Hana Fatwa: Mr. Sleepy (001) - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hana Fatwa: Mr. Sleepy (001)

Short Story by Hana Fatwa. 


“Pagi, anak-anak…”

          “Malam, Pak!”

Itu password khas Mr. Sleepy yang selalu dijawab asal oleh seantero sekolah.

          Mr. Sleepy. Baru dua minggu yang lalu ia dipindahtugaskan ke sekolahku, tapi siapa yang tidak kenal guru satu ini. Semua tahu, Mr. Sleepy yang selalu datang terlambat dan sering mengantuk ketika mengajar di kelas. Walaupun di sisi lain, ia dikenal murah senyum dan murah memberikan nilai, tapi tetap saja teman-teman tidak simpati padanya. Parahnya, ia didaulat sebagai wali kelasku, menggantikan Bu Menik yang cuti karena hamil tua.




          “Naas banget deh kelas kita! Masa’ kita dapat wali kelas model begituan? Gak gaul! Gak ilmiah banget!” si Jim, sang ketua kelas bersungut.

“Ho-oh. Belajar jadi gak semangat, bawaannya males mulu!” Desta menyambung.

“Kalo menurut gue sih, mending tu guru berhenti ngajar aja! Males gue!” si Jim, cowok superkiyut itu kembali bersuara.

Gile lu, man! Maen pecat aja! Mentang-mentang bokap lu donatur tetap di sekolahan ini!” Melky berkomentar.

 “Daripada kita gak ada perkembangan gini? Lama-lama kita bisa ketularan penyakit kronisnya, tuh!” argumennya.

          “Gue mah udah ketularan dari kapan hari!” si Gion menyahut dari pojokan.

          “Alah, lu mah bukan ketularan, tapi emang dari sononya punya penyakit sama” Dido, di sebelahnya mengacak-acak rambut Afro Gion.

Anak itu mengelus-elus rambutnya yang susah diatur, “maksud gue, stadiumnya tambah parah sejak kedatangan tu bapak”

“Alaah… bilang aja lu seneng dapat supporter!”

Gion nyengir kuda, “tapi, emang nikmat banget lho tidur di kelas. Sumpe gue! Cobain aja!”

          Teman-teman geleng-geleng kepala mendengar jawaban asal Gion. Si Dido mengacak-acak rambutnya lagi, “Dasar tukang molor lu, Gi! Ntar deh gue bikin kompetisinya buat lu sama Mr. Sleepy. Kali aja iler lu bisa laku mahal di pasar loak!” Dido bersungut, sementara Gion di dekatnya cuek-cuek saja dan meneruskan hobinya, tidur!!!

          “Oalah, Gi, Gi… bawa bantal aja lu sekalian!”

          “Dasar Mr. Sleepy junior!” si Dido mengacak rambut Gion gemas.

          “Sst… Mr. Sleepy dateng, tuh!” suara Terry membuat suasana kelas sepi seketika.

          “Pagi, anak-anak!” Mr. Sleepy menyapa dengan gaya khasnya.

“Malam, Pak!” jawaban yang masih sama.

          “Paginya udah telat, Pak!” si Nino menyahut dari bangku belakang, diikuti gelak tawa teman-teman sekelas. Dan seperti biasa, Mr. Sleepy hanya tersenyum.

Yah, memang tidak ada yang menyukai Mr. Sleepy. Tak terkecuali aku. Masalahnya sekarang, Mr. Sleepy adalah ayahku!

***

Namanya Azzam, sebelum julukan itu disandangnya. Tapi, tak seorang pun di sekolah tahu bahwa dia ayahku, karena sejak ayah dipindah tugaskan ke sekolahku, aku menutup rapat-rapat identitasku. Awalnya, tujuanku hanyalah untuk keefektifan belajar-mengajar. Apalagi, secara kebetulan, ayah menjadi wali kelasku. Sejauh ini, baik aku ataupun ayah cukup berhasil menyembunyikan identitas kami, karena wajah kami sama sekali tidak mirip. Aku lebih mirip ibu. Walaupun tidak jarang, teman-teman meledekku sebagai anaknya, karena mereka tahu aku anak Pak Azzam. Kalau tidak kupedulikan, biasanya kujawab asal saja, "emang Azzam cuma satu di dunia?!" dan itu jawaban telak buat mereka.

Keinginanku menutupi identitas ayah semakin mantap, ketika julukan tak mengenakkan itu harus disandang ayah. Aku? Dewi, sang juara kelas punya ayah yang hobi mengantuk di kelas? Ih, memalukan sekali! Bisa-bisa pamorku di sekolah turun drastis dan aku tidak mau mereka menjadikanku bahan olokan mereka, seperti halnya mereka mengolok ayah.

“De, ntar sore boleh main ke rumahmu, gak? Gue pengen belajar bareng. Ada sebagian materi Kimia yang gak gue ngerti” Jim yang diam-diam sejak lama menyita perhatianku tiba-tiba mencegatku sepulang sekolah.

 “Cielee… belajar apa belajar?” Tania, teman sebangkuku yang tiba-tiba mengekor di belakang kami, meledek, “tumben lu gak cerdas gitu? Biasanya, semua materi lu babat habis. Jadi curiga gue!”

“Suka-suka gue dong, Tan. Ya, kan, De?” Jim mengedipkan matanya ke arahku, Nyaris, aku pingsan! Oh, God! He’s so cute!! Lu sadar gak, sih, udah berapa lama diam-diam gue simpan harapan ini, Jim? tapi sekarang, kenapa gue ngerasa gak siap gini?

Tuhanku! Tolong…

Hello, girl? Are you there?” Tania melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.

Aku gelagapan.

“Kok malah bengong sih, De? Tu si Jim harap-harap cemas menanti jawaban… (hehe… kayak judul lagu PADI aja!)”

“Boleh kan, De?” Jim memandangiku lagi, penuh harapan.

“Ke..ke rumah?” Duh, kenapa jadi salah tingkah gini, sih?

Jim mengangguk, “gue kan gak pernah ke rumah lu, De”.

Duh, gawat! Semua bayangan rumah dengan segala tetek bengeknya muncul begitu saja. Aku jadi tidak siap kalau Jim tahu seburuk apa keadaanku, terlebih keluargaku. Tak bisa kubayangkan, bagaimana kecewanya Jim setelah tahu bahwa aku tak seperfect yang dia tahu. Dan satu lagi, ini yang paling kutakutkan. Ayah. Lagi-lagi, aku tak bisa membayangkan reaksinya ketika dia harus tahu bahwa Mr. Sleepy yang begitu dibencinya adalah ayahku!

          Hey, what can i say?

          “Aduh, sori banget deh, Jim. Ntar sore gue gak bisa. Gini aja, besok gue bawa catatan Kimianya deh, kita belajar di kelas aja, okey?” Surely, aku tahu Jim kecewa, tapi aku tak punya pilihan lain.

          Sometimes, we’ve to be selfish, if we wanna be a perfect guy though we’ve to be a liar!

***

          “Berubahlah, ayah! Bisa gak, sih?!” aku tak lagi bisa menguasai emosiku.

          “De…?” suara ibu terdengar dari dalam bilik, menegurku.

Aku bersungut, “Abis, ayah sih, bu. Tiap ngajar ngantuk terus, sampai-sampai dapat julukan Mr. Sleepy segala. Khan Dewi malu!”

          “Tapi khan gak ada yang tahu, nak?”

          “Iya sekarang, nah besok-besok? Mo Dewi taruh dimana nih muka, kalau akhirnya mereka tahu? Ayah denger Dewi, gak, sih?!” aku mendengus, melihat ayah tak acuh, sibuk memilih-milih kaleng bekas.

          “Ayah!”

Ayah menoleh sekilas. Hanya sekejap.

          “Dewi susah payah membangun reputasi Dewi di sekolah. Mempertahankan predikat Dewi sebagai juara kelas. Membuat semua orang bangga pada Dewi, menaruh banyak harapan pada Dewi, dan ayah tahu, itu gak mudah, yah! Dewi sendiri yang mempertahankan semuanya sendiri! Dan sekarang, tiba-tiba ayah datang. Lihat apa yang ayah lakukan? Ayah membuat Dewi nyaris kehilangan semua itu!”

          Mataku berair, ketika ayah menatapku.

          “Maafkan ayah, nak. Ayah sudah mencoba, tapi tetap saja. Ayah kelelahan, nak…”

          “Kurangi jam kerja ayah. Ayah bisa kerja sore hari, kan?”

          “Sore hari saja hasilnya gak akan seberapa, nak. Kita butuh dapat uang segera. Ibumu harus segera dioperasi. Obat yang kemarin-kemarin saja belum ayah lunasi”.

Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Mungkin ayah benar, gaji bulanan menjadi guru tidaklah seberapa. Tidak sebanding dengan biaya hidup di kota yang semakin tinggi. Sementara, semakin hari penyakit ibu semakin parah dan butuh biaya operasi segera. Belum lagi, biaya sekolahku dan dua orang adikku, Nuning dan Dean. Benarlah pepatah, guru ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Jasa besar mereka tak dihargai sebagaimana layaknya. 



Sumber gambar: https://thumbs.dreamstime.com/

Posting Komentar untuk "Hana Fatwa: Mr. Sleepy (001)"