Sunday Short Story: Firdaus - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sunday Short Story: Firdaus

Short Story by Atika Dewi


Ini tentang sebuah kata yakin. Mengesampingkan semua hal negatif, membuang asumsi yang bisa saja salah, lalu mengedepankan segala asa.

Asa tentangmu, tentu saja. Setelah 8 tahun berlalu, semuanya masih saja sama. Aku tidak pernah paham. Segala teka-tekimu memang tidak berhasil membuatku mundur, Tuan. Aku masih saja percaya intuisiku, bahwa suatu saat nanti kau akan kembali dengan pasti. Meskipun tanpa suatu perjanjian.

Sumber: Pixabay


Pesan singkat yang berisi kata ‘hai’ di hari itu menjadi asal usul kegilaan ini tumbuh. Namanya Firdaus, yang memiliki arti surga. Tahukah kalian? Namanya mendefinisikan sosoknya. Surga memang bisa dilihat setelah mati. Tapi dengannya, surga bisa kurasakan sejak dini.

Mari ku ceritakan kepadamu tentangnya. Dia adalah seorang laki-laki dengan perawakan yang sederhana. Senyumnya manis. Saat ia tertawa adalah salah satu hal paling membahayakan. Mengapa? Karena tawanya candu. Setiap gelak yang dia keluarkan mampu membuatku selalu ingin menikmatinya lagi dan lagi. Dia juga selalu menjadi alasanku untuk menulis. Aku tahu, ingatan manusia terbatas. Aku tidak ingin ia terlupakan oleh waktu. Tidak. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Mengabadikan setiap kisah dengannya adalah salah satu caraku untuk tetap membuatnya abadi.

Dia adalah seorang laki-laki yang pernah tinggal kelas setahun saat berada di sekolah dasar, namun karena hal itu ia jadi sebaya denganku. Karena sempat ketinggalan kelas, ia menjadi laki-laki yang pintar. Ia masuk ke salah satu SMA favorit di kotaku, lalu lolos seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri di salah satu universitas yang ada di daerah Sumatera.

Sedangkan aku, memilih melanjutkan pendidikan di salah satu universitas swasta yang berada di kota kembang. Kami tidak pernah lagi berkomunikasi secara rutin. Oh iya, hubungan kami sebenarnya sudah lama berakhir. Tepatnya pada saat kami memutuskan untuk melanjutkan SMA di tempat yang berbeda. Firdaus harus tinggal di asrama selama 3 tahun karena itu adalah syarat untuk masuk ke sekolah favorit, dan aku melanjutkan SMA di sekolah negeri yang memang tidak jauh dari rumahku. Semenjak putus, hubungan kami masih terjalin baik.

Terkadang, kami masih sering menjalin percakapan via telepon. Entah sekadar bertanya kabar, mengenang kejadian yang pernah kami lakukan saat masih bersama atau menceritakan rencana-rencana yang akan dibuat untuk masa depan. Aneh memang. Diantara semua laki-laki yang pernah berhubungan dekat denganku, hanya dia yang tidak pernah jauh dan hilang meskipun hubungan kami telah selesai. Ya, walaupun tetap tidak ada kepastian bahwa ia masih dengan perasaan yang sama.

Selama putus darinya, aku sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan orang lain. Ada yang sebentar, dan ada juga dalam jangka waktu lama. Tapi tetap saja, selalu ada sesuatu dari orang lain yang membuatku tidak bisa bertahan. Bukan. Bukan karena aku masih terlalu fokus pada Firdaus. Namun, selalu ada sesuatu dari mereka yang membuatku mundur. Entah karena kepribadiannya atau kesalahannya dalam memperlakukanku.

Lucunya, setelah mengakhiri hubungan denganku, Firdaus masih saja sendiri. Tidak pernah aku mendengar kabar dia menjalin kasih dengan perempuan lain. Ia memang pernah bilang untuk tidak ingin berhubungan dengan perempuan sebelum ia bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Mungkin, ia membuktikan perkataannya.

Dan aku, sampai detik ini masih saja menyimpan namanya dengan rapi di salah satu ruang dalam hati. Ruang yang tidak akan bisa diganti oleh siapapun. Setidaknya sampai aku paham dan mengerti tentang perasaannya padaku. Sejauh apapun aku berkelana, berkenalan dengan subjek baru, menghabiskan waktu dengan mereka, jauh di relung hatiku selalu ada keinginan untuk menjadikan dia sebagai satu-satunya rumahku untuk pulang. Begitu pula sebaliknya. Aku ingin berusaha menjadi rumah terbaik yang mampu membuatnya merasa nyaman.

Kalau kau bertanya bagaimana akhir dari cerita ini, terus terang aku tidak tahu karena cerita ini juga sedang berlangsung. Aku dan Firdaus sedang berusaha untuk meraih impian masing-masing. Aku ingin melanjutkan kuliah S2 di salah satu universitas negeri di Yogyakarta, dan dia, terakhir kudengar kabarnya setelah wisuda ingin mencoba melamar pekerjaan di salah satu perusahaan yang ada di Kalimantan.

Aku tidak ingin mengarang akhir cerita ini versiku sendiri. Tidak ada yang tahu bagaimana ketetapan Tuhan untuk kami. Setidaknya, tanpa dia sadari, aku sudah berusaha sekuat mungkin. Memintanya tanpa henti kepada Tuhan disaat-saat mustajab untuk berdoa. Misalnya antara waktu azan dan ikamah, saat hujan turun, atau di hari Jumat sore sesudah asar.

Tentang sebuah keyakinan. Kurasa bukan kita yang bisa mengendalikan keyakinan yang timbul. Kita hanya menjalani takdir Tuhan dengan sebaik mungkin. Aku belajar banyak hal dalam waktu sewindu ini. Tentang rasa sabar dan ketulusan dalam hidup. Semakin kita mencintai seseorang, semakin tinggi juga keinginan kita untuk melihatnya bahagia. Bersama siapa saja, asal kebahagiaan itu tumbuh dan berkembang dalam dirinya, kita juga akan merasa senang. Tapi itu berlaku untuk orang-orang yang mencintai di level paling tinggi. Tahap paling dekat untuk berteman dengan rasa ikhlas. Membiarkan kemungkinan apapun yang bisa saja terjadi. Termasuk kemungkinan paling buruk, di akhir cerita ini dia akan memilih orang lain.

Tentang sebuah keyakinan. Aku terlalu keras kepala dalam mencintaimu, Firdaus. Kalau ada yang bertanya kenapa aku masih saja bertahan atau barangkali bertanya akan alasanku untuk tetap saja memilihmu, aku juga tidak tahu. Karena bagiku, mencintai seseorang tidak butuh alasan. Jika suatu saat alasan itu hilang, maka otomatis pudarlah cinta itu. Seperti mencintai seseorang dikarenakan ketampanannya. Lalu tiba-tiba orang itu mengalami sebuah kecelakaan sehingga membuatnya tidak tampan lagi, apakah kita tetap bisa mencintainya? Itu sebabnya aku tidak menemukan alasan kenapa aku mencintaimu. Sederhana saja, aku selalu bahagia jika berada di dekatmu. Aku bahkan tidak tahu apakah kau merasakan itu atau tidak, yang jelas, kau selalu saja jadi subjek utama. Baik dalam tulisanku maupun percakapanku dengan Tuhan. Namun yang harus kau ketahui, aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku seperti aku mencintaimu. Tidak. Aku membebaskanmu memilih siapapun diluar sana yang kau cintai.

Tentang sebuah keyakinan. Aku tidak mengerti skenario apa yang ingin Tuhan berikan kepada kami berdua nantinya. Tidak ada yang tahu sama sekali. Semoga, setiap keyakinan yang timbul dalam hatiku memang tidak salah sasaran. Semoga suatu saat nanti kita bisa dipertemukan kembali untuk akhirnya disatukan dalam sebuah ikatan yang suci.

Aku selalu berharap waktu itu akan tiba, Firdaus.

Kita melewati banyak hal bersama. Mulai dari membuka mata di pagi hari, aku menyiapkan sarapan untukmu lalu kita menghabiskannya berdua. Siangnya kita pergi ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan dapur. Aku mengambil barang-barang yang ada di rak dan kau mendorong kereta belanja. Setelah itu, kita pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidur siang. Sorenya, kau dan aku naik ke balkon di lantai 2 untuk menikmati secangkir teh hangat sembari bercakap-cakap tentang apa saja. Ada semburat cahaya oranye di langit jauh yang biasa disebut orang-orang dengan sebutan senja, sebagai saksi kebahagiaan kita.

Waktu demi waktu berlalu, kita lantas dikaruniai 3 orang anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Sibuk untuk mengurus dan memperhatikan tumbuh kembang mereka. Celotehan, tangisan, dan tawa mereka satu sama lain bergantian memenuhi suasana rumah tidak kenal waktu.

Angan tentangmu selalu kupikirkan sampai jauh. Semoga, di waktu yang entah kapan, kita bisa melakukan hal-hal yang sudah kuceritakan di atas.

Cerita ini dibuat oleh seseorang yang sudah lama mencintaimu. Tapi tidak pernah bermaksud untuk mengusikmu atau membuatmu risih akan hal itu. Karenanya aku lebih memilih untuk diam. Mendoakanmu dari jauh. Menuliskan namamu di selembar kertas atau mengetiknya dalam sebuah cerita di laptop. Aku tidak punya nyali sebesar itu untuk menghubungimu lantas mengatakan rindu. Aku selalu berpikir bahwa ini belum saatnya.

Lalu, lewat cerita ini, izinkan aku untuk memperkenalkanmu pada dunia. Sebagai satu-satunya manusia yang selalu ingin kumiliki hingga ku menua. Semoga Tuhan selalu menjagamu dimanapun kau berada, Firdaus.



Atika Dewi

ID Instagram: @atikadeew 

Email: atikadewi087@gmail.com



Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts.

Ini adalah  story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend.

Posting Komentar untuk "Sunday Short Story: Firdaus"