Short Story Weekend: Air Tanah Kelahiran - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Story Weekend: Air Tanah Kelahiran

Short Story by Purwati Anisa Dewi 

Saya teringat ketika kecil, keluarga dan tetangga sekitar mengadakan arak-arakan larung saji ke sendang. Anak-anak yang ikut terlihat berbaris di belakang. Di depannya, barisan pawai ibu-ibu menggendong wakul yang berisi nasi, lauk-pauk dan lontaran daun pisang yang digunakan sebagai lemek makan. Bapak-bapak pun tak ketinggalan pula mengenakan pakaian adat Jawa. 

Larung saji pun kemudian diarak dan diiringi alunan mantra Jawa. Tak ketinggalan pula diikuti para penari yang memakai kostum berwarna putih sembari membawa tempat air yang terbuat dari tanah liat dan obor untuk membuka prosesi dengan Tarian Matirto Suci Dewi untuk melakukan Nyadran Kali. 


Sumber: https://www.tripjalanjalan.com/

Nyadran Kali merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan yang telah melimpahkan mata air yang selama ini berguna untuk kehidupan warga, terutama sebagai sumber mata air penduduk desa. Selain itu, Pak Lurah juga berpesan untuk menjaga dan melestarikan budaya nenek moyang sampai anak cucu kelak. 

Hal ini berbeda dengan kondisi yang saya tempati. Ketika saya harus bermukim di kota untuk kuliah. Di tempat ini, air bergelimang tiada tara tetapi saya cukup sedih. Orang-orang di sini berak di sungai, meludah di sungai, mencuci di sungai, mandi di sungai, mengambil air untuk masak di sungai, membuang sampah di sungai dan terakhir kali saya melihat orang mati di sungai. Saya sepertinya sudah tidak mengerti lagi apa pengertian air untuk kehidupan manusia sehari-hari. Apakah karena saking banyak maslahatnya kah ? 

Malam ini, Ibu kos kami mengalihkan channel acara televisinya dari sinetron ke berita. Hot News utama. Kami pun ikut menonton dengan menggenggam kacang rebus yang baru saja beli di warung terdekat. Saya berusaha melupakan sejenak tugas dosen yang sedang menumpuk. Mata saya fokus ke layar 14 inchi merek keluaran Cina. Kacang rebus saya letakkaan di meja. Lewat layar kaca itu diberitakan bahwa telah ditemukan korban pembunuhan yang mayatnya di buang ke Sungai Kota. 

Tubuh saya beringsut. Mata saya tampak nanap ketika melihat petugas rescue menggotong mayat itu ke rumah sakit. Sepertinya bau nya sudah apak dengan lalat hijau yang mulai mengerubuti mayat tersebut. Saya pun memutuskan diri kembali ke kamar untuk menyelesaikan tugas dari dosen. 

*** 

Di televisi kampus, saya seperti melihat Waruna sedang berpidato dalam sebuah berita. Mengabarkan kondisi air sungai di kota. Air sungai yang mulai menghitam dan tertimbun banyak sampah kota. Air sungai yang mulai apak karena berhari-hari menimbun mayat tanpa nama. Air sungai yang telah membunuh banyak biota di dalamnya karena banyak mengandung racun kimia. Mata saya begitu awas menatap wajah dan mimik Waruna. Tetapi, sayangnya tak ada yang mengindahkannya. Semua mahasiswa di kampus terlau sibuk berdiskusi tentang topik mata kuliah ataupun menyengaja tak menghiraukan apa yang telah dihimbaukan Waruna di layar televisi kampus. 

Saya masih terpaku, Waruna seolah menatap tajam dan berpesan kepada saya atas nama perwakilan manusia yang secara sadar masih tinggal di bumi ini. Waruna seolah berpesan akan ada bencana yang maha dahsyat jika seluruh penghuni bumi ini tak lagi mengindahkan untuk menjaga keseimbangan alam. Saya masih terpaku menatap wajah dan mulut Waruna yang masih berkomat-kamit menyampaikan pesan-pesan keselamatan. Nihil. Sepertinya tak ada yang menghiraukannya. 

*** 

Keesokan harinya, saya memutuskan untuk mengemasi barang-barang. Saya memutuskan pulang ke tanah kelahiran. Sepertinya pikiran dan hati saya sedang sakit. Teman sekamar saya, Ani hanya mampu menatap saya dari kursi. 

“Apa kepulanganmu tidak bisa ditunda, Ning? Skripsimu…” Ani menatap saya dengan prihatin. 

Saya hanya menggeleng tersenyum, “Saya bisa nyambi skripsi di rumah, An. Saya hanya kurang penelitian. Sampel penelitian bisa diambil dari sekolah saya dulu. Saya sudah menghubungi guru saya di sana….” 

“Kamu, baik-baik, saja Ning. Kamu pucat…” Ani tampak mengkhawatirkan saya. Ani pun memutuskan untuk mengantar sampai terminal. Ani pun melepaskan kepergian saya.

Bus yang akan menuju tanah kelahiran saya sepertinya macet di jalan. Saya masih belum keluar dari kota ini. Saya cemas jika marabahaya itu akan menimpa. Saya takut jika sungai di kota ini akan marah kepada penduduknya dan menenggelamkan bus yang saya tumpangi. 

Hujan mulai turun. Mengetuk-ketuk deras kaca-kaca bus yang saya tumpangi . Hujan sepertinya marah. Saya duduk beringsut di kursi penumpang dengan keringat dingin yang terus mengalir di sekujur tubuh. Tangan saya erat memeluk koper dan dokumen penting di dalamnya. Saya takut. Ibu-ibu penumpang juga takut jika tak sampai tujuan sesuai waktu yang dijadwalkan. Bapak-bapak takut dimarahi istrinya karena pulang terlambat. Anak-anak takut dan merengek karena menahan lapar dan haus berkepanjangan. Penjual asongan dan pengamen jalanan pun juga takut karena terperangkap dalam bus yang semakin macet hingga mengurangi setoran. Bau-bau apak-masam- asap pun bergumul menjadi satu dalam deru deras hujan di luar menambah ketakutan dalam hati penumpang. 

Bus masih macet. Hujan masih deras mengetuk-ketuk kaca dan berusaha merembes masuk ke dalam celah-celah kaca bus. Saya kemudian beringsut memeluk erat koper dan dokumen penting di dalamnya. Keringat terus mengucur deras membasahi sekujur tubuh. Saya pun mulai sibuk merapalkan doa yang saya ingat. 

Beberapa jam kemudian, bus mulai merangkak ke aspal jalanan yang berlubang. Bunyi-bunyi klakson silih berganti menambah kebisingan dan suara nyinyir kondektur yang memaki jalanan yang sudah mulai berkubang dan tergenang. Saya hanya bisa diam dan masih menunduk untuk merapalkan doa habis-habisan agar sampai tujuan. 

Telinga saya mulai berdenging hingga sedikit merasa kesakitan mendengar deru hujan dan suara berisik klakson di luar. Kepala saya pusing dan membuat saya mau pingsan. Saya pun berusaha memejamkan mata untuk mendapat ketenangan. 

*** 

Saya terbangun. Napas saya sesak. Saya berusaha melihat kondisi sekeliling. Bus yang saya tumpangi seolah-olah telah raib entah kemana. Mata saya mulai mencari koper dan seluruh dokumen penting yang tadi saya dekap. Nihil. Tidak ada. 

Saya berusaha melihat kondisi sekeliling. Semuanya telah raib. Saya sudah tidak melihat lagi penumpang ibu-ibu yang merutuki hujan, bapak-bapak yang mulai sibuk dengan telpon genggam, anak-anak yang merengek minta jajan, pedagang asongan yang menjajakan dagangan, kondektur marah, supir yang gelisah dan suara klakson bersahut-sahutan. Saya sudah tidak melihat apapun. Saya mulai gelisah. Saya sepertinya sendirian. 

Gelap mulai menyelimuti. Saya takut. Saya ingin bangun dan berusaha berdiri tetapi kaki saya sakit. Perlahan-lahan mata saya seolah mengenal tempat ini: Pohon Rau. Tempat ini ditumbuhi Pohon Rau. Saya kenal benar tentang pohon ini. Pohon yang sudah berusia ratusan tahun tumbuh di tepi sendang tanah kelahiran saya. Saya ingin berdiri tetapi kaki semakin sakit untuk dibuat berpijak dan pantat saya terjerembab ke dalam bumi. Saya bingung. Di manakah saya berada ? 

Mata  saya  mulai  menangkap  remang-remang cahaya.  “Wening…!  Wening….!” 

Telinga saya seolah menangkap suara. Saya ingin bersuara. Tetapi tidak bisa. Lidah saya kaku. 

“Wening….! Wening…!” Saya mendengar suara kaki berpijak mulai mendekat dan 

suara orang-orang berteriak memanggil semakin keras. 

Badan saya mulai menggigil. Lidah saya semakin kaku. Saya tak dapat berbicara sepatah kata pun. Saya mulai menangis tetapi tak satupun air mata yang keluar. Saya ingin menjerit dan meraung tetapi tak kuasa. 

Saya seperti melihat bayang-bayang Pak Lik memegang obor, Bapak, Ibu, Mbak Laras, dan orang-orang kampung muncul dari balik pohon-pohon rau yang menghalangi pandangan. 

Saya berusaha mengumpulkan tenaga untuk memanggil mereka. Nihil. Tak bisa. Saya pun menjerit dan meraung. Saya mencoba lagi hingga tubuh saya kejang sakit. 

“Ba…pak… sa..ya … di si…ni….” 

Saya berusaha mengumpulkan kekuatan untuk memanggil mereka sebelum menghilang dari balik pohon-pohon rau yang begitu rapat berjejer menghalangi pandangan. 

“I..i..bu…” 

Saya seolah-olah melihat senyum mereka. Saya tidak tahu apakah ini nyata atau tidak. Saya sepertinya berhasil ditemukan. 

*** 

Kata Bapak, saya koma di rumah sakit ini selama dua hari. Bus yang saya tumpangi oleng terperosok ke dalam jurang. Saya berhasil diselamatkan. Kata Bapak, saya adalah satu-satunya korban yang masih hidup. Semua penumpang bus telah meninggal masuk jurang dan hanyut di sungai yang meluap karena banjir bandang. Saya bersyukur dan mengucapkan banyak puji-pujian karena Tuhan telah memberikan kesempatan untuk hidup. Apakah ini semua karma Tuhan? 


Purwati Anisa Dewi
ID Instagram: @purwati. a. dewi. 7

Notice: This is some example for scary short stories, ideas for short stories, horror short stories, short story ideas, short story idea, short story prompt, and short story prompts.

Ini adalah  story cerita contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen terbaik, contoh cerita pendek, cerpen singkat bermakna karya terbaik mereka yang ditayangkan setiap weekend.


 

Posting Komentar untuk "Short Story Weekend: Air Tanah Kelahiran"