Manusia Indonesia: Halu - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Manusia Indonesia: Halu


Mochtar Lubis, 6 April 1977, seorang jurnalistik dan sastrawan itu, naik ke podium seraya memulai pidatonya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pidatonya membuat telinga panas. Antara membenarkan atau menyangkal. Antara marah dan pura-pura mengiyakan. Pidato tersebut kemudian dibuatkan bukunya dengan judul Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab).

Apa isi pidato yang memuat bahasan tentang Manusia Indonesia? Mochtar Lubis kemudian memerinci poin-poinnya berikut rincian detilnya. Berikut beberapa hasil komtemplasinya tentang manusia Indonesia.


Sumber: Jalan Tikus


Mochtar Lubis menyebut ada enam sifat manusia Indonesia yang sangat khas, melekat, dan mendarah daging bahkan sulit diubah. Keenam sifat tersebut adalah: 1) munafik atau hipokrit, 2) enggan dan segan bertanggung jawab, 3) berperilaku feodal, 4) percaya takhayul, 5) artistik, dan 6) berkarakter lemah.

Nah, sehubungan dengan fenomena yang saat ini sedang viral ada kaitannya dengan ciri manusia Indonesia tepatnya nomor 4. Masyarakat melenial menyebutnya orang-orang ‘halu.’ Orang yang sangat percaya dengan hal-hal takhayul dan tidak logis. Munculnya kasus dukun, ustad yang praktik dukun, atau kyai yang sedang berprofesi sebagai dukun, mempertegas bahwa sifat manusia Indonesia masih tetap sama, sejak dulu hingga kini, masih percaya takhayul walaupun pada akhirnya merasa dibohongi.

Viralnya kasus Marcel Radhiva (Pesulap Merah) vs Gus (?) Samsudin menjadi bukti bahwa mayoritas manusia Indonesia suka dengan hal klenik dan perdukunan. Banyak konten youtube dukun dengan trik kamera dan editing visual menjadi makanan pokok wawasan pikiran manusia Indonesia. Kehidupan manusia Indonesia tidak akan jauh-jauh dengan perdukunan. Sakit panas saja langsung ke dukun. Dompet kering juga ke dukun.

Ada beberapa orang yang medukun (mengaku mempunyai kelebihan supernatural) mengaku mampu melihat hal gaib bahkan ada yang mengaku dapat mewujudkan hal gaib ke dunia kasar (nyata). Beberapa konten di youtube mempertontonkan bagaimana wujud pocong, kuntilanak, genderuwo, dan sebagainya. “Ya rijalul ghaib, hadiiiir!” Begitu mereka memanggil dan mewujudkan makhluk gaib ke dalam wujud nyata. Benarkah? Bukankah hal dan makhluk gaib hanya dapat dilihat secara nyata tidak dengan kedua mata kasar?

Sebenarnya tujuan Marcel dalam banyak konten youtubenya hanya bermaksud mengedukasi masyarakat agar lebih realistis dan logis merespon fenomena. Beberapa fenomena yang ada dalam praktik perdukunan pun mampu ia buktikan bahwa kejadian tidak umum tersebut hanyalah trik sulap. Banyak bukti seperti Qulhu Geni (mengeluarkan api). Ternyata memunculkan api dengan tiba-tiba dengan menggunakan zat kimia.

Ada pula kasus pembuktian batu merah delima oleh para dukun atau orang yang mengaku supernatural. Ternyata juga menggunakan zat kimia pengubah warna air dan penetralnya.

Gus (?) Samsudin kemudian melakukan pembelaan bahwa yang dilakukannya adalah ilmu gaib. Ia juga menyatakan bahwa itu adalah ilmu rasa sejati atau ilmu hikmah. Beberapa orang simpatisan Samsudin membelanya dengan menyatakan bahwa ilmu hikmah itu keyakinan tidak ada sangkut pautnya dengan akal.

Intinya, Marcel hanya ingin membuka wawasan masyarakat Indonesia agar dapat menggunakan akal sehat karena dengan menggunakan akal sehat semua akan selamat dari dosa kesyirikan. Kembali kepada para pembaca, apakah yakin dengan keilmuan Gus (?) Samsudin atau dengan logika Marcel?

Posting Komentar untuk "Manusia Indonesia: Halu"