513 Km (True Story): Part 4 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 4

 

Beberapa surat ia juga sudah layangkan kepada Nirmala. Surat pertama yang dilayangkan secara online kepada Nirmala saat pertama kali menerima surat panggilan sidang pengadilan agama Malang. Dengan surat-surat tersebut siapa tahu sebelum sidang pertama, Nirmala dengan sukarela mencabut gugatan cerainya.

Sidang pertama pun tiba. Badrul hadir kembali di Malang. Tentu, lagi-lagi menginap di rumah Pak De Sulung ditemani kedua anaknya.

 Sidang pertama tidak lebih dari dua menit berlangsung kemudian dilanjutkan dengan mediasi. Sidang pertama gugat cerai digelar hanya untuk memastikan penggugat apakah akan melanjutkan persidangan atau tidak. Jika penggugat melanjutkan untuk berperkara dan tergugat menolaknya, maka langkah berikutnya adalah mediasi.




Beberapa hari sebelum sidang pertama, inilah surat yang Badrul kirimkan untuk Nirmala.

 

Sungguh betapa besarnya rasa bencimu padaku hingga mengajukan cerai gugat ke pengadilan di belakangku. Mungkin di matamu aku tampak lebih mengerikan dari iblis atau seperti kotoran anjing yang tak layak kau sentuh. Ke mana aku akan pulang?

Kebencianmu mungkin sudah tak berukuran manusia sehingga merasa pantas membuang suamimu begitu saja. Menurutmu tidak perlu lagi menanyakan kabar entah di mana dan sedang apa. Tidak perlu menanya makan apa dan punya uang apa tidak. Mungkin dengan gugat ceraimu kamu anggap kita telah tamat. Mungkin dengan gugat cerai yang kautempuh sudah mengesahkanmu membuangku seperti bangkai ke sungai.

Beruntung masih ada yang menerimaku menumpang saat seharusnya pulang. Beruntung pula aku masih punya anak-anak yang masih menganggapku ayah. Setidaknya rasa nelangsaku terobati walaupun makin terluka. 

Dalam puisiku aku menulis bahwa yang paling terang bagimu adalah kegelapan. Yang paling tampak di matamu adalah semua kesalahan. Mata kebencianmu telah mematikan nyala cahaya bahwa setiap orang punya kebaikan walaupun setitik.

Tidak ingatkah engkau bagaimana kita memulai semua perjalanan ini? Tidak ingatkah kalau kisah ini dimulai dengan merayumu dengan sejudul puisi cinta dan sebatang mawar merah? Bukankah kau tahu jika mawar itu kucuri dari kebun tetangga? Tidakkah kau ingat aku merayu dengan lagu Iwan Fals dan petikan gitar sebisanya? Tidakkah kau ingat bahwa kisah cinta kita dimulai dengan merayumu dengan sekotak terang bulan?

Mencintaimu bukan jalan yang mudah. Aku dan kamu terhalang jarak. Kita juga bukan orang yang tangguh secara ekonomi. Ingatkah kamu bahwa untuk melihat senyummu, aku harus dua kali naik angkot dari tempat kosku? Kurasa kebencianmu yang dalam sudah membuatmu lupa dari mana semua kisah ini berawal.

Ingatkah kau berapa banyak surat cinta yang sudah kita buat agar jarak tetap menjaga cinta kita? Surat cinta itu telah melewati berbagai kota hingga sampai terbaca. Ingatkah kamu bahwa kencan kita hanya bisa kita lalui dengan jalan kaki dan naik angkot? Ingatkah kamu bahwa tidak semudah dan sedekat itu perjalanan jarak untuk bisa melihat senyum di wajahmu? Sungguh kebencian telah menghanguskan semua kisah kita.

Aku tahu aku memang salah dan berkali-kali mengulanginya. Aku tak akan membela diri karena jelas aku yang salah hingga kamu memutuskan secara sepihak memilih jalan menggugatku cerai. 

Kita dikaruniai anak-anak yang baik. Apakah kamu anggap mereka ada dengan memutuskan jalan seperti ini? Apakah kamu mendengarkan dengan hatimu bahwa mereka menginginkan ini? Sudahkah kamu pastikan mereka tidak menyembunyikan air mata? Apakah air mataku dan air mata mereka juga air matamu hanya melanggengkan keinginan masing-masing agar dirimu terbebas dari iblis seperti aku ini? Pikirkan lagi. Lebih dalam lagi. 

Kita sama-sama mempunyai leluhur yang nikah cerai. Apakah engkau dan aku akan meneruskannya? Apakah rela anak-anak kita juga seperti itu? Tidak adakah keinginan terdalam untuk ini dengan sedikit menggeser kebencianmu yang mendalam?

Berawal dari jalan kaki, kemudian tidak lagi. Berawal tidak punya rumah sendiri, kemudian punya rumah dan mandiri. Bukankah itu pencapaian dengan menahan sakit? Cinta jarak jauh yang kita lewati yang kita coba setiai setiap saat bukankah sudah terbiasa dengan rasa sakit? Tidak adakah setitik rasa syukur? Tidak adakah satu saja kebaikan yang kulakukan yang dapat kausebut jadi pengikat kembali tali hati kita?

Sekali lagi aku memang yang salah. Semua memang salahku, tapi tidakkah kamu menyisir juga apa ada satu saja kesalahan yang pernah kamu lakukan kepadaku sebagai isteri? Setidaknya jika kau temukan, bisa sedikit meredakan sakitmu. Jika tidak, maka sungguh kamu telah silau akan kegelapan daripada cahaya.

Sebagai tergugat, bukankah aku masih suamimu yang sah? Sekali lagi kutanya, apakah aku masih suamimu yang sah? Apa yang dapat kamu tunjukkan sebagai isteri di masa seperti ini? Tak ada. Setidaknya ada perbuatan baik walau basa-basi sebagai manusia diakhir pengabdianmu sebagai isteri dari iblis sepertiku.

Setiap saat kutunggu kedatanganmu menjengukku di rumah yang kutumpangi. Dalam angan, siapa tahu kamu datang berkunjung sekedar tahu keadaanku. Dalam angan, aku berharap kamu mengajakku pulang ke rumah yang kita bangun. Dalam angan, setidaknya untuk terakhir kalinya kamu menunjukkan kebaikan kepada manusia. Ternyata tidak sama sekali. Kamu sibuk membangun kebencianmu berbunga dan berbuah matang.

Momen hari raya Idul Adha pun kau tak datang. Kamu benar-benar membuang suamimu. Takbir yang kudengar menyambut hari raya besok, terasa senyap. Terasa ngilu di hati. Menyayat dalam. Aku benar-benar manusia terbuang.

Sejak awal aku berprasangka kaulah bidadari surgaku. Engkau yang terkuat. Engkau yang tercantik luar dalam. Engkau yang lapang buat bersandar. Engkau yang selalu dipenuhi senyum. Engkau yang tak pernah mengeluh senakal apapun aku. Engkau yang telah terbukti pengabdiannya bahkan soal mendidik dan membesarkan mereka.

Lebih berharga merawat bencimukah daripada merawat perasaan anak-anak kita? Lebih berharga menyingkirkan akukah daripada melihat senyum mereka? Lebih berharga meneruskan jejak leluhur kitakah daripada menghentikannya?

Jika langkah yang kauambil masih kurang, boleh kok ambil lebih jauh. Aku mengijinkan asal terbayar lunas untuk menebus semua salahku padamu. Saat sidang kelak, aku akan hadir untuk menghormatimu karena engkau yang telah menyeretku ke pengadilan agama.

Aku akan menghormati institusi hukum walaupun hati kecilku sangat ingin membakarnya hangus. Aku akan datang tanpa membela diri apapun bahkan tak akan menghadirkan saksi.

Aku akan sedikit berbicara. Hanya akan beruapa mempertahankan pernikahan. Perceraian itu halal, tapi sangat dibenci oleh Tuhan. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang Ia benci. Semoga masih ada jalan damai untuk kita merajut kembali benang-benang kusut di atas puing-puing kehancuran hatimu.


Sumber https://youtu.be/uW-5FRxGt44



Surat itu Badrul kirim sebelum sidang pertama. Apakah surat tersebut mendapatkan tanggapan dari Nirmala? Tidak. Badrul tentu sangat kecewa karena sepertinya surat itu tak penting lagi untuk dibaca apalagi ditanggapi. Yang teramat penting bagi Nirmala, menyingkirkannya dari hidup Nirmala.


Inilah puisi yang dimaksud dalam surat pertama Badrul berjudul Yang Paling Terang adalah Kegelapan.

 



Yang paling terang dari cahaya yang ditangkap mata
adalah kegelapan
ruang dan waktu selama apapun yang mampu
diserap manusia yang terbaca hanya kesalahan
kebaikannya hanya terlihat ketika mata bahagia
ketika mata membenci hingga ke hati
tak pernah ada kebaikan tersisa dari seorang manusia
walau ada peluang berubah menjadi baik
dan berniat mati dalam kebaikan
tetap saja yang paling terang adalah kegelapan
seorang sahabat berkata:
Hindun saja yang memakan jantung Sayyidina Hamzah
masih diampuni
pelacur pun dikaruniai seorang anak yang saleh
untuk peluang menyelamatkan ibunya
sungguh Tuhan ada eksis bersama kasihNya
untuk kita
jangan dibalik dengan berkata bahwa manusia tak sehebat Tuhan mampu sabar atas pendosa
bahkan sabar menunggunya kembali dan hadir lebih cepat saat manusia kembali
tidak ada yang salah jika kalimat itu pun melesat
yang salah tetap aku yang tak kau beri peluang menjadi manusia baik


(Malang, pernikahan ke-21, 2022).

 

Beberapa waktu kemudian, Badrul melayangkan surat kedua untuk Nirmala. Ia sengaja menggunakan salam, karena sewajibnya salam itu dijawab. Berikut isi surat kedua Badrul. Jika pada surat sebelumnya Badrul menggunakan kata ‘aku-kamu’, kali ini ia menggunakan yang sewajarnya. Mungkin sedikit reda lukanya.

 

Assalamu alaikum isteriku, pertama-tama, ayah wajib bersyukur karena masih dalam keadaan waras dan hidup. Ayah sedang tidak baik-baik saja dan merasa sendirian. Ayah bersyukur masih tegak dalam kesadaran.

Mungkin surat ini akan panjang, maaf bila tidak tertata dengan baik. Saat menulis surat ini ayah jadi teringat, saat masih belum ada WA dan hape canggih. Ayah sangat rajin menulis surat saat kita berjauhan. Dan semua surat itu masih kita simpan hingga sekarang.

Long Distance Relationship (LDR) selama dua puluh satu tahun bukan hal yang mudah buat ayah. Perjalanan panjang dengan waktu tempuh yang sangat melelahkan. Bukan tidak ingin mutasi kerja, tapi mama tahu ayah sudah berusaha. Kemudian setelah ayah pindah, agak pendek perjalanan pulang pergi ke Malang, walau tetap saja berjauhan, tapi sungguh membuat ayah sangat bersemangat saat waktunya pulang dan malas untuk kembali. Mama dan anak-anak tahu itu.

Selama LDR seperti ini, ayah sebagai laki-laki kadang terasa sangat kesepian dalam kesendirian sehingga sering membuat kesalahan dan terulang lagi. Ayah tidak mengelak, ayah memang bersalah. Dan mama sudah cukup banyak memahami ayah serta telah banyak memaafkan ayah.

Ayah hampir tiap malam menangis, mengapa mempunyai nasib seperti ini. Ayah kadang mengingau memanggil mama dalam tidur. Saat terbangun ayah mengusap air mata yang tersisa. Ayah merasa hukuman buat ayah bertubi-tubi dan bersamaan dan dihadapi sendirian. Yang membuat ayah hampir gila saat mama meminta cerai. Duakali lipat sakitnya daripada permasalahan ayah yang sampai saat ini belum juga tuntas.

Mengenai orang yang mama sebutkan, sebenarnya menurut ayah tidak cukup alasan untuk meminta cerai karena pertama, ayah tidak ada hubungan apapun. Mama bisa memeriksanya jika diperlukan, tapi ayah yakin mama tidak percaya.

Liburan sekolah sudah lewat satu minggu. Seharusnya ayah di Malang bersama mama dan anak-anak. Saat-saat inilah yang sebenarnya hari raya bagi ayah untuk bersama kalian lebih lama. Ayah sebenarnya menunggu kata: “Ayah kapan pulang?”

Dan ayah sangat senang (saat ayah tidur), ada panggilan video call hanya tiga detik pada 30 Juni. Seharian hingga hari ini ayah masih menunggu panggilan itu kembali. Ternyata mungkin mama salah pencet. Ternyata ayah memang tidak diharapkan untuk pulang.  Ternyata tidak ada yang menanya seperti itu. Bahkan saat ayah tanya ke mama, mama tidak menjawab, mama hanya fokus pada ingin pisah. Saat menanya kepada anak-anak, barulah ayah tahu ayah tidak diharapkan pulang. Kalaupun pulang, boleh tapi hanya bertemu anak-anak tidak di rumah. Ayah sudah tidak diharapkan lagi pulang ke rumah.

Ayah menangis, seperti anak kecil. Ibu tahu itu dengan mengintip dan membesarkan hati ayah. Tapi, ibu bisa apa. Ia hanya bisa meminta maaf atas semuanya karena tak bisa berbuat banyak untuk ayah.

Dengan ketidakpulangan ayah ke Malang, banyak teman bertanya. Mengapa tidak pulang? Adik-adik ayah juga bertanya. Akhirnya ayah bercerita sedikit. Mereka berusaha menghubungi WA mama, tapi tidak menjawab. Mungkin menurut mama. mereka bukan siapa-siapa yang perlu tahu dan perlu dibalas. Tidak masalah.

Ayah tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk mama untuk kembali. Mama bukan lagi mama yang dulu yang sangat paham ayah. Rumahku surgaku hanya di antara kalian, tapi tetap semua keputusan ada pada mama. Jika masih bisa diharap dengan syarat apapun, ayah sanggup berjanji untuk menebusnya.

Hampir tiap saat ayah selalu membayangkan pulang ke rumah. Berada di antara kalian. Tidur di kamar ayah. Menikmati hidup. Ayah sangat menikmati surga itu ketika bersama kalian. Dan saat ini hanya menunggu WA: “Ayah pulanglah!”

Liburan sudah tersisa sedikit waktu lagi usai. Ayah tetap berharap dengan apapun kondisinya ayah masih diberi kesempatan pulang ke rumah. Dan ayah bermohon seandainya itu terjadi bukan saat terakhir ayah pulang dan melihat wajah-wajah kalian.

Ayah kadang mengenang semua perjalanan kita. Mulai dari pacaran, menikah, punya anak, dan kemudian punya rumah. Semua keberkahan dan kebahagiaan buat ayah. Dan puncaknya kita punya rumah sesuai cita-cita kita yakni dekat ke tempat kerja mama. Semua keberhasilan itu dijalani dengan rasa sakit dan sekaligus bahagia.

Dua puluh satu tahun bukan waktu yang singkat. Buatlah keputusan yang tepat. Demi kebaikan semuanya. Hanya itu mungkin kalimat terakhir ayah. Ayah ingin mati dipangkuan mama. Itu saja. Semoga masih ada harapan baik buat ayah. Semoga ada kalimat: “Pulanglah, Yah!” Semoga gugatan mama dicabut dan dibatalkan. Semoga saat pulang, ayah mati di pangkuan mama. Semoga kalian semua sehat sejahtera, aamiin. Wassalamu alaikum. (Ayah)

 

Surat kedua Badrul hanya ditanggapi dengan pernyataan bahwa Nirmala tak bisa lagi bersama Badrul, tanpa jawaban salam. Hati Nirmala telah benar-benar patah dan terluka. Bagaimana mengobatinya? 

Kembali ke acara sidang, berjalan singkat hanya berlangsung dua menit. Itu pun dengan antrean terakhir dengan menunggu giliran berjam-jam. Selanjutnya antre lagi untuk masuk ke ruang mediasi.

Mediatornya saat itu seorang ibu. Dosen di kampus swasta di Malang. Bernama Bu Jundi. Pertama, Bu Jundi memperkenalkan diri kepada kami yang duduk di antara sang mediator.

Kedua, Bu Jundi menanyakan apakah benar Nirmala akan melanjutkan gugatannya dan apa alasannya. Secara panjang lebar, Nirmala menjelaskan kronologi hingga merasa harus berjuang mati-matian untuk cerai dengan Badrul.

Tugas utama mediator adalah menjadi penengah dalam perkara perceraian, seluruh kebijakannya digunakan agar gugatan cerai tersebut mau dibatalkan oleh penggugat.

Saat giliran Badrul yang ditanyai, seperti pada isi suratnya kepada Nirmala, ia mengiyakan semua yang menjadi gugatan Nirmala. Ia membenarkan semua tuduhan yang menjadi dasar gugatannya ke pengadilan. Ia seolah menghadapi malaikat kubur menangis tersedu-sedu mengakui kesalahan.

Pada bagian akhir mediasi, Badrul meminta secara khusus meminta kepada mediator untuk diberi waktu membacakan surat terakhirnya untuk Nirmala. Masih dengan ribuan tetesan air mata yang tak henti, ia bacakan dengan terbata-bata sambil menahan isakan. Suratnya berjudul Mama adalah bidadari surgaku.

 

Ayah memilih mama menjadi pendamping hidup ayah karena ayah yakin mama terbaik bagi ayah hingga ayah mati di pangkuan mama. Ayah sengaja memilih mama terutama karena mama yatim piatu sejak kecil. Ayah yakin cinta mama penuh kepada ayah hingga menua bersama.

Dalam mediasi ini ayah ingin mama mendengarkan baik-baik seluruh isi hati ayah ini. Ayah harap tidak ada prasangka lain selain prasangka bahwa ayah sangat mencintai mama sampai kapanpun.

Dalam beberapa menit ini ayah mohon mama geser sedikit rasa tidak nyaman dan sakit hati mama ke ayah agar memberi perhatian sesaat atas isi hati ayah. Kadang ayah jaim untuk menyatakan ini kepada mama dalam kondisi normal.

Awal menyukai mama, ayah tidak percaya diri bahwa mama akan menerima ayah sebagai pacar karena ayah sadar hanya seorang lelaki  kampung dan Madura. Ayah menyukai mama sejak ayah menjadi mahasiswa di tempat mama bekerja. Ayah merayu mama dengan puisi cinta dengan setangkai mawar yang ayah curi dari tetangga dan sebuah lagu.

Sebenarnya ayah kurang percaya diri waktu menembak mama pertama kali karena ayah bukan tipe gadis secantik mama. Masih ingat waktu pertama ayah ngapel? Ayah berbaju kotak-kotak, celana kain, dan bersandal selop. Begitu keseharian pemuda kampung ini.

Sejak pacaran hingga menikah, mama tidak pernah meminta apa-apa selain yang ayah berikan. Bahkan gadis secantik mama tidak enggan makan di tempat biasa dan tidak berkelas. Mama juga tidak pernah menolak sesederhana apapun apa yang ayah berikan. Mama menerimanya dengan senyum tulus.

Dari awal ayah selalu jujur bahwa ayah bukan lelaki yang baik. Ayah banyak pacar sebelum akhirnya memilih mama menjadi pendamping hidup ayah. Mama manerima segala kekurangan ayah dengan rasa cinta dan sayang.

Sejak pacaran hingga menikah bahkan hingga punya dua anak, ayah selalu yakin mama tetap setia tanpa pengawasan ayah. Walaupun ayah dan mama berjauhan karena tugas dinas ayah, ayah tetap yakin mama tidak akan pernah mengkhianati ayah. Dan itu terbukti hingga sekarang bahkan andai kita bertahan pun ayah yakin mama tetap setia seperti awal kita terikat hati.

Dua puluh tiga tahun, mama setia dan terbukti setia. Walaupun duakali ayah mengusahakan mutasi ke Malang dan gagal, mama tetap setia. Terima kasih mama.

Sungguh mama paling tahu yang ayah inginkan. Contoh kecil saja, mama tahu jenis kaos yang ayah suka. Dan mama belikan. mama tahu ayah tidak suka siapa dan mama tidak mendekatkan dengan apa yang ayah tidak suka.

Mama juga banyak membantu memberikan inspirasi ide buat tulisan-tulisan ayah. Mama selalu mensupport semua kesukaan ayah bahkan mama mendanai penerbitan buku-buku karya ayah dan fotografi.

Walaupun rugi secara finansial mama tidak pernah mengeluh. Mama tahu betul apa yang ayah pikirkan walaupun ayah tidak berbicara. Mama paling paham apa yang ayah suka dan tidak suka. Mama paling mengerti apa yang membuat ayah bahagia. Mama paling pandai menghibur ayah saat kesulitan.

Ayah bersyukur, walaupun kita terpisah jarak yang amat jauh dan berlangsung lama, ayah selalu hadir dan ada ketika anak-anak kita lahir. Ayah yang mengadzani dan mentahnignya. Ayah pula yang memberi mereka nama.

Masih ingatkah mama, ketika lama ayah tidak pulang, kemudian pulang-pulangnya anak kita tidak mengenal ayah dan takut serta menangis saat ayah gendong? Itu karena ayah tidak membersamai mama dan mereka setiap hari. Sungguh mama membesarkan hati ayah dan selalu memberi ayah semangat ketika jauh dari mama dan anak-anak.

Bahkan saat anak-anak kita sakit, ayah meninggalkan tugas ayah demi sedikit meringankan beban mama yang sendirian merawat mereka. Semua sanksi ayah pikul dengan berani karena semangat dari mama.

Menurut ayah, mama paling cantik baik secara lahir maupun batin. Oleh karenanya ayah selalu ada foto mama di dompet ayah dan ayah bawa ke mana pun ayah pergi. Ketika jauh dari mama, foto itu ayah pandangi. Terutama ketika berjauhan dan belum ada hape.

Dan ketika ayah di Malang bersama mama, ada momen yang paling ayah suka yakni memandangi mama saat mama tidur. Saat tidur mama dalam keadaan paling cantik. Sering pula ayah kecup kening mama saat tidur tanpa mama sadari.

Entah berapa banyak yang telah mama berikan ke ayah selama ini baik dari sisi materi atau pun non materi. Baik kepada ayah maupun kepada keluarga besar ayah. Mama tanpa perhitungan dengan suka hati memberikan apapun yang mama miliki untuk membantu meringankan ayah dan keluarga ayah. Terima kasih mama. Hingga sekarang ayah belum bisa membalas apapun.

Namanya manusia, ayah tentu banyak dosa dan salah kepada mama. Baik yang tampak atau yang ayah sembunyikan karena takut mama terluka. Apapun dosa dan salah yang ayah lakukan, mama menutupi aib ayah dengan rapi. Sungguh mama terbaik buat ayah.

Yang paling ayah tak akan mampu membayarnya adalah ketika ayah sakit. Mama tidak takut dan jijik merawat ayah. Mama terjun ke dalam sakit ayah hingga sembuh. Mama menerima apapun keadaan terburuk yang ayah alami. Ayah takkan bisa membayar semua ini. Maafkan ayah.

Ketika mama dengan inisiatif sendiri, mengajukan cerai gugat ke pengadilan agama, itu menandakan ayah sudah keterlaluan kepada mama. Ayah telah menyakiti mama terlalu dalam. Walaupun ayah tidak tahu apa isi gugatan mama sebelumnya, tapi ayah merasa. Ayah meminta maaf sebesar-besarnya kepada mama. Dan dari hati terdalam ayah, ayah tak ingin kita berpisah.

Walaupun mama secara pendidikan di bawah ayah, mama sangat mampu memberikan solusi logis dan aplikatif buat masalah yang ayah hadapi. Ayah sering meremehkan mama, tapi ternyata ayah sadar bahwa mama sangat bijak menghadapi masalah apapun.

Ayah sadar ketika mama sering bilang bahwa ayah “anak barep” karena ayah sering bersikap kekanak-kanakan dan berpikir tidak dewasa. Sungguh ayah bangga punya mama. Terima kasih mama. Bahkan saat terakhir ayah meminta maaf dan membujuk mama di rumah Bu De, ayah sujud di kaki mama sambil menangis juga seperti anak kecil. Maafkan ayah mama.

Poin yang istimewa, ayah suka mama dari dulu karena mama selalu harum. Ayah paling tidak suka dengan perempuan yang tidak sedap. Mama sangat pandai merawat diri sehingga walaupun belum mandi atau tidak pakai parfum, mama tetap harum.

Mama juga pandai mengelola keuangan. Kemudian ayah merusak segalanya sehingga mama banyak menutup utang-utang ayah. Akibatnya tabungan habis untuk menutupi utang-utang ayah sementara masih ada kebutuhan dua anak kita yang harus diperjuangkan. Sungguh ayah menyesal dan mohon dimaafkan semoga ayah punya kesempatan membalas kebaikan mama selama ini.

Dalam banyak puisi ayah, mama ayah sebut sebagai belahan jiwa. Dan anak-anak kita ayah sebut sebagai cahaya mata. Bahkan ayah sengaja menulis kisah cinta dan hidup kita dalam sebuah buku berjudul Laskar Lempung.  Buku tersebut bukti bahwa ayah bangga mama ada di hidup ayah. Ayah bahagia hidup bersama kalian. Walaupun tidak setiap hari ayah ada bersama kalian, ayah bahagia karena mama dan anak-anak menjadi semangat ayah.

Saat mengajar, mama dan anak-anak selalu ayah ceritakan kepada murid-murid ayah. Ayah dengan bangga menceritakan semua kisah-kisah yang kita jalani. Ayah berdoa semoga kelak di akhirat mama ditakdirkan tetap menjadi isteri ayah di surga dan hidup bersama anak-anak kita di sana. Ayah mencintai mama dan anak-anak dunia dan akhirat.

Terkhari, ayah mohon beri kesempatan ayah menebus secara tunai semua kesalahan ayah. Mama boleh memberikan opsi apapun buat ayah asal mama mau menerima ayah dan memberi kesempatan paling akhir.

Saat ayah shalat jamaah di rumah Pak De Sulung bersama anak kita, dari hati mereka menyatakan secara jujur tak ingin ayah dan mama berpisah sambil menangis. Tak pernah ayah melihat mereka menangis seperti itu. Walaupun pernah ayah marahi dulu dan menangis, tapi tangis mereka kali ini benar-benar menyakiti hati ayah.

Secara kedinasan, keinginan berpisah mama dengan ayah, sangat berpengaruh terutama terhadap semangat ayah bekerja karena jauh dari mama dan anak-anak. Selama ini ayah mampu bertahan dan sabar menjalani karena kalian semangat ayah.

Secara agama, keinginan mama berpisah dengan ayah memang dibolehkan dan halal dilakukan, tapi Tuhan sangat membencinya. Ayah tidak mau, kita menjadi orang-orang yang Tuhan benci.

Sungguh ayah merasa kehilangan segalanya jika mama berkeras tetap ingin berpisah dengan ayah. Mohon mama pertimbangkan lagi secara jernih dan adil walaupun ayah paham itu sungguh berat buat mama.

Ayah tidak punya bukti apa-apa yang bisa meringankan gugatan mama terhadap ayah. Mungkin juga ayah tak mampu menghadirkan saksi untuk meringankan ayah. Ayah hanya menggantungkan nasib ini kepada bidadari surga ayah yakni mama.

Selamat ulang tahun pernkahan yang ke-21. Mohon diterima kado untuk pernikahan kita dari ayah buat mama. Semoga mama berkenan. Mohon maaf jika ini terlambat dilakukan. (Sumenep, Jumat 15 Juli 2022).

 

Pada bagian belakang surat yang dibacakan Badrul tersebut terdapat tulisan tangan kedua anaknya. Isinya sama, yakni tidak menginginkan kedua orang tua mereka berpisah. Tak lupa Badrul memberikan kado untuk ulang tahun pernikahan yang ke-21 berupa parfum. Parfum tersebut sengaja dibeli dengan harga cukup mahal bersama anak pertama Badrul sehari sebelum sidang.

Setelah pembacaan surat dan penyerahan kado, mediator kembali bertanya putusan Nirmala. Nirmala tetap pada kekuatan bencinya bahwa ia tak ingin melanjutkan hidup bersama iblis Badrul.

Simpulan mediasi, mediator menginginkan mediasi kedua. Ia merasa perlu melakukannya siapa tahu dengan perpanjangan waktu, Nirmala terbuka hatinya menerima Badrul kembali. Setidaknya kelak tidak disalahkan anak-anak, “Gara-gara Mama....!” Atau menyesal karena pada akhirnya pelaku perceraian adalah orang-orang yang dibenci oleh Tuhan.

Sebanarnya, sebelum sidang dan mediasi pertama dimulai, Badrul bersikap seperti biasa dan duduk bersebelahan dengan isterinya sambil menunggu antrean masuk ruang mediasi. Selama menunggu, Badrul berupaya berkomunikasi sopan dan baik. Menyentuh tangan isterinya, mengusap punggungnya, dan sedikit joke untuk mengusir jenuh menunggu. Nirmala juga merespon dan tampak seperti tidak terjadi apa-apa.

Sementara, pasangan lain yang juga mengantre duduk berjauhan seperti sedang bermusuhan. Saling berdiam diri. Senyap hanya berkedip dan bernapas. Ada pula yang percakapannya dijembatani pengacara. Isteri Badrul menghadapkan perkara gugatan cerainya tanpa pengacara, begitu pula dengan Badrul. Isteri yang lembut dan sangat sabar awalnya, menjadi sangat berani dan tega ketika hatinya sangat terluka. Hal itu tampak ketika mediasi berlangsung.

Selain surat-surat tersebut ada banyak percakapan berupa pesan Whatsapp (WA). Segala jenis jurus dan rayuan telah Badrul lakukan. Semuanya juga tak mempan meluluhkan hatinya. Nirmala tetap pada pendiriannya, mengusir iblis Badrul dari hidupnya, tanpa ampun.



Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 4"