Cerpen Santai: Pecahan Memori yang Terbenam - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Santai: Pecahan Memori yang Terbenam

Short story by Rozi Ibaddallah 

Takdir seorang manusia tertulis jauh di dalam sel, cerita semegah takdir terbentuk oleh banyak kata yang pendek dan rapuh, kata-kata itu tersusun dari empat macam huruf yaitu A, T, C dan G. Terbatas hanya tiga huruf untuk menyusun sebuah kata seperti CAG, CTG ataupun TAA. Banyak kata yang terbentuk dari kombinasi susunan empat macam huruf adalah 64 kata berbeda satu sama lain. Kata-kata itu merangkai sebuah paragraf cerita, paragraf gen. Manusia setidaknya memiliki 60.000 hingga 80.000 macam paragraf gen dalam tubuhnya, gen-gen tersebut membangun sebuah cerita agung yang tertanam kuat dalam seutas benang takdir. DNA. Takdir yang ku maksud terbatas untuk perkara biologis tubuh manusia. Sederhananya dalam DNA tersimpan informasi biologis seperti gender, warna kulit, bentuk dan ukuran tubuh, serta penyakit yang sedang atau akan dialami seseorang di masa mendatang. Dengan kata lain usia seseorang mungkin telah ditentukan dalam DNAnya. 

Minggu pagi di akhir musim panas, aku duduk di kursi taman hutan kota yang damai, tepat di bawah pohon oak yang teduh, dengan tenang pikiranku melebur ke dalam artikel jurnal ilmiah tentang genetika. Anak-anak kecil berlarian saling kejar satu sama lain, sisanya lebih suka diam di kotak pasir membangun istana imajinasi unik mereka. Seorang pria tua menebar remahan roti di tepi jalan setapak, dalam sekejap kawanan merpati segera mengerumuninya, sungguh menarik untuk dicoba. 




Dari ujung taman, tidak begitu jauh dari tempatku duduk, ku lihat seorang wanita muda berjalan mendekat ke arahku, mungkin 25 adalah angka yang tepat untuk menyebutkan usianya. “Apakah anda Dr. Builth Ginanjar?” Tanya wanita itu sembari menyibakkan rambut panjang sebahunya, ia berdiri tepat di depanku. “Iya saya Builth, ada yang bisa saya bantu?” Jawabku ramah sambil membenarkan posisi. Ada yang familiar dari wanita itu, barangkali aku pernah berpapasan dengannya di suatu tempat. “Saya Annie Octavia mahasiswa S2 Kimia, saya tertarik dengan penelitian anti-aging anda, kebetulan tesis yang saya tulis berkaitan dengan penelitian anda. Saya mendapat rekomendasi dari Dr. Eugene Wiranto untuk belajar dari anda” Terangnya. 

Eugene adalah teman baikku, dulu kami pernah mengerjakan penelitian mengenai kanker otak yang berhasil dipublikasikan dan diakui dunia internasional, pencapaian besar pertama kami. Aku tidak bisa menolak jika Eugene yang memberikan rekomendasi. 

“Baiklah, apa yang ingin Annie ketahui dari penelitian saya?” 

“Pertama, bisa anda jelaskan tentang fungsi lain hormon IGF-1 dalam memperlambat penuaan?” Annie mengeluarkan sebuah alat perekam dari tasnya, tipe pemikir yang malas menulis. “Oke, saya mulai dengan fungsi IGF-1, hormon yang berkontribusi dalam laju pertumbuhan serta laju penuaan manusia” Jawabku. Pagi itu aku menjelaskan segala hal yang ku tahu untuk menjawab setiap pertanyaannya, dia begitu aktif dan membuat diskusi kami begitu menarik, ia tahu banyak hal untuk orang seusianya. “Eugene, kau harus mentraktirku minum untuk ini” Pikirku. 

Setiap gen memiliki fungsi yang sangat mendasar dalam kehidupan. Sebuah paragraf gen memiliki fokus bahasan tersendiri dari paragraf lainnya, setiap gen berfokus untuk mengkode satu macam protein yang spesifik, seperti halnya gen IGF-1 yang spesifik membentuk hormon IGF-1. Tidak jarang suatu gen mengalami perubahan dan kerusakan baik dalam skala kecil atau dalam skala besar. Andai kata dalam suatu paragraf cerita yang terdiri dari sepuluh kata, apabila terdapat kata yang hilang atau mungkin terjadi perubahan urutan kata, perubahan kecil yang menyebabkan masalah yang besar. Perubahan sekecil apapun pada kata berarti merubah gagasan pokok paragraf gen, sebuah mutasi. Gen termutasi akan mensintesis protein yang berbeda dari seharusnya, berbeda bentuk dan fungsi. Sedikit saja perubahan bentuk yang terjadi pada molekul protein maka fungsi spesifiknya akan jauh berbeda dan hanya menjadi sampah bagi tubuh. 

Minggu pagi di awal musim gugur, taman hutan kota masih lelap tertidur, barangkali aku yang bangun terlalu pagi. Di balik ingar-bingar Kota New york, Central Park terasa begitu tenang, langkah kaki tertuju pada kursi taman favoritku di bawah pohon oak tua yang daun-daunnya kian menjingga. Seorang pria tua membawa sekantung penuh remahan roti, ia berdiri tak jauh dari kursi yang ku tuju. “Selamat pagi Mr. Builth” Sapa pria tua itu. 

“Selamat pagi” Sahutku . “Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”. 

“Anda bercanda Mr. Builth, hahaha... aku belum sepikun itu” Pria tua itu tertawa kecil, ia melempar sedikit remahan roti dari kantungnya, tak lama gerombolan merpati datang mengerubunginya, pertama kalinya bagiku melihat pemandangan unik ini. Dari arah yang sama seorang wanita muda berusia sekitar 25 tahun berjalan begitu mantap ke arahku, melewati pak tua yang tengah asyik bermain dengan kawanan merpati. Langkah kaki wanita itu membuat burung-burung terbang ketakutan, pria tua yang malang. 

“Apakah anda Dr. Builth Ginanjar?” Tanya wanita itu. “Iya, ada perlu apa?” Membenarkan posisi dudukku. “Saya Annie Octavia mahasiswi S2 Kimia dari California, mentor saya Dr. Eugene Wiranto merekomendasikan saya untuk mempelajari penelitian anti-aging yang tengah anda kerjakan” Jelasnya. 

“Adakah hubungan antara ukuran tubuh dengan panjang usia hidup hewan?” Wanita itu mengaktifkan alat perekam. “Tipe pemikir cerdas yang malas menulis” pikirku. “Pertanyaan yang menarik, penyebab hubungan dari keduanya sangatlah kompleks, biar saya jelaskan mulai dari hal paling mendasar. Gen.” Jawabku, minggu pagiku berakhir bersama wanita bernama Annie itu. Ia tidak berhenti menghujaniku dengan banyak pertanyaan unik, wanita itu begitu antusias untuk mengungkap rahasia dari mata air keabadian, wanita yang merepotkan. “Eugene harus mentraktirku untuk ini” Pikirku. 

Selain menceritakan kemegahan dan keindahan takdir seorang manusia, dalam DNA juga terselip cerita takdir yang kejam, cerita kutukan dari berbagai penyakit keturunan. Sebuah penyakit bersarang di otak manusia, berbeda dengan kanker otak tapi memiliki penyebab yang sama. Gen. Mutasi gen pada DNA sel otak manusia, lebih tepatnya sel-sel neuron pada cerebrum atau otak besar. Kelainan terjadi pada gen APOE e4 yang normalnya menjadi resep untuk mensintesis Apilopoprotein E e4, fungsi protein ini adalah untuk membangun struktur sel. Mutasi gen APOE e4 menghasilkan protein asing yang hanya menjadi sampah di dalam sel, pada jumlah sedikit protein ini masih dapat dihancurkan oleh sel. Namun, lain cerita jika produksi protein sampah melebihi kemampuan sel untuk menghancurkannya, terjadilah penumpukan protein sampah dalam sel yang menimbulkan plak. Dalam jangka waktu tertentu akan terbentuk rongga-rongga di dalam otak besar, rongga yang disebabkan matinya sel-sel neuron. Secara keseluruhan, hal ini akan menyebabkan penurunan fungsi otak dan kehilngan memori. 

Minggu pagi di akhir musim gugur, jalanan kota New York tetap seramai biasanya. Bau asap knalpot, bunyi klakson mobil, derap langkah kaki serta dering telepon genggam pejalan kaki adalah tanda kehidupan kota. Aku memeriksa daftar belanja, semuanya telah terbeli, entah kenapa aku membeli dua potong roti baguette yang tidak ada dalam daftar. Central Park tidak jauh dari supermarket, aku berencana mampir untuk menenangkan diri sejenak, taman masihlah sepi mungkin karena suhu dingin yang mulai terasa. “Apakah salju akan turun?” menggosok-gosokkan kedua telapak tangan. 


to be continue atau to be continued

Catatan cocokpedia:
Cerpen (short stories/short story) karya Rozi Ibaddallah menyimpulkan bahwa takdir hidup manusia sudah tercatat baik dalam DNA (dna). Dalam struktur dna sudah dituliskan oleh Tuhan apa jenis kulit, warna kulit, kebangsaan, bahasa, bahkan penyakit. Penulisnya mengupas tentang pernyataan tentang kromosom dna dan inti sel yang benar adalah buku catatan Tuhan atas takdir hidup manusia.
Mungkin perlu juga dibahas tentang perbedaan dna dan rna sehingga lebih memukau ceritanya. Tentu dikemas dalam bentuk fiksi ilmiah. Bagaimana pun cerita yang menarik. Sukses!

Posting Komentar untuk "Cerpen Santai: Pecahan Memori yang Terbenam"