Short Story Weekend: Harta, Tahta, dan Wanita - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Story Weekend: Harta, Tahta, dan Wanita

Short Story by  Dena Devi Ramadhani

 

Hiruk pikuk kebisingan menyeruak di dalam rongga telinga. Melirik jam tangan, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.45. Rasanya percuma pulang tepat waktu dari kantor. Kemacetan nyatanya menghalau keinginanku untuk cepat sampai rumah. 

Menjadi seorang budak korporat di ibukota Jakarta bukanlah cita‐citaku. Terlahir di keluarga pengusaha, tentu saja aku ingin mendirikan usahaku sendiri. Namun, kelakuan bodoh kakakku pascameninggal Rama dan Biyung, membuat perusahaan furnitur keluarga kami gulung tikar. Sebagai anak lelaki kedua, aku harus bertanggung jawab atas keteledoran Mas Bayu yang kini menghilang tanpa jejak. Tabungan dan modal usahaku ludes tak bersisa untuk membereskan kekacauan yang ia perbuat. Tak ada pilihan lagi selain menjadi seorang karyawan swasta di bidang keuangan untuk tetap bertahan hidup. Selama utang piutang ini belum lunas, akan sulit untuk mengajukan pinjaman modal usaha dan memulai kembali karirku. 

Sumber: rumah.com

Dering ponsel menghentikan aktivitas menggerutuku. Sebuah panggilan telepon memunculkan nama Ratna di layar ponsel. Alarm tanda bahaya bersua dalam benak. 

“Assalamualaikum, sayang. Ada apa?” 

“Waalaikumsalam. Mas dimana?” 

“Sudah di jalan pulang. Ada apa, Dek?” 

“Adek ngidam es krim durian, Mas. Tolong belikan, ya?” rajuknya. 

Jiwa ragaku sudah penat merindukan empuknya tempat tidur di rumah. Namun, tentu saja tidak semudah itu aku bisa menolak permintaan Ratna yang berkedok permintaan bayi kecil kami. Ratna tengah mengandung 3 bulan buah hati kami. 

“Iya, nanti Mas carikan dulu ya,” ucapku setengah terpaksa. 

Aku pun mengakhiri panggilan tersebut dan memijat pelan pangkal hidung yang berkedut‐kedut. Sulit sekali menjadi seorang suami siaga. Bayangkan saja, dimana sore‐sore seperti ini aku harus mencari es krim durian? Apalagi sekarang bukan musim durian. 

Setelah berkendara selama 1,5 jam, akhirnya aku menemukan penjual es krim durian di pinggir jalan kecil yang tak kuduga‐duga.

“Pak, es krim duriannya 2 ya,” pintaku sembari mengucap syukur dalam hati. 

Saat menunggu pesanan jadi, gerutuan kembali terlontar dari bibirku saat menyadari ada panggilan masuk dari Pak Anton, bosku di kantor. 

“Selamat sore, Pak,” sapaku pelan. 

“Angga! Anda ini bagaimana? Hitung lagi laporan keuangan klien di Batam. Bisa‐bisanya Anda miss dan selisihnya nyaris 100 juta! Untung saya memeriksanya.” 

Telingaku memanas mendengar makiannya yang terus menerus tanpa jeda. Sudah dijadikan kacung, sekarang semakin direndahkan. Aku sudah sangat sabar menahan emosi saat menyadari laporan keuangan itu memang bukan tugasku. Senior lah yang dengan semena‐mena menyerahkan pekerjaan tersebut kepadaku tanpa memberikan data yang lengkap. Sialnya, sekarang aku terkena imbas dari laporan rumpang tersebut. 

Keheningan menyapa saat aku menginjakkan kaki di rumah. Kedua bola mataku baru menangkap sosok Ratna saat memasuki kamar kami. Ia tengah tertidur lelap di atas kasur.

 

“Dek, ini es krim duriannya,” ujarku sembari membangunkan Ratna. Kutatap wajah tanpa polesan dengan penampilan seadanya. Semenjak hamil, Ratna jadi malas merawat dan mempercantik diri. Aku tidak bisa berbohong kalau terkadang kemalasannya berdandan membuatku kesal. Hasrat sebagai lelaki normal yang senang mencuci mata dan ingin melihat istri tampil cantik sempurna bak perawan, tidak dapat kuhapus begitu saja. Iri sekali rasanya melihat istri‐istri kawanku yang selalu tampil memesona dan sedap dipandang. Sekelebat pikiran buruk seringkali datang merasuki pikiran setiap memandang paras‐paras menawan wanita‐wanita muda di kantor.

 

Matanya mengerjap‐ngerjap sebelum memfokuskan pandangannya ke arahku. “Adek mual, Mas. Sudah tidak ingin makan. Mas aja yang makan ya, biar tidak mubazir?” 

Aku menggeram dan menaruh kasar bungkusan es krim di atas nakas. “Adek tahu kan, Mas tidak suka durian? Mas lelah, pulang kerja macet, disuruh‐suruh kamu cari es krim durian yang aromanya bikin Mas pusing. Terus sekarang kamu seenaknya tidak bisa menghargai usaha Mas?” 

Tatapan Ratna mulai mengembun. Bahunya bergetar, berusaha menahan tangis yang mendesak. Mengembuskan napas lelah, aku memilih keluar kamar dan pergi ke ruang tengah. Pantang bagiku untuk menumpahkan emosi dan amarah terhadap perempuan.

Badanku berbaring di atas sofa, mencoba memberi kenyamanan pada tubuh lelah ini. 

Kedua mataku terpejam dengan lengan kanan terlipat di atas wajah. 

Tuhan. Seandainya saja, Mas Bayu tidak bodoh. Seandainya perusahaan Rama dan Biyung masih ada, tentu aku tidak perlu bekerja susah payah menjadi budak orang lain seperti ini. Seandainya pula, aku menikah dengan wanita lain yang lebih baik, yang bisa menghargai setiap usahaku dan menyenangkanku secara lahir batin setiap waktu. 

“Mas, bangun, Mas.” Sentuhan hangat menyentuh pundakku. 

“Apalagi, Rat….” Ucapanku terhenti saat menyadari bahwa bukan wajah Ratna yang tertangkap netra saat membuka mata.

“Rat? Rat siapa? Mas mengigau, ya?” tanyanya. 

Mataku mengerjap berkali‐kali. Kebingungan semakin menyelimuti diri ini saat menyadari aku tak lagi berada di ruang tengah rumah mungilku, melainkan di sebuah kamar besar nan mewah yang terlihat sangat familiar. Rasanya seperti memasuki kamar Mas Bayu ketika masih tinggal bersama Rama dan Biyung di Yogyakarta. 

“Mas sudah ditunggu Rama dan Biyung untuk makan malam bersama,” ucap Mbak Ratih, sosok yang selama ini kukenal sebagai kakak iparku, istri Mas Bayu. 

Aku termangu diam. Berusaha mencerna apa yang tengah terjadi pada diriku ini. “Mas, ayo. Aku sudah lelah harus terus bersandiwara. Aku mau cepat istirahat.” Kepalaku mengangguk patuh saat mendapati wajah kesal Mbak Ratih. Aku pun segera bangkit dari kasur dan berjalan keluar kamar diikuti Mbak Ratih. 

“Jangan lupa pasang wajah bahagia, Mas. Beri mereka anggapan bahwa kita bahagia dengan perjodohan ini,” ucap Mbak Ratih. 

Perjodohan. Teringat sekali di benakku bahwa Mbak Ratih dan Mas Bayu menikah 5 tahun lalu dikarenakan perjodohan. Mbak Ratih sendiri adalah putri sahabat Rama yang merupakan seorang pengusaha kayu ternama di Yogyakarta. Pernikahan mereka tampak sangat bahagia dan mesra sebelum 2 tahun yang lalu akhirnya bercerai. 

“Aduh, akhirnya manten ini keluar kamar.” Suara hangat Biyung merasuki liang telinga. Ekpresi bahagia Rama dan Biyung tertangkap jelas di mataku. Hatiku meringis pilu, merasakan kerinduan yang sangat besar setelah setahun tidak bertemu mereka.

“Jadi, bagaimana? Kalian ingin bulan madu dimana?” tanya Rama saat kami tengah menyantap makanan lezat yang terhidang di atas meja. 

“Tidak perlu, Rama. Pasti Mas Angga akan sibuk untuk beberapa waktu ke depan. Setelah resmi menjadi pewaris perusahaan Rama dan Biyung, Mas Angga butuh waktu penyesuaian. Iya kan, Mas?” jawab Mbak Ratih sembari melirikku. 

Mengikuti permainan yang tak kupahami ini, aku hanya mengangguk‐angguk mengiyakan ucapan Mbak Ratih. 

“Terima kasih banyak atas pengertianmu, Ratih. Rama senang akhirnya pewaris tunggal Rama ini bisa menikah dengan wanita sebaik kamu,” ucap Rama. 

Pewaris tunggal. Melirik foto keluarga yang terpajang dekat ruang makan, aku menyadari bahwa tiba‐tiba saja di dunia asing ini, aku terlahir sebagai anak tunggal. Tidak ada Mas Bayu, ataupun Saras, adik kecilku. 

Seusai makan malam, aku dan Mbak Ratih‐atau yang sejak saat ini kupanggil Ratih‐kembali ke kamar kami. Suasana hangat tiba‐tiba saja berubah menjadi canggung saat Ratih menatapku dengan penuh intimidasi. 

“Mungkin Mas belum tahu, tapi Bapak dan Rama menjodohkan kita untuk urusan bisnis. Tanpa bantuan Bapak, perusahaan keluarga Mas sudah hancur lebur.” 

Aku tertegun mendengar pernyataan Ratih. Dulu, kukira perjodohan antara Mas Bayu dan Ratih berlandaskan keinginan menjadi satu keluarga, bukan karena hubungan bisnis. 

“Jadi, aku harap Mas jangan macam‐macam di pernikahan ini. Jangan harap aku akan melayani Mas seperti istri pada umumnya. Di sini, Mas dan keluarga Mas yang butuh aku.” 

Ratih yang selama ini aku kenal, tiba‐tiba saja berubah 180 derajat. Selama ia menjadi istri Mas Bayu, aku melihatnya sebagai wanita cantik yang sangat baik dan sempurna. Seringkali dulu aku merasa iri, mengapa harus Mas Bayu yang menikahi Ratih, bukan diriku. Namun, Ratih yang selama ini kupuja, bukan Ratih yang sekarang berada di hadapanku. 

Keesokan harinya, aku kembali terbangun di kehidupan baru ini. Rasanya menyenangkan bisa kembali tinggal di rumah lama Rama dan Biyung yang sangat besar dan mewah. Dilayani oleh para pekerja, hidupku menjadi sangat santai. 

Posisiku sebagai bos baru perusahaan juga terasa membanggakan. Semua orang memandangku dengan segan dan penuh hormat. 

Namun nyatanya, kehidupan paralel ini tak seindah yang kurasakan di awal. Seiring waktu berjalan, tuntutan pekerjaan sebagai atasan semakin banyak. Masalah perusahan yang silih datang berganti dan tanggungjawab yang begitu tinggi, memberi beban berat di kedua pundakku. Kepalaku rasanya ingin pecah menghadapi semua ini. 

Kembali ke rumah pun, rasanya seperti bukan pulang. Tak ada istri yang menyambut dengan penuh kasih sayang. Memang, Ratih menyambutku dengan paras cantik nan menawan. Senyum manis juga terus tersungging di wajahnya. Namun, itu hanya di depan Rama dan Biyung. Di belakang mereka, Ratih mengabaikanku dan sibuk dengan dunianya. 

Berlatarkan bumantara gelap pekat, di hadapan tumpukan berkas, di tengah waktu memikirkan masalah perusahaan yang terancam bangkrut, aku termenung. Kekayaan dan kekuasaan ini, rasanya hambar. Tak seindah yang kubayangkan. Jiwaku kosong. 

Rasa rinduku terhadap Ratna tiba tiba saja menyergap relung hati yang hampa. Tatapan penuh cinta, perlakuan manisnya, terngiang‐ngiang dalam kepala. Pekerjaanku di kantor yang memusingkan tapi tanggung jawabnya tak seberat menjadi pemimpin perusahaan, tiba‐tiba saja aku inginkan kembali. Rumah mungil sederhana yang tak sebanding dengan rumah mewah mendiang orang tuaku, tiba‐tiba saja kuharapkan kembali. 

Aku merindukan semuanya. Merindukan kehidupan lama yang penuh cinta, tapi selama ini kurang kusyukuri. Bola mataku memanas menyadari kehidupan semu ini tidak membahagiakan karena kurangnya rasa cinta. Rasa sesal karena terlambat mensyukuri kehidupan lamaku yang penuh anugerah, menghujam ulu hatiku. Nyatanya, aku memang belum pantas diberikan harta dan tahta yang melimpah. Ternyata Tuhan‐pun tahu, aku manusia tak tahu rasa syukur. Tidak akan pernah puas, akan terus meminta lebih. 

Tuhan. Hamba menyesal. Hamba menyesal terus meminta lebih tanpa bersyukur kepada‐Mu. Hamba sadar, Engkau selama ini belum memberi lebih seperti keinginanku, karena Engkau tahu hamba belum pantas. Tuhan, ampuni hamba. Hamba ingin kembali. Hamba berjanji, hamba akan lebih bersyukur kepada‐Mu. 

“Mas, Adek minta maaf. Adek janji tidak begitu lagi. Mas jangan marah. Ayo tidur di kamar, Mas.” Guncangan kecil menyadarkanku kembali ke bumi. 

Aku terperanjat. Wajah manis polos tanpa riasan milik Ratna, kembali muncul di hadapanku. Terlihat sangat menawan dan menghangatkan jiwa. 

Kutarik badan mungil Ratna ke dalam pelukan. Kedua lenganku mengukungnya kuat, tak sanggup kehilangannya lagi. Rasa bahagia memenuhi rongga jiwa yang selama ini hampa. Senyum lebar terpatri jelas di wajahku dengan air mata yang terus mengalir tanpa kupinta. 

Terima kasih, Tuhan. Terima kasih telah menyadarkanku. Terima kasih, atas semua yang Engkau telah berikan kepada hamba.


Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts.

Ini adalah  story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend.


Dena Devi Ramadhani
@deeeynaa
denadevir@gmail.com

Posting Komentar untuk "Short Story Weekend: Harta, Tahta, dan Wanita"