513 Km (True Story): Part 19 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 19

Selama hidup, Badrul banyak kenal dan dekat bahkan intim dengan perempuan lain. Tapi, hingga ketika menghadapi cerai gugat, ia belum paham tentang perempuan. Menurutnya semua omongan dan tindakan perempuan menjadi tak nyata dan misterius. Apakah karena pada tubuh perempuan terlalu banyak yang harus ditutupi sehingga semua serba tak disangka dan diterka?

Ketika ditanya apakah ia cemburu? Perempuan akan bilang tidak, dengan sangat tegas. Ketika suami bertanya bolehkah ia menikah lagi? Maka ia akan menjawab, silakan saja, tapi di dalam pikiran dan hatinya ia sangat ingin memotong kemaluan suaminya.


novel,fiksi,cerita,kisah nyata,true story,


Sosok isteri sering menampakkan kesabaran seperti keturunan dewa, tapi tetap ada sebilah pisah di balik bajunya. Dengan menampakkan kesabaran, ia tetap mencatat semua kesalahan sang suami, jika waktunya tepat, ia akan menghancurkan suaminya.

Bagi Badrul menangis dan tersenyumnya seorang perempuan, isteri, sangat berbahaya dan tak mudah ditebak. Badrul merasa makhluk yang paling berbahaya baginya dibanding se peleton pasukan bersenjata lengkap adalah seorang isteri. Isteri dapat membunuh suami kapan pun walau dalam selimut. Atau semudah-mudahnya dapat meracuni makanan suaminya dan mati pelan-pelan.

Walau bagaimana pun ocehan pikirannya menilai perempuan, Badrul tetap menilai Nirmala sebagai isteri terbaik. Faktanya, Nirmalalah sumber semangatnya hidup. Nirmalalah yang membuatnya tangguh menghadapi situasi apapun dan bagaimana pun.

Jarak lebih dari seribu kilometer pulang-pergi  dengan berani Badrul jalani puluhan tahun. Nirmala membuatnya selalu merindukan pelukannya sejauh apapun jarak yang ia tempuh dan seberapa lama, ia tetap akan pulang. Baginya, Nirmala adalah bidadari surga yang senyumnya saja dapat membuatnya menantang badai. Nirmalalah sumber inspirasinya. Rumah yang di dalamnya ada Nirmala adalah surga bagi Badrul.

Sambil menunggu panggilan sidang kedua, bukannya Badrul tidak akan ke Malang lagi. Ia pasti ke Malang walaupun tidak diperkenankan pulang ke rumahnya. Setidaknya dengan ke Malang, bisa mengengaja melihat dari jauh wajah Nirmala saat perjalanan berangkat dan pulang kerja.

Hari cerah dan udara segar sekitar Velodrom mewarnai semangat Badrul untuk dapat melihat wajah Nirmala dan sedikit membunuh rasa rindunya. Apapun yang terjadi menurut hatinya, Nirmala tetaplah isteri yang sangat dicintainya sampai ajal merenggutnya. Tidak ada alasan baginya untuk melenyapkannya dari hatinya.

Sambil menyeruput kopi di warung pinggir jalan Velodrom, dengan berdebar-debar, ia menunggu Nirmala lewat. Pikirnya, kalau pun tidak bertemu saat Nirmala berangkat, mungkin bertemu saat pulang kerja. Lumayan untuk mengobati rindu.

Selain Jumat dan Sabtu, biasanya Nirmala berangkat kerja pukul delapan lebih dan baru pulang tepat jam dua siang. Itu pun kalau longgar, tidak ada jam lembur. Jarak rumah ke kantornya hanya lima menit. Dulu Badrul memang bercita-cita punya rumah dekat kantor agar Nirmala tidak terlalu capek di perjalanan. Keinginan Badrul tercapai. Itu membuatnya bahagia.

Lalu lalang sepeda motor dan mobil Badrul amati dengan jeli. Ia takut ketika menyeruput kopi atau matanya berkedip, Nirmala lewat tanpa ia ketahui. Tidak masalah baginya jauh-jauh dari tanah kelahirannya ke Malang, sekadar melihat wajah kekasihnya.

Tentu setelah itu Badrul akan mengabari kedua anaknya kalau ia sedang di Malang. Ia tentu sangat kangen pula dengan mereka. Mereka pun begitu. Nantilah, setelah urusan rindu selesai, batin Badrul.

Benar, Nirmala lewat. Nirmala hanya memperhatikan ke depan. Ia tidak tahu sama sekali kalau sedang diamati Badrul. Nirmala memang tidak tolah-toleh ketika berkendara. Tak puas hanya melihatnya sekilas, ia pun berjalan kaki mendekati kantornya. Toh, tidak ada yang akan tahu karena Badrul pakai masker, kecuali isterinya. Isterinya sangat hafal dengan semua kaos, jaket, dan celana jeans Badrul.

Ia pun merapat ke sekitar kantornya. Ia berharap Nirmala keluar walau sekadar ke tempat parkir. Badrul ingin menamati wajah kecintaannya. Namun, ditunggu lama, tidak juga kunjung datang. Akhirnya, Badrul memutuskan mencari penginapan. Pukul dua siang ia akan menunggu Nirmala pulang kerja.

Badrul membayangkan seandainya Nirmala tahu dirinya sedang memperhatikannya di jalan kemudian menyapa: “Loh, Ayah?” Nirmala menghentikan sepeda motornya kemudian meminggirkan mendekati Badrul, suaminya.

“Iya, Ma.”

“Kapan sampai Malang?”

“Tadi!”

“Ngapain di sini?”

“Menanti Intan!”

Badrul, bangun! Jangan mimpi!

Kenyataannya memang tidak seperti itu. Buat Badrul tidak masalah, yang terpenting dapat melihat wajah bidadari surganya.

Badrul kemudian memberitahukan ke kedua anaknya kalau menginap di tempat yang sama menggunakan Oyo. Si Sulung tahu tempatnya. Kemudian mereka bertemu di cafe sederhana untuk melepas kangen ayah dan anak. Singkat, tapi quality time.


Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 19"