Short Story Weekend: Burung-Burung Liar - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Story Weekend: Burung-Burung Liar


Short Story by Dian Rinda Pertiwi


Burung-burung liar itu bertengger. Bergelayut manja di atas kabel listrik yang tak melingkar. Kabel listrik terbentang menghubungkan rumah satu dengan lainnya. Tanpa dinyana, tiada diduga. Mereka seenaknya saja menjatuhkan titik-titik putih di atas beton hitam. Orang-orang yang berada di bawahnya dibuat jadi naik pitam.

Orang-orang menabuhkan genderang perang. Bersenjatakan lidah setajam pedang. Diolesi dengan seonggok cacian dan makian. Mereka tak pedulikan lagi ihwal kesopanan. Yang terpenting, hati mereka cukup terpuaskan. Oleh, kalimat-kalimat tajam yang terlontarkan. Padahal, tak ada satu pun hewan bersayap itu yang mengerti. Walaupun, pedang itu dihunuskan beribu-ribu kali.




Pagi hari adalah saat orang-orang memburu waktu. Mereka keluar rumah untuk menimba seember ilmu. Pergi untuk mencari sebongkah berlian. Mengais beraneka ragam kebutuhan. Baik keperluan jasmani maupun rohani. Hal yang menyangkut duniawi ataupun surgawi. Keadaan pagi yang sibuk pun jadi sedikit terganggu. Gara-gara burung liar yang tak punya malu.

Seorang pria paruh baya tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah. Rumah itu bercat putih. Bernaung atap merah hati. Berpagar kayu mahoni. Bahan pagar yang tak biasa, membuat rumah itu mudah dikenali. Apalagi, rumah itu berada di pojokan. Setelahnya, hanyalah lahan kosong tak berbeton. Lahan itu ditumbuhi belukar lebat menjulang dan tak seberapa banyak pepohonan.

“Ibu! Ibu!”
“Astaga! Bapak! Ada apa?”
“Biasa, Bu. Burung-burung liar itu...”

Mereka menjatuhimu kotoran lagi?” Bu Singgih yang sedang menyapu lantai langsung meletakkan sapunya. Dia mengamati dengan cermat pakaian yang dikenakan suaminya. Ada banyak titik-titik putih menghiasi bajunya. Beberapa titik sangat besar. Sebagiannya tak sampai melebar.

“Aku mau mandi saja, Bu.”
“Bukannya ganti baju saja sudah cukup, ya, Pak? Aku akan ambilkan baju gantimu.”
“Memangnya, Ibu enggak lihat? Kotoran mereka juga jatuh di rambutku, Bu!” gerutu Pak Singgih, dengan nada kesal.

“Masa, Pak? Aduh, maaf. Aku enggak melihatnya...” Pak Singgih badannya tinggi sekali. Wajar saja, bila istrinya tak melihat kotoran itu bersarang di rambutnya yang sedikit memutih.

Pak Singgih bergegas mandi. Suara gayung berdebum silih berganti dengan percikan air yang jatuh ke bumi. Waktu tak lagi mau menanti. Dengan secepat kilat, Pak Singgih keluar dari kamar mandi. Tak berapa lama, Pak Singgih siap berangkat kerja. Sudah ada tukang ojek pangkalan yang menunggu di luar rumahnya.

“Ibu, aku berangkat dulu!”
“Hati-hati, Pak!”

***
Sebenarnya, bapak-bapak warga RW 11 rajin mengadakan pertemuan rutin tiap bulannya. Masalah yang dibahas beberapa bulan ini pun hanya seputar itu-itu saja. Burung-burung liar yang bertengger di atas kabel listrik warga. Sedari dulu, masalah ini sangat mengganggu ketenteraman lingkungan mereka. Walau rapat sering diadakan, tak pernah menghasilkan solusi. Semuanya adalah jawaban yang tak berarti.

“Bagaimana ini, Pak? Burung-burung itu selalu buang kotoran di atas mobil buluk saya! Terpaksa, deh! Tiap hari, saya harus mencuci mobil buluk itu!” cerita Pak Beni, dengan nada kesal.

“Burung-burung liar itu memang menyebalkan! Istri saya jadi mengepel teras rumah tiap pagi. Bayangkan, Pak! Setiap hari! Saya itu kasihan sama istri saya. Dia itu sudah sering sakit-sakitan,” keluh Pak Ridwan, dengan mata menerawang.

“Mereka selalu buang kotoran di halaman rumah saya. Bisa dibayangkan, betapa jadi kotor dan baunya rumah saya! Masa iya, setiap hari, kami harus membersihkan halaman rumah!” Pak Faizal bercerita dengan menggebu-gebu.

“Saya, kan, harus berangkat kerja tiap pagi. Eh... sepeda motor, helm, bahkan jaket yang saya pakai juga sering kejatuhan kotoran mereka. Tapi, bodoh amatlah! Saya terpaksa membersihkannya saat sudah sampai di kantor. Kalau enggak begitu, saya bisa terlambat masuk kerja!” adu Pak Jamal.

“Bapak-bapak ini masih mending. Setiap pagi, saya harus balik ke rumah lagi buat ganti baju. Bahkan, mesti mandi lagi. Gara-gara mereka mengotori rambut dan baju saya. Saya itu, kan, memang suka berangkat kantor jalan kaki sampai jalan raya. Hitung-hitung buat olahraga. Padahal, sih, saya memang enggak bisa mengemudi,” ujar Pak Singgih, disambut gelak tawa para warga. “Masalahnya, saya mesti bayar ojek buat bolak-balik ke rumah. Habis, mau bagaimana lagi? Daripada, saya jadi terlambat masuk kantor!” Pak Singgih bercerita dengan berapi-api. Dirinya merasa paling tersakiti.

Pak Arifin, ketua RW 11, menanggapi keluhan para warganya. “Iya, Bapak-bapak. Saya mengerti kekesalan Bapak-bapak. Saya juga mengalami apa yang Bapak-bapak alami. Tapi, saya juga tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana kalau kita biarkan saja mereka seperti yang sudah-sudah? Toh, mereka juga akan pergi dengan sendirinya,” nasihat Pak Arifin, yang ditanggapi masam oleh para warganya.

Burung-burung liar senang bermigrasi di kompleks perumahan yang tak seberapa besar itu. Semenjak pertama kali perumahan berdiri, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Mungkin, begitu dekatnya kompleks dengan gunung dan perbukitan, membuat mereka betah menetap di situ. Seiring musim yang berganti, mereka akan pergi dengan sendirinya. Dengan cuitannya, sesungguhnya mereka cukup memeriahkan suasana. Mereka pun tidak ada niatan untuk mengganggu manusia. Burung-burung liar itu hanya ingin memenuhi kebutuhan perut semata.

***
“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam! Eh, Bapak. Sudah pulang?” Bu Singgih menyambut suaminya pulang kantor sambil mengernyitkan dahinya. “Bapak bawa apa itu?” Bu Singgih merasa penasaran dengan benda panjang yang terbungkus kertas cokelat, yang dibawa oleh suaminya.

“Nanti, Ibu juga tahu sendiri.”

Minggu pagi yang cerah. Pak Singgih bergegas keluar rumah. Tapi, buru-buru dicegah oleh istrinya. “Tolong! Jangan lakukan itu, Pak! Aku takut senapan itu malah akan melukaimu!” Bu singgih berujar dengan nada khawatir. Ternyata, benda panjang yang dibawa Pak Singgih adalah senapan angin. Benda itu dipinjamnya dari seorang teman.

“Ibu itu enggak usah khawatir. Ibu sendiri juga tahu. Aku ini dulu seorang penembak jitu. Meskipun, sekarang, aku udah enggak pernah lagi pegang senjata. Tapi, jangan sekalipun ragukan kemampuanku, Bu!” Pak Singgih merasa sedikit tersinggung dengan kekhawatiran istrinya.

Pak Singgih ternyata seorang atlet menembak yang cukup andal di masa mudanya. Beragam medali dan piala pernah diraihnya. Entah itu di level Indonesia, maupun dunia. Seiring bertambah kesibukan dan usia, Pak Singgih tak lagi menekuni hobi. Bahkan, senapan angin tak lagi dimiliki. Semua karena mahalnya birokrasi.

Pak Singgih mulai melancarkan aksinya. “DOORR!!” Suara tembakan terdengar memekakkan telinga. Membuat para tetangga dekat berhamburan keluar rumahnya. Mereka ternyata ikut menyemangati Pak Singgih. Para tetangga pun bertepuk tangan, begitu ada burung yang terjatuh.

Sebelas! Dua belas! Burung-burung liar itu berguguran. Serangan yang datang bertubi-tubi, membuat mereka panik sendiri. Burung-burung liar itu beterbangan ke sana kemari. Warga pun tambah menyemangati. Pak Singgih merasa berbangga hati. Keputusannya untuk menembaki mereka sudah tepat sekali.

“Aduh!” Tiba-tiba, terdengar suara mengaduh. Suara itu ternyata berasal dari dekat Pak Singgih berdiri.

“Astaga! Pak Arifin!” teriak seorang tetangga.

Para tetangga yang menonton Pak Singgih beraksi pun mengerubungi pemimpin mereka yang tergeletak. Pak Singgih melihat kepala ketua RW-nya berpeluh darah. Ternyata, pelurunya yang kesekian membentur sebuah tiang listrik. Lantas, peluru itu mengenai Pak Arifin yang berdiri di dekat Pak Singgih.

Seketika itu juga, Pak Singgih memucat. Wajahnya berubah seperti seorang mayat. Pak Singgih berdiri mematung. Bibirnya membuka bak kantung. Senapan angin yang di tangannya pun terjatuh begitu saja. Pak Singgih tak mendengarkan suara istri yang berusaha menenangkannya. Kini, dirinya adalah seorang terpidana. Jeruji besi siap menantinya. Tiba-tiba, langit jadi berubah gelap dalam pandangannya.

“Bapak! Bapak!” (short story prompt)

***
Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts. 

Ini adalah  story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend.

DIAN RINDA PERTIWI
ID Instagram: @dianrinda20

Posting Komentar untuk "Short Story Weekend: Burung-Burung Liar"