513 Km (True Story): Part 12 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 12

Masih terngiang ucapan seorang teman, dulu sekali. “Aku ingin cepat menyelesaikan hidup ini tanpa bunuh diri!” Mungkin itulah sinyal betapa beratnya beban hidup yang harus dipanggul ke mana-mana. Sama halnya dengan isi pikiran Badrul. Pernah terbayang seandainya ia gila, berjalan keliling di tempat umum telanjang, tersisa celana dalam. Tak terpikir lagi rasa malu dalam bayangannya. Sepertinya itulah kemerdekaan dan sebenarnya. Secara psikologis, Badrul masuk dalam kategori Orang dalam Gangguan Jiwa (ODGJ) yang belum turun ke jalan.

“Jangan terpikir begitu. Kamu itu orang terpelajar. Seorang guru juga. Seorang ayah pula. Bagaimana kata dunia?” Soerang teman yang normal memberi saran.




Dalam kondisi kesulitan keuangan selain tergugat cerai membuatnya sulit berpikir sehat. Sulit berpikir berat. Ia hanya ingin tidur. Di kasur saja seharian. Tanpa mandi. Itulah hiburan gratis yang menjadi tumpuannya.

Ia berpikir dari mana dapat uang untuk kebutuhan rokok, sabun, pasta gigi, shampo, dan sebagainya. ia tak tahu lagi bagaimana melunasi hutang-hutangnya. Hampir seluruh aplikasi pinjolnya sudah mem-blacklist dirinya, termasuk pula teman-temannya.

Suatu hari ia punya uang hanya lima belas ribu uang kertas. Untuk menggenapinya seharga rokoknya, ia periksa meja, tas, dan celananya. Akhirnya menemukan sejumlah uang receh. Sampai di toko, uang receh dua ratusannya tidak laku. Untuk sebungkus rokok ia diberi kelonggaran hutang ke toko. Ia bersyukur karena bisa merokok lagi.

Ia sudah sering curhat kepada Tuhan dengan kondisinya, tapi Tuhan juga tak pegang uang. Sepertinya Tuhan juga tak berkehendak menggerakkan manusia atau uang menghampiri Badrul.

Anak sulung Badrul selalu memberinya semangat melalui telegram. Setiap hari ia selalu mengirimi pesan walau sekedar bertanya kabar ayahnya. Ia selalu berusaha menghibur sang ayah walau Badrul sangat paham hati anaknya juga terluka.

Badrul meminta tolong ke anak sulung untuk menyingkirkan semua tentang dirinya di rumah itu seperti foto kakung, uti, dan dirinya yang terpajang di dinding kamar dan ruang tamu. Ia juga meminta agar anaknya membuang baju-baju miliknya. Badrul berpesan jika mamanya bertanya mengapa dibuang, jawab saja ‘toh ayah sudah tidak di rumah ini lagi.’

Ia pun mengirimkan bukti foto bahwa foto dirinya sudah tidak lagi terpajang di rumah itu. Sepertinya Badrul memilih menghilang. Sepertinya ia akan mengubur semua tentang Kota Malang. Mungkin juga ia akan memutus komunikasi dari semua orang di Malang termasuk kedua anaknya.

“Kasihan, mereka masih anak-anakmu!” Suara-suara mengingatkan.

“Biar saja. Biar semua merasakan sakit!” Sahut Badrul.

“Bukankah mereka tidak salah apa-apa? Bukankah mereka masih tanggung jawabmu?” Suara itu terus saja ngoceh.

“Toh, mereka masih membutuhkan ayahnya!”

Badrul hanya diam, tak merespon kembali. mulutnya terkunci. Matanya perih.


 



Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 12"