513 Km (True Story): Part 10 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

513 Km (True Story): Part 10

Sampailah Badrul di Malang untuk kesekian kali. Kedatangannya kali ini mempersiapkan diri untuk mediasi kedua.

Ia jadi teringat masa lalu ketika pertama kali ke Malang saat mendaftar kuliah. Tak punya siapa-siapa atau kerabat yang bisa ditumpangi. Jika uangnya tidak cukup untuk menyewa kamar dan ongkos pulang, yang terpikir adalah tidur di terminal atau masjid. Itu dua puluh tujuh tahun yang lalu.




Beruntung nasib baik memihaknya sehingga ia tak perlu bingung mencari tempat tidur. Semasa kuliah pun, ia berpindah-pindah tempat, mencari sewa kamar yang paling murah agar kuliahnya dapat tuntas. Saat kulihlah ia bertemu dengan Nirmala.

“Ah, tidak sudah lama sekali. Nirmala mungkin tak ingin mendengar kisah itu lagi!” Badrul menutup tayangan ingatannya.

Mediasi kedua, 10 Agustus,  akhirnya tiba. Badrul duduk di sebelah Nirmala menunggu dipanggil ke ruang mediasi. Seperti biasa Badrul diantar anak sulung walaupun berbeda keadaan. Biasanya Badrul numpang menginap dan makan di rumah Pak De Sulung. Kali ini ia di menginap di rumah sewa Oyo dengan harga termurah. Ia ingin sendiri. Jadinya kedua anaknya tidak bisa menemani.

Saat berlangsung mediasi kedua, mediator pertama kali mengucap salam dan syukur kemudian memberikan waktu pertama kepada Nirmala untuk menyampaikan hasil perenungan selama dua minggu sejak mediasi pertama. Nirmala dengan tegas menyatakan "Saya tetap lanjut!"

Kembali mediator memberikan saran bahwa dunia itu tidak hitam putih saja. Ada area abu-abu. Benar tidak seluruhnya benar. Salah juga tidak seluruhnya salah. Ada titik yang memungkin semua orang melakukan kesalahan dan kebenaran.

Mediator selanjutnya menyarankan selama menunggu sidang kedua, Nirmala dan Badrul supaya melakukan evaluasi ke dalam. Mungkin masih ada celah untuk mempertahankan rumah tangga. Mungkin ada satu kebaikan atau kenangan bersama yang bisa dijadikan alasan untuk kembali bersama. Setidaknya melihat keinginan dari kedua anak mereka.

Mediasi berjalan cepat karena ketika tiba giliran Badrul bicara, ia hanya menyatakan: "Dari saya tidak ada yang perlu disampaikan Bu."

Sepertinya mediator sangat iba melihat Badrul, “Yang sabar ya!”

Mediasi kemudian selesai dengan cepat. Badrul langsung keluar ruangan tidak seperti pada mediasi pertama. Badrul pergi begitu saja tanpa ba bi bu. Diamnya Badrul mengisyaratkan: ‘Tidak usah bicara apa-apa.’ Sambil memeluk Nirmala dalam angan. ‘Cukup rasakan apa yang kurasakan. Cukup ikuti jalannya napas yang tersengal ini!’ Lanjut isyarat Badrul. Nirmala sudah tidak peka lagi. Badrul pun melanjutkan diamnya.

Usai mediasi sebenarnya Badrul ingin langsung pulang ke Madura, tapi anak bungsunya yang sedang sekolah ingin bertemu. Dengan meminta izin kepada pihak sekolah, si bungsu pun berkesempatan bertemu ayahnya. Dalam surat keterangan izinnya tertera alasan: menemani orangtua di pengadilan agama.

Diajaklah anak sulung pergi dari pengadilan agama; mencari tempat yang nyaman untuk melepas kangen. Klaster Kopi, tempat yang benar-benar nyaman untuk mengobrol bertiga.

Dalam obrolan tersebut Badrul berpesan: jangan ada lagi pembahasan tentangnya di rumah mereka. Tidak boleh lagi ada foto ayah mereka terpajang di kamar dan ruang tamu. Badrul juga berpesan untuk rajin salat karena salat tempat terbaik ngobrol dan meminta kepada Tuhan.

“Apakah kalian masih ingin ayah dan mamamu menyatu kembali?”

Dengan suara yang serak mereka menjawab iya. ‘Maka mohonlah kepada Tuhan!’

Hati Badrul benar-benar patah. Tak ada sms atau telepon dari Nirmala untuk Badrul usai mediasi kedua bahkan ketika sampai di tanah kelahiran. Badrul benar-benar merasa terbuang.

Malam sebelum mediasi, Badrul berkunjung ke Adipati Malang untuk melanjutkan ritual. Siapa tahu usahanya mengetuk pintu langit dibukakan pintu ijabah untuk menyelamatkan surganya.

Kembang kanthil dan tujuh rupa jadi saksi perjalanan upaya jalur langit Badrul. Semua upaya sudah dilakukannya. Apa lagi?

Saat-saat seperti itu Badrul makin kuat untuk mengurung diri. Mengingati setiap momen terindah bersama Nirmala. Mengingati pula cuplikan tiap potongan dosa yang ia lakukan terhadap Nirmala.



Saat-saat seperti itu, Badrul hanya bisa berhalusinasi dengan lagu I Wanna Grow Old with You, Westlife.

 

Another day without your smile

Another day just passes by

And now I know

How much it means

For you to stay right here with me

The time we spent apart

Will make our love grow stronger

But it hurts so bad

I can't take it any longer

I wanna grow old with you

I wanna die lying in your arms

I wanna grow old with you

I wanna be looking in your eyes

I wanna be there for you

Sharing in everything you do

I wanna grow old with you

A thousand miles between us now

It causes me to wonder how

Our love tonight (our love tonight)

Remains so strong (remains so strong)

It makes our risk (it make our risk)

Right all along

The time we spent apart

Will make our love grow stronger

But it hurt so bad I can't take it any longer

I wanna grow old with you

I wanna die lying in your arms

I wanna grow old with you

I wanna be looking in your eyes

I wanna be there for you

Sharing in everything you do

I wanna grow old with you

Things can come and go

I know but

Baby I believe

Something's burning strong between us

Makes it clear to me

I wanna grow old with you

I wanna die lying in your arms

I wanna grow old with you

I wanna be looking in your eyes

I wanna be there for you

Sharing in everything you do

I wanna grow old with you

I wanna die lying your arms

I wanna grow old with you

I wanna be looking in your eyes

I wanna be there for you

Sharing in everything you do

I wanna grow old with you

 

Sungguh ia memimpikan ingin menua bersama Nirmala bahkan ingin mati di pangkuannya. Mungkinkah impian itu akan tetap jadi bayangan tak nyata?

Ketika ia ingat dengan semua dosa yang telah dilakukannya, ia lebih suka mendengarkan sambil menangis lagu Opick yang berjudul Rapuh.


 

Detik waktu terus berjalan

Berhias gelap dan terang

Suka dan duka, tangis dan tawa

Tergores bagai lukisan

Seribu mimpi, berjuta sepi

Hadir bagai teman sejati

Di antara lelahnya jiwa

Dalam resah dan air mata

Kupersembahkan kepada-Mu

Yang terindah dalam hidupku

Meski 'ku rapuh dalam langkah

Kadang tak setia kepada-Mu

Namun cinta dalam jiwa

Hanyalah pada-Mu

Maafkanlah bila hati

Tak sempurna mencintai-Mu

Dalam dada kuharap hanya

Diri-Mu yang bertahta

Maafkanlah bila hati

Tak sempurna mencintai-Mu

Dalam dada kuharap hanya

Diri-Mu yang bertahta

Meski 'ku rapuh dalam langkah

Kadang tak setia kepada-Mu

Namun cinta dalam jiwa

Hanyalah pada-Mu

Maafkanlah bila hati

Tak sempurna mencintai-Mu

Dalam dada kuharap hanya

Diri-Mu yang bertahta

Meski 'ku rapuh dalam langkah

Kadang tak setia kepada-Mu

Namun cinta dalam jiwa

Hanyalah pada-Mu

Maafkanlah bila hati

Tak sempurna mencintai-Mu

Dalam dada kuharap hanya

Diri-Mu yang bertahta

Detik waktu terus berlalu

Semua berakhir pada-Mu

 

Tangisnya menjadi samudera sedangkan ia perahu yang kehilangan tempat berlabuh kini. Tempat pulang terakhir adalah padaNya.




Posting Komentar untuk "513 Km (True Story): Part 10"