Short Story Weekend: Tumpukan Pertanyaan - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Story Weekend: Tumpukan Pertanyaan

Short Story  by Aisyah Proborini

 

Banyak orang yang mendambakan tinggal di rumah dengan lingkungan yang bersih, damai, jauh dari bisingnya suara mesin limbah yang memekakkan telinga, dan juga memiliki tetangga yang saling bergotong royong. Tapi tidak denganku, aku sangat nyaman berada di rumah yang penuh dengan kardus bekas dan koran-koran yang kertasnya mulai menguning. Ibu dan adikku juga tinggal di bawah atap ini. Sementara aku tak tahu dimana ayah, tak perlulah aku bertanya pada ibu tentang ayah atau aku akan dimarahi. 

Rumah koran kami berada di belakang perumahan mewah, perbatasan wilayahnya adalah tembok besar nan menjulang tinggi namun sudah bolong di sana dan sini. Entah siapa yang merusaknya, setidaknya bolong itu cukup untuk dilewati tubuh mungilku dan adikku. 

Setiap hari kuperhatikan anak-anak pemilik rumah mewah disini berangkat dan pulang sekolah di antar jemput dengan mobil yang mesinnya tidak bersuara. Tak jarang aku saksikan saat matahari baru saja absen, Ibu mereka berlarian kecil membawakan segelas susu lalu memaksakan anaknya untuk minum, sementara si anak menolak sambil menutup pintu mobil. Ah, orang seperti mereka sungguh aneh, mengapa hanya meminum segelas cairan putih lezat saja harus dipaksa, aku dan adikku belum tentu meminumnya sebulan sekali. 

Setiap hari aku pasti melewati rumah orang-orang ini, kecuali jika aku sakit. Adikku juga bersamaku. Kami membawa bekas karung beras di pundak dan tak lupa memakai topi yang kutemukan di luar pagar salah satu rumah orang-orang ini, entah memang dibuangnya atau mereka menjatuhkannya. Yang jelas benda ini sedikit melindungi kami dari terik matahari siang ibukota. 

Aku akan pulang saat matahari mulai lelah, kulewati rumah-rumah mewah ini lagi yang tadi pagi membuatku menumpuk pertanyaan-pertanyaan yang berbeda setiap harinya. Pertanyaan itu juga muncul di kala senja seperti ini. 

“Mengapa hampir seluruh laki-laki penghuni rumah mewah ini berkeluaran, memakai baju koko rapi lengkap dengan sarung dan penutup kepala?” Tak jarang beberapa dari mereka memberiku uang. Aneh betul mereka ini, aku saja setengah mati mencarinya mana mungkin kuberikan pada orang lain. 

Pertanyaan yang muncul secara tiba-tiba di setiap pagi dan senja kutumpuk rapi dan kusimpan dalam memori. Karena tak tahu harus kutanyakan pada siapa. 

*** 

Saat ini usiaku 15 tahun, rambutku panjang menjuntai hingga pinggang jika tidak kuikat, warnanya agak merah kekuningan dan tebal karena rambutku membelah di setiap bagian ujungnya tidak seperti rambut gadis yang biasa kulihat di tirai penutup warung makan khas Tegal. Mataku biru dan hidungku mancung, bibirku berwarna pink walau agak pecah-pecah, kulitku berwarna coklat dan kutemukan bitnik-bintik coklat muda disekitar pipiku, pastilah karena terik matahari. 

Adikku entah berapa umurnya, tapi ia mulai bertambah tinggi, ia setinggi perutku. Anehnya bocah ini tidak memiliki kesamaan denganku, ia hitam sama seperti bola matanya, rambutnya hitam keriting padahal ia agak botak, bibirnya juga hitam, ah dia serba hitam. Entahlah mengapa kami berbeda, tak berani juga aku bertanya pada ibu. Sudalah. 

*** 

Kesekian ratus kalinya senja datang menggandeng hujan, betapa mereka menganggu perjalanan pulangku. Aku memutuskan untuk berteduh di sebuah toko yang tutup di pinggir jalan. Kulirik adikku kedinginan, begitupun aku. Di seberang jalan ada sebuah sekolah besar, para muridnya memakai baju bebas mungkin usianya jauh di atasku, bahkan kulihat ada juga yang sedang mengandung, entah sekolah macam apa. 

Aku melihat ada sesosok laki-laki muda menyeberang jalan ke arah kami, tangan kanannya membawa plastik hitam, sepertinya berisi kardus kecil. Ia berpenampilan rapi dengan kemeja kotak-kotak biru tua dan celana jeans hitam. Jam di tangan kanannya pun terlihat keren sementara tangan kirinya berusaha menutupi kepala dengan tas ranselnya. 

Ternyata benar orang itu menghampiri kami dan plastik hitam itu disodorkannya padaku, lalu ia tersenyum dan balik badan hendak menyeberang kembali sedetik setelah aku menerimanya yang ternyata berisikan nasi kotak. 

“Tunggu” tiba-tiba aku teringat kembali dengan pertanyaannku yang mulai menggunung dan aku yakin bahwa dengan penampilannya yang rapi begini, pasti ia dapat membantu menjawab pertanyaannku. 

Ia membalikkan badannya dan lagi-lagi ia tersenyum tanpa berkata apa-apa.

 “Aku punya beberapa pertanyaan, dapatkah kau membantu?” tanyaku dengan keberanian yang kubuat-buat. Kulihat ia kesekian kalinya hanya tersenyum sambil mengangkat alis, mungkin maksudnya, “tentu saja”. 

“Mengapa setiap orang dilahirkan ke dunia dengan keadaan hidup yang berbeda-beda? Ada yang memiliki rumah mewah dan megah ada pula yang hanya beralaskan koran lapuk, ada yang bersekolah sepertimu, ada pula yang bahkan tidak dapat membaca dan menulis sepertiku, ada yang mati-matian mencari uang untuk makan, ada pula yang dengan mudah memberinya begitu saja pada orang lain seperti yang baru saja kau lakukan padaku. Mengapa sebagian orang hidup dalam kelebihan dan sebagian lainnya hidup dalam kenelangsaan. Mengapa orang sepertimu baik-baik saja tetapi orang sepertiku…” 

Pertanyaanku terpotong karena ia mengangkat tangannya seperti mengisyaratkan untuk berhenti. Lalu ia mulai membuka mulutnya seakan hendak berbicara namun tak bersuara. Ia terus bicara dengan tangan seperti memperagakan apa-apa yang diucapkannya, tak satu pun dapat kupahami dari bicaranya. Terakhir ia mengepalkan tangannya lalu mengangkatnya setinggi dagu dan mengayunkannya sekali dengan cepat dan penuh tenaga, entah apa maksudnya. Ah sudahlah mungkin tumpukan pertanyaannku ini tak akan pernah terjawab. (short story prompt)



Aisyah Proborini
ID Instagram @tulisanku_untukmu
E-mail : aisyahproborini20@gmail.com

Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts.

Ini adalah  story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend.


2 komentar untuk "Short Story Weekend: Tumpukan Pertanyaan"

  1. Suka sekali dengan alur cerita serta keunikan berceritanya
    ....rasanya saya menjadi dirinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasianya Mas Supriyadi Pamekasan

      Hapus