Short Story Weekend: Jingga untuk Cahaya - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Story Weekend: Jingga untuk Cahaya

 Short Story by Wahyu Indah Saputri 

 

Wanita separuh baya itu tak pernah bosan mengunjungi taman bermain yang sudah tutup lebih dari satu dekade lalu. Setiap sore ia akan duduk di sisi barat taman bermain itu, dekat bianglala yang mulai berkarat oleh hujan dan panas yang menghajarnya bertahun-tahun. Jika ada orang yang kebetulan melihatnya di tempat sepi itu, pasti mereka akan mendapatkan jawaban yang sama untuk kesekian kali bertanya. 

"Saya hanya menunggu matahari terbenam," sambil tersenyum ramah kepada lawan bicaranya. 


Gelungan rambut tipisnya memperjelas berapa usianya sekarang. Sesekali anak-anak rambut yang tidak tergelung menari-nari menikmati semilir angin. Tampak sekali betapa ia menikmati suasana di tempat itu. 

Ketika usianya sudah menginjak sembilan belas tahun, tak pernah sekalipun ia menjadi seorang pacar. Status mahasiswa Sastra Indonesia membuatnya untuk terus menemukan inspirasi dalam tulisan-tulisannya. Selesai kelas, ia akan pulang berjalan kaki, sesekali mampir di kedai kopi pertigaan dekat kampus, memesan kopi hangat dengan rasa berbeda-beda setiap membeli. Entahlah, ia selalu pusing kalau meminum kopi, tetapi aromanya selalu menenangkan pikirannya. Hanya ditemani buku catatan warna kuning, Nuraini akan menuliskan apapun yang sudah mampir di benaknya. Sampai kopinya dingin, sampai semuanya sudah tertuang di buku kuning, barulah beranjak melanjutkan perjalanan pulang. Kopi yang tidak diminum itu dibawa untuk diberikan pada tukang parkir depan kedai. 

"Maaf, Pak, sudah dingin, tapi akan hangat kalau Bapak terima dengan senyum," Pak Amir, si tukang parkir itu, sudah sangat hafal perkataan dan senyuman ramah Nuraini. 

Di tengah jalan pulang, di sisi barat kebun kopi belakang kedai, ia melihat seorang lelaki sedang asyik merekam senja hanya dengan bolpoin warna oranye dan hitam serta buku tulis. Menarik, pikirnya. Hingga ia mendekat untuk melihat lebih jelas lukisan senja itu. 

"Indah." 

Satu kata itu membuyarkan imajinasi lelaki pelukis senja. Buru-buru ia menengok ke sebelahnya, kemudian bergegas membereskan barangnya hendak pergi.

"Tunggu! Maaf kalau aku mengganggu imajinasimu.” 

Lelaki itu diam dan tidak melanjutkan rencananya pergi, kemudian kembali duduk, "Ada apa? Saya tidak mau basa-basi," katanya dingin. 

"Ha? Oh, lukisanmu bagus, boleh aku ngobrol denganmu sebentar saja? Perkenalkan aku Nuraini, mahasiswa Sastra Indonesia yang lagi nyari ide tulisan untuk novel pertamaku. Sepertinya kamu akan menjadi orang yang pas untuk inspirasi tokoh utama novelku nanti." 

"Hh, terdengar tidak masuk akal." 

Nuraini menelan ludah. Jelas saja tidak masuk akal. Bagaimana mungkin orang asing dijadikan narasumber. Sebab, jawaban itu meluncur saja tanpa terencana oleh Nuraini sebelumnya. 

"Kalau memang benar kamu perlu ide tulisan, datang saja setiap sore di sini. Kalau kamu pintar, pasti kamu menemukan inspirasi itu," sambil merapikan kembali barangnya, lalu beranjak pergi dari tempatnya duduk. 

Entah mengapa, setiap sore Nuraini menurut saja untuk pergi ke tempat itu. Untuk kesekian kalinya, ia bertemu dengan lelaki itu. Setyawan. Ia sudah tau namanya sekarang. Tak sengaja ia membaca tulisan kecil di setiap lukisan pada buku tulis Setiawan. Pernah ia bertanya, mengapa ia memilih buku tulis untuk menggambar. Namun, jawaban yang diterima sangatlah sederhana dan bermakna, "Karena buku tulis lebih murah, isinya lebih banyak. Untuk membuat sesuatu, barang mahal tidak menjamin karyamu selalu bagus. Semua bergantung pada hati dan pikiran. Kalau kamu menulis dengan sepenuh hati dan pikiran yang tenang, kamu bisa merasakan tulisanmu hidup." 

Nuraini sadar, semakin lama ia berteman dengan Setyawan, semakin ia merasa kagum dengan cara berpikirnya. Setyawan tidak mau disebut pelukis, ia juga tidak menggambar untuk menghasilkan uang, ia hanya mencoba menangkap semburat jingga yang menemani cahaya menuju peraduannya. Tidak pernah berubah, hanya senja saja yang ada di buku tulisnya. Setyawan pernah mengatakan jika ia ingin membuat jingga dan cahaya bersatu, supaya orang lain dapat melihat mesranya tanpa menunggu waktu. Nuraini masih ingat betul kalimat Setyawan, "Aku akan berpetualang, membuat orang lain bahagia dengan caraku, meskipun bukan dengan kemewahan," Nuraini tidak menyadari jika itu adalah kalimat perpisahan dari Setyawan. 

Tak terasa, hingga akhir masa kuliahnya, lelaki itu tidak dijumpainya lagi. Namun, setiap sore tetap ia tidak pernah absen mengunjungi tempat paling nyaman itu, hingga ia menjadi salah satu saksi pembangunan taman bermain di separuh tanah perkebunan. Menurut cerita orang-orang, taman bermain ini dibangun untuk pengunjung yang merasa sendirian. Tidak terlalu luas memang, tetapi cukup untuk diletakkan bianglala di tengah-tengah sekitar 10 meter tingginya dan beberapa tempat duduk di sudut-sudut taman, serta papan nama yang bertuliskan "Taman Cahaya". 

Untuk sore ini, ia kembali menyempatkan mampir sebentar membeli kopi hangat di kedai biasanya. Tempat duduk di sudut kedai selalu menjadi tempat favoritnya menunggu pesanan. Tak lama seorang lelaki datang membawa kopi pesanannya. 

"Terima kasih, Aji!" Nuraini sudah hampir beranjak berdiri. 

"Tunggu!" Aji menahannya, "Aku sering melihatmu duduk di bangku taman bermain yang baru dibangun itu, sendirian. Mumpung kedai sedang tidak terlalu ramai, mungkin kamu mau cerita lagi?" Nuraini hanya tersenyum sebagai jawaban. Hampir setiap minggu selama kuliah Nuraini menjadi langganan kedai kopi tersebut yang membuatnya akrab dengan si barista. 

"Kalau kamu mengizinkan, bolehkah saya temani kamu pergi ke taman itu? Ini sudah sore, pasti kamu akan pergi kesana, kan?" 

Tepat. Nuraini pikir, bukan ide buruk menerima tawaran Aji. Aji bukanlah orang asing baginya sekarang, sebab sudah banyak cerita yang ia bagikan kepada Aji tentang lelaki di perkebunan kopi. Hampir 3 tahun Aji berteman dengan Nuraini, meskipun tidak seperti Setyawan yang akan memberi jawaban mengagumkan, tetapi Aji adalah pendengar yang baik. 

"Tahu tidak, mengapa taman ini dibangun?" Aji memulai percakapan, "Lebih dari yang kamu tahu, tentang alasan pembangunan taman yang kamu dengar dari orang-orang dan alasan kenapa hanya bianglala saja yang diletakkan, sebenarnya ada filosofi yang lebih manis," lanjut Aji. 

"Kenapa kamu tahu?" Pertanyaan Nuraini hanya dijawab senyum tulus oleh Aji. 

"Perkebunan ini milik kedai tempatku bekerja, tentu saja aku tahu," sejenak Aji mengambil nafas panjang, "Bianglala ini dimaksudkan agar pengunjung dapat lebih menikmati cahaya senja melalui ketinggian. Karena jika hanya duduk di sini, senja yang seutuhnya tidak kamu rasakan. Mau coba?" Nuraini penasaran dengan tawaran Aji, dan lelaki itu meminta izin kepada penjaga taman sembari membisikkan sesuatu, kemudian menarik Nuraini untuk beranjak menaiki bianglala.

Perlahan, bianglala mulai naik. Hanya mereka berdua sore itu yang menaiki. Namun, seperti sudah di-setting, bianglala berhenti tepat di puncaknya. 

"Bagaimana? Kamu sudah melihat senja yang seutuhnya? Lebih luas dari yang bisa kamu lihat di bawah sana, kan?" 

"Indah!" sahut Nuraini kagum. 

"Kamu bisa memiliki senja itu, Nur. Asalkan bersama dengan jingga, Aji Dewangga. Maukah kamu memiliki senja itu, Nur?" disaksikan cahaya jingga sore itu, Aji menatap wajah Nuraini lekat, juga sebaliknya. Sementara di tempat yang jauh, sepasang mata lelaki melihat peristiwa itu dengan senyum tulus.

Nuraini memang pernah kagum kepada seorang laki-laki 3 tahun lalu, tetapi ketulusan Aji selama ini telah meluluhkan hati Nuraini. Meskipun Nuraini bukanlah orang yang akan melupakan masa lalunya. 

***

 

Sampai pernikahannya dengan Aji sudah lebih dari seperempat abad, Nuraini masih tetap mengunjungi taman itu. Aji sudah tau kemana ia akan mencari Nuraini. Di usia pernikahan mereka kesepuluh tahun, Aji memberikan hadiah berupa surat kepada Nuraini. 

"Nur, tolong kamu baca surat ini ketika aku sudah berangkat kerja, ya!" Tertulis dengan rapi di sampul depan suratnya. 

"Nur, terima kasih telah menjadi cahaya di atas semburat jingga. Kamu menjadi penyempurna senja di ujung hari. Aku tau, Nur. Kamu pernah menyukai Setyawan. Lelaki itu adalah teman baikku, Nur. Teman memulai usaha kedai kopi, dekat taman bermain favoritmu itu.

Sekedar untuk mengingatnya, lelaki itu dulu datang kepadaku, bercerita tentangmu, Nur. Setyawanlah yang mengusulkan pembangunan taman bermain itu. Katanya, ia ingin membuatmu bahagia, ia suka melihat senyummu. Namun, ia tidak ingin melihatmu selalu sendiri di tempat sepi itu, kebun kopi belakang kedai. Maka dari itu, ia merelakan sebagian tanah yang menjadi haknya untuk dibangun taman bermain, supaya tempat itu ramai dan kamu tidak sendirian berada di sana. Kamu tahu, Nur? nama taman itu terinspirasi dari namamu. Taman itu untuk mengabadikan awal pertemuan kalian, Nur.

Tapi maaf, Nur! Setyawan tidak bisa menemanimu. Ia berkata kepadaku, kalau ia akan melanjutkan petualangannya, serta berpesan untuk menitipkanmu kepadaku dan tidak boleh ada yang melakukan penggusuran taman meskipun bianglala itu sudah tidak berfungsi. Setyawan tidak suka bekerja dengan diam menunggu pesanan kopi, makanya kedai itu aku yang mengurus. Ia akan datang jika sudah menemukan resep kopi baru dari petualangannya. Namun, petualangan kala itu sekaligus merenggut nyawanya. Ia terpeleset di hutan ketika berburu biji kopi dengan warga setempat. Ia menyuruhku menemanimu, itulah mengapa aku mencoba dekat denganmu, dan ternyata aku jatuh cinta padamu, Nur. 

Maaf, Nur. Aku baru menceritakan ini setelah sepuluh tahun pernikahan kita. Aku hanya tidak ingin melihatmu bersedih, kupikir dengan mengulur waktu bercerita, perasaanmu padanya sudah kau relakan. Aku harap hal ini sudah benar aku lakukan, Nur. 

Sekali lagi, maaf, dan terima kasih, Cahayaku…" 

*** 

Nuraini melipat kembali surat yang sudah ia baca berulang-ulang itu, ia selalu tersenyum ketika membacanya. Aji menghampiri istrinya dan duduk di sebelahnya dengan tersenyum, "Maaf, Nur, aku tidak bisa mengajakmu melihat senja dari atas lagi, bianglala itu sudah terlalu tua sekarang." Awan itu sudah menunaikan tugasnya. Mengantarkan cahaya pada jingga, untuk menghabiskan hari bersama. Hingga gelap menelan habis semburatnya.


Wahyu Indah Saputri

Instagram: @why_indahsa


Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts.

Ini adalah  story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend. 

Posting Komentar untuk "Short Story Weekend: Jingga untuk Cahaya"