Short Stories: Babi Rumah Makan Hijau 2 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Short Stories: Babi Rumah Makan Hijau 2

 

Gemetar juga aku waktu itu, mungkin itulah kekuatan kata seorang ibu. Namun, sejak saat itu, karena aku tak begitu yakin mampu menuruti ibu, jadi malas aku menanam pohon.

Andai saja ibuku ada disini, dengan mudah dilihatnya bahwa perkataannya itu adalah rumus kampung yang jarang berlaku di kota besar terlebih di rumah – rumah makan. Tak terkecuali aku yang dulu taat pada ibu, sekarang harus mengikuti kebiasaan itu. Mana ada pengunjung yang ingin memakan sisa makanan pengunjung lain atau mana ada pemilik rumah makan yang ingin memakan sisa makanan pengunjung. Kemudian, tak kan pernah ada pengunjung yang pergi ke rumah makan untuk memakan sisa makanan pengunjung sebelumnya. Semua orang yang berkunjung ke rumah makan adalah orang yang berangkat dari rumahnya untuk makan. Makan sesuatu yang segar, bukan dari bekas piring orang lain. Jadi, mau dikemanakan sisa makanan itu, kalau tak dibuang? 

Sudahlah. Aku ini babi. Tak perlu lagi aku banyak cerita. Kupikirkan saja bahwa hukuman yang kuterima dari perbuatan asusila malam itu adalah dikeluarkan dari asrama, dikeluarkan dari beasiswa, diskorsing selama satu semester di kampus dan penyesalan tak terkira, kesalahan yang akan terus menjadi kesalahanku sepanjang masa adalah kekasihku harus pulang dan dengan penuh sayang, dia mengubur mimpinya sendiri. Jadi, apa bedanya aku dengan babi? 

Memang sulit mengakui bahwa babi seperti aku adalah binatang. Sebab, aku membantu temanku yang kesusahan mengintegralkan suatu fungsi atau yang macet dalam menentukan jarak antara garis dan bidang pada balok. Selain itu, aku juga aktif dalam kegiatan – kegiatan manusia di kampus, sering ke gereja dan kadang – kadang mampu berpikir jernih. Namun, meskipun begitu, tetap tak bisa disangkal, bahwa dari semua remaja yang menginginkan bangku untuk kuliah tapi tak mampu, aku adalah seorang babi berkaki dua yang paling tak tau diri. 


Sudah kudapatkan beasiswa dari pemerintah daerah. Beasiswa yang kuyakin setiap orang menginginkannya, sebab semua keperluan untuk kuliah dipenuhi. Uang sakupun diberikan, tak ada kurang. Tugasku hanya bangun pagi, makan dan belajar. Oleh Bupati Nias Barat, aku dan teman – temanku sengaja disiapkan untuk menjadi pendidik yang tangguh. Seperti pohon di depan rumahku yang tumbang 15 tahun yang lalu, demikianlah sekarang mimpiku menjadi guru itu. 

“Bagaimana cara agar kau diam sebentar saja!?” Tanyaku keras, seiring hujan yang tiba – tiba turun sangat deras.

Semakin kesini, Mas Canan semakin diam. Kecut nyalinya melanjutkan cerita, karena melihat mukaku gersang. Beranjak dia dari lorong itu menuju toilet, lalu kembali melewati lorong itu tanpa menyapaku, menuju teras rumah makan. Tinggallah aku sendiri di lorong itu. Dengan begitu, sebagai babi, itu adalah waktu yang baik bagiku untuk membanting kepala di tembok, menggesek – gesekan kulit punggung ke tembok dan kadang – kadang meninju lutut sendiri. Belum sempat berdarah – darah, segera kuhentikan ketika ada pengunjung yang memesan jeruk panas. 

Malam itu, dingin dan sepi. Keadaan itulah yang membuatku terus mengenang malam batu karat hewani itu dan aku mengalami depresi. Lampu – lampu yang sama sekali tak indah menyala – nyala menutupi gelap, bunyi sirine patroli polisi yang menjengkelkan meraung – raung mencari penjahat, detak jantung jam yang membosankan menggertak – gertak karena sudah mulai tampak satu atau dua wanita biduan yang membuat sakit kepala bergoyang – goyang di lampu merah sana mencari lelaki. Semua yang ada disini tak menyenangkan dan membuatku muntah. Pukul 10 malam rumah makan tutup, hujan semakin deras, Didi Kempot berhenti bernyanyi dan aku sekarang benar – benar ingin pulang.



Joni Sadarlah Halawa
IG: @jonisahal
Email: sadar2johal@gmail.com

Posting Komentar untuk "Short Stories: Babi Rumah Makan Hijau 2"