Short Story Weekend: Gugur - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Story Weekend: Gugur

Short Story by Raissa Aghti Iftina Putri

 

Langkah seorang pria terhenti tepat di depan lukisan pedesaan. Kesan dominan hijau dan biru seakan-akan mengisahkan betapa tentram dan asrinya lingkungan tersebut. Sapuan kuas lembut di atas kanvas menyampaikan secara jelas bagaimana perasaan si pelukis saat mengerjakan karyanya. 

“Bagaimana menurut Anda?” tanyaku sembari melangkah lebih dekat. Memperhatikan raut wajahnya baik-baik. 



“Saya suka yang ini, membuat siapapun dapat merasakan ketenangan yang diciptakan oleh paduan warna yang tepat, ” komentar seorang pria berpakaian rapi. Ia adalah kritikus seni yang cukup terkenal. Sesuai profesinya, kritis dan sinis seakan melekat erat pada pribadi pria itu. 

Ia menatap balik, berdiam diri. Bisa disimpulkan tengah menunggu tanggapan dariku sebagai seorang panitia. Tanpa ragu, aku menjawab, “Si pelukis menciptakan karya ini saat rindu dengan kampung halamannya. Rindu akan suasana tenang yang jarang ia dapatkan di kehidupannya sehari-hari.” 

Kami kembali menyusuri lorong gedung pameran. Pandangan sang kritikus silih berganti memperhatikan ragamnya lukisan yang terpajang. Sesekali ia terhenti dan mencermati karya yang menarik perhatiannya. Kali ini ia seolah terpancing mendekati sebuah kanvas besar. 

Lukisan hutan dengan semburan merah terang itu sukses menarik atensinya. Goresan kuas yang kaku disertai dengan cipratan berbagai warna redup menciptakan sebuah kontras. Karya oleh pelukis yang sama dengan sebelumnya. 

“Lukisan yang ini,” ia menggaruk pelan janggut halusnya. 

“Kadang emosi seniman itu sangat intens, ya?” potongku disertai dengan anggukan. 

Ia ikut mengangguk setuju, lalu bertanya dengan nada penasaran, “Menurutmu, apa yang ingin dia sampaikan lewat lukisan ini?” 

“Amarah, tentunya. Si pelukis menggambarkan rasa kesal dan kecewa saat dirinya divonis suatu penyakit dalam lukisan ini.” 

Sang kritikus berdeham, lalu memperhatikan tubuhku dari kepala sampai pangkal kaki, seperti curiga akan sesuatu. Ia tersenyum penuh arti, lalu bertanya sekali lagi, “Kamu tahu banyak tentang kehidupan si pelukis ini, ya?” 

“Sudah sepantasnya saya memandu Anda di pameran ini,” jawabku ramah.

 Pria itu memutar bola matanya ke atas, lalu tersenyum simpul seraya membalas, “Respon yang bagus.” 

“Saya pikir Anda akan menyukai lukisan ini. Pelukisnya pun sama,” ucapku sembari menunjuk jari kepada lukisan yang terpajang tidak terlalu jauh. Ia menyipitkan mata, berusaha untuk melihatnya lebih jelas. Terlihat lukisan dengan aksen biru tua ditambah percikan putih yang menggambarkan keheningan malam. Tampak sangat sendu dan menggugah emosi. 

“Jujur, saya senang dengan gaya melukisnya, bagaikan sebuah narasi. Mengingatkanku pada seniman legendaris yang saya kagumi,” pujinya. 

“Saya dengar si pelukis mengagumi Anda juga,” tambahku singkat. 

Ia berbalik menghadap diriku, lalu bertanya dengan nada yang lebih serius, “Kamu kenal dekat dengan si pelukis?” 

“Ya,” jawabku dengan suara tercekat. 

“Benarkah?” selidik sang kritikus. Mimik wajahnya kepadaku mulai berubah. Aku sendiri tidak mampu mengartikan apa maksudnya. Ia memposisikan badannya seperti semula dan melangkah maju, menuju lukisan selanjutnya. 

Lukisan yang berada di ujung lorong kembali memikat dirinya. Sebuah pemandangan musim gugur di kanvas yang terbilang besar. Coretan berwarna cokelat tua menggambarkan beberapa pohon yang menggugurkan daunnya. Jatuhnya dedaunan dilukiskan secara elok seolah-olah menyampaikan makna tersirat. 

Pria itu hanya membisu, tetapi matanya menjelajah setiap bagian di kanvas tersebut. Aku bisa merasakan sikapnya sedikit berubah terhadap diriku. Tidak lagi banyak cakap seperti di awal. 

“Ini lukisan terakhir yang dibuat olehnya,” ucapku memecah keheningan di antara kami berdua. 

“Mengapa kamu berhenti melukis?” 

Kalimat itu terlontar cepat dan tajam dari mulutnya, membuat aku tak sanggup membalas walau hanya sepatah kata. 

“Maaf?” tanyaku kikuk. 

“Tidak usah berpura-pura. Saya sudah curiga sejak awal karena gaya bicaramu yang sok tahu itu,” balasnya mantap seraya memelototi diriku. 

“Sebelumnya saya minta maaf atas sikap saya sebelumnya, tapi sepertinya Anda salah paham.” 

“Kalau begitu, siapa pelukis ini? Mengapa kamu tahu hampir semua cerita di balik karyanya?” 

Tubuhku mematung, memori pahit yang timbul bagai merajam sanubari. 

“Sahabat saya,” jawabku lirih. Aku mendekatkan diri ke lukisan tersebut dan menghela nafas panjang. 

“Kamu yakin? Saya bukan orang yang gampang dibohongi,” balasnya skeptis. 

“Dia selalu menunjukkan hasil karyanya kepada saya, juga menceritakan pengalaman hidupnya. Sebagai sahabat yang baik saya hanya bisa mendukung hobinya.” 

Sang kritikus mengangkat alis, wajahnya tampak lebih rileks. Sepertinya ia mulai percaya dengan alasanku. Ia kembali memperhatikan lukisan di sampingnya, lalu bertanya, “Apa ceritanya di sini?” 

“Harapan. Dia mengibaratkan musim gugur seperti dirinya yang hampir patah semangat dalam menjalani hidup. Berharap musim selanjutnya akan lebih baik.” 

Pria itu mengangguk puas, lalu berkomentar, “Dilihat dari makna lukisan-lukisan sebelumnya, dia orangnya tegar, ya?”

“Sangat. Dia juga sangat mengagumi Anda. Namun sayangnya, Anda menolak hadir di setiap pameran yang dia ikuti,” ucapku panjang lebar. Ingin rasanya aku menumpahkan keluh kesahku terhadap pria ini. Aku selalu memandangnya sebagai pria yang angkuh dan tak pantas dikagumi. Mengapa engkau sangat ingin karyamu dilirik olehnya? 

“Oh, saya bisa menyempatkan waktu untuk bertemu dengannya,” jawabnya enteng. 

Aku hanya membalas dengan senyuman kecut. Rasa bersalah kembali memenuhi pikiranku. Andai saja aku menyempatkan waktu untuk melihatmu saat menyelesaikan karya ini. Andai saja Tuhan mengangkat penyakitmu dan memberi kesempatan untuk engkau berada di sini, bersama idolamu. Namun, deretan takdir berkata lain. 

“Sudah terlambat.” 

Tugas terakhirku sebagai seorang sahabat selesai. Anganmu telah kuwujudkan, semoga engkau tenang di sana. (short story prompt). 

 

Sumber gambar: pixabay


Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts.

Ini adalah  story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend. 



 

Raissa Aghti Iftina Putri

ID Instagram : @raipneedsrest

Email : raissaaghti09@gmail.com

Posting Komentar untuk "Short Story Weekend: Gugur"