Short Stories: Krisan dan Mimosa - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Stories: Krisan dan Mimosa

 Short Story by Wahyu Kris Aries Wirawardana


Tekadnya sudah bulat: menjejali kota dengan lukisan. Hal itu tak pernah ia ceritakan kepada siapapun kecuali dirinya sendiri. “Percuma!” katanya suatu ketika. (short story prompt)


Jam enam belum melewati pagi ketika ia duduk tak jauh dari lampu merah. Cahaya matahari menerobos matanya. Di bawah pohon yang daunnya enggan melambai, matanya mengamati orang-orang hilir mudik. Polah tingkah orang-orang itu di jalanan merebut perhatiannya.


Orang-orang berjalan kaki dengan kecepatannya masing-masing. Beberapa orang berpakaian rapi mengambil langkah terburu. Sebagian mereka turun dari trotoar agar bisa mendahului. Sebagian yang lain membiarkan pundak mereka saling bersinggungan. Suara sepatu yang beradu dengan aspal berbaur dengan klakson mobil terdengar layaknya orkestra pagi. 

Di seberang jalan, berjejer puluhan pengemudi ojek online. Mereka duduk di atas motor, menatap gawai tanpa henti. Sesekali mereka menoleh cepat kesana kemari, entah apa yang ada di kepala mereka. Tak jauh, perempuan-perempuan membentuk kerumunan. Mereka tak saling sapa. 

Lelaki itu membeber kertas putihnya di atas pangkuan. Ia menggoreskan pensil perlahan. Kepalanya sesekali menoleh orang-orang di seberang jalan. Sketsa tubuh perempuan mulai terbentuk. Disusul dengan perempuan-perempuan di sebelahnya. Disusul lagi dengan sekerumun orang yang bercakap basa-basi. 

“Cukup untuk hari ini,” gumamnya. 

Dipandanginya belasan lukisan itu satu per satu. Ia yakin, orang-orang yang melihat lukisannya akan berhenti sejenak. Hati mereka yang kaku akan melembut lalu mulai meyakini betapa lukisan itu sanggup menyembuhkan kota dari pandemi.

 

*** 

 

Penduduk kota membincang lukisan yang tiba-tiba memenuhi kota. Orang-orang tak lagi berjalan terburu di pagi hari. Mereka menyempatkan waktu untuk memandangi lukisan di berbagai sudut kota. Lukisan hitam putih ada di mana-mana: dinding toko, gerbang stasiun, jalan layang, pagar pertokoan, taman kota, halte, dan papan iklan. 

Respon mereka beragam. Ada yang menganggukkan kepala tanpa irama. Ada yang membelalakkan mata dengan wajah miring. Ada pula yang menarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya pelan-pelan. Banyak pula yang meludah diikuti umpatan. 

Waktu berjalan melambat pada pagi hari, tapi tidak bagi lelaki itu. Anggukan kepala, belalakan mata, embusan nafas, dan umpatan orang-orang itu segera menyesaki kepalanya. Semua seperti datang dari celah masa lalu. Pengalaman menjadi ojek online belum benar-benar hilang dari kepalanya. 

Mohon maaf, macet di ujung gang, Kak. Permohonan maafnya dibalas anggukan tak berirama ketika ia terlambat menjemput pelanggan pertamanya. Esoknya, ketika ia tak punya selembar ribuan untuk uang kembali, seorang ibu pelanggannya membelalakkan mata lalu melengos pergi. 

Pada pekan kedua, ia mengantar seorang tua. Motornya belum sepenuhnya berbelok ke kanan, motor lain melaju kencang dari belakang menabraknya. Ia dan orang tua itu bergulingan di aspal. Kedua tangan dan kakinya lecet. Namun, orang tua itu harus mengerang beberapa saat sebelum akhirnya tewas. Ia masih ingat betul bagaimana embusan nafas tersengal orang tua itu menyedot wajahnya. 

Pada hari yang lain, ia melontar senyum kepada pelanggan. Lalu menanyakan nama dan memastikan alamat tujuan. Namun, ia malah mendapat umpatan dari mahasiswi itu. Padahal ia tak mungkin bercerita kepada siapapun bahwa pelanggannya minta diantar ke rumah pijat. Rumah remang-remang itu pernah digerebek aparat karena melanggar aturan perijinan. 

“Kalau begitu, aku akan melukis bunga,” kata lelaki itu sepanjang perjalanan pulang. 

Ia yakin bunga sanggup melembutkan manusia. Mekar bunga akan melapangkan dada orang-orang yang kehilangan pekerjaan. Apalagi jika bunganya berwarna-warni. Di tengah ancaman pandemi, emosi lebih gampang tersulut. Persoalan sepele meledak di luar nalar. Akal sehat sudah teronggok bersama sampah plastik membanjiri sungai.

Seperti yang terjadi beberapa hari lalu. Suami melempar istrinya dari jendela rusun hanya gegara terlambat menyiapkan sarapan. Seorang remaja nekat menjambret tetangganya demi membeli paket data internet. Penjual mie ayam cekcok dengan pelanggan yang sudah menumpuk hutang. Perempuan-perempuan hanya bisa meratap menyaksikan suaminya yang baru pulang dari lapas kembali digelandang petugas. Anak-anak kecil membakar baju dan buku sekolahnya hanya karena kalah game online. 

Malam ini, ia tak tidur. Berlembar-lembar sketsa bunga kini mulai berwarna. Lelaki itu sudah menyelesaikan dua puluhan lukisan. Ada bunga Adenium dengan detail guratan merah di ujung kelopaknya. Ada bunga Alamanda yang memamerkan kuning merekahnya. Bunga Delpinhium ungu dan biru yang berdekatan rapi menjulang. Bunga Krisan dan Mimosa turut meramaikan lukisan yang berjejal di sudut kamar itu.



Posting Komentar untuk "Short Stories: Krisan dan Mimosa"