Cerpen Santai: Pecahan Memori yang Terbenam 2 - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Santai: Pecahan Memori yang Terbenam 2

Seekor merpati mendatangiku, sepertinya ia mengincar kantung belanjaku. Ku ambil sepotong baguatte dan merobeknya kecil-kecil untuk kuberikan pada burung malang itu. Beberapa merpati lain beterbangan ke arahku, aku telah dikelilingi oleh burung-burung lapar, ada yang bertengger di bahu ada pula yang bertengger di lengan bahkan di kepalaku, meraih-raih potongan baguette yang ku pegang. Hal ini terasa menyenangkan, pengalaman aneh yang baru pertama kali kurasakan, tapi entah kenapa ini tidak terasa asing. 

“Tidakkah itu menyenangkan Mr. Builth?” Seorang pria tua muncul mengejutkanku. 

“Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanyaku heran. “Hahaha.... 

candaanmu tak pernah membuatku bosan Mr. Builth” Pria tua itu mencoba memanggil burung-burung yang sedari tadi mengerubungiku, tampaknya ia juga membawa remahan rotinya sendiri. “Aku tidak melihatmu bersama pacarmu hari ini, apakah kalian sedang bertengkar?” Tanya pria tua yang mulai sok akrab itu. 




“Pacar? Saya tidak paham apa maksud anda” Mengernyitkan dahi. “Wanita yang sering ngobrol bersamamu di kursi itu tiap minggu pagi, obrolan yang memusingkan” Ucap pria tua. Apa yang pria tua itu katakan kini mulai menggangguku, kepalaku terasa semakin sakit ketika memikirkannya. “Siapakah wanita yang ia maksud?” Pikirku. 

Malam hari di sebuah bar kecil dalam perut kota New York, Eugene terlihat menungguku, ia telah usai memesan bir. “Jadi, ada masalah apa Builth?” tanya Eugene tanpa basa-basi. “Aku bertemu seorang pria tua di taman, ia seperti mengenalku tapi aku tidak mengenalnya sama sekali” Jelasku. “Itu saja? dia hanya orang tua pikun, jangan terlalu kau pikirkan” Ujar Eugene mencoba menenangkanku. “Ia juga mengatakan tentang seorang wanita yang selalu datang menemuiku di taman untuk berdiskusi denganku” Wajahku tertunduk menatap gelas beer yang mengembun di meja, aku mencari-cari ingatan yang mungkin terbenam jauh dalam di kepalaku. Aku tidak menemukan apapun. 

Eugene terdiam. “Kapan terakhir kali kau bertemu wanita itu?” Tanya Eugene. “Pria tua itu mengatakan terakhir kali ia melihatku dengan wanita itu sekitar seminggu yang lalu. Tapi aku tidak bisa mengingatnya, mungkin aku telah dibohongi pria tua itu” 

“Wanita itu bernama Annie Octavia” Eugene memotong pembicaraan. 

“Aku tidak ingat pernah kenal dengan wanita bernama Annie Octavia” 

“Baca ini” Eugene menyodorkan beberapa lembar dokumen. “Aku melakukan sebuah penyelidikan kecil. Dokumen itu berisi informasi tentang kedua orang tuamu yang ku dapatkan dari panti jompo di Washington, aku memeriksa sekuens DNA mereka di labku, kedua orang tuamu mengalami mutasi gen yang cukup parah, mutasi itu menyebabkan kerusakan di otak yang berujung kelumpuhan dan penurunan daya ingat, banyak ingatan penting dalam hidup mereka hilang” Eugene menatapku dingin. “Builth, kau tidak ditinggal oleh kedua orang tuamu, lebih tepatnya kau telah dilupakan oleh mereka berdua dan itu diluar kehendak mereka sendiri. Sama seperti mereka, kau pun mengidap Alzheimer”

“Itu tidak mungkin Eugene!” Teriakku dalam kalut, orang lain di bar mulai memperhatikan kami. “Gejala Alzheimer hanya muncul pada manulia di atas usia 60 tahun” Aku menampik semua yang Eugene katakan. 

“Kau mewarisi gen APOE e4 mutan dari kedua orang tuamu sepenuhnya, tidak mustahil bagimu jika gejala Alzheimer muncul di usiamu yang sekarang, bahkan penyakitmu lebih parah dari kedua orang tuamu” Eugene berdiri dan memakai mantelnya. 

“Mau kemana kau?” Tanyaku bernada tinggi. 

“Ada urusan yang lebih penting untuk ku kerjakan daripada harus disini dan melihat otakmu melupakan Annie begitu saja, hanya membuatku semakin geram” Ujar Eugene. 

“Kau tahu, dulu kita mencintai wanita yang sama, seorang ilmuwan yang mengerjakan proyek penelitian kanker otak bersama kita. Aku, kau dan Annie. Kita telah menyelesaikan penelitian itu dengan baik. Setelah mengetahui bahwa Annie lebih memilih untuk mencintaimu, aku memutuskan untuk menjauh dari kehidupan kalian. Bahkan, setelah mengetahui tentang penyakitmu, ia tetap tabah dan menerima kondisimu, tidakkah kau tahu ia begitu menderita mendapatimu berulangkali melupakannya, seolah kalian tak pernah saling kenal sebelumnya” Eugene terdiam sesaat, air mataku keluar dengan sendirinya. “Annie mungkin masih berada di bandara, ia bergegas pergi ke Prancis untuk menemui dokter yang ahli dalam menangani penyakitmu. Pergilah dan temui dia!” 

Malam ini New York terasa lebih memuakkan, jalanan yang macet memperlambatku untuk segera tiba di bandara. Aku benar-benar menyedihkan, aku tidak menyangka dapat melupakan Annie begitu saja. Salju mulai turun memenuhi langit malam, perlahan menyelimuti permukaan aspal dan atap-atap rumah. Bandara lebih ramai dari biasanya, ada kemungkinan terjadi keterlambatan penerbangan, masih ada kesempatan untuk menemuinya. Aku tidak peduli jika Alzheimer terus menelan ingatanku tentangnya, yang perlu ku lakukan hanyalah mengulang kembali, mengulang untuk mencintainya lagi dan lagi seperti awal kita bertemu. Kita yang dulu selalu berdebat dan bertengkar di laboratorium.


back to previous page




***** 



Keterangan kata asing :

Anti-aging: Anti penuaan.
Baguatte: Roti tawar yang bertekstur padat dan bercita rasa gurih, berasal Negara Prancis.
Central Park : Taman hutan Kota New York, Amerika Serikat.


Catatan cocokpedia:
Cerpen (short stories/short story) karya Rozi Ibaddallah menyimpulkan bahwa takdir hidup manusia sudah tercatat baik dalam DNA (dna). Dalam struktur dna sudah dituliskan oleh Tuhan apa jenis kulit, warna kulit, kebangsaan, bahasa, bahkan penyakit. Penulisnya mengupas tentang pernyataan tentang kromosom dna dan inti sel yang benar adalah buku catatan Tuhan atas takdir hidup manusia.
Mungkin perlu juga dibahas tentang perbedaan dna dan rna sehingga lebih memukau ceritanya. Tentu dikemas dalam bentuk fiksi ilmiah. Bagaimana pun cerita yang menarik. Sukses!

Posting Komentar untuk "Cerpen Santai: Pecahan Memori yang Terbenam 2"