohon kelapangan dada dan kemudahan dalam segala urusan juga pilihan yang sangat tepat dan saling mendukung dari awal hingga akhir proses pembelajaran.
Dari sekian bentuk dan cara tersebut, sang guru selalu merasa ada saja yang kurang sehingga perlu menemukan ide baru. Bulan kedua tahun pelajaran 2017/2018 semua murid kelas 4-A wajib memanggil guru kelas dengan sebutan Pak Guru. Sebelumnya mereka memanggil dengan Pak diikuti nama guru yang bersangkutan yakni Pak Badrul. Cukup lama merenungkannya, akhirnya harus diterapkan. Dengan pertimbangan bahwa panggilan pak dilanjutkan dengan nama terasa kurang sopan dan santun.
Guru adalah bentuk profesi sama halnya dengan dokter. Pasien rata-rata memanggil dokter dengan Dok atau Pak/Bu Dokter, bukan Pak kemudian diikuti namanya. Menurut guru kelas 4-A terasa nikmat sekali ketika mendengar murid-murid memanggilnya dengan Pak Guru, tanpa namanya. Setidaknya dengan panggilan profesi tersebut dapat menanamkan sifat sopan dan santun kepada guru. Panggilan tersebut juga dapat menjadi penyetara dari keragaman di sekolah. Hanya dengan panggilan Pak/Bu Guru, semua keberagaman menjadi setara dalam profesi. Pembiasaan sebutan atau panggilan tersebut setidaknya sebagai bentuk penghargaan terbaik dari para murid untuk guru mereka.
Kesimpulan sang guru, dengan panggilan Pak/Bu Guru secara tidak langsung diperoleh dampak sebagai berikut. 1) kesadaran bawah sadar bahwa para guru adalah pribadi yang terhomat yang patut digugu dan ditiru; 2) kesadaran bawah sadar bahwa para murid pada posisi haus ilmu, butuh asupan ilmu sehingga gurulah orang yang paling berjasa setelah kedua orangtua; 3) kedudukan terhormat guru di hati para murid yang pantas adalah mendapatkan sikap dan perilaku sopan dan santun; 4) guru adalah utusan Tuhan dalam bidang ilmu pengetahuan dan perilaku yang baik yang wajib disyukuri keberadaannya; dan, 5) guru adalah orangtua kedua yang menemani belajar mereka dengan tulus dan penuh curahan kasih sayang seperti orangtua mereka.

Bagaimana Pak Presiden dan Pak Menteri Pendidikan Nasional apakah ide sebutan ‘Pak Guru termasuk pembiasaan perilaku yang baik? Semua murid di kepulauan Madura serta orangtua mereka memanggil guru dengan Pak/Bu Guru, lho! Kalau memang baik dan membawa dampak kebaikan, apa tidak sebaiknya dibuatkan peraturan presiden atau peraturan menteri? Tinggal menunggu jawaban terbuka Pak Presiden dan Pak Menteri Pendidikan.