Short Stories: Babi Rumah Makan Hijau - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Stories: Babi Rumah Makan Hijau

Short Story by Joni Sadarlah Halawa

Aneh. Rumah makan ini tak bau, tapi nyamuk banyak mau. Selain mengganggu kulit, mereka juga aktif dalam mengganggu telinga. Tak ada yang tau tujuan kedatangan mereka, tak tau dari mana asal mereka, tak ada tulang tak ada bangkai, tiba – tiba mereka berpesta disini. Yang patut dicurigai adalah beberapa hari terakhir Mas Canan tak pernah absen memutar lagu – lagu Maestro Campursari Sobat Ambyar Didi Kempot. 

Kenyataan, nyamuk – nyamuk itu hanya akan tampak ketika Didi Kempot berteriak – teriak. Nanti, kalau Mas Canan mematikan musik dan Didi Kempot berhenti bernyanyi, nyamuk itu segera hilang, sirna, kabur seperti pencuri yang dikejar korban. Kedatangan dan kepergian mereka sama dengan kedatangan dan kepergian manusia setelah bergoyang – goyang menyaksikan panggung Didi Kempot. Sehingga, kurasa tak berkesalahan kalau aku menduga bahwa nyamuk – nyamuk itu adalah penggemar berat Didi Kempot yang mungkin berasal dari negeri jiran. 





“Bagaimana kau bisa mencium bokongmu sendiri?” Tanyaku sambil kumaki – maki dirinya dalam hati.

Terlalu kasar kalau langsung kuludahi mukanya atau kalau kulempar beberapa kepala bebek busuk di mulutnya. Bukan hanya mencium bokong sendiri, dia juga mampu memutar tangannya melewati selangkangan dan berakhir di lengan tangannya yang lain. Jarang orang memiliki kelebihan seperti itu dan jarang juga orang merepotkan sesama atas kelebihan dirinya. Sudah hampir 2 bulan, sejak aku di rumah makan kultur hijau itu, setiap situasi sepi tak ada pengunjung, dia selalu ramai menyanjung – nyanjung diri sendiri. Bukan hanya kami berdua karyawan, tapi di antara semua karyawan yang ada, akulah seorang yang paling tidak selalu frontal mengurungkan antusiasnya bercerita. 

Pernah kusarankan dia menjadi peserta America’s Got Talent. Dengan tubuh selentur itu, akan sangat mudah dia mendapat tepuk tangan sambil berdiri dari penonton di tempat, dari para judges dan tak tertutup kemungkinan orang yang melihatnya di layar kaca terkagum hidup – hidup. Tapi dia membantah, selain masalah ekonomi, Amerika terlalu besar bagi orang seperti dirinya. Atau setidaknya, jadilah peserta Ninja Warrior dalam negeri. Tapi juga ditolaknya dengan alasan bahwa dia sering kram. 

Sebelum sibuk meninggikan diri di depanku, sering dia pertunjukan bebas di Nol Kilometer sana. Lumayan banyak yang tergerak hati menyaksikannya, tapi hampir tak ada yang tergerak tangan memberinya semacam apresiasi dalam bentuk uang. Katanya, orang – orang itu hanya berdiri dan menepuk tangan sekali dua kali lalu pergi seperti tak pernah melihat. Sehingga, diputuskannya untuk berhenti pertunjukan bebas dan menjadi karyawan di rumah makan ini. 

Agar selalu diingatnya kelebihannya, malas juga kalau pertunjukan tak dapat uang, berbuat dia semacam revitalisasi, dihabiskannya waktunya untuk terus mengabarkan kelenturannya, teguh seperti pendeta mengabarkan injil. Sebenarnya, tak masalah. Tapi sebagai karyawan, aku butuh waktu untuk tidak mendengarkan ceritanya sehari saja paling tidak. Tak pernah merasa dengan itu, dia semakin rajin menjadi – jadi bercerita setiap hari, lebih rajin dari semut. 

Andam karam mimpiku menjadi guru, setelah malam batu karat hewani itu. Di asrama, pukul sepuluh malam waktu itu, pada malam senin, timbul kedaginganku yang mengalahkan semua ajaran agama yang beres kupelajari sejak usiaku masih kecil. Suar cintaku pada pacarku menjadi eros tak terelakkan dalam kampa – kampa berahi. Rajaswala aku dan daging yang menggantung di bawah perutku itu -atau orang – orang menyebutnya penis- menjadi tegang tak tanggung – tanggung. Luntur imanku, terus mengeras tak letih dagingku itu dan ia membesar hampir tak sama dengan penis kuda. Lalu kuajak pacarku ke toilet asrama, kuadu bibirku dengan bibirnya, lidahku kuputar – putar, tanganku bekerja kesana – kemari dan belum sempat bersenggama, seketika nafsu itu raib seperti dipukul setan, ketika ada yang mengetuk pintu dan berteriak, “Keluar! Cepat!” 

Maka sebagai kesalahan yang harus selalu mendapat hukuman, perbuatan asusila yang sangat menentang norma sosial, dikeluarkan aku dari asrama oleh pamong yang sebagian adalah para pekerja di ladang Tuhan, perempuan umat katolik, hamba Allah yang tak menikah. Terkutuk lagi aku, sebab sebagai perempuan, pacarku itu harus pulang dan remuk hati ibunya. Ayahku yang sudah rimpuh juga tak kalah kecewanya. 

Itulah yang mengantarku ke rumah makan ini. Sama sekali tak ingin aku pulang ke Nias, sebab kata ayahku, disana aku sedang menjadi bahan pembicaraan para warga. Kupilih untuk tetap di Yogyakarta, bekerja sesuatu yang menghasilkan uang, hingga atas bantuan seorang teman dari Mentawai, aku diterima menjadi karyawan di rumah makan ini. 

“Bagaimana bisa dadamu menghadap normal, sedangkan kepalamu menghadap mati ke belakang?” Tanyaku lagi, sambil kumaki – maki dirinya dalam hati. 

Rumah makan ini tak lebar tapi memanjang. Dindingnya berwarna hijau, sebagian besar barang – barang di dalamnya berwarna hijau. Ada beberapa barang yang tak hijau, bukan sengaja, tapi kebetulan warna hijau untuk barang itu tak ada di toko. Setiap tamu yang baru pertama kali mampir makan di tempat ini, mau tak mau harus melihat – lihat dan sadar tak sadar harus terkagum – kagum akan foto – foto Presiden Republik Indonesia yang menggantung di beberapa titik pada dinding hijau, sejak tahun 2017 lalu. Sudah bisa dikira – kira bahwa rumah makan ini bukan rumah makan sembarangan, tak boleh disamakan dengan rumah makan sederhana. Betul, jika yang berkunjung adalah kepala negara, setidaknya pemilik rumah makan ini berkawan baik dengan Pak Jokowi. 

Panjangnya rumah makan ini lebih terlihat karena ada semacam lorong yang juga berwarna hijau. Di lorong hijau itulah Mas Canan mengagulkan seni kelenturannya. Sulit mendapati kami di lorong hijau, sebab kami juga memakai baju hijau. Agak unik lorong itu. Sebab, selain sebagai lorong, dia juga adalah jalan menuju toilet. Jika seorang anak kecil benar– benar ingin membuang beberapa liter air maninya dan dia tak digendong ayahnya, ada kemungkinan air maninya seperti bensin, habis di perjalanan, akibat panjangnya lorong itu. 

Bosan aku bersandar di lorong itu. Bertambah bosan lagi, sebab Mas Canan semakin lacak. Yang sangat menarik untuk dibahas adalah sisa – sisa makanan para tamu yang dengan ringan tangan para karyawan, itu semua akan berlabuh dalam plastik hitam yang kalau pukul 10 malam diletakkan di teras rumah makan dan besok pagi diangkut oleh truk pengangkut sampah. Rupanya kata ibuku –sebagaimana orang kampung percaya pada tradisi– tak berlaku di kota – kota metropolitan seperti ini. 

“Jangan pernah membuang sisa makanan. Di dunia ini ada banyak orang yang susah mendapat makanan dan membuang sisa makanan adalah mengolok – olok mereka yang hanya bisa mendengar kocokan perutnya sendiri.” Tegas ibuku. Kalau tak salah, waktu itu, aku masih belum malu – malu kencing di depan orang banyak dan setelah ibuku berkata demikian, pohon besar di depan rumah kami yang dipercaya sebagai tempat segala jenis iblis, tumbang.


Posting Komentar untuk "Short Stories: Babi Rumah Makan Hijau"