513 Km (True Story): Part 2 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 2

Dimulai dari halaman inilah prahara kisah cinta Badrul-Nirmala dimulai. Tepatnya pada peringatan dua puluh satu tahun pernikahan mereka, badai besar pun merampas semua kebahagiaan mereka. Hancur luluh lantak tak tersisa selain air mata. Nirmala melayangkan surat cerai gugat ke pengadilan agama Malang tertanggal 1 Juli 2022.




Surat gugatan tersebut diterima seminggu kemudian di alamat rumah Badrul sedangkan jadwal sidang pertama pada 20 Juli 2022. Sungguh syok Badrul menerima surat panggilan sidang cerai gugat tersebut. Tangannya gemetar tak tertahankan. Hatinya runtuh. Kedua kakinya tak mampu menopang walau tubuhnya kurus. Kelopak matanya juga tak mampu membendung laut air mata.


Sumber https://www.youtube.com/watch?v=Nui1eupfgd4

“Ayah tidak perlu datang agar prosesnya cepat dan lancar!” Begitu pesan yang Badrul terima melalui Whatsapp dari Nirmala.

“Ayah tidak apa-apa kalau mau datang ke Malang, tapi ketemu di luar saja. Atau Ayah di hotel nanti aku dan adik yang nemani Ayah!” Begitu pula pesan yang diterima dari kedua anak Badrul.

“Jadi ayah tidak diinginkan kalian untuk pulang ke rumah?” Tanya Badrul.

“Bukan begitu, Ayah!” Bla. Bla. Bla.

Dalam keguncangan yang dahsyat, dengan dasar saran dari sepupunya, akhirnya Badrul berangkat ke Malang. Dalam niatnya, siapa tahu kepulangannya ke Malang dapat mengubah situasi.

Karena tidak diharapkan pulang ke rumah sendiri, Sang sepupu menyarankan agar untuk sementara tinggal di rumah mertuanya (Pak De Sulung).

Ketika sampai di rumah Pak De Sulung di Malang, Badrul mengira ia tidak akan diterima di rumah tersebut. Namun, ternyata Pak De Sulung berdiri menyambut Badrul dan memeluknya. Badrul pun tak tahan menahan lebih lama air matanya.

Badrul juga memeluk kaki Bu De dan menyatakan penyesalannya telah melakukan kesalahan terhadap Nirmala, ponakannya. Bu De meraih pundak Badrul dan membangunkannya. “Yang sabar, ya!”

Agak sorean, secara tak sengaja, Nirmala, isteri Badrul bersama kedua anaknya datang karena ada acara sunatan cucu Pak De Sulung. Melihat kedatangan Nirmala yang tidak disangka-sangka, Badrul berlari dan kemudian bersujud di kakinya dengan raungan tangis yang memilukan.

“Maafkan Ayah, Mama. Ayah tidak tahu mau pulang ke mana!” Sambil memeluk kedua kaki Nirmala. Tampak Nirmala terkejut dengan sikap Badrul dan malu kepada orang-orang yang datang dalam acara sunatan tersebut.

“Ayah beruntung masih diterima di rumah ini!” Suara Badrul parau dan pecah.

Kepala Badrul yang sedang sujud di kaki Nirmala berkali-kali disingkirkannya dengan tangannya. Badrul makin deras air matanya dan makin kuat merengkuh kaki Nirmala.

Tak sepatah kata pun yang terucap dari mulut Nirmala. Mungkin untuk meredakan tangis Badrul kemudian Nirmala berkata: “Ya sudah, kita pulang!”

Saat itu, sungguh disayangkan Badrul sibuk dengan tangisnya sehingga tawaran pulang tersebut lenyap tak terucap lagi dari mulut Nirmala. Satu penyesalan yang dalam, Badrul takkan pernah diajaknya pulang pada kesempatan kedua.

Kedua anak Badrul juga mengiringi tangis pilunya. Mereka memeluk Badrul dengan tubuh bergoncang menahan isak tangis. Sungguh hari itu sangat menyayat menyakitkan.

Apakah perempuan atau isteri sudah melampaui kekuasaan Tuhan sehingga mereka bebas menghukum suami? Apakah isteri selalu merasa benar dan suami tempat semua salah?  Atau laki-laki atau suami memang telah melebihi iblis sehingga sujud pengakuan dosanya tidak lagi berharga?

Akhirnya Badrul ditinggalkan di kamar agar istirahat. Saat Badrul tertidur karena kecapekan perjalanan jauh, Nirmala pun pulang tanpa pamit atau menunggu suaminya bangun. Tak ada lagi kesempatan Badrul diajak pulang ke rumah surga itu.

Sungguh ini kisah nyata. Belum ada seorang laki-laki bersujud di kaki isterinya. Baru Badrullah yang melakukannya seibarat orang sesat yang menyembah manusia. Seibarat manusia bodoh yang menyembah perempuan. Ia lakukan hanya untuk menyatakan penyesalan atas semua dosa-dosa yang telah membuat hati Nirmala sangat terluka.

Semasih di rumah Pak De Sulung, Nirmala tak lagi ingin tahu kabar Badrul. Hanya anak-anaknya yang menemani selama di rumah tersebut. Mungkin bagi Nirmala, Badrul sudah dianggap mati!

Sebenarnya sebelum digugat cerai Nirmala, Badrul sudah menghadapi masalah besar. Ia terlibat pinjaman online (pinjol) berderet. Di beranda hapenya berjejer macam-macam aplikasi pinjaman online dari yang resmi dalam pengawasan OJK hingga yang liar. Ia juga terlibat hutang ke bank dan teman-temannya.

Nirmala tahu betul seberapa banyak hutang yang Badrul tanggung. Beberapa kali Nirmala membantu menutup hutangnya. Kemudian masalah itu akhirnya menjadi salah satu alasannya menggugat cerai suaminya. Beberapa kali data Badrul disebarkan oleh pihak pinjol ke kontak telepon yang ada di hape Badrul. Sungguh itu bukan pengalaman yang menyenangkan, tapi rasa malu yang sangat menghinakan.

Badrul berjuang untuk dirinya sendiri setidaknya bisa bertahan dan makan setiap hari, terutama merokok. Salah satu alasannya memilih pinjol tempatnya bergantung adalah karena beberapa temannya atau orang yang ia pernah kenal dan bantu atau percayai tidak lagi meminjaminya uang.

Ketika Badrul berusaha pinjam kepada teman akrabnya dibales dengan kata ‘maaf tidak ada’ padahal hampir tiap pekan temannya mengadakan selamatan atau tasyakuran dengan mengundang banyak orang. Adapula temannya yang setelah mengatakan ‘maaf tidak ada’ justeru kemudian bilang habis beli mobil atau beli hewan ternak. Yang paling miris bagi hatinya, ketika ia menghubungi teman dekatnya dan kemudian dibalas dengan dikirimnya bukti transfer dengan caption: ‘untuk sekedar makan malam.’ Temannya mengiriminya uang lima puluh ribu rupiah untuk sekedar makan malam. Badrul sepertinya sudah pada posisi berhak menerima sedekah.

“Jangan bergantung kepada manusia agar kamu tidak kecewa!” Bisikan hikmah datang. Terus bergantung pada siapa? Pilihan terakhir pada pinjol, batinnya.

Benar jika ada yang bilang hanya ibu yang setianya tak pernah pudar. Badrul yang biasa makan mandiri di luar, kini ia diberi makan oleh ibunya. Walaupun menyuapkan sendok demi sendok ke mulutnya penuh air mata, Badrul memaksakan diri menyuapi mulutnya agar tetap bernapas.

Permasalahan hutang masih berjalan sudah membuat hidupnya mencekam. Ditambah dengan cerai gugat dari isterinya, Badrul menerima dua pukulan sekaligus yang membuatnya terhempas. Dibanting berkali-kali dari langit ke tanah. Hancurlah hidupnya!





1 komentar untuk "513 Km (True Story): Part 2"