Short Story Weekend: Perempuan yang Becermin - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Story Weekend: Perempuan yang Becermin

Short Story by Enias Moya 

“All of our romanticism just nonsense to my rotten-dead heart1.” Kembali, Nala mengeja pesan itu dalam ponselnya. “Hah, omong kosong!? Enggak mungkin!” Dia menggerutu sembari mendengar musik dengan penyuara telinga; bertujuan agar jiwanya terisi energi positif. Di samping kasur, dinaungi keremangan lampu tidur keungu-unguan, tergeletak sebuah buku berjudul The Lost City of Z, dengan sampul hijau seperti ditumbuhi lumut-lumut yang tipis. Selembar pembatas terselip pada halaman tiga puluh tiga. Ia tidak melanjutkan, pikirannya sedang kacau; juga, ia tidak terlalu gemar buku biografi. Buku itu merupakan pemberian dari laki-laki yang kini menghantui benaknya; laki-laki itu menjelaskan bahwa dalam buku tersebut terlukis determinasi murni dari tekad manusia. Bagaimanapun, dia lebih suka tulisan-tulisan dengan aliran feminisme. 

Itu terjadi beberapa jam yang lalu. Atau, berminggu-minggu lalu—tak pasti, sebab dia telah terjebak ilusi bernama waktu. Sebelum Nala tertidur dan menghabiskan berbatang-batang cokelat. Tanpa disadari, wanginya mengundang satu semut dan membuat penasaran. Aroma cokelat macam apa ini? Bercampur pewarna bibir dan sedikit dilumeri percikan nyeri, yang barangkali, telah membludak di sumbernya. Semut itu memanjat tubuh Nala dan tanpa maksud menyakiti, menggigit permukaan kulitnya; nasib makhluk itu berakhir buruk, tanpa pertimbangan Nala menepuknya hingga tewas.

 

Dia memiliki kebiasaan memakan benda manis itu. Dia memang suka yang manis-manis, seperti lelaki yang mengirim pesan itu. Namanya Gavi. Nala sebenarnya tidak terlalu mengenal kehidupan pribadi lelaki itu. Atau jika mengetahui pun, Nala tak sudi mengakui. Dia hanya ingat momen-momen mereka bercinta; Gavi sangat lucu dan manis dan polos. Di jalur itu, dia merasa benar-benar kenal Gavi. Mungkinkah Nala takut kehilangan? Tidak mungkin. Dia perempuan berdaulat yang tidak dimiliki maupun memiliki. Tetapi, kalaupun mungkin, disebabkan oleh apa? Kenikmatan seksual? Atau kemurnian cinta? Dia cenderung memilih jawaban yang pertama karena yang kedua terlalu kekanak-kanakan di dunia yang serba apatis ini. Lagi pula, apa pentingnya alasan maupun kenyataan dibanding dengan perasaan yang mengisi hati manusia. 

Nala suka bermain dengannya dan tanpa sengaja telah menyimpan nama lelaki itu di susunan kenangan teratas dalam rak hatinya. “Kuharap aku dapat memberimu kenangan dan rasa sakit agar hatimu yang mati dapat kembali hidup,” Nala seorang yang optimistis dan independen. Ia berprofesi sebagai model, meskipun belum papan atas tetapi dia sedang naik daun. Dia pun tengah dikontrak untuk menjadi duta merek dari salah satu produsen batik lokal. Dia nampak anggun dalam iklan produk itu, mencerminkan keunggulan dari wanita pribumi yang sesungguhnya. Walaupun, untuk urusan pakaian dalam, dia lebih suka produk luar, kali ini misalnya; setelah memakan berbatang-batang cokelat dia jadi berkeringat; dia menanggalkan pakaian luar dan di situlah terlihat satu set dalaman bermerek Victoria Secret. Setiap dia melihat merek itu, dia jadi teringat juga kala pertama kali bersetubuh dengan Gavi; laki-laki bercelana dalam Calvin Klein. Momen itu mengarah pada saat dia mendapati syahwat Gavi mengencang di baliknya. Cinta memang kamuflase dari amarah. Laki-laki tersebut tergoda dengan tulisan di bawah beha Nala: Terukir aksara latin dengan arti ‘penakluk’. Dia acuh kepada Gavi yang menahan tawa kala mengetahui makna dari tatonya. “Hm, Ini artinya apa?” telisik lelaki itu disela-sela pengembaraan pada tubuh Nala. Penuh percaya diri Nala menjawab, “Penakluk!” 

Pertanyaan. Tidak biasanya seorang laki-laki teralih saat mencumbu Nala, apalagi ketika mendapati buah dadanya yang padat itu. Apakah ia tidak penasaran dengan bermacam rasa yang mungkin tersembunyi di dalam buah penyebab Adam terusir dari surga itu? Ia harusnya mengulum, memilin, atau paling tidak meraba. Dasar Gavi, ia benar-benar bodoh. Sungguh pemula. Ia cuma mengajukan pertanyaan kemudian tertawa, ia melirik Nala seolah-olah anak kecil yang dengan bangga memamerkan mainan barunya. 

Nala perempuan optimistik dan independen; dan sudah berbulan-bulan kangen Gavi—atau baru beberapa jam lalu? Waktu benar-benar nisbi. Dan lalu, lelaki itu menghilang. “Memangnya aku pelacur yang harus menurunkan harga diri dan memohon-mohon? Kamu pikir aku dapat terjebak dengan perasaan cinta yang tolol itu?” Keluhnya saat mendapati Gavi raib. Secara tiba-tiba. Nala tak mau simbiosis itu berakhir dengan dirinya sebagai sosok inferior. Dia tak bisa terus larut dalam perasaan gundah. Dia duduk di depan cermin, memandangi parasnya. Setiap krisis percaya diri, dia selalu menatap cermin. Biasanya dia akan mendapat inspirasi dan keangkuhan sejatinya akan kembali. Namun kali ini, yang dia temukan hanya laki-laki itu; tenggelam dalam lubuk matanya yang bernuansa cokelat dan dipayungi surai-surai lentik. Gavi hampir selalu memulai, serta mengakhiri, dan paling suka dengan mengecup matanya; dengan meraih pelupuknya untuk kemudian tenggelam jauh ke dasar bola matanya yang tak berlubang. Ini aneh, sebab bagi Nala, bibirnya yang tipis dan berwarna muda lebih menarik; dan faktanya berhasil membuai banyak lelaki. Kecuali Gavi, yang lebih suka bermain dengan indra penglihat Nala. Itu bermula saat Nala menantang Gavi. 

“Gantian kamu dong, aku terus yang berpetualang,” ucap Nala bosan pada respon pasif dari Gavi. 

“Oke.” 

Nala dalam posisi telentang. Bersiap akan segala kemungkinan. Kedua tangannya menyilang di atas bantal berwarna putih dan kepalanya bertumpu dan tubuhnya terbaring di atas permukaan seprai yang juga putih. Kaki-kakinya merentang. Memersilakan. Dia menebak-nebak isi otak Gavi. Loncatan macam apa yang akan laki-laki itu lakukan. Diselimuti berahi, lazimnya laki-laki mudah diduga. Dan memang benar demikian. Gampang ditebak. Gavi memasuki liang kulminasi itu dengan daya jelajah keras. Sangat tidak sabar. Amatir dan menyebalkan. 

Baru beberapa tekanan ia berhenti. Ia tergeming memandang Nala, penuh rasa heran—cenderung takjub. 

“Apa!? Aku memang sudah enggak perawan. Jangan terlalu naif dong jadi orang!” Sorot Nala menyala seperti teror untuk menggertak Gavi. 

Tanpa diduga, Gavi membalas lembut, “Enggak, kamu cantik banget.” “Huh, santun banget sih!” Nala melenguh. 

Kemudian bibir lelaki itu meluncur. Menggapai mata kanan. Mengisap dan menyelaminya hingga Nala luruh terhipnotis ke kedalaman mimpi. Jantung berdenyut mengoyak sepi dan getarnya terasa amat hidup. Tangannya tak lagi menyilang tetapi menahan dada Gavi; bulu-bulu tipis di tubuh Nala menegang; rangsangnya menggelisahkan dan membuat dia pasrah. 

Gavi kini bersarang tepat di bola matanya. Tidak dapat lepas dan senantiasa mengusik. Gavi tidak menunjukkan gelagat kasih sayang secara vulgar; dan ia juga tidak memberi kesempatan Nala untuk berbuat demikian. Saat berusaha ditunjukkan, perasaan akan semakin dangkal sebelum akhirnya hilang. Mungkinkah itu yang Gavi harapkan? Agar kedalamannya tidak timbul ke permukaan dan tetap menjadi misteri? Ia laki-laki subtil disertai sifat-sifat paradoks. Apakah benar, itu yang ia inginkan? Mewujud keabadian dalam sumsum dan menyiksa secara berkesinambungan? Tidak jelas dan tidak langsung. Serba tanggung dan membebani. Cinta begitu singkat dan impulsif. Kenangannya justru mengendap lebih lama. 

Lebih teliti Nala menatap cermin. Sekurik titik bergerak-gerak: Seekor laba-laba. Makhluk itu menyebarkan jaringnya di permukaan cermin—transparan bila dilihat tanpa fokus. Untaian benang yang semestinya tidak cukup untuk didefinisi sebagai jaring itu menyembur tak sesuai sasaran, menempel tak beraturan, tak berbentuk dan tanpa simpul yang jelas; hanya berupa garis bertebaran. Laba-laba itu mengira bayangan dalam cermin sebagai kenyataan. Makhluk itu dengan sia-sia membangun dunia di antara kepalsuan. Mungkinkah laba-laba itu tengah mengelabui dirinya sendiri? Seperti Gavi, dengan mencium mata Nala, apakah sebenarnya laki-laki itu sedang bercinta dengan dirinya sendiri? Melalui wujud maya yang terpantul menempuh mata Nala? Dan, tidakkah cermin mau berpikir lebih lama sebelum refleks? 

Nala tak sempat berpikir sejauh itu. Dia masih khusyuk ingin memberi Gavi pelajaran dari rasa sakit. Jika ia masih hidup, di mana pun berada. Nala berencana mengiris urat nadi pergelangan tangan. Dia ingin menghukum lelaki itu dengan kenangan rasa bersalah dan keputusasaan. Di satu sisi, Nala berharap hal itu segera terjadi tanpa usaha—dia tak tahu bagaimana cara memulai niatnya yang ekstrem itu dan tak siap menghadapi rasa sakit secara fisik. Dia menimang-nimang dengan ragu dan coba menemukan alternatif. Dalam relung hati, dia masih menyimpan harapan. Sejeda berlalu. Alih-alih menyambung rencana, dia malah meraih lipstik di meja rias sekitar cermin; menggores bibirnya dengan warna pekat bagai darah. Mengamati sekali lagi parasnya yang begitu cantik dengan kulit langsat kecokelatan dan rambut terurai sampai lingkar pinggang dengan citra kelam bagaikan malam tanpa bintang. 

Lalu, lampu utama yang menerangi ruangan Nala padam. Tersisa gradasi dari lampu tidur yang keungu-unguan, yang mana, di bawahnya tergeletak sepotong buku berwarna hijau seperti dilapisi lumut. Ratusan koloni semut meninggalkan negerinya; mencium aroma cokelat yang mulai menjadi lumpur akibat paparan udara dan tiap tepinya terlapis rona darah; menuju ke sana, di antara buku dan sebuah ponsel yang tersambung penyuara telinga yang masih berdering hingga sepenggal lagu terakhir—daya ponsel menunjukkan sisa dua persen. Si empunya telah terbawa mimpi. 

“Ini salah satu lagu yang paling sering kuputar. Enggak terlalu sedih tapi juga enggak bombastis.” 

Di sisa malam itu, Gavi memutar Empire Ants

Nala mengerling. Dalam suasana kosong, rendah gairah, dan fana itu dia memagut Gavi; seakan-akan dia telah terbawa kedamaian untuk lenyap dalam debur-debur ombak pantai. Nala menghirup aroma sensual lelaki itu yang khas bagaikan desir angin dan bau laut dan kepak-kepak burung pantai yang menenangkan. Bulir-bulir darahnya melambat dan menjadi hangat; kehangatannya menyerupai sinar senja yang tumpah di tiap sudut pantai; dan di sana, di sudut-sudut pantai itu, Nala mengubur kaki-kaki cokelatnya di bawah pasir hangat yang juga kecokelat-cokelatan. Dia menikmatinya dan tak ingin lekas pergi.

 


Enias Moya

ID Instagram : @Posingasme8

Email: Mailcontrol13@gmail.com6


Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts.

Ini adalah  story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend.

Posting Komentar untuk "Short Story Weekend: Perempuan yang Becermin"