Short Stories: Krisan dan Mimosa 2 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Stories: Krisan dan Mimosa 2

 

Orang-orang heboh. Seluruh sudut kota berhias kertas berlukis bunga. Gadis-gadis kecil berkerumun tiap sore demi yang terdepan menatap lukisan itu. Pedagang dari pasar menghitung laba di dekatnya. Remaja-remaja asyik berpose dengan gawai. Ibu-ibu tak lupa mengajak balitanya melihat lukisan itu agar lahap makan. Pekerja kantor dalam lelah pun tak malu berjubel demi merasakan keteduhan lukisan bunga. 

Dalam sekejap, banyak orang ikut-ikutan melukis bunga. Di mana-mana ada lukisan bunga warna warni. Bis kota kini menjadi warna-warni. Warung-warung makin cerah dengan dinding penuh lukisan bunga. Pagar pembatas jalan layang yang semula kusam kini penuh bunga aneka warna. Banyak taman berhias lukisan bunga bermunculan di sudut-sudut kota. Kampung kumuh jadi kampung berbunga-bunga. Ada warga menjuluki kampungnya dengan kampung Krisan. Ada juga kampung Mimosa. 

Di antara riuh lukisan bunga yang meramaikan kota, lelaki itu menikmati jatuhnya sore tanpa teman. Ia menyandarkan punggung ringkihnya pada tiang listrik. Kakinya selonjor santai di atas bebatu bongkaran trotoar. Beberapa pensil warna ia selipkan di antara gulungan kertas gambar. Senang hatinya melihat orang-orang pulang dengan wajah riang.

 

Kerinduan anak-anak pada ayahnya akan terbayar tuntas, ujarnya dalam hati. Namun, ia kadang ragu tentang siapa yang paling rindu: ayah atau anak. 

Seketika ujar hatinya membangkitkan kenangan. Lelaki itu terseret beberapa tahun ke belakang. Ia pamit ke kota ketika anaknya masih dalam kandungan. Istrinya rela tinggal di pinggiran seorang diri. Sementara ia mencoba peruntungan menjadi pelukis di kota. 

Menjual lukisan tak semudah angan. Menawarkan jasa lukis pun hanya berbuah penolakan demi penolakan. Apalagi pandemi sedang melanda kota. Akhirnya, ia memohon istrinya merelakan perhiasan untuk uang muka motor. 

“Angsuran kita bayar dari hasil ngojek. Selebihnya kita tabung untuk biaya kelahiran,” bujuknya pada istri yang sedang menanti kelahiran sebulan lagi. 

Hasil sebulan ngojek ternyata hanya cukup untuk bayar kontrakan dan makan. Ia tak sempat menabung sepeserpun. Hatinya bergetar setiap kali istrinya menelpon. Beberapa pesan istrinya hanya ia jawab dengan satu dua emotikon senyum. Baru kali itu ia membohongi istri dan dirinya sendiri. 

Kebohongan itu terhenti setelah salah seorang kerabat mengabarkan istrinya ditangkap polisi. Pemilik toko menyerahkan sang istri ke polisi lantaran menyembunyikan barang curian ke dalam daster. Ia menangis beku melihat istrinya meringkuk di penjara dengan perut membuncit. 

Sebulan setelah tangis beku itu, ia kembali meratap. Istrinya meninggal bersama janin yang dilahirkannya. Lelaki itu mengusap air mata menderas dengan daster bermotif bunga yang masih melekat di jenazah istrinya. Bunga Krisan dan Mimosa yang menghiasi daster itu menjelma serbuk bercahaya lalu terbang perlahan menerobos kedua bola matanya.

 

***

 

Pagi menyelimuti kota dengan dingin yang ganjil. Hujan mengguyur tetiba tanpa tanda. Bukan air yang jatuh dari langit, melainkan butiran bunga Krisan dan Mimosa. Anak-anak kecil bermain hujan, berebut mengumpulkan bunga. Wajah anak-anak kecil itu bercahaya seiring makin banyaknya bunga di pelukan mereka. 

Menjelang sore, ketika hujan bunga mereda, orang-orang berkerumun di dekat taman kota. Mereka meneriaki seorang lelaki yang nekat memanjat tower listrik tegangan tinggi. Sesampainya di puncak, lelaki itu mengeluarkan setumpuk kertas dari tas punggung. 

Ia menebarkan kertas-kertas itu ke udara lalu menjatuhkan tubuhnya. Orang-orang berebut kertas berlukis bunga Krisan dan Mimosa.

 

***

 

Wahyu Kris Aries Wirawardana

 Ig @wahjoekris

wahjoekris@gmail.com

Posting Komentar untuk "Short Stories: Krisan dan Mimosa 2"