Short Story Weekend: Kausal - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Story Weekend: Kausal


Short Story by Febriana Christiani


Hari ini adalah pertengahan bulan Mei, dan sungai mengalirkan air warna merah. Sudah merupakan ritual bagi setiap desa atau kota di seluruh dunia untuk menyembelih hewan kurban di tepi sungai. Darah hewan kurban dibiarkan hanyut, bersatu dengan air jernih sungai. Ritual penyampaian pesan, awal dari Hari Penjatuhan.

Seharian itu, masyarakat di suatu desa melanjutkan dengan upacara pemanjatan doa. Masakan, seperti urap, bubur merah putih, dan buncis bumbu rujak dibuat beserta makanan-makanan lain. Sesajen sebagai bentuk permohonan keselamatan dan pengharapan agar generasi yang baru bisa menjadi generasi yang baik. Pula sebagai pengantar kematian mereka yang nantinya dipilih menjadi korban pada Hari Penjatuhan supaya arwahnya tenang di alam lain.




Begitu pagi datang di hari berikutnya, perangkat desa mengadakan pertemuan untuk merundingkan tiga orang terpilih. Mereka yang dianggap merugikan masyarakat−pembunuh, pemerkosa, bahkan gelandangan sekalipun−dipersiapkan sebagai korban di Hari Penjatuhan. Tiga buah kurungan sudah dipasang di balai desa. Satu di antaranya ditempati seorang yang tidak waras. Dua masih kosong, menanti penghuni.

“Saya mengajukan Purnomo, Pak Kades, karena seperti yang kita tahu, berdasarkan laporan warga, dia telah berulang kali mengintip anak-anak gadis mandi.” Anggota musyawarah mulai menyampaikan pendapat mereka masing-masing.

Menurut hukum internasional, korban untuk Hari Penjatuhan diutamakan mereka yang melakukan tindak kriminalitas. Siapapun yang melanggar hukum ditetapkan masuk dalam daftar korban. Apabila tidak memenuhi pasal utama ini, maka setiap wilayah harus menetapkan tiga orang yang mereka anggap merugikan.

“Sebentar, Bapak-bapak sekalian. Sebelum kita melangkah terlalu jauh, saya akan menyampaikan sesuatu yang penting.” Pak Kades membuka surat yang sedari tadi dipegangnya. “Ini dari pemerintah pusat. Lebih tepatnya dari PBB.”

Pak Kades membaca isi surat itu dengan suara dipelankan, tetapi tetap bisa didengar anggota musyawarah. Urat di wajah Pak Kades semakin jelas terlihat ketika dia sampai pada inti surat. Bulir keringat turun hingga ke dagu, bukti ketegangan yang dia rasakan.


“Maksud Bapak, ada orang-orang yang tidak menyukai gagasan brilian untuk menciptakan masyarakat yang damai dan stabil? Orang-orang itu pasti sinting! Apa mereka lebih suka hidup dicekam ketakutan dan teror yang sewaktu-waktu bisa menyerang keluarganya sendiri?”

“Sudah pasti itu gerombolan anak-anak muda. Siapa lagi yang berpikiran bebas, bermimpi kalau dunia berjalan selaras dengan kehendaknya. Tidak ada kekhawatiran, tidak ada beban hidup. Anak-anak muda mengikuti naluri mereka, bukan berdasar akibat ke depannya nanti.”

Anggota musyawarah bising dengan pendapat masing-masing. Pak Kades mengurut pelipisnya sambil memandangi satu kalimat dalam surat yang tidak disampaikannya tadi. Kalimat itu membuatnya bergelut sendirian.

“Pertanyaannya, Pak Kades, apa mungkin ada anggota pemberontak di desa kita?”

Seluruh mata teralihkan menuju Pak Kades. Sebelum ada yang memperhatikan kekalutan yang dirasakannya, Pak Kades membawa perbincangan ke topik lain. “Saya yakin tidak ada pemberontak di desa ini. Maka dari itu, lebih baik kita segera memilih dua warga lain untuk digantung pada Hari Penjatuhan. Keputusan ditetapkan dari hasil pemilihan suara. Kandidat korban harus disetujui bersama terlebih dahulu. Untuk menghemat waktu, mari kita mulai.”

Musyawarah berlanjut tanpa kontroversi. Namun, di balik gedung tempat pertemuan itu berlangsung, Bunga menguping pembicaraan. Dia pergi setelah ketiga nama akhirnya ditetapkan. Bunga berlari menembus kebun pisang, melewati sawah, berakhir ke sebuah gubuk kecil. Pria tua terbaring lemah di atas tikar lusuh, menyambut Bunga yang terlihat antara senang dan sedih.

“Ayah, mereka tidak memilihmu,” Bunga berkata, dibalas tawa kegembiraan dari pria tua itu. “Tetapi, nama seseorang yang kukenal disebut.”

Melihat wajah anak gadisnya muram, pria tua itu menyuruhnya pergi. “Beritahu dia. Setidaknya biarkan dia bersiap untuk menghadap maut, dan bukan dari orang lain, tapi darimu.”


Bunga menjalankan perintah ayahnya. Dia menerobos hutan jati, melewati jembatan, menuju rumah kenalannya. Sesampainya di depan rumah Deri, Bunga tidak mampu berkata-kata. Hanya tangis air mata membanjiri pipinya. Itupun cukup memberitahu Deri bahwa dia terpilih sebagai korban.

“Memang sudah waktunya, Bung. Aku sudah menanti hari ini sejak kali pertama mendengar vonis dokter. Apa yang diharapkan dari seorang yang cacat, yang tidak punya apa-apa selain harapan? Berharap tidak memberi keuntungan apapun selain kekecewaan.” Deri mendorong kursi rodanya sampai ke ambang pintu. Dia menutup pintu dengan susah payah, mengusir Bunga tanpa kata.

“Aku akan membantumu kabur.” Bunga menghentikan laju pintu, melawan kekuatan Deri.

“Jangan bodoh! Kamu tahu bukan, ada hukuman jika kamu ikut campur masalah ini.” Deri bersikeras, menghardik Bunga dengan kata-kata yang tidak pantas diterimanya. Bunga gigih dengan semua itu. “Beri aku alasan mengapa kamu sampai bertindak seperti ini! Jangan bilang kamu suka kepadaku!”

Bunga diam. Deri runtuh. Memaki sekali lagi kepada Bunga atas perasaannya.

“Bukan. Bukan karena aku suka kamu, tetapi karena ini tidak benar. Ritual ini, hukum internasional, entah apapun itu… itu tidak benar. Kita tidak punya kuasa untuk menentukan hidup mati seseorang. Apalagi jika didasari dengan alasan yang baik. Justru kehidupan kita akan stabil jika kejahatan ada. Karena dengan itu, kita menjadi memiliki hati nurani. Kehidupan akan damai jika kita menyadari kesalahan masing-masing.

“Lalu, bagaimana dengan Hari Penjatuhan? Bukankah kita semua yang terlibat atau yang hanya diam seharusnya dihukum karena telah melakukan pembunuhan? Pikirkan itu, Deri! Lihat dampak buruk dari Hari Penjatuhan. Kalau kamu sulit memikirkannya, maka bayangkan jika besok aku atau ibumu yang akan mati.” Bunga meninggalkan rumah Deri setelah pemuda itu tidak bergeming.

Tidak berapa lama, perangkat desa memenuhi rumah Deri. Bunga menyaksikan pemuda itu dibawa tanpa perlawanan. Amarah meluap dari dasar hatinya. Meskipun Deri cacat, tetapi pemuda itu pandai membetulkan peralatan elektronik yang rusak. Dia juga seorang seniman. Lukisan nya memang belum menjual, tetapi Bunga yakin suatu saat bis a membawa keberuntungan bagi Deri. Bunga semakin kesal saat nama Purnomo tidak terpilih. Pemuda luntang-lantung yang hobi mengintip justru dipertahankan karena tenaganya masih dapat dipakai untuk menguli.


Setelah pergulatan batin yang cukup panjang, Bunga pulang ke rumah. Dia mempersiapkan diri untuk hari esok yang melelahkan.

Pagi kembali datang dengan cepat. Tiga korban sudah berada di tiang gantungan. Kain hitam menutupi kepala mereka. Kepala Desa memulai pidato. Warga yang menyaksikan khidmat mendengarkan. Tidak ada isak tangis yang pecah bahkan dari keluarga korban sendiri seolah Hari Penjatuhan adalah hal yang wajar.

Seusai pidato, algojo dengan kain menutupi hidung dan mulutnya siap di posisi. Menunggu aba-aba untuk menarik tuas yang membuka lantai panggung−demikian membuat korban jatuh tergantung. Tangan Pak Kades terangkat. Bunga yang ada di tempat tercekat napasnya. Pandangannya terus tertuju pada Deri yang teronggok di kursi roda. Tiba-tiba, suara menggelegar terdengar. Sebuah pistol terangkat ke atas.

“Berhenti! Kami anggota pemberontakan menyabotase Hari Penjatuhan ini.”

Sekumpulan orang berbaju gelap dan berikat kepala tersebar. Pak Kades melambai-lambaikan tangannya. Berteriak putus asa pada sosok yang tampak seperti pimpinan mereka. Warga hanya melongo, bingung dengan situasi yang tiba-tiba. Di tengah itu, beberapa orang berpakaian tentara muncul dari berbagai sisi, mengepung balai desa tempat Hari Penjatuhan dilaksanakan. Di tangan mereka bersarang senjata laras panjang yang teracung pada anggota pemberontakan.

“Nak, Nak, jangan melawan ya. Menyerah saja. Bapak sayang kamu,” Pak Kades masih berteriak putus asa. Sosok yang tampak seperti pimpinan itu ternyata adalah anak Pak Kades.

“Tidak bisa, Pak. Ini sudah menjadi ikrar kami, tidak peduli apa yang akan menimpa kami. Lagipula, aku sudah membaca surat itu, Pak. Mereka tetap akan menghukum kami bahkan jika kami menyerah. Sama saja. Kami akan tetap memperjuangkan apa yang benar.”

Anak Pak Kades menembak salah satu tentara, diikuti anggota komplotannya. Para tentara itu juga balas menyerang. Kerusuhan yang terjadi membuat warga kocar-kacir. Bunga mencoba melepaskan Deri dari tiang gantungan. Waktunya tepat. Bunga berhasil menarik tubuh Deri dan kursi rodanya ke sisi yang aman karena algojo tetap melaksanakan tugas di tengah kegentingan itu. Lantai panggung terbuka. Dua korban berguncang melawan maut. Bunga memeluk erat tubuh Deri, tidak kuasa melihat pemandangan mengerikan di dekatnya.


Tiba-tiba, tubuh Bunga ditarik turun dari panggung. Algojo itu melemparkan Bunga, menjauh dari panggung. Deri berhasil membuka penutup kepala, mendapati algojo sudah di depan mata dan menyerang dirinya. Tangan algojo itu mencengkeram leher Deri. Bunga mencari alat untuk dijadikan senjata. Alhasil, dengan sebuah batu Bunga memukul algojo itu membabi-buta. Deri lepas dari cengkeraman algojo. Tetapi, melihat Bunga diamuk, Deri juga balas menyerang dengan kursi rodanya.

Perkelahian antara Bunga dan Deri dengan algojo, perang antara tentara dan anggota pemberontakan, warga yang kocar-kacir menyelamatkan diri dikejutkan lagi oleh hal yang tidak terduga. Bumi berguncang hebat. Bangunan balai desa retak, atapnya berjatuhan. Beberapa pohon tumbang. Tidak sampai di situ, tanah bergoyang seperti ombak. Panggung tiang gantungan ambruk. Bunga berusaha menolong Deri yang tertimpa balok kayu, tetapi dia ditarik oleh seorang anggota pemberontakan.

“Kita harus lari. Ini gempa bumi!”

Bunga meronta dengan tenaga yang jauh lebih lemah daripada orang itu. Tangannya menggapai-gapai ke arah Deri yang mulai tertimbun ke dalam tanah. Bangunan dan pohon-pohon porak-poranda.

Kejadiannya begitu cepat. Bahkan Bunga sempat terhantam batang pohon pisang yang membawanya ke ketidaksadaran. Tetapi sebelum Bunga pingsan, dia ingat anggota pemberontakan melepaskannya dari tindihan batang pisang dan menggendongnya di bahu. Bunga masih ingat hari kemarin ketika masih berbincang dengan Deri dan ayahnya. Oh, bagaimana dengan ayahnya saat ini? Bunga merintih pelan. Ingatannya semakin mundur ke hari-hari lalu sampai ke cerita tentang kehidupan nenek buyutnya dulu.

Hari itu adalah pertengahan bulan Mei. PBB menetapkan adanya Hari Penjatuhan yang harus diperingati dengan mengeliminasi lima persen penduduk bumi yang dikategorikan sebagai yang terburuk. (short story prompt)

Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts. 

Ini adalah  story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend.

By Febriana Christiani
ID Instagram : @christanbrie

Posting Komentar untuk "Short Story Weekend: Kausal"