Wednesday Short Story: Paradigma - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wednesday Short Story: Paradigma

Short Story by Azkiadivar

Seorang gadis bertubuh tinggi dan sedikit berisi itu berjalan santai menuju kelasnya. Seluruh siswa banyak yang berbisik, membicarakan tentangnya. Seika, itulah nama gadis yang sejak tadi berjalan dengan tatapan lurus nan datar. Dikenal begitu sarkastik dan jutek. 

“Eh, Seika itu punya masalah apa sih?” tanya seorang gadis, Ilona namanya. 

“Ngga tau, emang gitu kali anaknya lon, biarin aja. Dari awal juga dia ngga punya temen ‘kan?” jawab teman Ilona, Adara. Ilona mengangguk setuju, “iya, lagian siapa juga yang mau temenan sama dia ‘kan? Jutek gitu anaknya” tambah Ilona. 

Seika yang mendengar itu nampak tak acuh, ia sudah biasa dengan ucapan mereka. Ia lebih memilih diam dan fokus dengan komiknya, dari pada harus berdebat dengan hal yang seharusnya tak perlu diperdebatkan. 15 menit berlalu, bel masuk berbunyi. Guru mata pelajaran pertama tidak dapat hadir, karena ada kerabat yang sakit. Beliau menitipkan tugas untuk membuat kelompok. 

Seperti biasa, Ilona, Kalea, Azura dan Adara satu kelompok. Mereka mulai berdiskusi seraya bercanda. Mereka ber-4 memang sudah bersahabat sejak pertama kali bertemu di kelas 8, karena pengacakan kelas. Mereka terkenal dekat dan kompak. 

“Eh aku ke toilet dulu ya” ujar Ilona, semua teman-temannya mengangguk. Ilona pergi ke toilet seorang diri, dan tak sengaja melihat Seika yang sedang membawa buku. “hai Seika!” tanya Ilona dengan ramah. Seika menatap Ilona dan memberikan anggukan kecil sambil mengangkat alisnya lalu ia berjalan kembali. Ilona menatap Seika dengan sedikit kesal, “dasar jutek! Bilang hai juga aja ga bisa! HUH!” Ilona kembali berjalan menuju toilet. 

Waktu istirahat tiba, Ilona merasa perutnya perih dan mual. Teman-temannya menghampiri meja Ilona, “Lon, ayo ke kantin” ajak Kalea. Ilona menggeleng, “ngga dulu deh ya, aku ga enak badan nih. Kalian aja ya” ujar Ilona. 3 temannya mengangguk. Azura, Adara, dan Kalea berlalu. Menyisakan Ilona sendirian. 

Tak lama, Seika masuk ke kelas selesai dari perpus. Seika melihat Ilona yang sedang menggambar, Seika-pun menghampiri Ilona. “Tumben gak ke kantin” tanya Seika. Ilona menatap Seika, “gak enak badan. Kamu kenapa gak ke kantin? Oh iya, gak punya temen ya?” 

tanya Ilona kepada Seika. Bukannya marah, Seika membalas, “memangnya kamu punya temen? Temennya sakit aja ditinggal, bukannya diajak ke UKS. Mereka malah asik-asik di kantin bareng sama temen yang lain. Itu yang namanya temen?” tanya Seika. Ilona tersinggung, ia pun berdiri. “Azura, Adara, dan Kalea itu sahabat yang setia! Mana mungkin mereka jadi pengkhianat?” tanya Ilona. 

Seika menyeringai, “oh ya? Kalo kamu punya pemikiran gitu, ya terserah. Tapi, setiap orang itu bisa jadi pengkhianat. Termasuk orang yang kamu anggap selalu ada” ujar Seika. Seika kemudian berbalik dan bawa kotak makan keluar. Ilona menggerutu kesal, “dasar si mulut pedes! Ngurusin hidup orang aja!” umpat Ilona. 

Sepulang sekolah, Ilona dan 3 sahabatnya tidak pulang bersama. Jadi, Ilona pulang berjalan kaki sendirian. Sesampainya di rumah, ia termenung. Memikirkan perkataan Seika tadi di sekolah. Namun, ia tepis kuat, tidak! Tidak mungkin 3 sahabatnya itu mengkhianatinya. 

Keesokan hari, Ilona datang ke kelas. 3 temannya itu sudah datang, namun mereka tidak ada di kelas. Ilona merasa ada kejanggalan, biasanya 3 temannya akan menunggu ia datang sebelum pergi ke suatu tempat, baik kantin ataupun perpustakaan. Tapi 3 orang ini berbeda, mereka malah tak ada di kelas. Ke toilet? Ah, masa ber-3? Pikir Ilona. 

Ilona menghampiri bangkunya, dan ia baru menyadari bangkunya itu sudah di tempati oleh Nilam, salah satu teman sekelasnya. “jadi, mereka pergi bareng Nilam? Dan lupa sama aku?” ilona bermonolog. Ia mengedarkan pandangan, tak ada bangku yang kosong selain bangku di sebelah Seika. 

“Pasti Anka udan pindah di bangkunya Nilam. Duh, masa harus sama Seika sih?” tanya Ilona dengan suara yang kecil. Ilona menatap bangku samping Seika, lalu menatap Seika yang masih asik membaca. Ia ragu untuk duduk bersamanya, tapi jika tidak bersama Seika, ia duduk dimana? 

“Kamu mau belajar sambil berdiri gitu?” tanya Seika dengan nada khasnya. Ilona menatap Seika, “a-aku mau cari bangku lain aja!” jawab Ilona. Seika menutup bukunya, “mau duduk dimana? Semua bangku penuh. Temen kamu udah ga sama kamu lagi. Mau duduk di lantai?” tanya Seika. Ilona yang kesal itu akhinya duduk di samping Seika dan menjauhkan kursinya. Guna menjaga jarak dengan si jutek Seika. Seika menatap bangku Ilona, “santai aja kali, ga akan nyontek.” Ujar Seika. Merekapun belajar, pandangan Ilona terus tertuju pada 3 sahabatnya. Seika tahu, pasti sakit rasanya. Namun, Seika lebih memilih diam. Daripada nanti ia salah berbicara, dan Ilona semakin kesal kepadanya.

Waktu istirahat tiba, Ilona mencoba untuk menghampiri 3 sahabatnya itu dengan ramah. “hei, tadi pagi abis darimana?” tanya Ilona, teman-temannya memandang Ilona, namun dengan tatapan tak biasa. Tatapan risih. “abis ngerjain tugas doang di perpus, kenapa?” tanya Kalea, Ilona menggeleng. “ngga, ngga biasa aja gitu. Eh, tugas kemarin mau ngerjain kapan?” tanya Ilona lagi, tapi malah dibalas decikan oleh Azura. “Kita udah selesai, kemarin kita kerjain di rumah Nilam.” Jawab Azura. Ilona membulat, “loh? Kok aku gak tau? Aku bagian apa?” tanya Ilona. 

Semakin mengeruh, Seika terus menatap Ilona. “kamu? Emang kita sekelompok?” tanya Nilam, Ilona kaget, “bukannya dari awal kita satu kelompok, ‘kan?” tanya Ilona lagi, Adara menggeleng, “kita itu satu kelompok sama Nilam, bukan sama kamu.” Jawab Adara dengan nada yang meninggi, membuat Ilona sedikit berkaca, “kok gitu?”. Kalea berdiri, “udah ah, kamu ga asik. Ayo guys! Kita ke kantin” ajak Kalea. Merekapun beranjak pergi. Ilona menatap kepergian 3 sahabatnya itu. 

“Kalian kok gitu sih!” pekik Ilona dengan air mata yang jatuh, Azura menoleh, “kenapa? Gak suka? Yaudah, gak usah sahabatan aja, gampang. Ayo!” ujar Azura dan mereka pergi ke luar, Ilona diam, air matanya kembali jatuh, ia duduk di samping Seika. Seika mati kutu, tak tahu harus berbuat apa. Seika mengeluarkan sekotak bekal miliknya, dn disimpan di atas meja Ilona. Ilona menatap bekal itu dan menatap Seika, “ini apa?”. Seika kembali membaca, “bekal makan-lah, masa novel” jawab Seika datar. Ilona diam, “kenapa ngga kamu makan?” tanya Ilona. “gak lapar. Makan aja gak usah banyak tanya” jawab Seika datar. Ilona berdecik, dasar jutek! Kalo gak ikhlas nolong gak usah nolongin deh! Batin Ilona. 

Waktu pulang tiba, Ilona pulang sendirian lagi. Tadi, ia mencoba untuk menyapa 3 sahabatnya, namun mereka terlihat acuh. Itu membuat Ilona merasa dikhianati. Ilona berjalan sambil menangis. Rasanya sakit sekali, dilupakan oleh sahabat sendiri. Terlalu dalam meratapi, tak sadar ada motor melaju kencang dan menyerempet Ilona. Ilona pun jatuh tersungkur. Lutut dan sikutnya luka, Ilona kembali menangis. Kondisi jalanan disana sepi, jadi tak ada yang melihat Ilona disana. 

Tapi, seseorang menyerahkan sebuah sapu tangan berwarna biru tua bermotif kotak-kotak. Ilona menatap sapu tangan itu, itu milik Seika. “mau diambil atau gak? Pegel nih!” tanya Seika. Ilona mengambil sapu tangan itu. Seika kemudian membantu Ilona menepi, lalu mengobatin luka Ilona dengan telaten. Setelah selesai, Seika pergi begitu saja. 

“Sei! Seika! Mau kemana!” tanya Ilona. Ilona menggeleng, memang Seika adalah anak yang sulit untuk di tebak. Beberapa menit kemudian, Seika menyerahkan sebuah eskrim kepada Ilona, Ilona menerima eskrim tersebut. Mereka-pun memakan eskrim itu bersama. 

“Sei, makasih ya” ujar Ilona dengan tersenyum manis. “hm,” jawab Seika. Ilona menoleh, ternyata Seika sedang asik memakan Eskrim miliknya. Itu membuat Ilona tertawa, lucu rasanya melihat si ratu jutek kini malah nampakbegitu semangat dalam menghabiskan eskrim. “kenapa ketawa?” tawa Seika, Ilona menggeleng. “aku aneh aja, kamu itu jutek, galak, sarkas lagi. Tapi, kamu itu baik banget loh. Sebenernya, kamu itu orangnya gimana sih?” tanya Ilona. 

Sebelum menjawab, Seika menghabiskan eskrimnya terlebih dahulu. “kenapa harus aneh? Kamu tau kan, setiap hal di dunia ini diciptakan berpasangan? Perempuan, laki-laki. Tinggi, pendek. Atas, bawah. Lautan, daratan, dan banyak lagi. Sama seperti sifat. Ada baik, ada buruk.” Ujar Seika. Ilona mengernyit, “contohnya?” 

Seika menghela nafas, “contohnya, ya kita. Aku, teman-teman kamu, dan banyak orang. Aku mungkin dikenal jutek, sarkas, gak punya hati, dan banyak lagi stigma dalam diri aku yang kalian sebutkan. Tapi mereka lupa, bahwa jika ada buruk, maka ada baik. Begitu juga baik, pasti ada buruk. Itu tergantung gimana cara kamu menilai, Ilona. Dan aku ga akan marah, karena itu penilaian kalian. Tapi ingat juga, bukan berarti aku gak bisa marah” ujar Seika. Ilona tersenyum, “ternyata, orang yang aku anggap buruk itu punya kebaikan, dan orang yang aku anggap baik, juga punya keburukan. Kamu bener Sei, ngga seharusnya aku memandang dalam satu sudut pandang saja, aku juga harus bisa lihat opsi lain. Makasih ya, maaf juga aku nyebelin hehe” ujar Ilona. Seika tertawa, “iya, sama-sama. Maaf aku juga terlalu kasar. Aku cuman ngga tau harus bersikap kaya apa” 

Seika dan Ilona pun pulang bersama. Kebetulan jalan mereka searah. Sejak itu, Ilona dan Seika berteman baik. Ilona-pun belajar, bahwa banyak hal yang tidak kita ketahui dari sifat dan karakter orang lain. Karena itu, berhenti mencaci. Ayo, kita sama-sama memahami.


Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts.

Ini adalah  story cerita, contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend. 

 


Posting Komentar untuk "Wednesday Short Story: Paradigma"