513 Km (True Story): Part 11 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 11

Sebagaimana pada peringatan ulang tahun pernikahan ke dua puluh satu disertai badai, selanjutnya 14 Agustus di tengah prahara pun Badrul masih ingat mengucapkan selamat ulang tahun untuk Nirmala. Tak lupa ia juga menyiapkan kado ultah sederhana yang dititipkan kepada Anak Sulungnya. Walaupun diucapkan melalui pesan sms setibanya di Sumenep, kadonya telah sampai ke tangan Nirmala melalu si Sulung. Setidaknya Badrul memberikan perhatian tulus pada hari istimewa Nirmala di tengah ketidaknyamanan hidupnya.




“Selamat ulang tahun. Semoga selalu sehat, sejahtera dan bahagia,” sms Badrul untuk Nirmala pagi itu.

“Iya terima kasih. Semoga Ayah juga selalu sehat dan bahagia lahir dan batin!” Balas Nirmala. Hanya begitu saja.

Lewat beberapa hari, Badrul tidak melakukan apa-apa. Jalur langit pun ia tinggalkan. Ia lebih sering mengelus dada dan menitikkan air mata. Ia pada titik harus menerima seluruh kenyataan pahit. Ia harus menerima konsekuensi dan akibat dari semua kesalahannya. Walaupun dalam hati ia sangat berharap masih ada ruang baginya ketika Nirmala bersedia memberinya kesempatan terakhir untuk bersama.

Ia mulai peka bahwa tubuhnya, terutama jantungnya berdetak tidak teratur. Ia mulai merasa ketika menjelang tidur malam, kedua kakinya kebas. Ada banyak tanda bahwa tubuhnya mulai menua. Dalam kondisi tersebut sungguh satu cita-citanya: menua bersama Nirmala, belahan jiwanya.

Ia menyadari bahwa yang benar-benar candu adalah kebahagiaan ketika bersama Nirmala. Ada banyak momen senang dan kenangan indah bersamanya. Itulah yang menjadi pisau tajam yang berhasil menyayat-nyayat hatinya saat berjauhan dan dalam keadaan dicerai gugat Nirmala kini. Cerai gugat yang diterimanya adalah rasa sakit yang dalam dan nyata. Cerai gugat yang dihadapinya kini adalah peristiwa paling mengerikan yang ia alami selama hidup. Dihadapinya merupakan bentuk tanggung jawab yang harus dipikul dengan seluruh beban pilu dan nestapanya. Cerai gugat yang dihadapinya adalah neraka baginya yang harus ditanggung di dunia.

Ia masih ingat ketika dalam antrean menunggu dipanggil sidang atau mediasi. Begitu banyak orang berperkara menginginkan perceraian. Seperti orang yang sedang antre pembagian sembako dari pemerintah. Setiap hari, tidak pernah sepi.

Dalam hati Badrul bertanya, apakah pengadilan agama dapat memberikan keadilan dalam perkara cerai sedangkan sidangnya saja hanya berlangsung kurang dari lima hingga sepuluh menit? Sementara dua pasang suami isteri yang sedang berperkara telah menjalani puluhan tahun pernikahan bahkan ada yang sudah bercucu-cucu. Apakah pengadilan agama hanya berupa unit pemerintah yang menjadi salah satu pundi rejeki dengan cara menceraikan hubungan suami isteri?

 Sungguh Badrul sangat ingin membakar kantor pengadilan agama; tempat hakim memutuskan hubungan suami-isteri dan terberainya anak-anak mereka. Perceraian memang halal, tapi sangat dibenci Tuhan. Badrul berpikir, pengadilan agama adalah tempat yang sangat dibenci Tuhan. Sungguh ia sangat ingin membakarnya.

Menurut data statistik kementerian agama, Indonesia menempati jumlah perceraian tertinggi di Asia-Afrika. Yakni 28 % kasus cerai lebih banyak berbanding dengan nikah. Perceraian terjadi sebanyak 93% dalam bentuk cerai gugat yang dilakukan oleh pihak isteri. Perceraian tertinggi terjadi karena masalah pertengkaran dan ekonomi. Keren!




Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 11"