SE 05 Mengatur Volume Pengeras Suara Masjid dan Musala - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SE 05 Mengatur Volume Pengeras Suara Masjid dan Musala


Cocokpedia menulis artikel Soal Berisik atau Bising Pun Diatur oleh Negara pada Desember 2021 kini menjadi surat edaran bernomor 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. 


Masih ingat kasus dipenjaranya ibu Meiliana karena mengeluhkan suara azan? Ibu Meiliana divonis 18 bulan kurungan penjara oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Medan, pada Selasa 21 Agustus 2018 lalu padahal iya hanya curhat di warung dengan para tetangga karena suaminya yang sakit tidak bisa tidur dengan suara azan yang sangat nyaring. Ia divonis telah menistakan agama. Selain itu terjadi kekerasan dan pengrusakan atas hak ibu Meiliana.

Nah, dengan terbitnya surat edaran Kementerian Agama Republik Indonesia (kemenag RI) ibu-ibu atau para tetangga masjid sudah bisa bernapas lega. Pengeras suara masjid sudah dibatasi penggunaannya bahkan volume suaranya diatur agar tidak mengganggu ketentraman warga di sekitar masjid.




Cocokpedia merasa sangat salut kepada Gus Yakut selaku menteri Agama RI yang telah mengeluarkan surat edaran bernomor 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Benar, agama bukan untuk gagahan atau memanggungkan egoistik di bumi Pancasila.


Berikut beberapa item yang tertuang dalam SE nomor 5 tahun 2022. Penggunaan pengeras suara pada masjid/musala mempunyai tujuan:

1. Ketentuan Umum

  • mengingatkan kepada masyarakat melalui pengajian AlQur’an, selawat atas Nabi, dan suara azan sebagai tanda masuknya waktu salat fardu;
  • menyampaikan suara muazin kepada jemaah ketika azan, suara imam kepada makmum ketika salat berjemaah, atau suara khatib dan 
  • penceramah kepada jemaah; dan menyampaikan dakwah kepada masyarakat secara luas baik di dalam maupun di luar masjid/musala.

2. Pemasangan dan Penggunaan Pengeras Suara

  • pemasangan pengeras suara dipisahkan antara pengeras suara yang difungsikan ke luar dengan pengeras suara yang difungsikan ke dalam masjid/musala;
  • untuk mendapatkan hasil suara yang optimal, hendaknya dilakukan pengaturan akustik yang baik;
  • volume pengeras suara diatur sesuai dengan kebutuhan, dan paling besar 100 dB (seratus desibel); dan
  • dalam hal penggunaan pengeras suara dengan pemutaran rekaman, hendaknya memperhatikan kualitas rekaman, waktu, dan bacaan akhir ayat, selawat/tarhim.

3. Tata Cara Penggunaan Pengeras Suara

a. Waktu Salat:

1) Subuh:
  • sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur'an atau selawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) menit; dan
  • pelaksanaan salat Subuh, zikir, doa, dan kuliah Subuh menggunakan Pengeras Suara Dalam.

2) Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya:

  • sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur'an atau selawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) menit; dan
  • sesudah azan dikumandangkan, yang digunakan Pengeras Suara Dalam.

3) Jum'at:
  • sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur'an atau selawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) menit; dan
  • penyampaian pengumuman mengenai petugas Jum’at, hasil infak sedekah, pelaksanaan Khutbah Jum’at, Salat, zikir, dan doa, menggunakan Pengeras Suara Dalam.
  • Pengumandangan azan menggunakan Pengeras Suara Luar.

3. Kegiatan Syiar Ramadan, gema takbir Idul Fitri, Idul Adha, dan Upacara Hari Besar Islam:

  • penggunaan pengeras suara di bulan Ramadan baik dalam pelaksanaan Salat Tarawih, ceramah/kajian Ramadan, dan tadarrus Al-Qur’an menggunakan Pengeras Suara Dalam;
  • takbir pada tanggal 1 Syawal/10 Zulhijjah di masjid/musala dapat dilakukan dengan menggunakan Pengeras Suara Luar sampai dengan pukul 22.00 waktu setempat dan dapat dilanjutkan dengan Pengeras Suara Dalam.
  • pelaksanaan Salat Idul Fitri dan Idul Adha dapat dilakukan dengan menggunakan Pengeras Suara Luar;
  • takbir Idul Adha di hari Tasyrik pada tanggal 11 sampai dengan 13 Zulhijjah dapat dikumandangkan setelah pelaksanaan Salat Rawatib secara berturut-turut dengan menggunakan Pengeras Suara Dalam; dan
  • Upacara Peringatan Hari Besar Islam atau pengajian menggunakan Pengeras Suara Dalam, kecuali apabila pengunjung tablig melimpah ke luar arena masjid/musala dapat menggunakan Pengeras Suara Luar.

4. Suara yang dipancarkan melalui Pengeras Suara perlu diperhatikan kualitas dan kelayakannya, suara yang disiarkan memenuhi persyaratan:
  • bagus atau tidak sumbang; dan
  • pelafazan secara baik dan benar.
Nah ini baru cocok. Berikut surat edaran bernomor 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala secara lengkapnya dapat diunduh pada tautan link di bawah ini.



Posting Komentar untuk "SE 05 Mengatur Volume Pengeras Suara Masjid dan Musala"