513 Km (True Story): Part 8 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 8

Tentang bagaimana masa depan Badrul selanjutnya, ia sadar masih banyak ruang dan peluang. Ia akan menghadapi proses mediasi kedua. Ia tak lagi merancang apa yang akan dilakukan pada mediasi kedua. Ia juga tak ingin mendekte Tuhan agar sesuai keinginannya. Ia hanya akan mengikuti semua alur permainan yang Tuhan jalankan.

Ada quote menarik dari sebuah film bollywood berjudul Runway 34 yang menyatakan bahwa ada dua aspek dari setiap kejadian yakni apa dan bagaimana itu bisa terjadi? Di antara keduanya, terdapat kebenaran. Kebenaran tentang apa dan bagaimana jawaban atas usaha Badrul akan jadi bagian akhir dari kisah 513 Km ini.




Apa dan bagaimana 513 Km terjadi? Pertanyaan itu juga dua aspek yakni tentang apa itu 513 Km dan bagaimana 513 Km terjadi. 513 Km adalah jarak perjalanan darat Sumenep ke Kalianget sejauh 10 km. Ditambah jarak tempuh perjalanan laut Kalianget ke Sapeken sejauh 205 km. Ditambah jarak  Surabaya-Ssumenep 166 Km dan jarak Surabaya-Malang sejauh 132 Km. Total sekali jalan 513 Km. Kalau dihitung pulang pergi tinggal dikalikan dua menjadi 1.026 Km.


Sumber https://youtu.be/037YieQb2jY

Bagaimana 513 Km terjadi? Badrul dan Nirmala sejak pacaran hingga punya dua anak, menjalani kisah cinta jarak jauh. Keduanya sepakat untuk saling bertahan dan setia sambil menunggu takdir yang tepat Badrul mutasi kerja ke Malang. Beberapa kali Badrul berusaha mutasi, tapi kenyataan berkehendak lain. Badrul yang berumah tangga, tampak seperti tidak punya isteri karena belahan jiwa dan kedua cahaya matanya tidak setiap saat di sisinya.

Berapa lama waktu yang diperlukan Badrul untuk berjumpa kerinduannya? Butuh tiga puluh dua jam atau pulang pergi enam puluh empat jam. Jika diakumulasi selama dua puluh tiga tahun, waktu Badrul di perjalanan jika dirata-rata pulang pergi dua kali sebulan, oh entah berapa banyak waktu terbuang.

Perjalanan 513 Km adalah jarak pergi dari rumah surga dan jarak pulang menemui belahan jiwa dan cahaya mata Badrul. Itu telah Badrul lewati dengan menyabari selama tiga belas tahun tanpa menyerah. Delapan tahun sisanya, setelah pindah kerja di pusat Kabupaten Sumenep, Badrul jalani dengan jarak sudah lebih pendek dibandingkan dengan 513 Km. Namun, keseluruhan kisah ini kedua aspek apa dan bagaimana itu terjadi tetap akan diceritakan pada bagian akhir novel ini,

Sambil menunggu mediasi kedua, selama beberapa hari Badrul mematikan komunikasi online seluruhnya. Ia hanya dapat dihubungi secara seluler melalui sms atau telepon. Dalam kondisi tidak stabil Badrul sungguh memilih tak ingin ditemani siapapun. Ia memilih sendiri. Ia memilih sepi komunikasi dengan siapapun.

Sebelum cerai gugat oleh isterinya terjadi, Badrul sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya. Pada kondisi ini, ia sangat ingin berhenti. Pada keadaan tertentu ia sangat mencintai isteri dan kedua anaknya, pada kondisi lain ia mempertanyakan rasa cintanya kepada mereka. Yang nyata saat di posisi tergugat, ia merasa betapa Nirmala sangat berarti dalam hidupnya di masa lalu dan di masa depan. Ia tak ingin kehilangan bahkan momen terkecil sekalipun bersama mereka. Terlebih di masa yang tidak lagi muda baginya.

Andai ia mau protes secara jujur, bukankah dirinya dan Nirmala memasuki masa tua? Tidakkah sebentar lagi menghadapi maut? Tidak tahankah isterinya sekedar bersabar untuk menunggu Badrul mati? Atau kehadiran Badrul di sisa umurnya telah menjadi sosok terseram yang tak ingin dilihatnya ketika maut menjemput Nirmala?

Suami adalah sesosok tuhan dunia bagi isteri. Ia juga sesosok tuan dan raja. Ia sesosok imam, teman, kolega, dan sebagainya. Jika sejumlah sosok tersebut tidak lagi tampak di mata Nirmala, maka sungguh Badrul adalah sosok manusia yang haram kehadirannya.

Kalau kembali ke pernyataan Pak De Serumah yang menyatakan bahwa keluarga besar Malang tidak ada lagi yang mendukung Badrul, sungguh ia tak menyangka. Bukankah ia seharusnya bersikap layaknya rang tua pengganti kedua orang tua Nirmala yang di dalam tanah? Sudahkah mempertemukan Badrul dan Nirmala untuk menyelesaikan masalah? Sudahkah dilakukan mediasi keluarga besar menghadirkan Badrul? Sudahkan dilakukan yang selayaknya orang tua lakukan jika terjadi sesuatu terhadap anak dan menantu? Tidak pernah! Bagaimana tersimpulkan tidak ada dukungan lagi dan merasa kecewa? Bagaimana bisa memutuskan dan menjadi kompor atas masalah tersebut?

Badrul sadar dengan status Nirmala yang sejak kecil yatim piatu, mana bisa seorang paman bersikap seolah orang tua aslinya? Sedekat-dekatnya kerabat tidak bisa menggantikan kebijaksanaan orang tua sendiri. Mereka adanya hanya bisa menonton dan bertepuk tangan. Seibarat netizen di media sosial hanya bisa menghujat dan menertawakan kemalangan orang lain walaupun bukan siapa-siapa dan tak terlibat dalam kerugian.

Badrul pernah berpesan kepada sepupu, om bagi anak-anaknya, suatu saat tolong ingatkan Nirmala untuk membuat surat wasiat tentang kedua rumahnya. Hal itu ia lakukan untuk antisipasi keadaan terburuk karena semua rumah atas nama isteri Badrul. Isi wasiat yang dimaui Badrul agar ahli waris atas rumah tersebut diperuntukkan kedua anaknya.  Jika Badrul suatu saat meninggal tidak ada pengaruhnya atas rumah tersebut, tapi jika isterinya yang meninggal tanpa mewasiatkan ahli waris atas rumah tersebut, anak-anak Badrul bisa kehilangan hak mereka.

Badrul berdoa semoga rumah tangganya masih bisa diselamatkan. Setidaknya dengan begitu dapat melihat senyum tertulus kedua anaknya.




Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 8"