513 Km (True Story): Part 18 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 18

Pernikahan pada akhirnya bukan hanya menyatukan dua orang menjadi sepasang. Pernikahan bukan sekedar menyatukan serumah dua jenis kelamin. Pernikahan bukan soal bercampurnya kimia hasrat hewani. Pernikahan bukan hanya sebatas haha hihi, tapi ada banyak hal tak terduga yang harus dihadapi bersama.

Ada banyak hal yang harus disepakati bersama. Pernikahan indah diidamkan, tapi tak seindah ketika dijalani. Ada banyak situasi dan kondisi yang secara terpaksa atau sukarela harus diterima di kedua pihak. Ada banyak perilaku yang kemudian baru diketahui kedua pihak. Pernikahan pada akhirnya membuka topeng dan kedok siapa sebenarnya masing-masing dari mereka itu.




Ketika berkomitmen bersama dalam menjalani pernikahan kedua pihak terpaksa atau sukarela menerima jika salah satu pasangannya tidak bekerja, belum mampu menafkahi atau membantu perekonomian rumah tangga. Kedua pasangan, ketika sudah menikah akan menampakkan jatidirinya. Sangat berbeda sekali dengan suasana ketika masih pendekatan.

Kedua pihak secara terpaksa atau sukarela menerima bau badan, kejorokan, kekonyolan, kemanjaan, kebisingan, kecerobohan, bau mulut, bau kentut, perkataan kasar, dan sebagainya. kedua pihak akhirnya menutupinya agar tidak terendus orang lain, menjaga marwah rumah tangga.

Pernikahan yang berjalan puluhan tahun, pada akhirnya muncul kebosanan, diakui atau tidak. Suami isteri kemudian menjadi terasa seperti sebatas teman, saudara, ayah atau ibu, atau sebatas teman seranjang. Butuh rangsang ekstra untuk mengklik gairah hewaninya. Butuh tenaga pikiran yang kuat untuk bisa merayu seperti ketika pendekatan. Keduanya sudah fokus perhatiannya kepada buah hatinya.

Oleh karena itu, sebagian orang Islam berpendapat bahwa suami dan isteri bukan mahram. Saling bersentuhannya membatalkan wudhu. Ketika terjadi perceraian, maka kedua berstatus janda dan duda atau mantan. Sedangkan anak dari keduanya tidak disebut mantan anak, tetap sebagai anak dan tetap menjadi mahram yakni orang yang tidak boleh dinikahi dan tidak membatalkan wudhu.

Pernikahan tak selamanya indah. Ada beberapa momen terjadi perselisihan yang tak dapat terelakkan. Ada tawa, ada tangis. Ada politik. Ada kebohongan yang kadang ditutupi agar tidak menyakiti salah satu pasangan. Kejujuran kadang menjadi bumerang prahara yang menghancurkan keutuhan rumah tangga.

Muncul kecemburuan, kejenuhan, kemarahan, kebencian, tekanan, beban mental mewarnainya. Ada yang bertahan sukarela atau terpaksa hingga salah satu atau keduanya disergap maut. Banyak pula yang pada akhirnya, tak lagi sepakat menjalin hubungan suami isteri dan memilih berpisah. Akhirnya pernikahan ibarat rantai makanan saja. Siapa yang kuat dapat memutuskan, yang lemah menerima takdir dengan terpaksa atau sukarela.

Ketika perceraian terjadi, maka yang menjadi korban adalah keturunan mereka. Jangan dikira anak-anak tidak terluka hati dan pikirannya. Seandainya mereka mau ngomong akan bilang begini: “Mengapa orang tua tidak bisa melihat kami?”

“Mengapa mereka mementing diri mereka masing-masing tidak memihak kami?”

“Jangan salahkan kami, jika suatu saat terjadi sesuatu pada kami dan kami akan bilang semua ini salah anda-anda!”




Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 18"