513 Km (True Story): Part 15 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 15

Komunikasi terakhir Badrul setelah mediasi kedua adalah ketika Badrul mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nirmala. Ulang tahun yang ke-43. Dua puluh satu tahun telah membersamai hidup Badrul. Bonusnya dua anak yakni si Sulung dan Bungsu yang semua perempuan. Kalau Nirmala bagi Badrul sebagai belahan jiwa, kedua anaknya adalah kedua cahaya mata.

Waktu ke sidang kedua masing panjang, dua bulan lagi. Bukankah kita sama-sama tua dan menua? Bukankah sedikit waktu lagi pulang ke rumah abadi? Tak inginkah menua bersama? Batin Badrul. Tak ada jawaban apa-apa selain harapan utuh seperti lagu I Wanna Grow Old with You, Westlife.

Masih ada ruang dan waktu. Itu artinya masih ada peluang dan harapan cita-cita mati di pangkuannya dan menua bersama Nirmala. Menanti dengan menyabari semoga yang Maha Sakti berkenan mengabulkannya.

Beberapa kali bertemu saat sidang dan mediasi, Badrul mengesankan bahwa Nirmala sepertinya kian kurus. Sama dengan keadaan Badrul. Kedua pipi Badrul cekung dan kedua lengannya juga mengecil. Sungguh, terberat baginya semua apa yang dilaluinya ini.

Ketika bersendirian dan berjauhan, pikiran Badrul seperti pasar. Sungguh ramai celotehan dalam benaknya. Pikirannya selalu menyuguhkan pertentangan masa lalu dan masa depan. Masa lalu yang dirindukan dan masa depan yang ditakutkan. Ia sungguh ingin tetap bersama Nirmala hingga akhir, tapi di masa depan ia sungguh takut bila akhirnya rumah tangganya tamat tak bisa ia pertahankan.

Ada seorang teman yang tingkat penderitaannya sama dengan Badrul datang ke kyai. Ia mengatakan bahwa ia tak sanggup lagi menjalani penderitaannya. Ia ingin bunuh diri, tapi yang mudah, tanpa rasa sakit.

Sang kyai kemudian memberikan air yang katanya telah diberinya racun. Air itu tidak berbau, tidak membuatnya sakit ketika diminum. Ia pun pulang dan melakukan sesuai perintah kyai.




Sang kyai berkata setelah meminumnya, ia hanya punya waktu tujuh hari untuk hidup. Teman tersebut kemudian memaksimalkan memperbaiki diri, memperbaiki komunikasi dengan isteri dan anak-anaknya. Seluruh kemampuannya sebagai suami dikerahkan terbaik untuk keluarga kecilnya karena waktu hidupnya hanya tujuh hari.

Isteri teman tersebut akhirnya berubah mau menerima kembali sang suami tepat sehari sebelum hari ketujuh. Akhirnya teman Badrul yang telah bahagia tersebut kembali mendatangi kyai yang telah memberinya racun. Ia mengatakan bahwa ia tak ingin mati. Ia bersimpuh meminta tolong agar diberikan penawar racun agar ia tidak mati. Kemudian sang kyai tersebut mengatakan bahwa yang diberikan kepadanya bukanlah racun, hanya air biasa. Betapa bahagianya seorang teman tersebut kemudian pulang ke isterinya.

Bagaimana dengan Badrul setelah mendengar kisah tersebut? Ia mendengarkan dan hanya diam. Ia tak menanggapinya walau satu kata. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Mengutuk dirinya sendiri habis-habisan.

Ia memutuskan untuk menjadi pengamat saja. Pengamat atas perbuatannya di masa lalu dan saat ini. Ia mencoba keluar dari diri egonya. Ia hanya mengamati gerak napasnya, gerak langkah dan tangannya, jelajah dan debat pikirnya, dan semua bahasa tubuhnya. Dengan begitu ia dapat menilai dengan jernih, siapa sebenarnya seonggok daging yang di dalamnya terdapat rangka yang kemudian bernama Badrul.

Ia menjadi pengamat atas semua yang ia dengar, ucap, dan rasakan. Ia mengamati semua ilusi, fantasi, lintasan pikiran, dan perasaan yang terbit setiap saat. Ia mengamati lebih jeli dari arah belakang, samping, dan depan semua tindak tanduk Badrul sehingga ketika Badrul menyimpang, si pengamat dapat memberinya bisikan untuk kembali ke jalan yang semestinya.

Bagaimana dengan jalur langit yakni ritual-ritual harian yang dikerjakan Badrul? Masih ia jalankan walaupun bolong-bolong, ia sadari sedang ia amati dari jarak dekat.



Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 15"