Sunday Short Story: Menyalahkan Nini Cowong - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sunday Short Story: Menyalahkan Nini Cowong

 Short Story by Angga Aryo Wiwaha


“Kulo karo liyane ra bakal setuju, ra bakal melu!” hardik tetua yang kau kenal sebagai pemuka agama itu.

“Anda bisa mendengarnya, kan, Pak Lurah?” sambut sesepuh kubu penyeteru, “kami mau saja ikut cara mereka, tapi mereka yang sama sekali tidak mau ikut cara kami.”



Kemarau panjang menghadirkan malam yang panas, menggoda derasnya keringat dan emosi jiwa, sehingga suaramu selaku pengambil keputusan bisa saja keliru. Dua kubu yang seteru, menyuarakan aspirasi yang menyentuh ranah rohani dan meminta persetujuan darimu. Kau bukan pakarnya, bukan ahlinya, namun dorongan sebagai pemuka masyarakat memaksamu maju menengahi kegaduhan mereka.

Kau mencoba mengerti prinsip keduanya. Yang satu menganggap bahwa memohon kepada Tuhan harus dengan cara yang digariskan Tuhan. Selain cara itu, sesatlah adanya. Kubu yang lain bersikeras bahwa mereka juga meminta kepada Tuhan, hanya saja menggunakan cara yang diwariskan leluhur desa. Toh, sejauh yang mereka tahu secara turun temurun cara ini selalu berhasil. Tuhan mendengar mereka juga.

Sebagai bonus, mereka juga menjanjikan bahwa ritual akan dikemas dengan hiburan rakyat. Menggunakan cara yang bahagia. Doa terpanjatkan, warga pun senang. Pilihanmu yang akhirnya menentukan. Mungkin pilihan yang akan kau sesali, atau alasan dari perkara-perkara yang kemudian kau persalahkan.

Tak elak kau pasti menyalahkan kemarau yang tak hiraukan waktu. Mangsa2 demi mangsa yang perhitungannya diwariskan oleh leluhur kini tercabik-cabik kenyataan bahwa iklim tak lagi sama. Kala seharusnya waktu musim kering yang jelang, malah hujan yang berkali-kali datang. Bahkan badai pun tak jarang. Saat para petani telanjur kecewa dengan gagalnya palawija, harapan mereka kembali ambyar karena hujan malah berhenti sama sekali. Tujuh bulan lamanya, sejak mangsa labuh semplah yang seharusnya mengalirkan mata air sederas harapan.

Bibit, pupuk dan perkakas menanam padi teronggok mubah karena mata air pun tak meluap, tak cukup mampu mengairi irigasi. Sawah hanya ditumbuhi rumput yang kering, pun kebun salak yang mengisi lahan-lahan landai di sebelah utara desa hanya dibuahi kegagalan.

Kau melihat wargamu lesu dalam hidup yang semakin mencekik. Mereka yang dahulu semangat menggarap lahan persawahan di pagi hingga siang hari, kemudian menilik kebun salak hingga sore hari, gigih memangkas ranggas dan gulma atau menyerbuk bunga salak yang sedang mekar; kini seperti menjalani hidup dengan rutinitas yang menjemukan: menengok kebun salak saat matahari sudah mulai tinggi, lalu pulang bahkan sebelum ufuk menguning. Gairah untuk menyemai asa penopang hidup seperti lenyap tak berampas.

Kau temukan sebagian mereka banting setir demi menggali lubuk pencarian. Sebagian menjadi tukang ojek, kuli bangunan, atau tenaga angkut di pasar-pasar tradsional karena hanya itu sisa harapan yang memungkinkan untuk tetap mengebulkan dapur dan memberikan sangu untuk anak-anak mereka.

Itulah saat kau meyakini betul pilihanmu adalah tepat. Menggelar upacara dan hiburan adat. Memohon kebaikan sambil menghibur masyarakat yang dilanda kesedihan.

Kabar sudah tersiar, Cowongan siap digelar.

Tak terucap dari lisanmu, namun sempat terdetik di benakku bahwa kau juga mungkin menyalahkanku yang mendukung penuh pilihanmu. Memang aku bisa apa?

“Ibu manut saja,” kataku padamu, “Ibu yakin pilihan Bapak insya Allah untuk kebaikan masyarakat.”

“Tapi Ratno itu, lho, Bu,” keluhmu menyebut nama si pemuka agama.

Kau bahkan mengusulkan padanya untuk mengolaborasikan ritual agama dan adat. Tegas dan mutlak bagi Ratno, tak ada pilihan untuk itu. Melakukannya sama saja menyekutukan Tuhan dan mengolok-olok agama. Singkatnya, Ratno kuat secara prinsip dan pengaruh. Dan seperti yang kusebutkan, kau bujuk pun tak akan luntur prinsipnya.

Buang waktu dan percuma memang, tapi setidaknya usahamu bisa mencegah Ratno atau jamaahnya mengganggu apa yang dilakukan Suradi, sang pawang cowongan. Kau yang menyetujuinya, kau pula yang harus mengawal setiap kegiatan persiapan agar acara berjalan lancar tanpa rintang. Suradi yang berhasil meyakinkanmu dalam perdebatan malam itu, dengan semangat kemenangannya telah mempersiapkan segalanya.

Tak dipungkiri, kau juga pasti akan menyalahkan pawang cowong8 itu. Serangkaian ritual telah dia laksanakan sebelum hari direncanakan. Kalender sudah ditandai, acara digelar tak sampai dua minggu setelah perundingan malam itu. Suradi pasti juga sudah memilih sendiri batok cumplung9 terbaik, yang kemudian dia dandani dengan njet warna putih, hitam dan merah, ditambah rangkaian bunga melati sebagai rambutnya dan setelan kebaya bersulam ornamen keemasan. Memikat yang melihat. Paras nini cowong bahkan jauh lebih menarik ketimbang sebagian besar wajah perempuan di desamu ini.

Tiga hari sebelum acara, Suradi menghilang. Tak ada yang mencarinya, karena memang tidak perlu. Semua tahu ritual yang tengah dijalankannya adalah untuk melengkapi segala persiapan yang hampir rampung. Sang pawang membawa nini cowong untuk menyepi ke puncak bukit belakang desa, di bawah pohon beringin tepat di samping pusara Mbah Urip, leluhur pendiri desa. Ritual yang mengharap arwah leluhur merasuki nini cowong dan turut serta dalam upacara nanti, kemudian menjadi wasilah untuk menyampaikan hajat masyarakat akan turunnya hujan. Tidak ada seorang pun yang boleh mendekati petilasannya, bahkan menanyakan tentang apa yang sedang dilakukannya juga tabu adanya.

Mungkin kau yang paling khawatir saat itu. Penolakan leluhur bukan satu-satunya alasan Suradi tak kembali. Kemarau sudah cukup menguras harta dan pikiran, jangan sampai ditutup dengan musibah atau konflik lainnya. Kau harus pastikan kalau Ratno tak akan macam-macam.

Sebelum semakin banyak yang kau persalahkan.

###

Aku sempat mempertanyakan, apakah sempat kau salahkan juga gelaran cowongan yang gempita itu?

“Sulasih sulanjana kukus menyan ngundhang dewa. Ana dewa dening sukma widadari temuruna. Runtung-runtung kesanga, sing mburi karia lima. Leng-leng guleng, gulenge pangebatan. Gelang-gelang nglayoni, nglayoni putria ngungkung. Cek-incek raga bali, rog rog asem kamilega, Reg-regan, rog-rogan, reg-regan, rog-rogan.”

Kau mendengar Suradi mengucapkan mantra itu kepada nini cowong sambil menyalakan api yang membara di wadah berisi arang dan kemenyan, berharap “dia” yang dipanggil segera hadir dan merasuk melengkapi ritual malam itu. Sinden kemudian mulai melafalkan syairnya diiringi denting gamelan yang menebarkan aroma mistis sekaligus menghibur. Bait demi bait tak kau pedulikan bunyi dan artinya. Kau hanya peduli bahwa rencana berjalan lancar, dan bahwa keputusanmu sepenuhnya benar. Setidaknya sampai saat itu.

Ritual dilanjutkan seiring sorai gembira masyarakat. Kau pun ikut larut ketika Suradi dan beberapa pembantunya memainkan nini cowong dengan mengayunkannya naik turun ke udara. Golek hias itu sepertinya benar-benar sudah dirasuki. Ayunan semakin keras seperti dikendalikan oleh tangan yang lain. Berkeliling di sekitar area upacara sejenak, para pemain tergiring oleh nini cowong ke salah satu sudut. Ayunan berhenti. Gamelan diperintahkan berhenti. Suradi maju ke hadapan dua orang ibu-ibu paruh baya dan mengatakan kalau nini cowong telah memilih keduanya untuk memainkannya. Ya, kau pun tahu betul kalau inti dari upacara ini adalah untuk memuaskan “entah apa” yang merasuki boneka batok cumplung itu bermain-main dengan siapapun yang dia mau.

Mereka yang pertama. Setelah itu kau maupun aku tak sempat menghitung berapa wanita yang diminta memainkannya. Setiap yang memegangnya benar-benar hanya bisa mengikuti kemana nini cowong membawa mereka. Naik-turun-naik-turun, ayunan demi ayunan terus berlanjut. Sebagian besar sudut desa ditelusuri, sambil diikuti oleh warga yang berduyun dan bersorai. Setiap didekati, beberapa anak kecil menyingkir ngeri sekaligus tertawa geli. Ada yang menghindar dengan histeris, malah tersandung dan terguling sambil tertawa. Orang-orang menyambut dengan gelak yang sama. Suradi menepati janjinya. Masyarakat benar-benar terhibur dengan pagelaran ini.

Apakah kau juga begitu?

Entah kau semakin menyalahkannya atau tidak, ketika upacara cowongan malam itu diakhiri dengan ditunjuknya aku untuk memainkan nini cowong.

###

Jangan bilang kalau kau juga meyalahkan hujan. Bukankah ini yang memang kita tunggu? Pagi yang sejuk, tepat setelah upacara cowongan digelar tiga malam berturut-turut hujan benar-benar turun. Lebat sederas harapan warga desamu. Tak ada keresahan lagi. Pagi itu semua warga keluar rumah menikmati siraman hujan pertama di kampung mereka. Anak bercipratan dengan anak yang lain, bapak-bapak bersorai sambil mendendangkan gending13 memuja leluhur yang diaggap telah mendengar harap mereka lewat ritual kemarin, ditambah ibu-ibu yang tak mau ketinggalan. Dapur ditinggalkan, sekolah dilupakan, pekerjaan dilewatkan. Sejenak mereka hanya ingin merayakan terkabulnya harapan.

Tapi itu dua hari yang lalu. Sudut matamu jelas menyiratkan gelisah, karena hingga hari ini hujan tak kunjung reda.

“Kebon salake kepriwe, ya, Bu?” tanyamu padaku.

“Yang banjir bukannya area sawah, Pak?”

“Banjir di tanah datar bisa surut. Banjir di tanah landai lebih berbahaya,” jawabmu. Aku hanya menghibur untuk meredakan kegelisahanmu. Berharap prediksimu hanya sebatas kekhawatiran.

Namun kali ini kau benar. Dan kau tak senang bahwa kau benar, karena itu adalah kebenaran yang meluluhlantakkan. Dua jam setelah obrolan terakhir itu, saat aku sedang keluar membeli kebutuhan dapur yang mulai menipis, kau mendengar gemuruh yang mengerikan dari bukit utara desa. Bukit yang di puncaknya ada makam Mbah Urip.

Gemuruh dahsyat yang terdengar diikuti getaran tanah yang kuat terasa. Tak ayal seluruh warga berbondong keluar rumah. Sebagian mereka berpekik menyebutkan nama Tuhan. Sebagian lain meracau tak jelas. Perasaaan mencekam dan ketakutan kontan jelas membanjiri lubuk jiwa, seolah kiamat yang menghancurkan sedang berlari menuju mereka.

Histeria itu beberapa menit terjadi. Selepas reda, seluruh warga sekonyong tergerak menuju bukit. Tentu saja tak berani terlalu dekat. Apa yang kau temukan seketika menyayat mata dan jiwa: bukit itu sebagian besarnya telah longsor, meruntuhkan kebun-kebun salak, menimbun rumah-rumah yang berada tepat di bawahnya, entah berapa banyak. Kekhawatiranmu terjadi, karena kau tahu akar serabut salak tak akan mampu menahan beban tanah jika di puncak bukit terjadi banjir.

Dan terjadilah musibah itu, sebelum sempat kau peringatkan mereka.

Setiap warga yang datang mulai meneriakkan nama-nama yang mereka tahu tertimbun rumahnya. Sanak, saudara, sahabat, kerabat, atau siapapun yang mereka kenal yang mungkin tak akan tertolong lagi.

Dan kau akhirnya meneriakkan namaku, setelah bertahun-tahun kau hanya memanggilku “Ibu”.

Dari banyaknya perkara yang kau salahkan selepas hujan, pasti kau paling menyalahkan dirimu sendiri. Itu jelas terlihat dari air matamu yang tak henti derai, bahkan tiga hari setelah kejadian, saat kau bersama tim SAR masih berusaha menemukan jasadku di antara lumpur, bebatuan, dan kenangan.


###

 

Biodata Penulis

Angga Aryo Wiwaha, lahir di Jayapura, 21 September 1988 saat ini berdomisili di Kota Bogor. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi dan media massa. Novelnya berjudul KENDAT menjadi Juara Harapan 1 Sayembara Penulisan Novel Jawa Tengah 2011. Beberapa ceritanya telah terbit dalam Kumpulan Cerita Anak berjudul Manusia Alarm (Pustaka Anak-Graha Ilmu). 

anggawiwaha88@gmail.com, Instagram: @anggawiwaha


Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts.

Ini adalah  story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend.

Posting Komentar untuk "Sunday Short Story: Menyalahkan Nini Cowong"