513 Km (True Story): Part 3 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 3

Dalam banyak kondisi yang tak tertahankan, Badrul lebih mirip seperti orang gila. Berbicara sendiri dan menangis sendirian. Langit wajahnya tak lagi seceria dulu. Seluruh aktivitas kreatifnya berhenti. Ia tak lagi mau menulis bahkan sebagai seorang guru ia ingin berhenti mengajar. Ia tak ingin melakukan apa-apa selain bernapas di kamarnya.

Beberapa hari sebelumnya, cerai gugat tersebut masih wacana dalam komunikasi di Whatsapp (WA) antara ia dengan sang isteri. Ternyata hari itu benar-benar bukan sebuah gertakan. Beberapa hari sebelumnya juga Badrul mencoba mengingat-ingat kembali masa-masa terindah berikut duka yang dialami bersama kepada isterinya. Siapa tahu berhasil merebut hatinya kembali. Ternyata gugatannya telah melayang ke pengadilan agama.




“Aku tidak rela kamu dibuat seperti ini, Nak!” Ibu Badrul yang baru setahun ditinggal suaminya akhirnya mengeluarkan isi hatinya. Badrul berkilah dengan menjelaskan bahwa semua itu terjadi akibat salahnya bukan salah isterinya. Baginya Nirmala adalah makhluk terbaik yang Tuhan ciptakan untuknya.

“Semoga isterimu masih ada sisa rasa kasih sayang padamu, ya! Sabar ya dan selalu meminta kepada Tuhan!” Sang ibu mencoba bijak.

“Iya, Mak. Aamiin!”

Sebelum sempat gila, hampir setiap malam, Badrul diajak teman-temannya untuk berkumpul. Setidaknya dengan berkumpul dapat mengontrolnya agar tidak benar-benar gila. Saat itulah awal pertama kali Badrul mengenal salawat yang dilantunkan Ujang Bustomi. Bermalam-malam hanya itu yang ia lakukan bersama teman-temannya yang dapat membuatnya tetap tegak kesadarannya.


Sumber Channel Youtube Kang Ujang Busthomi 

Di tempat dan suasana yang lain, Badrul juga akhirnya mengengaja ziarah ke makam Syech Khatib Mantoh (nama sebenarnya Syech Zainal Abidin) di Sampang, Madura. Sesuai petunjuk cicitnya, Adipati Spiritual Kota Malang, Badrul harus menziarahinya dan menyatakan dalam bahasa Madura pengakuan dosa dan niat memperbaikinya.

Syech Khatib Mantoh adalah pencipta asmak Songay Raja (sungai besar). Sebuah ilmu asmak yang dahsyat dan terkenal di Madura. Siapapun yang ingin belajar dan mengamalkannya tentu harus mendapatkan ijazah langsung dari keturunan Syech Khatib Mantoh di Sampang, Madura.

Dari cicit Syech Khatib Mantoh juga Badrul mendapatkan tasbih untuk wiridan. Tasbih istimewa yang terbuat dari kayu perahu dari Habib Hamid bin Abbas Bahasyim atau terkenal dengan nama Habib Basirih, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia berharap dengan keramat dua nama tersebut menjadi wasilah menyatunya kembali dirinya dan Nirmala.

Semua upaya Badrul lakukan demi tidak kehilangan bidadari surganya yakni Nirmala. Bahkan ritual-ritual seperti dzikiran setiap malam dengan jumlah hitungan tertentu dan mandi kembang tujuh rupa sudah pula ia lakukan. Demi siapa? Demi menunaikan hajat keinginan kedua anaknya yang tak ingin ayah dan mamanya bercerai.




Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 3"