Hana Fatwa: Kapak Ibrahim (2) - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hana Fatwa: Kapak Ibrahim (2)

membiarkan kaos oblong dan celana jeans belelnya melekat di tubuhnya yang tambun.

"Nah, gitu dong, Bos! Aku yakin, kalau bos yang kerja, besok kita pasti menang!"

"Yo'i lah! Berani bayar berapa lu besok?" tantangnya.

"Buat bos, sejuta juga lanjuuuuut…" katanya diakhiri suara tawa ngakak lainnya.

"Alah, sompret lu! Ngadepin genk-nya si Gepeng tu bisa-bisa kleper kehabisan duit sebulan lu, men!" suara si Salim ditingkahi suara decitan sepeda onthelnya yang mulai berputar.

"Iya, iya, Bos. Bisa-bisa gak makan sebulan lu, Min."

"Jadi gepeng juga dong…" suara Bahri, anak Pak Syaiful, si tukang becak disahuti suara tawa lainnya, beradu riuh dengan suara berr kelereng yang digilas ban sepeda.

“Pokoknya, di pertandingan minggu depan nanti, genk kita harus menang. Jangan sampai ‘kerajaan roller coaster’  kita dirampas!!!” Salim mengepalkan tinjunya.

“Yo’i!”

“Mantaaaaappp!”

Aku menarik diri dari tempat mengintipku, di balik pohon jambu air tua yang lebat, tepat di belakang bekas mushalla almarhum Haji Sukri yang kini sudah menjelma rupa menjadi lokasi permainan umum. Aku menengadah. Di hadapanku berdiri tegak sebuah bangunan bak roller coaster mini. Aku tak tahu, apa namanya. Aku juga tak tahu sejak kapan jenis permainan ini ada dan siapa pula penemunya.

Ini sebenarnya permainan kelereng biasa. Arenanya seperti pelosotan, terbuat dari pipa air yang dibelah dua lalu ditopang dengan papan kayu yang kutaksir sepanjang 4 meter sebagai penampang, dan dibuat secara bertingkat. Di bagian dalam pipa besar itu paku-paku kecil di pasang secara zig-zag dan dihubungkan oleh senar sebagai batas alur yang harus dilalui kelereng. Bagian atasnya di tutup dengan jejaring kasa besi. Mungkin, agar kelereng yang melaju dari bagian atas tidak melompat jatuh ke tanah. Papan kayu itu dipaku pada bambu-bambu yang ditancapkan ke tanah. Di puncaknya, sebuah botol air minum sedang yang telah dibuang bagian pantatnya dipasang sebagai tempat memasukkan kelereng yang akan diadu. Di ujung sana, di bagian hilirnya, tanahnya dibuat serata mungkin, agar ketahuan dengan jelas kelereng siapa yang jatuh. Siapa yang kelerengnya meluncur dan jatuh lebih dulu di tanah, dialah pemenangnya.

Kalau saja ini permainan kelereng biasa, tak masalah bagiku. Sayangnya, anak-anak muda kampung menjadikan permainan ini sebagai ajang taruhan, judi.  Astaghfirullah!  Aku mendesah berat. Firasatku seminggu lalu benar-benar nyata kini.

Tik! Tik! Tik!

Baru kusadari, gerimis mulai jatuh satu-satu, membasahi koko putihku. Aku bergegas membawa langkahku pergi dengan tongkat kayuku perlahan, agar bunyi ketukannya tak terdengar oleh anak-anak muda itu. Tak kuhiraukan lagi suara mereka yang gaduh menghindari hujan. Aku sendiri berjuang untuk sampai di pelataran mesjid, sebelum hujan benar-benar menderas.

Di tangga mesjid, Ochim ternyata sudah menungguku. Aku melihat sepeda onthelnya di gerbang mesjid. Ia menyambutku dengan senyum polosnya.

"Sssalaam..alaaikum, waak aajih.." seperti biasa, ia mengucapkan salam padaku, dengan lafal yang tidak sempurna.

          "Waalaikumsalam warahmah, nak," jawabku seraya menepuk-nepuk pundaknya, "sudah tadi?"

"Yah, waak ajiih!" Ia mengangguk-angguk.

Aku merasa sangat bersalah. Dia pasti sudah lama menungguku di teras mesjid. Sebagai permohonan maafku, aku bergegas membuka pintu mesjid, menyalakan lampu, dan menyalakan tape recorder, beberapa hal yang biasa dilakukan Ochim, setiap kami baru tiba di mesjid. Sedetik kemudian, suara merdu Syeikh Muhammad Sudais mengalun di antara deru hujan yang kian menderas, membangunkan malam dengan ayat-ayatNya.

Melihatku yang melakukan tugasnya, ia memilih menggelarkan sajadah untukku. Aku berterima kasih dengan mataku yang berkaca-kaca. Ia membalas dengan senyumnya yang tulus. Sedetik kemudian, kami telah larut dalam munajat padaNya.

^*0*^

          Langit sore tak bermega. Petang seharusnya baru akan tiba beberapa saat lagi, tapi matahari di langit barat sudah tak tampak lagi berkas jingga keemasannya. Ia keburu menghilang di balik segulung awan kumulonimbus.[1] Sesaat lagi pasti turun hujan. Padahal seminggu ini hujan turun tak henti-henti. Hari ini saja baru Dzuhur mulai mereda.

Aku semakin mempercepat langkah menuju mesjid. Tak-tuk tongkatku riuh menyapa jalanan aspal. Selain karena khawatir akan turun hujan, aku juga harus segera sampai di mesjid untuk mengecek perangkat tape dan mic untuk diba'an[2] setelah jama’ah shalat maghrib nanti, karena ini malam Jumat. Yah, walaupun yang hadir hanya segelintir saja. Tapi, ini masih sangat lumayan, jika dibandingkan hari-hari biasanya. Hanya ada empat orang; aku, Pak Amir, Pak Halil, dan seorang lagi, Ochim, satu-satunya anak muda di antara kami, tiga orang marbut tua mesjid Jami' kampung ini.

"Salim! Ayo, Salim!"

"Gepeng! Gepeng!"

"Salim!"

"Gepeng! Gepeng!"

Suara gaduh bersahutan menyadarkanku. Di depan rumah almarhum haji Sukri, di tempat bekas mushalla itu, tepatnya di lokasi permainan kelereng itu, puluhan anak remaja berkumpul. Laki-laki, perempuan. Bocah-bocah kecil pun tak ketinggalan. Beberapa duduk menonton di bangku-bangku kayu di sekitar roller coaster kayu itu. Sebagian lagi berdiri berbaris membentuk pagar betis. Padahal, sebentar lagi maghrib. Harusnya mereka semua sudah pulang ke rumah masing-masing, mandi dan bersiap-siap untuk shalat dan mengaji. Dan di antara kerumunan itu, aku menangkap sosok Ochim. Ia berdiri di barisan paling depan, tepat di bawah hulu roller coaster itu. Aneh, tapi aku tak salah lihat. Itu memang Ochim dengan baju koko dan sarungnya yang sering ia pakai. Ochim berdiri dengan tangan bersidekap ke dada.

^*0*^

Namanya Ibrahim. Tapi orang-orang memanggilnya Ochim. Ia anak Pak Munir, pemilik bengkel di pertigaan kampung. Sejak kecil, Ochim menderita kelainan jantung. Kata dokter, ada kebocoran pada katup jantungnya, sehingga kerja jantungnya tidak normal. Ia tidak boleh terkejut atau merasa tertekan. Kalau sampai begitu, tubuh Ochim akan gemetar dan membiru. Bibirnya juga akan berwarna ungu.

        Ochim sebenarnya sudah tujuh belas tahun, tapi sikapnya kadang masih kekanak-kanakan. Mungkin karena selama ini, Pak Munir sekeluarga sangat hati-hati memperlakukannya. Seperti merawat anak kecil yang masih balita. Dulu, waktu Ochim berumur tujuh tahun, Ochim sempat bersekolah. Tapi ternyata, ia tidak mampu. Mungkin karena pelajaran di sekolah membuatnya tertekan, Ochim sering pulang dalam keadaan pingsan dari sekolah. Apalagi, ia tidak bisa membaca. Berbicara saja sangat susah. Pelafalannya cedal, tidak jelas, seperti dengungan, dan sering ngos-ngosan. Akhirnya, Ochim dipaksa berhenti sekolah oleh orangtuanya. Ochim sedih. Ia hanya bisa menonton saat teman-teman seusianya bermain layangan atau sepak bola di lapangan, bertepuk tangan dan hanya tertawa-tawa. Ochim tak mungkin ikut berlari.

Short Story by Hana Fatwa. 


[1] Awan besar rendah, pembawa hujan, kilat, dan guntur.

[2] Membaca kitab yang berisi bacaan shalawat dan riwayat hidup Nabi secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Diba’i.




Alfin Nuha (Hana Fatwa) adalah nama pena dari Hana Al Ithriyah. Lahir di Sumenep, tepat hari Ibu, 22 Desember 1986. Aktif menulis sejak SD. Cerpen (short story prompt) pertamanya dimuat di Surabaya Post. Sempat vakum beberapa kali dan aktif lagi beberapa kali (pula :D). Paling sulit Buat tulisan bertema cinta, paling suka bikin tulisan bertema humaniora. Kumpulan cerpennya terpilih sebagai juara ketiga dalam Sayembara Penulisan Buku PuskurBuk KemendikBud Nasional pada tahun 2012. Beberapa Bukunya yang telah terbit: Kumcer Selaksa Rindu Dinda (GIP, 2004), Kumpulan cerpen (short stories) My Valentine (GIP, 2006), Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis (Muara Progressif, 2009), Kumcer Layang-Layang Kertas (Matapena, 2010), Cerita Cinta Ibunda – Kumpulan Esai Juara (Qanita_Mizan, 2011), Novel Gadis Bermata Ruby (PMU, 2014), Antologi Selamanya Santri vol. 1 dan 2 (Kun Fayakun, 2019), Antologi Catatan Harian Terakhir Jessica (Kun Fayakun, 2019), Antologi Oleh Pemenang NulisBuku Indonesiana, Tor Tor Untuk Amang (KemendikBud, 2019).

Posting Komentar untuk "Hana Fatwa: Kapak Ibrahim (2)"