513 Km (True Story): Part 14 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 14

“Jangan berharap banyak kepada manusia, nanti kamu kecewa!” Suara dari luar.

Memang benar. Selama Badrul dalam kesulitan, terutama ekonomi, tak satu pun hadir sebagai teman apalagi penolong. Harapan terakhir dan utama hanyalah sang Pencipta. Itu pun memperpanjang rasa menyabari segalanya sambil menunggu sampai pada level mana masa kelamnya berakhir.




Seperti melewati jalan panjang tengah malam yang sangat sepi, gelap, dan dingin. Ia tak tahu di mana ujungnya. Ia meraba-raba, menerka, oh, besok mungkin lebih baik hidupnya setelah terhukum. Mungkin besoknya lagi. Mungkin lusa. Begitu Badrul terus berharap.

Berprasangka baik sudah ia lakukan. Berprasangka buruk pun telah lewat. Ia kemudian pasrah.

Yang paling berat ditanggungnya ternyata ketika menjadi suami yang gagal. Sebagai suami telah ia kacaukan alur standar sebagai suami yang baik menurut orang normal. Sebagai suami ia tidak amanah.



Berkali-kali ia membela diri. Menyisir lembut bahwa kesalahan yang ia buat dalam rumah tangga tidak sepenuhnya salah dirinya semata. Ia masih berusaha menyalahkan pasangan hidupnya, Nirmala. Pikiran iblisnya menjadi supporter untuk menilai bahwa dirinya tidak sepenuhnya bersalah.

“Pernahkah selama LDR Nirmala datang jauh-jauh untuk memenuhi hasrat binatangmu?”

“Tidak!”

“Bukankah selama bersama isterimu sering menolak hasrat binatangmu dengan alasan capek dan gak mood?”

“Iya!”

“Bukankah tidak masalah menurut agama, kamu menikah lagi sehingga ketika berjauhan masih ada yang merawatmu dan memenuhi hasrat binatangmu?”

“Iya!”

“Mengenai hutang-hutangmu, bukankah sebenarnya isterimu punya andil karena ia tidak bisa mengontrol dari dekat selama puluhan tahun karena tidak berada di sisimu setiap saat?”

“Iya!”

“Bukankah jurang hutangmu juga ada niatan baikmu untuk membantu keuangan keluarga, tapi ternyata gagal total dan terpuruk?”

“Iya!”

“Bukankah selama berjauhan sangat jarang sekali ia menanya tentang kabarmu dan selalu kamu yang lebih dulu menanya?”

“Iya!”

“Kamu sangat mudah diakses sehingga kamu kehilangan nilai di matanya!”

“Benar!”

“Bukankah ia sebenarnya banyak berbohong kepadamu? Bukankah pula mudah cemburu kepada siapapun dan apapun yang membuatmu merasa takut bergerak sehingga kamu jatuh dalam kesalahan?”

“Iya!”

“Nah, kamu tidak sepenuhnya bersalah! Kamu bisa memeletnya kalau mau. Kamu bisa menyihirnya kalau mau membalaskan dendam. Kamu bisa melakukannya karena kamu laki-laki dan orang Madura!”

Begitu panjang tiupan inspirasi iblis ke pikiran Badrul kemudian suara di dadanya mementahkan. Pada akhirnya ia tetap menyalahkan dirinya sendiri. Ia memang bersalah atas semua hal. Ia bersalah selama dua puluh satu tahun. Ia bersalah menikahinya. Ia bersalah menurukan anak-anak dari rahimnya. Ia bersalah menjadikannya isteri. Ia salah menjadi suami. Ia bersalah menjadi ayah. ia bersalah menjadi lelaki. Ia bersalah menjadi manusia.

Sebegitunya penderitaan yang bertengger di hatinya. Sungguh berat. Ia sudah merasa tidak perlu mengasihani dirinya sendiri. Ia sudah tamat dengan dirinya sendiri. Ia memilih menjadi kaum rebahan. Rebah otaknya. Rebah hatinya. Rebah perasaannya. Rebah tak ingin melakukan apapun.

“Jika move on adalah melupakanmu, aku menolak. Dengan mengingatmu, aku sanggup sakit berulang kali sebab takkan pernah ada lagi sakit sesakit saat kamu meninggalkanku.” Badrul menirukan kata-kata penyair bernama Normantis.


 



Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 14"