Short Stories: Pendulum yang Berhenti Mengayun - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Stories: Pendulum yang Berhenti Mengayun

Short Story by Mizzart Al Fatih 


“Aku ingin mati barang sehari, hanya untuk mengetahui siapa yang peduli.” Ucapan Em kutanggapi biasa kala—beberapa hari lalu—itu. Kalimat itu bukan perkara sekali aku dengar. Bagaimanapun, Em tidak mengungkit keseriusan pada omongannya perihal sehari. Perempuan itu adalah pembohong sekaliber kakap. Nyatanya, semua orang datang dan tak semua benar-benar peduli. Mungkin kaget, kebetulan sedang tak ada agenda, rumah dekat, dan pelbagai hal—tapi itu bukan berarti mereka peduli. Di hadapan makamnya yang dilumuri kembang, aku mengutuk Em sebagai pembohong yang melangkahiku. Sehari? Maksudmu selamanya? Kataku berbincang dengan papan kayu yang terukir namanya itu. (short story prompt)

 

Ayunan pendulum milik Em telah genjat, entah karena talinya putus atau berhenti kelelahan. Namun, aku yakin kalau itu terputus—diputus secara paksa. Aku takjub pada caranya memilih mati. Tubuhnya lompat indah dari atap gedung kampus. Gravitasi ditantang. Tubuhnya koyak, hancur, tercerai-berai, mirip seperti piring pecah. Pegawai kampus heboh; dosen-dosen panik; mahasiswa bengong. Di haribaan kematian, intelektual organik itu hanyalah hewan yang diberikan kemampuan berpikir. Setidaknya, mereka jadi punya objek obrolan. Setidaknya, mereka merasa diri lebih karena tak sejauh itu; perilaku mengutuk kematian sepihak. 




Beberapa hari lalu kuremehkan dia. “Cara yang cukup jitu dan tidak rawan terendus,” kataku kepada Em, perihal tali tambang seukuran kelingking jarinya. “Tubuhmu akan melayang-layang berhari-hari, bahkan berminggu-minggu di dalam kamar, tergantung seberapa lama seonggok mayat dapat mengeluarkan bau tak sedap—dan tercium.” 


Ada kekecewaan terpaut di wajahnya. Menegaskan kembali kalau tidak benar-benar ada teman yang peduli akan kehidupannya (berharap pada kepedulian orang lain adalah sebongkah ketololan). Semuanya sedang sibuk dengan renjana masing-masing; berdebat di kelas perihal ekonomi bangsa; rapat kepanitiaan sampai malam; berpacu dengan deadline tugas di penghujung masa. Masalahnya, kalau kami sering bertemu, semakin sulit untuk menyudahi nyawa ini. Teringat ucapannya siang hari di atap kampus. “Lompatlah kalau ingin lompat, tetapi aku lihat kamu punya korek, boleh pinjam—atau milikku saja? Karena kamu tak butuh lagi saat sudah mendarat di lantai bawah gedung?” Aku mengurungkan niatku perlahan. Tiba-tiba juga ingin menghisap filter itu. Dan Em lantas berkisah tentang kebiasaan cutting-nya. 


“Tidak, aku tidak berminat,” kataku saat Em membuka irisan luka di sepanjang kulit hastanya, “aku ingin kematian cepat.”

 

“Dari yang kudengar, leher yang terpancung itu kematian yang tercepat,” ucap Em di sela-sela isapan rokoknya.

 

“Kita tidak bisa saling memancung bergantian.” “Ya, apa cara lain yang lebih efisien, ya?” “Entahlah.”

 

“Saranku kalau ingin dengan tali: pastikan jarak kaki dan permukaan bawah cukup jauh—supaya sekalian saja,” Em tersenyum aneh, “dan pastikan juga ikatan di atas cukup kencang.”

 

Aku tak mengerti apa yang Em maksud perihal sekalian saja.

 

“Percayalah, aku pernah gagal secara mengecewakan.” Diperlihatkannya bekas-bekas guratan di leher yang tadinya tertutup tudung abu-abu itu.

 

“Mati saja kamu gagal, mengecewakan.”

 

"Dan juga, pastikan sekeliling kosong, jangan ada benda apa pun dalam jarak terdekat."

 

Begitulah Em, seorang penyintas kehidupan dan menanak kegagalan untuk dirinya sendiri.

 

Di hadapan nisan, aku masih berdiri menahan amarah. Mengutuk ketidaksetiakawanan yang diperlihatkan Em. Mungkin salahku juga, aku mengenalnya baru seminggu lalu. Karena ulahnya, gedung secara ketat telah diproteksi—tidak bisa menirunya di atap itu, tetapi ada kemauan ada jalan. Orang-orang yang disebut akademisi itu tiba-tiba menjadi peduli. Em menunjukkan kepadaku kalau kepedulian masih tetap ada—jangan acuhkan kata terlambat, yang penting, ada! 


 

Sekembalinya dari pemakaman Em, langit-langit kamar menjadi begitu menggoda. Ada celah-celah yang bisa dilewati simpul-simpul tali tambang seukuran kelingking Em. Terima kasih, Em, setidaknya aku akan efektif kali ini. Kutengok manusia-manusia sibuk itu, yang sebelumnya berbagi senyum kepadaku di kelas pagi. Selamat tinggal.

 

Em memang benar. Aku kesal karena dia benar. Sekalian saja, kata-kata itu memang benar. Meski tali-temali sudah kuat bertengger pada celah langit-langit, aku hanya melayang-layang dengan jarak beberapa jengkal dari lantai kamar. Aku merasa kesal karena hidup dan matiku hanya berjarak seukuran jengkal— tidak sekalian saja seperti yang dilakukan Em. Kakiku tegang, mencari-cari pijakan. Entahlah, Em, mungkin beberapa hari, mungkin beberapa minggu, aku tak pernah tahu mayatku akan tercium kapan.

 

Namun, tak perlu gusar, aku melayang-layang tanpa mandi beberapa hari dengan harapan baunya terendus sesegera mungkin. Namun juga, tak tega rasanya melukai penciuman mereka sehingga aku telah menyiapkan parfum di ujung meja dan sejumlah bola-bola kamper di sekelilingku. Entahlah, siapa pun yang menemukan tubuhku, kuharap hidupmu bermakna selepas itu.

 

Beberapa menit kemudian, tubuhku adalah bandul yang berhenti mengayun; pendulum hidup telah resmi kuputus dengan paksa.

 

 




Mizzart Al Fatih
ID Instagram: @Mizzartaf
Email Mizzart.al@gmail.com

 

Posting Komentar untuk "Short Stories: Pendulum yang Berhenti Mengayun"