Hana Fatwa: Kapak Ibrahim (The End) - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hana Fatwa: Kapak Ibrahim (The End)

 

“Wak ajiih...” Ochim lagi-lagi muncul dengan tiba-tiba.

“Kamu di sini juga, cong?”

Nggihh, wak ajiih, hehe..” Ochim nyengir seperti tanpa beban. Sangat kontras dengan wajah orang-orang yang hampir semuanya tegang dengan kejadian itu. Aku tersenyum dalam hati. Anak ini benar-benar berbeda, gumamku dalam hati.

“Mma..af, nggih, wak ajiih.. tadi ssubuh O-ochim tak ke mmesjid. Bangun kessiangan, hehe...”

Aku tergelak kecil memaklumi. Ochim bisa bangun kesiangan juga ternyata.

^*0*^

Berita tentang ambruknya roller coaster kelereng itu masih menjadi pembicaraan hangat di kampung Kemisan. Kabar terbaru, agar tidak jadi perkelahian antargenk, terpaksa pihak kepolisian mengusut penyebab kejadian ini. Genk Gepeng tetap bersikukuh, genk Salim yang sengaja membuat arena permainan kelereng itu goyah sebelum pertandingan hari itu, karena takut Gepeng menang dan mengambil hak milik roller coaster nya.

“Sudah pasti Salim tu, Pak. Siapa lagi? Cuma genk Salim yang nongkrong di arena itu. Di depan rumahnya, lagi. Gampang banget mau diapain aja tuh arena, Pak.” Gepeng tetap dengan pendiriannya. Teman-teman genk-nya kompak membenarkan.

“Jangan asal ngomong lu! “ Salim memperlihatnya tinjunya.

“Sabar, bos!” teman-teman genk-nya menenangkan.

Gepeng nyengir kecut, “banci lu!”

Kali ini Salim benar-benar meninjunya. Pak Polisi segera memisahkan.

“Sudah! Sudah!!! Semua perlu bukti. Tidak ada yang berhak menuduh. Bapak minta kalian mau bekerjasama dengan baik sampai kasus ini selesai. Dan untuk sementara, kalian semua kami tahan.” Pak Wiryo memberi instruksi kepada anak buahnya untuk memasukkan mereka ke dalam sel yang berbeda. Mereka gaduh menggerutu.

^*0*^

          Kabar tentang kejadian arena kelereng roller coaster itu masih belum reda juga. Kepolisian terus mencari bukti. Salim, Gepeng, dan teman-temannya masih meringkuk di sel. Sebagai orang yang dituakan di kampung ini, aku merasa perlu tahu sampai dimana persoalan ini diusut. Secara kebetulan, aku bertemu Pak Wiryo dan anak buahnya di bekas arena permainan kelereng itu dalam perjalanan ke mesjid. Mereka sedang memeriksa reruntuhan arena itu.

          “Assalamu’alaikum, Pak Wir,” sapaku.

          “Wa’alaikumsalam. Eh, Pak Haji,” balasnya sopan.

“Gimana perkembangannya, Pak?”

Pak Wiryo panjang lebar menjelaskan. Ambruknya arena itu ternyata karena beberapa paku pada bambu-bambu penyangganya banyak yang terlepas, atau sengaja dilepas, karena jika memang terlepas dengan sendirinya, paku-paku itu pasti jatuh di tempat yang tak jauh dari arena.

“Lagipula, kalau memang hanya copot, tidak mungkin copotnya bersamaan begini, Pak Haji. Ini pasti sengaja dilepas.”

Aku manggut-manggut, “lalu, kalau memang disengaja, siapa kira-kira pelakunya?”

“Itu yang sedang kami selidiki, Pak Haji. Baru saja kami menemukan bukti di dalam laci bangku itu.” Pak Wiryo menunjuk bangku persegi tak jauh dari arena yang ambruk itu.

“Bukannya bangku itu tempat duduk Salim?”

“Ya. Menurut keterangan beberapa orang saksi, memang begitu. Mari, Pak Haji...” Pak Wiryo mengajakku mendekati bangku itu. Dengan sapu tangan, dibukanya laci bangku itu. Beberapa paku payung berukuran besar dalam jumlah yang cukup banyak ada di sana, ditutupi koran dan ditumpuki beberapa batu besar.

“Dari sampel paku yang saya dapatkan di reruntuhan, pakunya persis sama seperti ini.”

Aku mengamati dengan seksama. Pak Wiryo terus menjelaskan, “Paku pada bambu memang sangat mudah dilepaskan. Tapi untuk ukuran paku sebesar ini, tentu melepaskannya membutuhkan martil pengungkit, Pak Haji. Martil itu yang sampai sekarang belum ditemukan. Dengan martil pengungkit, melepaskannya tidak akan butuh waktu yang lama. Apalagi kayu penopang pipanya tak terlalu tebal...”

Kalimat Pak Wiryo selanjutnya tak kutangkap dengan baik.

Martil.

Aku menggeleng-geleng pelan. Tidak mungkin!

Maghrib itu, di keranjang sepeda onthelnya. Yang digulungnya dalam sarung, bukankah yang kulihat itu martil? Maghrib itu, malam sebelum kejadian.

Subuh itu, ia yang tak jama’ah ke mesjid karena bangun kesiangan. Bukankah arena ini hanya sepi saat subuh? Saat genk Salim yang begadang semalaman kembali pulang untuk tidur? Subuh itu, subuh sebelum kejadian.

Siang itu, ia yang dengan sumringah menyapanya di saat semua orang panik melihat arena roller coaster kelereng itu ambruk ke tanah. Siang itu, siang saat kejadian.

Senyum tanda kemenangan? Aku menggeleng-geleng lagi. Mana mungkin?

Aku tiba-tiba ingat kisah Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala, Latta, Uzza, dan Manat dengan kapaknya, dan mengalungkan kapak itu ke leher berhala yang paling besar, agar orang-orang kafir penyembah berhala itu menyangka pemimpin berhalanya itulah yang menghancurkan berhala-berhala mereka yang lainnya.

Aku mengerti sekarang. Kupandangi arena roller coaster kelereng yang sudah hancur berkeping-keping ke tanah. Arena itulah berhalanya, dan Nabi Ibrahim sedang menjelma dalam diri Ochim. Tapi, kapak Ibrahimnya hanyalah martil pengungkit. Bukankah mudah bagi Ochim mendapatkan martil pengungkit dari bengkel Abahnya?

“Pak Haji...” Pak Wiryo menepuk pundakku pelan.

“Oh..maaf,” aku gelagapan.

“Saya harus kembali ke kantor. Terima kasih atas waktunya,” Pak Wiryo menyalamiku. Kujabat tangannya erat-erat dan berbisik pelan, “Ini arena judi, Pak. Pak Wiryo pasti lebih mengerti apa yang harus Bapak lakukan daripada mengusut kejadian itu.”

Kutepuk-tepuk lelaki muda yang tegap itu. Aku berharap penuh padanya. Ia mengangguk-angguk sungkan. Wajahnya tampak merasa sangat bersalah. Aku tersenyum mafhum. Dari kejauhan terdengar lamat-lamat suara khas Ochim dari pengeras suaranya. Ashar telah tiba.[.]

         

          *Diangkat dari sebuah kisah nyata di kampung halaman;

I believe, every child is special.


Posting Komentar untuk "Hana Fatwa: Kapak Ibrahim (The End)"