513 Km (True Story): Part 6 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 6

Seorang teman Badrul yang lain juga mengatakan “Kalau semua usaha sudah buntu, saatnya melalui jalur langit!”

Nah, ini baru masuk pada akal Badrul. Ketika sudah tidak ada gagasan usaha lagi untuk merebut kembali hati Nirmala, maka perlu komunikasi jalur langit. Sebagai orang Madura, bisa saja membuat Nirmala tergila-gila dengan menggunakan pelet. Bisa saja Badrul membuatnya berlutut dan menyembahnya, tapi sekali lagi Badrul hanya inginkan hatinya bukan tubuhnya. Tidak ada rumus dalam hidup Badrul untuk membeli jasa dukun. Dengan melakukan itu, ia takut ketika sekarat nanti, arwahnya dijemput para dukun untuk diperkerjakan di alam tergelap dan menjadi setan.




Mulailah Badrul menggunakan langkah terakhir yakni komunikasi jalur langit. Setiap malam hingga sepertiga malam, ia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tidak ada kata lain selain mengakui bahwa semua adalah salahnya. Bahwa banyak dosanya yang bahkan isterinya tidak mengetahuinya. Bukan dosa kecil dan receh, tapi sebagian besar adalah dosa-dosa yang teramat besar selain syirik.

Air matanya tumpah seperti hujan di sepanjang tahun. Seperti hujan di musim banjir. Mendung yang telah lama bergelayut di pikiran dan dada isterinya telah benar-benar menjadi badai baginya.

“Sabar ya, ini ujian!”

Bukan, ini bukan ujian, tapi lebih kepada hukuman, sahut Badrul. Ia sangat sadar dan mengakui bahwa semua yang ia alami saat ini ada buah dari benih yang ia tanam selama ini. Tidak ada cara lain selain meminta ampunan kepada Tuhan dan berserah diri serta menerima semuanya dengan ikhlas.

Ia sadar bahwa tidak ada dosa yang tidak berkonsekuensi. Tidak ada dosa yang enak pada akhirnya. Semua dosa pada akhirnya dimintai tebusan. Semua dosa akhirnya mendapatkan nota tagihan yang harus dibayar tunai.

Benar-benar sangat berat. Sabar dan ikhlas bukan perilaku manusia. Manusia semaksimal apapun usahanya hanya mampu menyabari, mengikhlasi, bukan pada tahap sabar dan ikhlas. Sakit? Sungguh teramat sakit. Menyatakan dosa secara jujur tanpa ditutup-tutupi dihadapan Tuhan saja sudah merupakan sakit yang amat menyiksa. Tubuh terguncang-guncang menahan tangis dan isak agar senyap tak terdengar orang lain di tengah malam.

Melalui jalur langit, Badrul merasa rendah dan hina betul sebagai makhluk. Ia merasa tak pantas sebagai hamba. Ia juga menyampaikan kepada semesta langit bahwa sungguh ia sangat menyesal telah membuat isterinya sangat menderita dan kecewa.

Sebagai suami ia tidak lagi pantas menjadi imam seorang isteri. Sebagai ayah ia juga tidak pantas menjadi panutan para anak. Sebagai guru, ia juga munafik kalau harus tetap berdiri di depan kelas. Sebagai manusia, ia hanya pantas mendapatkan hak bernapas dan bergerak seandainya Pencipta tak lagi mengasihinya. Itu saja.

Sungguh, Badrul telah melakukan dosa berulang. Seibarat jatuh ke lubang atau jurang yang sama berkali-kali ia menyengaja terjun. Tentu isteri mana yang akan sanggup hidup bersama iblis berwujud manusia seperti Badrul ini.

“Tuhan tolong, ampuni aku!”

“Assalamu alaika ya Rasulullah!”

Dua kalimat tersebut yang sering lirih terdengar bersama isak tangis Badrul di setiap malamnya. Ia masih berharap bisa memenangkan hati isterinya. Ia masih berharap isterinya yang sangat sabar itu menerimanya kembali sebagai suami. Ia masih berharap, ia dan isterinya dapat serumah bersama kembali. Rumah yang dibangunnya bersama, baginya adalah surga yang dapat ia rasakan di dunia ini. Walaupun dalam perjalanan hidupnya ia selalu berjalan di pinggir jurang neraka, tapi ia selalu setia pulang ke surga itu.

Dosa apa yang tidak Badrul lakukan? Seandainya Tuhan tidak Maha Menutupi Aib, sungguh akan terpampang jelas seperti baleho para kontenstan politik. Atau seperti terburainya surat kabar di jalan-jalan. Sungguh betapa malu ia. Dengan segala macam dan bentuk dosanya yang teramat besar, ia masih punya kalimat harapan bahwa rahmatNya mendahului ampunanNya.

Sungguh pada titik terlemah akhirnya Badrul mengakui dan menyadari bahwa untuk melakukan dosa diwajibkan deposit atau prabayar sedangkan untuk melakukan kebaikan adalah free, juga akan dibayar dengan bonus deposito.

Dalam kondisi terpuruk dan miskin kemudian digugat cerai isterinya, kata pertama yang muncul dari mulutnya sambil mengelus dada adalah “Duh, Gusti!” Saat itulah ia merasakan bahwa Tuhan itu benar-benar ada dan eksis. Selama ini ia mencari segala ilmu tentang ketuhanan bahkan berpuluh-puluh tahun, ternyata ia baru menyaksikan eksistensi Tuhan ketika benar-benar berada di titik terendah manusia.

“Duh, Gusti!” Menurutnya adalah sebutan yang paling sopan bagi manusia untuk Tuhannya. Bahasa mengiba dan meminta pertolongan. Sama halnya dengan memberikan salam kepada Kanjeng Nabi dengan menyebut “Assalamu alaika ya Rasullullah wa rahmatullahi wa barakatuhu!” Menurutnya setidaknya dengan salam tersebut, syukur-syukur Kanjeng Nabi menoleh walau tidak membalas secara langsung salamnya. Ia sangat yakin itu.

Kalau Badrul mau egonya yang bicara, tentu ia akan membela diri dan juga akan mengorek kesalahan isterinya. Tentu, sangat masuk akal jika dilakukan untuk setidaknya tidak malu dalam sidang.

Sebenarnya bukan hal ekonomi yang membuat Nirmala berani menggugat cerai suaminya. Dua nama perempuan lain selainnya yang telah membuatnya ingin menerkam. Walaupun dua nama itu telah usang, ternyata hal itulah yang membuat Nirmala lelah dan ingin melepas suaminya.

Kalau soal makan dan saldo tabungan bukan masalah, tapi dua nama itu telah membuatnya terluka sangat dalam. Sejak usia tiga puluh tahun ke atas, Nirmala lebih cemburu dari remaja. Memuncak saat di atas empat puluh tahun, cemburu telah menjadi racun baginya. Mungkin karena memasuki menopause.

Seperti dalam suratnya, untuk pembelaan Badrul dapat berkilah dengan dalih LDR. Cinta jarak jauh sehingga dengan alasan itu, mungkin isterinya dapat memahaminya. Namun, mata cemburu tak dapat menjadi pisau keadilan. Ia dapat membunuh siapa saja dan tentu dapat membunuh cinta yang dirajut bersama  selama dua puluh satu tahun. Cemburu telah membuatnya gelap mata, gelap hati, gelap rasa bahkan gelap untuk memandang ke arah Tuhan. Dan semua itu bukan salahnya. Semua itu salah Badrul yang tak dapat menahan diri untuk tetap lurus berjalan tanpa menikung.

Bisa saja Badrul berdalil bahwa suami dapat menikah lagi selain LDR. Dalil tersebut pun tak ada gunanya ketika hati Nirmala sudah dikuasai cemburu. Andai ia diberi pedang, maka akan ia tebas siapapun yang terdaftar namanya dalam orang-orang yang ia benci, termasuk Badrul.

Badrul bisa saja menyalahkannya karena tidak mampu melayaninya setiap saat karena berjauhan. Tentu bagi Nirmala, hal itu tidak penting lagi. Hatinya telah lebih dulu dihinggapi kobaran api dan mulutnya siap menerkan memakan siapapun yang punya nama yang telah dicoret merah di hatinya.

Sungguh berat bagi Badrul menerima kenyataan bahwa ia tidak lagi diterima pulang ke rumah yang dibangun bersama. Ia tidak lagi diterima sebagai suami. Ia hanya akan diterima sebagai ayah oleh anak-anak.

Egonya menuntut Tuhan dengan pembelaaan-pembelaan yang membuatnya merasa nyaman. Lagi-lagi bukan soal nyaman untuk dirinya sendiri, tapi sudah tidak nyaman bagi isterinya untuk melanjutkan perjalanan hidup bersama. Jika isterinya telah merelakan atau kasarnya membuang kisah dua puluh satu tahun  dengan tega, tentu luka luar biasa yang telah dideritanya. Badrul harus menurunkan egonya, setidaknya untuk terakhir kalinya memenuhi permintaan bahagia isterinya yakni berpisah dengan dengan dirinya.

Dalam kesedihannya, Badrul kadang menertawakan dirinya sambil menangis. Hidup yang dialaminya mirip kehidupan artis. Sangat mudah menendang suaminya karena alasan tak nyaman atau cemburu. Atau alasan karena suaminya tidak bisa diharapkan lagi secara ekonomi. Keren hidupmu, Badrul!

Setelah berhasil sejenak menertawakan hidup, kembali ia tenggelam dalam tangis yang panjang. Ia kadang merasa iri dengan batu atau orang gila. Sepertinya bahagia menjadi batu dan orang gila. Tangisnya melolong menjerit di sepanjang malam. Ia bahkan telah berhari-hari tidak bekerja lagi. Sebagai pegawai negeri dan mengajar di lembaga pendidikan, ia merasa tak sanggup lagi berdiri di depan anak didiknya. Ia lebih nyaman tidur saja atau menangis di kamar.






Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 6"