Short Story Weekend: Tuhan, Izinkan Kutiup SangkakalaMu - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Story Weekend: Tuhan, Izinkan Kutiup SangkakalaMu

 Short Story by Dedy Ari Nugroho, M.Pd 

 

Hidup adalah perdamaian antara jika dan maka, tapi bila keduanya tak segera berdamai izinkan aku tiup sangkakalaMu, wahai Tuhan pemilik alam semesta.

 

Angin malam meniup perlahan, menimang-nimang untuk terlelap dalam diam. Suara hewan, menegaskan latar pedesaan yang selalu diidamkan. Aku pernah melihat, mendengar, dan merasakan damai dalam pekatnya malam. Tapi tak jarang, suara merengek-rengek dari jendela usang kamarku, memaksa untuk dibungkam, meskipun aku tahu kamu sedang ingin mengeluhkan pilu. Kata Ibuku, hidup itu bergantung pada pikiran kita sendiri, tapi aku sedikit ragu, karena kuasa Tuhan yang serba menahu. Mengembangkan asa dalam suasana yang katanya damai, nyatanya tak melulu begitu. Realita hidup di desa yang mensyaratkan kepatuhan, kadang penuh kekangan. Ah tapi sudahlah, kuakhiri lamunanku, kupejamkan mataku, berharap esok hari mentari mengajakku dalam temu rindu. 

Tidur lelap dalam hiasan romansa, karena mimpi tinggal di kota, akhirnya sirna oleh kentongan sesepuh desa. Kukira kabar duka, ternyata pertanda tengah malam tiba. Mimpi indah hirap sudah, berganti suasana hening, dengan lirih bisikkan Bapak-Bapak di Pos Ronda yang asik dengan julidnya. Kadang aku tak habis pikir, ada saja obrolannya, kadang bertema sok dengan kuasanya, kadang merintih tak tahan lara dengan keadaan keuangannya. Yah, tapi ya begitu saja, tanpa usaha lebih hanya merintih. Namanya juga bergaul, prinsipnya saja mangan ra mangan sing penting kumpul. Entah harus berduka, atau ikut bertekuk lutut dalam prinsip yang sama. Terjerat dalam skeptisme yang selalu digaungkan sebagai sebuah idealisme. 

www.infoyunik.com



Mentari pagi hangat menyapa, mengintip semburat kuning dari lubang jendela. Menciap-ciap anak ayam mengejar induknya, diiringi lagu kebangsaan dari unggas lainnya. Damai memang nuansanya, iya sebelum Ibu panggil dengan kekuasaan absolutnya. Pekerjaan rumah yang sudah serupa kutukan kaum perempuan. Belum lagi urusan bersihkan kandang ternak, dengan hentakan bau busuknya. Beginilah adanya, sisi terkekang hidup di desa, jika selesai urusan dapur dan rumah, ya sudah dianggap anak yang baik-baik saja. Melupakan jasa Kartini, dengan nuansa optimismenya. Entah aku yang tukang mengeluh ataukah ini bagian dari semangat untuk kehidupanku selanjutnya. 

Sore ini kuputuskan bertemu dengan Nur, temanku sedari kecil, yang nasibnya mungkin lebih buruk dariku. Di pematang sawah dengan menantang sang jingga, kami bercerita banyak hal tentang realita yang sebenarnya tak baik-baik saja. Kabar buruk yang aku bawa untuk bahan cerita, hanya sama, tentang ambisiku untuk ke kota dan sekolah setinggi-tingginya. Sedangkan Nur, dengan masalahnya yang selalu baru, kali ini Dia katakan ingin menerima tawaran Bapaknya untuk menikah dengan Mas Heru, pemuda matang di desa kami yang terkenal mentereng sebagai mandor pabrik obat koreng. Usia mereka terpaut 20 tahun, dengan Nur yang masih 15 tahun. Nur dengan lirih melas membisikkan, “kamu itu beruntung, bisa sekolah sampai SMA, begitu masih kurang. Aku nikah aja, daripada jadi beban orangtua”. Sekilas senja berubah warna menjadi pekat, pertanda menyuruh pulang, agar tidak terlambat. 

Malam kembali datang dengan telisik kisah yang sama klasik. Begitu saja sehari-hari, abadi dalam cerita tak berganti. Pos Ronda masih menjadi teman setia, dengan lirihnya berbagi isu desa yang tak ada ujungnya. Sebelum kentong tengah malam berdengung, ku lihat seperti ada yang mengintip di balik tirai kamarku. Ibu datang ke kamarku, dengan dagu agak maju, khas seperti aku. Kita terlibat dalam malam yang berbeda, seperti bukan malam-malam sebelumnya. Ibu mengatakan tentang cerita juangnya, ketika masih muda. Ah, ini pasti hanya tarik ulur supaya tetap di desa, bengisnya batinku menanggapi kalimat Ibu. Benar saja, dengan pemikiran kunonya, memintaku jadi perempuan biasa-biasa saja seperti dirinya. “Iya Bu, kalau memang rezekinya di desa, ya di desa” kataku, kuhiasi senyum menawan untuk puaskan hatinya. Dengan berbagai trik menolaknya, tak pernah ada gunanya juga. 

Putih abu-abu dengan berbagai cerita pilunya, kini menuntut haknya. Berakhir sebagai lulusan terbaik, tapi aku masih merasa jadi anak udik. Hanya sampai disini? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan! Memaksa untuk tetap kuliah tak mungkin, selain mental dalam obrolan, menjual satu itik juga tidak mungkin bisa membuat aku bertahan dalam perantauan. Kuputuskan untuk hidupku sendiri, hari ini. Kuhubungi diam-diam Budhe Darmi, kakak perempuan Ibu, yang sukses jadi juragan tahu. Kuceritakan piluku, pada satu-satunya harapanku untuk maju. Budhe Darmi setuju, sungguh ini hal terbaik dalam hidupku. Tuhan, kabulkan setiap usahaku, Tuhan ingin aku lepas dari skeptisme pemikiran masa lalu, dan mungkin Tuhan sedang ingin melahirkan kartini berikutnya lewat aku. 

Yogyakarta, kota impian, tempat para sarjana lahir sebagai pengguncang dunia. Semakin mengenal kotanya, semakin aku setuju bahwa Yogyakarta memang istimewa. Tapi ini perjuangan, tekad tak sekedar membara dalam dada, sesuatu yang tak mungkin kujalani tanpa bekerja. Tekad ini terlanjur bulat, sungguh ini keputusan besar yang tak mungkin kuralat. Nasib kedepan tak ada yang tahu, meskipun tanpa dukungan Ayah Ibu. Tapi andai mereka tahu, niatanku sebenarnya, bukan menjawab aku dengan egoisku, tapi untukmu dan kaum-kaum setelahmu. Aku ingin menjadi kebangganmu, meskipun perjuangan baru kumulai dengan menumpang di pabrik tahu. 

Benar, kata orang-orang dalam buku, kuliah tak menjamin suksesmu, tapi ia akan membuka wawasanmu. Aku dikenalkan dengan beragam kawan, sudut pandang, etika dan keramahan, serta mengajarkan berjuang untuk bertahan. Beranjak dari desa ke kota, dari skeptis menjadi dinamis, pesimis menjadi optimis, semuanya tersaji dalam satu garis. Tinggal kuperjuangkan, karena ini bukan lagi sebagai lamunan, tetapi ini sebuah pencapaian. Ku ingin kabarkan setiap detik perjuangan ini pada Bapak Ibu, meski mereka diam tak ada dukungan. Hubungan yang mulai renggang, sejak aku dicap sebagai pembangkang, karena nekat ke perantauan. Tapi kabar tentangnya selalu aku dapatkan, dari Nur sahabatku di kampung halaman. Tanpa dukungan kadang terasa hambar, seperti Tuhan telah meninggalkan, meskipun selalu kubantah dengan keyakinan. Keyakinan bahwa ini adalah doa yang terkabul setelah kulangitkan. 

Hari-hari dibangku sarjana, penuh suka cita, dengan kawan-kawanku yang istimewa. Aku bertahan dengan menjajakan produk olahan tahu milik Budheku. Hari demi hari berlalu, selalu terpatri semangatku, karena memang inilah komitmenku. Aku bersahabat baik dengan Sela dan Ayu, teman berkeluh kesah, seperti Nur ketika di kampung halaman. Sela temanku yang ditinggal kedua orangtuanya merantau ke Jepang. Hidupnya terlihat serba gampang, bukan sepertiku yang hanya numpang. Ayu, orang Bandung yang ngakunya nyasar ke Jogja karena menyusul pacarnya. Tapi Ayu, sedang mencari pelarian, karena yang disusulnya pergi meninggalkan. Setidaknya Ayu lebih beruntung karena pernah punya pasangan. Sedangkan aku, orang dekat saja jarang, mungkin aku masih bau kandang. Entahlah, tapi kami saling menguatkan, terlebih aku inginkan fokus pada tujuan. 

Kuselesaikan studiku kurang dari batas waktu. Kusegerakan bawa kabar gembira untuk orangtua, sebagai bagian dari awal kebanggannya. Juga, sebagai awal dari merekatnya hubungan kita. Sudah ditentukan kabar wisuda sebagai akhir dari ambisiku di tanah rantau.

Sudah kubayangkan bagaimana mereka akan datang di prosesi wisudaku, dengan wajah penuh tawa merekah, dengan menyeru bangga untukku. Tak sabar kuhubungi Nur, sahabatku di kampung halaman yang akan turut kuundang ke perantauan. Tapi mungkin nanti petang kukabarkan, biar saja jadi kejutan. 

Hayalku mengantarku pada satu anggapan, keberhasilanku ibarat kekuatan sangkakala, seperti cerita ustadku dulu setelah TPA, ku teriakkan dalam batin dengan gagahnya. Sangkakala, memusnahkan yang ada, tetapi membangkitkan yang baru. Ini adalah sesuatu yang nyata, bahwa ku ingin tiup sangkakala, ku musnahkan pemikiran skeptis masyarakat desa, dan kubangun sesuatu yang baru, bahwa perempuan bisa bernilai lebih dari yang lalu. Tak hanya urusan dapur dan kandang, kemudian hanya menimbukan luka karena terkekang. Jika, diizinkan seketika prosesi wisuda, kuingin penjam sangkakala Tuhan, dan kubuat keadaan sesuai harapan. 

Telepon genggam berdering kencang mengakhiri lamunan, tentang harapan yang akan segera datang. Ternyata dari Nur, panjang umur anak ini, setelah ingin kuhubungi petang nanti. Sebelum Dia mengatakan apapun, aku menyahut obrolan dengan undangan. Tapi, tak biasanya nadanya, menyela dengan semangat tetapi terkesan gagap ketakutan. Hening, “yasudah, kamu dulu Nur” kataku padanya. Hening kembali, “Nur, kenapa?” tanyaku padanya, lagi dan lagi. Hening, hendak kututup teleponnya, karena mungkin signal yang mungkin tak mendukung obrolan. Tapi Nur biasanya membawa kabar tentang kondisi keluarga dan desa. Kupanggil lagi, terakhir niatanku. “Kamu harus pulang, Ibumu sudah menunggu kamu pulang, nanti aku cerita di pematang” kata-katanya sungguh tak biasa, singkat dan dingin. Tak lama Budhe datang, seperti bersahutan dengan Nur, membawa terang, tentang kabar yang hendak Nur sampaikan di pematang. “Nduk, kamu pulang ya, Ibu sudah berpulang” kata budhe, kusambut dengan hening. Sangkakala sudah ditiupkan, aku terjerembab pada lubang hitam diiringi tangisan. 

Sangkakala sudah ditiupkan. Jika diizinkan, Tuhan bolehkah kutiup untuk mengembalikan? Ibu, aku pulang membawa sangkakala Tuhan, untuk kubangun peradaban.



Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts.

Ini adalah  story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend.



Dedy Ari Nugroho, M.Pd
ID Instagram @dedy.nugroho11
Email dedyuns@gmail.com






Posting Komentar untuk "Short Story Weekend: Tuhan, Izinkan Kutiup SangkakalaMu"