513 Km (True Story): Part 7 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 7

Sudah sekian hari Badrul tidak berdiri di kelas. Ia merasa tak sanggup secara mental berdiri di depan murid-muridnya. Ia hanya menunggu keajaiban. Beberapa saudara dekatnya berdatangan ke rumah untuk menjenguknya karena beberapa hari tidak terlihat online di WA. Semua kuatir dengan keadaannya.

Sebagai pegawai negeri, secara hukum ia melanggar aturan karena telah berhari-hari tidak masuk kerja. Ia sudah tak peduli lagi dengan semuanya. Beberapa saudara dekatnya mengingatkan bahwa penting untuk tetap bekerja setidaknya dapat hiburan dari anak-anak murid. Badrul tetap tak tersentuh untuk kembali bertugas mengajar.




Tampak ibu Badrul yang renta itu tergores duka di wajahnya. Badrul tak bisa pula menyembunyikan luka sehingga ia memilih tidak ikut dulu dalam perputaran roda hidup. Ia memilih diam di kamarnya berhari-hari dan mengobati dirinya dengan tidur panjang dan menonaktifkan komunikasi online apapun.

Kedua anak Badrul karena sudah beberapa hari ayah mereka tidak bisa dihubungi lagi secara online. Mereka kuatir takut terjadi apa-apa dengan sang ayah. Akhirnya anak sulungnya menghubunginya melalui panggilan telepon.

Terdengar isak tangis yang sepertinya sudah lama berlangsung. Dengan terbata-bata sang anak menanyakan ayah ke mana saja. Kami kuatir. “Ayah tidak boleh begitu. Kami sayang ayah. Aku berusaha membujuk mama. Mohon bersabar ya. Ayah baik-baik saja kan?”

“Iya, ayah tidak apa-apa. Ayah masih hidup kok!”

“Aku ke situ ya?”

“Jangan Nak, ayah tidak apa-apa kok!”

“Ayah jangan begitu. Aku benar-benar berusaha di sini. Bismillah ada keajaiban. Jadi Ayah jangan patah semangat!”

Badrul benar-benar dalam kondisi tidak baik-baik saja. Hanya menunggu keajaiban seperti yang dikatakan anaknya.

Ketika komunikasi Badrul dan Nirmala masih lancar melalui WA, Badrul bercerita kalau ia sudah mulai salat lagi. Ikut perkumpulan salawat dan sebagainya. Setidaknya dengan cara itulah ia bertahan sebagai manusia waras. Namun, sangat miris ketika Nirmala menanggapinya begini:

“Apakah salat dan zikir yang telah tiap malam ayah lakukan ada hasilnya?”

“Mana dampak jalur langit yang Ayah tempuh?” Seolah-olah ia ingin mengatakan “Tuhan saja sudah tidak mau mendengarmu, Badrul!”

Dalam kesempatan lain, Nirmala juga sms Badrul. “Mana hasilnya ayah mendalami agama? Mana hasilnya salawatan? Kok tidak bisa mengubah diri ayah lebih baik?” Sms tersebut dikirim karena Nirmala merasa Badrul belum menunjukkan perilaku baik. Badrul belum juga mengajar sebagai tanggung jawabnya kepada negara. Nirmala menganggap Badrul telah membuat anak-anaknya sedih dan kecewa.

“Duh, Gusti, jika doaku masih Engkau dengar, maka kabulkan dan tunjukkan pada isteriku bahwa Engkau Maha Membolak-balikkan hati. Mohon tunjukkan bahwa Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu apalagi hanya terhadap segumpal hati Nirmala. Buatlah ia kembali kepadaku sebagai isteri! Jika Engkau menghendakiNya!”

“Bukankah Engkau berikrar bahwa ‘Mintalah kepadaKu, maka akan Kukabulkan!’ Bukankah Engkau juga mengatakan bahwa Engkau tidak akan membuat air mata dan tadahan tangan ini sia-sia? Bukankah Engkau akan berlari jika aku berjalan merangkak kepadaMu? Bukankah Engkau Maha Mendengar dan Maha Melihat serta Maha Mengabulkan doa-doa? Bukankah Engkau Maha Sayang kepada para makhlukMu? Bukankah Engkau Maha Penerima Taubat? Bukankah rahmatMu Maha Luas? Bukankah rahmatMu mendahului azabMu?”

“Ya Tuhanku, di dalam tubuhku ada ruh dan  Ruh ini yang Kautiupkan sendiri ke dalam rahim ibuku. Ruhku—yang RuhMu ini—sedang sakit. RuhMu ini luka dan compang-camping. Terlara-lara dan kerontang. Jika umur ini tak membuat ruhku Kauridhai, sudahi saja. Namun, jika ruhku ini adalah ruhMu juga, tidakkah Engkau merasakan sakit? Tidakkah Engkau bersedia menjengukku? Tegakah Engkau dengan keadaan ruhku seperti ini? Apa yang akan Kaulakukan? Jika azab dan rahmat ini nikmatMu, bisakah aku memilih?”

“Tuhan, aku menyerah dan pasrah! Aku sudah berusaha keras agar cerai gugat yang diajukan isteriku ditolak hakim. Tinggal menunggu keajaiban dariMu! Jujur aku masih menginginkan aku diterima sebagai suaminya hingga aku benar-benar mati dalam pangkuannya!”

“Aku bergantung pada prasangkamu!” Suara dari langit. “Aku masih berprasangkan bahwa Engkau akan mengembalikan Nirmala!”

Suatu hari, dua orang teman guru berkunjung lebih tepatnya tilik kepada Badrul. Badrul tampak sangat kacau penampakannya secara mental dan fisik. Terlihat sangat kurus dan pucat. Lemah dan tak bergairah. Mereka banyak berbicara seperti quotes kebijakan yang tersebar di media sosial. Walaupun Badrul menunjukkan tidak butuh nasihat, hanya ingin didengar, tetap saja kata-kata semirip peluru menggempur dada Badrul. Badrul pun memilih banyak diam daripada menyinggung orang yang memberinya nasihat.

Ada satu hal yang benar yang mereka sampaikan bahwa Badrul harus berusaha hingga puncak. Segala yang telah diupayakan oleh Badrul tak bisa ditagih secara instan hasilnya seperti yang diinginkan. Hanya waktu yang akan memberikan jawaban sebagai bukti atas usaha Badrul kembali bersama Nirmala. Yah, tidak ada hasil instan yang terjadi dalam siklus upaya memperbaiki kehidupan. Apapun hasilnya, suatu hari harus tetap Badrul terima sebagai ketetapan.

Sampailah pada titik di mana Badrul seyogyanya menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta. Sampailah pada titik di mana Badrul tidak lagi menggunakan keinginannya untuk memaksa Tuhan mengabulkannya apalagi mengancamNya. Yang bisa ia lakukan hanya pasrah pada akhir upayanya. Ikhtiar sudah, doa sudah, tinggal pasrah.





Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 7"