Hana Fatwa: Mr. Sleepy (002) - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hana Fatwa: Mr. Sleepy (002)

Lanjutan Short Story by Hana Fatwa. 


              “Ayah…” Nuning, adikku tiba-tiba muncul. Wajahnya ditekuk.

          “Ada apa?” ayah belum beranjak dari tempatnya, kali ini memilah bahan-bahan plastik.

Tanpa berkata, disodorkannya sebuah surat kepada ayah. Amplopnya berkop, bertuliskan nama sekolah Nuning, SMP Tri Satya. Tanpa harus membaca isinya pun, aku bisa menebaknya dari raut wajah ayah. Tunggakan SPP. Entah, ini kali keberapa.

          “Sebelum Senin ini harus lunas, yah. Kalau tidak, Ning terpaksa dikeluarkan dari sekolah”.

          Mata Nuning berair, seperti mataku. dan aku juga melihat air itu di mata ayah.

***

          “Pecat!”

          “Keluarkan!”

Suara anak-anak IPA-2 bersahutan di luar kantor kepala Sekolah. Tampak Jim di barisan paling depan. Berkoar-koar diikuti puluhan teman sekelasku. Bapak kepsek dan beberapa guru lainnya mencoba menenangkan. Diam-diam aku menghilang dari kerumunan.

Saat yang begitu kutakutkan datang juga! Perasaanku tak bisa terbahasakan lagi. Mengintip dari balik jendela ruang kepsek tadi, bisa kutangkap raut wajah ayah yang pasi. Perasaanku sama kalutnya dengan dirinya saat ini. Hari ini, vonis itu harus ayah terima. Aku bahkan tidak menyangka sebegitu cepatnya. Dan lihatlah, apa yang bisa kulakukan? Aku anaknya, aku juga muridnya, seharusnya aku ada untuk mempertahankannya tetap di sini, tapi nyatanya, aku lebih tak siap semua orang tahu segala tentangku. Aku egois? Mungkin. Tapi, bukankah sudah kuperingatkan sebelumnya, sebelum ayah memutuskan pergi malam itu, seminggu yang lalu.

“Ayah harus pergi sekarang, nak… Nuning harus tetap sekolah!”

“Ini masih baru isya’, ayah. Ayah pasti kelelahan nanti. Besok ayah harus ngajar, kan?”

“Ayah tak punya pilihan lain, nak”

Aku tak punya bahasa lagi untuk mencegah ayah pergi. Aku tahu, ayah tak salah, tapi bagiku dia keras kepala!

Andai saja, selama seminggu ini ayah menuruti kata-kataku, mungkin kejadiannya tidak akan seperti saat ini.

          “Ini salah ayah, nak? Toh, ayah tidak mencuri.” Percakapan kami malam itu muncul begitu saja memenuhi benakku.

          “Tapi, ayah terlalu kelelahan sampai-sampai tidak professional dengan tugas ayah”

          “Sudah ayah bilang, ayah terdesak. Ayah tak punya pilihan, nak. Mereka hanya bisa  mengolok ayah, tapi apa yang bisa mereka lakukan untuk ayah? Untuk kita? Apa?!”

          “Maafkan ayah…”

Kali ini aku tidak tahu, apakah pantas ayah meminta maafku. Aku bahkan tidak tahu, siapa yang salah?

          Kalaupun aku harus membela ayah saat ini, mereka tak akan mau mendengar. Di mata mereka ayah tetap salah! Seminggu ini, kebiasaan buruk ayah semakin menjadi di kelas. Mungkin karena selama ini ayah lembur sampai pagi, di kelas ayah ketiduran sampai teman-teman sekelasku diam-diam meninggalkan kelas. Karena kepergok bapak kepsek, kami sekelas dapat point. Hal itu yang memicu amarah teman-teman sekelas. Mereka tidak bisa mengkompromikan lagi perbuatan ayah. Maka, hari ini terjadilah! Kemungkinan terburuk yang begitu kutakutkan sejak awal.

          Bayangan ibu, Nuning, Dean, dan tumpukan barang barang bekas di pojokan rumah menyesaki pikiranku, bergantian dengan wajah teman-temanku; Jim, Tania, Dido, Gion.

          Tuhanku?! Kususut cepat airmataku, mencoba menghapus segala resahku.

Buatlah sebuah pilihan, Dewi… Sekarang!

***

Mungkin saja aku mengambil pilihan yang salah, saat harus kuungkap semuanya. Wajah mereka, orang sesekolah, masih kuingat jelas. Raut ketidakpercayaan, dan mungkin aku sendiri yang menghancurkan reputasiku. Aku memang tidak sesempurna yang mereka lihat. Yah, mungkin aku salah menghancurkan nama baikku sendiri. Tapi, aku tak peduli. Yang kutahu saat itu, aku Dewi, anak ayah. Anak Pak Azzam, juga murid Mr. Sleepy yang begitu mereka benci. Yang harus mereka tahu, ayah tidak salah, Mr. Sleepy mereka tidak seburuk perkiraan mereka. Ini bukan soal kebiasaan, tapi desakan keadaan.

“De…” Aku mendengar suara itu lamat. Suara ayah.

Seperti mimpi buruk di tengah malam, ketika kubuka pintu rumah dan mendapati ayah di sana. Bukan dengan baju dinas mengajarnya, tapi dengan baju ‘dinas’ pemulungnya. Berdarah-darah. Ada bekas pukulan di tengkuknya.

Suara-suara dari kejauhanlah yang menyadarkanku akan apa yang terjadi,

“Maliiiiing!”




Alfin Nuha (Hana Fatwa) merupakan nama pena dari Hana Al Ithriyah. Lahir di Sumenep, 22 Desember 1986. Cerpen (short story prompt) pertamanya dimuat di Surabaya Post. Paling sulit buat tulisan bertema cinta. Paling suka bikin tulisan bertema humaniora. Kumpulan cerpennya terpilih sebagai juara ketiga dalam Sayembara Penulisan Buku PuskurBuk KemendikBud Nasional pada tahun 2012. Kumcer Selaksa Rindu Dinda (GIP, 2004), Kumpulan cerpen (short stories) My Valentine (GIP, 2006), Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis (Muara Progressif, 2009), Kumcer Layang-Layang Kertas (Matapena, 2010), Cerita Cinta Ibunda – Kumpulan Esai Juara (Qanita_Mizan, 2011), Novel Gadis Bermata Ruby (PMU, 2014), Antologi Selamanya Santri vol. 1 dan 2 (Kun Fayakun, 2019), Antologi Catatan Harian Terakhir Jessica (Kun Fayakun, 2019), Antologi Oleh Pemenang NulisBuku Indonesiana, Tor Tor Untuk Amang (KemendikBud, 2019).


Posting Komentar untuk "Hana Fatwa: Mr. Sleepy (002)"