513 Km (True Story): Part 17 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 17

Kian hari terasa makin sulit. Badrul tidak punya pulsa, kuota internet di hapenya, dan kuota internet di modemnya. Semua kosong. Badrul juga tidak punya uang untuk sekedar beli rokok. Lusanya, Badrul meminta uang ke adiknya untuk sebungkus rokok. Kemarin, meminta ke temannya untuk tiga bungkus rokok. Nah, kemudian habis. Dengan terpaksa, Badrul mengais puntung di asbaknya. Beberapa puntung rokok yang masih panjang, ia sulut dan isap lagi. Duh, Drul mengapa semenderita itu.

Ia memeriksa beberapa tempat di kamarnya. Pertama di dompetnya. Siapa tahu ada uang terselip. Kemudian periksa tasnya, lemari, di bawah kasur, di bawah tempat tidur, di meja, di celah-celah buku, di lipatan baju, tapi tidak bertemu uang.


novel true story


Kemudian ia memeriksa map plastik yang berisi nota dan laporan pekerjaannya tiga tahun lalu. Ada sebuah amplop. Sepertinya uang. Setelah dibuka, benar ada uang. Badrul sangat bersyukur, ada uang seratus ribu rupiah lebih. Akhirnya ia bisa merokok lagi.

Selanjutnya ia berharap-harap cemas, tanggal jatuh tempo beberapa hutangnya sudah mendekat. Ia menunggu keajaiban datang. Apapun yang terjadi, terjadilah, batinnya.

Ia juga sering kali memeriksa aplikasi driver Gojek di hapenya. Sudah dua bulan lebih, belum juga terverifikasi. Kalau berhasil, setidaknya tidak bingung untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya jadi pegawai negeri sudah cukup tidak perlu ngarit ke mana-mana, tapi karena ekonominya terjun ke jurang, harus ada pekerjaan di luar profesinya.

Sudah matang Badrul menghitung-hitung. Biasanya kalau kekurangan biaya hidup, ia tinggal mengirim pesan ke isterinya. “Ma, ayah tidak punya uang!”

Kemudian Nirmala pasti membalasnya: “Iya, nanti Mama kirim!”

Kemudian tidak pernah lagi. Badrul tak mau lagi membebani Nirmala apalagi dengan kondisi tergugat cerai. Lebih-lebih Nirmala tidak pernah menanya kabar apa Badrul masih hidup atau sudah mati.

“Sudahlah, Ayah. Sabari saja. Sudah takdir Ayah mungkin!” Si Sulung mengirim pesan.

Badrul sangat butuh pulsa dan kuota internet. Setidaknya untuk tetap menulis setiap hari. Atau nonton drakor. Iseng-iseng melalui Sulung, ia bilang mau pinjam uang seratus ribu buat beli kuota. Badrul juga bilang kalau gajian akan diganti.

Badrul berpikir, tak mungkin mau. Eh, ternyata, Nirmala masih kasihan kepada suaminya. Badrul sangat senang sekali. Melalui Sulung, Badrul memintanya mencium Nirmala.

“Bilang itu ciuman dari ayah ya!”

“Sudah ayah!”

“Gimana mamamu tidak marah?”

“Gak sih, cuma judes aja kelihatannya.”

Badrul senang sekali. Luka hatinya sedikit terobati. Berkali-kali ia bilang terima kasih melalui Sulung ke Nirmala.




Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 17"