513 Km (True Story): Part 5 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 5

Segala usaha telah Badrul tempuh setidaknya untuk mendapatkan hati Nirmala kembali. Dengan berbagai rayuan konvensional pun mulai digelar. Segala kado dan kata-kata indah pun diluncurkan. Hati Nirmala tidak sedikit pun tergetar. Hatinya tetap pada pendirian bahwa sudah waktunya mengakhiri hubungannya sebagai isteri.

Dua hari sebelum sidang pertama, Badrul sudah berada di Malang. Tentu ia tidak di rumah bersama isteri dan anak-anak karena ia tidak diinginkan lagi wujud di hadapan mereka di rumah itu. Badrul pun menumpang hidup beberapa hari di rumah Pak De Sulung. Beruntung, keluarga Pak De Sulung masih mau menerimanya walaupun secara darah, Pak De Sulung masih paman Nirmala.




Selama Badrul di rumah tersebut, sang anak secara bergiliran menemaninya menginap. Kalau hari pertama anak tertua, hari berikutnya anak bungsu. Baru saat malam terakhir Badrul di Malang, kedua anaknya sama-sama menginap dan menemaninya.

Sebelum kembali ke tanah asal, Badrul sempatkan ke rumah surganya. Niatnya meminta maaf kepada orang yang dituakan di rumah yakni Pak De (saudara tua dari ibu Nirmala alm.). Selanjutnya disebut Pak De Serumah.

Dalam percakapan senyap dan miris tersebut, Pak De Serumah secara garis besar menyampaikan bahwa Badrul tidak perlu datang ke sidang, biar semua berjalan lancar dan cepat. Tidak buang-buang waktu. Itu artinya orang yang ikut dan tinggal bersamanya ke mana-mana juga tak inginkan Badrul kembali ke rumah tersebut sebagai kepala rumah tangga. Yang paling menyayat adalah ketika ia mengatakan kepada Badrul bahwa keluarga besar Malang sudah kecewa dan tak lagi mendukung Badrul. Cukup!

Badrul hanya sebentar di rumah itu. Dengan langkah gontai, Badrul kemudian pamit kembali ke rumah tumpangan. Sang isteri mengantarnya ke pintu pagar dengan mata sangat iba memandangi Badrul. Tak ada kata-kata lagi setelah itu sampai Badrul tiba di rumah tumpangan.

Badrul masih teringat, saat pulang ke rumah surganya duduk di tempat tamu. Sementara orang yang dimintainya maaf duduk di tempat tuan rumah. Sungguh hidup itu tak terduga. Ketika hidup sudah tidak sejalan dengan keinginan, rasanya benar-benar nyesek!


Sumber https://youtu.be/hxADTEJalRw

Sehari sebelumnya, Badrul juga mengunjungi kuburan ibu mertua. Ibu Nirmala. Badrul mengajak anak pertamanya. Sebelum berdoa hikmat, tak lupa membersihkan permukaan kuburan dari rumput yang meninggi. Setelah bersih, baru ditaburi dengan bunga dan disirami air. Kemudian Badrul memimpin doa dan anaknya mengaminkannya.

Setelah berdoa, Badrul meminta anaknya agak menjauh. Badrul ingin bicara secara pribadi dengan ibu mertua.

“Ibu, saya digugat cerai oleh anak ibu. Saya memang salah dan berkali-kali melukai hati anak ibu, tapi sungguh saya tak ingin berpisah dengan anak ibu. Orang yang paling saya cintai hanya anak ibu. Dan untuk membeli air mata dan kebahagiaan cucu-cucu ibu, hanyalah bersatunya kembali saya dengan anak ibu sebagai suami isteri. Kalau tidak, saya tidak akan mengirimi ibu Fatihah lagi karena hanya saya selama ini yang mengirimi ibu Fatihah.”

“Ibu, saya mohon, bisiki hati anak ibu agar mencabut gugatan cerainya di pengadilan agama. Saya sungguh mohon ibu! Ibu pasti mendengar permohonan saya! Terima kasih!”

Setelah berbincang dengan ibu mertua tepat di kayu nisan kepalanya, Badrul kembali ke tempat tumpangannya bersama anaknya. Ia sedikit lega telah mengancam ibu mertua. Semoga cara itu bisa membantunya mengembalikan hati Nirmala kepadanya.

“Sabar ya! Kamu kuat kok!” Seorang teman mencoba menghibur dengan kata sabar. Dalam hati Badrul, seandainya ia mampu sabar pasti sudah menjadi nabi. Tak ada seorang pun di dunia setelah nabi yang mampu berbuat sabar, kalau upaya menyabari masih mungkin dilakukan.

Seorang teman lain juga berusaha menghibur bahwa dengan ujian yang berat ini akan menaikkan kelas dan derajat seseorang. Hey, Badrul tidak ingin naik kelas, Badrul hanya ingin bidadari surganya kembali! Tolong ya, Badrul tidak butuh kata-kata hipnotis, kalau mau membantu diam saja dengarkan curahan hatinya. Tidak semua orang bermasalah itu butuh kata-kata atau nasihat, kadang hanya butuh didengarkan.

Ada sebuah kisah yang dibaca Badrul mengisi sedihnya. Kisah tentang laporan setan kepada iblis. Para setan melaporkan bahwa mereka telah membuat manusia berzina, berselingkuh, mabok, dan sebagainya. Sang iblis menerima laporan bawahannya dan mengatakan bahwa itu hal biasa, bukan prestasi. Kemudian ada satu setan melapor hasil kerjanya dengan mengatakan bahwa ia telah berhasil membuat dua manusia, pasangan suami isteri jadi bercerai.

Sang iblis bertepuk tangan dan tertawa. “Nah, ini keren! Inilah puncak prestasi! Kamu pantas mendapatkan medali atas sukses yang kamu berikan kepadaku!” Oleh karena itulah mengapa Tuhan sangat membenci perceraian, walaupun halal dilakukan.





Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 5"