Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

1994: Subuhnya Merah

Jembatan Merah 1945

Bumi kita hijau dan subur

Kaya dan indah

tapi pernahkah kita berpikir

kalau tanah yang kita pijak adalah tulang yang mendebu

dan hijau yang tumbuh karena darah yang mengering

Sudikah kita sekedar menundukkan kepala?

 

Kita jadi kikir dipeluk jaman

dan pura-pura bodoh

kalau di bawah telapak kaki kita pernah mengalir darah

dan air mata yang telah kering bersama tulang

 

Surabaya, Agustus 1994

Posting Komentar untuk "1994: Subuhnya Merah"