Short Story Weekend: Dermaga Biru Pilu - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Story Weekend: Dermaga Biru Pilu

 Short Story by Riskiyah Syah

 

Bayanganmu selalu menghantuiku, di setiap tarikan nafasku, terukir namamu. Nama yang selalu kusematkan dalam jiwa. Mata ini tak pernah bosan,  menatap bola matamu yang hitam yang mampu getarkan kalbu. Damaiku bersamamu, menyulam hari-hari indah penuh cinta. Riang gelak tawa penuhi wajah-wajah riang berbalut cinta suci. Berikrar untuk saling mencinta dan menua bersama.  Namun itu dulu. Itu Hanyalah sepenggal  kisah yang mampu membuatku pilu.



           

***

                “Ini!” kataku sambil menunjukkan selembar tiket

            Petugas kapal segera mengambil dan mempersilakan aku masuk. Kulewati geladak kapal sambil menenteng tas di tangan kananku, sedang di pundak  aku menggendong tas ransel.  Langkahku menuju lantai dua. Kulewati satu persatu tangga hingga  kuterhenti di depan pintu ruangan VIP A. Tak banyak yang datang, hanya beberapa penumpang saja. Mataku segera tertuju pada tempat yang belum ada penghuninya. Ku letakkan tasku.  aku segera duduk dan mengambil gawaiku. Lalu ku beri kabar pada mama kalau aku sudah ada di dalam kapal. Kurang tiga puluh menit kapal ini akan segera berlalu.

            “Hati-hati ya sayang,” ucap mama dari seberang

            “Jaga dirimu baik-baik ya sayang, jangan lupa makan,” lanjut mama.

            “Baik mama.

            “Nanti kalo dah sampai di sana, jangan lupa kabari aku ya.

            “Siap Mama.

            Jam menunjukkan pukul 07.50 WIB semua penumpang sudah mulai berdatangan dan mulai menempati tempat yang kosong. Sepuluh menit lagi kapal ini akan  meninggalkan pelabuhan ini. Aku kan menempuh perjalanan yang cukup jauh kurang lebih lima jam perjalanan. Aku mencoba memberanikan diri menaiki kapal walau nyawa jadi taruhannya.

            Ku berusaha memejamkan mata , namun ku tak bisa, ku segera mengambil novel yang sengaja ku bawa untuk memeniku selama perjalanan agar bisa mengusir kejenuhan. Di ruangan ini mendayu-dayu lagu-lagu Letto favoritku. Ku terbuai dan terletap. Tak terasa sampailah aku di pelabuhan. Aku segera turun setelah ABK sudah menancapkan jangkarnya dengan selamat. Terik matahari sangat menyengngat, udara berhembus kencang, aku segera keluar, sambil berlari kecil agar tak kepanasan. Di sisi kanan pelabuhan ternyata sudah berderet taksi yang akan membawa ku ke tempat tugasku.   

            ***

            Keesokan harinya ku mulai mengalami kejenuhan, rasanya pegen cept-cepat pulang. Namun keadaan lah yang harus memaksaku bertahan hingga bertahun-tahun lamanya. Walau kenyataannya aku ingin di kota sendiri, kota kelahiranku. Namun, semua menjadi kehendak NYA aku haru menjalani dengan sekuat hati.

            Netraku tak bergeming saat menatap Hamparan banyu biru,  riak gelombang hempas di tepian pantai. Desir angin semilir menyapuku dalam balutan sepi, sunyi. Mentari pagi hangati jiwa yang sendu. Hening tanpa kata. Mengalun sepi yang tak berujung. Hampa terasa, aku di sini berteman sepi.

            “Hay,” sapa Rara. membuyarkan ku ketika bermain-main dengan kata –kata di benakku.  

            “Gimana kalau kita jalan-jalan, biar ngak boring”. Tanya Rara

            “Boleh, tapi mau ke mana?”. Jawabku singkat

            “ke Dermaga Biru,”

            “Dermaga Biru?” tanyaku dengan nada penasaran

            “Yang pasti kamu nggak akan nyesel, tempatnya bagus lho “

            “Ok”. Jawabku singkat

            Tak jauh dari tempot kosku, hanya Sekitar 15 menit sampailah  aku dan Rara di Dermaga. Ini merupakan yang  pertama kalinya aku  menginjakkan kaki di tempat ini, hatiku senang sekali. Bisa menikmati hamparan laut biru, perahu-perahu nelayan yang siap bongkar muatan. Para pemancing ikan rela berdiri di bibir dermaga. Desir semilir angin yang menyapu krudungku ,aku bisa menikmati senja dan melihat langsung sunset. Sungguh pemandangan yang tak biasa. Aku tak ingin beranjak saat menatap langit memerah dan mentari mulai tenggelam  keperaduannya.

“Subhanallah, Sungguh indah ciptaanmu Tuhan,” bisiku dalm hati

            ***

Di Dermaga inilah ku sering habiskan soreku sambil menikmati senja. Sesekali kumengabadikan moment berharga ini.  kala itu, Aku duduk di pinggir pantai . tanpa ku sadari dari arah berlawanan duduk sosok lelaki berkaos warna hitam . Mataku ku beradu tatap. Ternyata dia memperhatikan aku. Rara berbisik kepadaku.

            Diapun segera menghampiriku dan Rara

            “Orang baru ya”. Kata Arya sambi basa basi. Dia pasti sudah tau kalau aku dan Rara orang baru di kotanya.

            “Iya Jawabku”.

            Kami pun saling memperkenalkan diri. Tak hanya itu saling tukar nomer handphone. Sejak itulah aku dan Arya sering ngobrol dan tak segan-segan Arya selalu menanyakan kabarku. Arya perhatian sekali, tak jarang aku selalu bertanya tentang banyak hal di tempat baruku. Aku dan Arya merasa nyaman dan nyambung saat ngobrol bareng. Banyak kesamaan antara aku dan dia.

            [Bisa ke Dermaga sore nanti?”] itulah pesan Arya yang di kirim kepadaku

            [Iya. Aku emang punya rencana mau ke sana]

            [ok. Aku tunggu di sana ya]

Seperti biasa  aku sering menghabiskan soreku di Dermaga. Namun sore ini beda dari sore sebelumnya. Arya mengajakku ke ujung Dermaga. Tak banyak orang yang ada di ujung Dermaga karena angin nya yang sangat kencang . kali ini hanya aku dan Arya.

Dia mulai mengatakan perasaannya. Jantung berdetak kencang. Gugup dan tak menyangka Arya bakal jatuh hati kepadaku. Aku jujur dalam relung hatiku mulai tertarik dengan Arya sejak pertama kali bertemu terima kasih Tuhan engkau telah kirimkan sosok yang sangat baik dan akan menjadi imam untuk. Arya hanya memberiku waktu lima menit untuk menjawabnya. Akupun segera mennganguk pertanda mengiakannya.

Hari-hariku lebih bermakna dan berwarna. Aryalah yang telah mengubah duniaku. Di sepanjang jalan yang rindang penuh pepohonan nan hijau sejukkan mata. Kami meluangkan waktu berdua, bercerita, dan  berimajinasi tentang masa depan. Sekali kau tersenyum, seikat senyummu mampu tentramkan jiwaku.

 

***

“Kenapa kau berubah Enjelin”. Tanya Arya

“Aku hanya mengambil keputusan yang benar”.

“Aku tidak mau”. Kata Arya degn nada agak kasar

“keadaanlah yang memaksaku seperti ini, walau dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku tak pernah mengingiknnya”

Arya berusaha mencegahnya, namun Enjelin mempercepat langkahnya. Arya makin penasaran dengan sikap Enjelin yang tiba-tiba berubah dan seolah-olah menghindar darinya. perubahannya sangat drastis. Setalah setahun menjain hubungan bersamanya.

“Ada apa denganmu” teriak Arya dengan anda kesal

Arya duduk terberdaya, tak habis pikir, Enjelin berbuat sekejam itu padanya. Namun tiba-tiba ia teringat akan sahabatnya  Rara. Segera ia menaiki motonya dan menemui Rara. Ia mencoba bertanya kepada Rara. Arya berusaha membujuk Rara agar ia menjelaskan kepadanya apa yang terjadi.

“Enjelin sudah di jodohkan oleh dengan anak teman Mamanya. Sejak mamanya tau Enjelin dekat dengan kamu dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkannya”.

Arya menggelengkan kepala saat Rara menjelaskan kepadanya,

“benar-benar tidak masuk akal”.

“Apa yang salah dengan ku”

“Kamu tidak salah. Cuma….”. Rara tak mampu melanjutkannya

“Cuma apa? “ tanya Arya penasaran

“Cuma kenangan masa silam antara papamu dan mamanya Enjelin”.

“Gimana ceritanya?”Arya makin penasaran.

“Papamu adalah mantan tunangan mamanya Enjelin dan papamulah yang memutuskan dan memilih menikah dengan sahabatnya.

Mendengar penjelasan itu Arya tak berdaya, pikirannya kacau dan kalut mengahadapi kenyataan ini. tak hanya itu, Arya sangat terpukul sekali saat mengetahui Enjelin  berpindah tugas dan ia benar-benar di tinggalkan.

***

Di Dermaga Biru, semilir angin sepoi-sepoi usap wajahku, gelak ombak mengegelegar di bibir pantai. Hamparan bayu biru mengingatkan semuanya tentangnya. perahu-perahu megahkan layar hendak berlalu. Di Dermaga inilah saksi bisu perjumpaanku dengannya. Sang penakluk yang mampu  membuatku tak berdaya. Lelaki berkulit hitam manis, beralis tebal, dengan senyum yang begitu manis. Sosok inilah yang mampu mengalihkan duniaku. Kini hanyalah tinggal kenangan. Itu semua ku lakukan agar bisa membuat mamaku bahagia. Walau dengan terpaksa aku harus menghapus semua rasa dan semua tentang Arya.

Tak mudah bagiku melupakan begitu saja, setelah kurang lebih 12 purnama bersamamu. Hanya karena masa lalu mama, harus harus rela mengubur semuanya tanpa sisa.

Dermaga biru tetap berdiri kokoh namun tak se kokoh jiwaku,   hatiku rapuh, luka memakinmenganga saat harus menerima kenyataan pahit. ku duduk menekur membiarkan dingin mengelus hati. Anganku terbang jauh. Mencabik-cabik pondasi jiwaku. Inginku  kau mengalungkan bianglala di mahkotaku. namuan apa? Yach sudahlah. Tak ada gunanya berlarut dengan kesedihan. Toh ini semua demi mu mama. Love you Mom.



Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts.

Ini adalah story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend.

Posting Komentar untuk "Short Story Weekend: Dermaga Biru Pilu"