Cerpen Santai: Bangunan Tua - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Santai: Bangunan Tua

Short Story by Widya Bekti Puspitarini 

Angin tampak cocok menemani langkahku meyusuri jalan setapak nan luas. Menuruti keinginan langkah menapaki kedamaian. Mulai senja, perlahan sang surya kembali dalam peraduan. Jalan setapak ini tampak begitu indah dengan pemandangan tumbuhan ilalang yang bergoyang mengikuti arah angin seakan-akan menemaniku berjalan. Hingga aku berhenti tepat di ujung jalan, tampak bangunan tua yang ditumbuhi rerumputan yang tinggi menjulang. Entah magnet darimana yang menarikku membawa dekat banguan tua itu. Kubuka pintu bangunan itu terlihat jelas di dalamnya perabotan yang sudah tua dan keropos. Aku mulai menyusuri setiap inci rumah itu. Kain putih yang mulai berubah warna dan kumal digunakan untuk menutupi beberapa perabotan. Tiba-tiba ada sosok kakek tua duduk menghadap pada sebuah lukisan kusam. 

“Apa yang anda lakukan disini?” Tanya Sang Kakek dengan lirih 

“A..ak..aku hanya berjalan-jalan Kek.” Jawabku kaget. 

Brakk.. aku langsung menengokkan kepalaku kesumber suara namun, tidak ada apapun. Kakek itu menghilang, lukisan tua itu juga tidak ada. Aku terdiam. Kakiku terasa sangat berat. Kulirik kekanan dan kekiri tidak ada siapapun disana. Seketika aku langsung berlari keluar dari bangunan tua itu. Badanku terasa tidak karuan. Aku menuju rumah dengan perasaan campur aduk. Saat aku sudah sampai di rumah, Ayah dan Ibu sudah menunggu di depan rumah. 


“Kemana saja Nak, ini sudah maghrib kenapa baru sampai rumah? Kami sangat mengkhawatirkanmu bahkan kami keliling desa mencarimu.” Tanya Ayahku dengan rasa khawatir yang sangat ketara. 

“Ma..ma..maaf Ayah, tadi Aku hanya bermain di bangunan tua yang berada di ujung jalan ini yah.” Jawabku dengan menundukkan kepala 

Ayah dan Ibu nampak sangat bingung dengan jawabanku. 

“Bangunan apa yang kamu maksud Nak, sudah jangan ngelantur ayo masuk bersihkan badanmu dan sholat maghrib kita tunggu di meja makan.”

 

Sepanjang malam setelah aku menceritakan pada Ayah dan Ibu, bahkan mereka tidak ada yang percaya padaku. Tidak ada bangunan tua di ujung jalan itu. Ah aku semakin penasaran dengan bangunan dan Kakek tua serta lukisan kusam itu. Aku berniat akan kembali ke bangunan itu. 

Keesokan harinya memang agak mendung tapi cuaca itu tidak mengurungkan niatku untuk kembali ke bangunan tua itu. Niatku sudah bulat untuk kembali ke bangunan tua itu. Saat Aku sudah sampai di depan pintu bangunan itu, kata-kata Ayah kembali berputar dalam pikiranku bahwa Ayah tidak melihat ada bangunan ini padahal jelas bangunan ini berdiri begitu tinggi dan kusam mungkin karna banyak tumbuhan ilalang membuat Ayah tak melihatnya. Rasa penasaranku semakin tebal mengenai bangunan ini. 

Ku langkahkan kakiku menapaki bangunan tua itu. Masih sama, hanya saja suhu ruangan terasa sedikit lebih dingin, mungkin karena mendung. Lukisan kusam itu bahkan sekarang ada di tempatnya tapi tidak dengan Kakek tua. Dimana dia. Perlahan kudekati lukisan tua itu tampak jelas disana terlukis seorang perempuan sedang menari lengkap dengan busana tradisional. Tiba-tiba perempuan itu tersenyum padaku. Jantungku berdetak kencang. Keringat dingin mengucur di keningku. Seperti terhipnotis aku enggan bergerak. Sekarang perempuan itu nyata di depanku bahkan dia menari dengan elok di hadapanku. Aku sangat takut. 

“Kemarilah jangan takut. Aku hanya ingin berteman denganmu.” Perempuan dalam lukisan itu berbicara padaku. 

“Kka..kamu siapa” Jawabku, lidahku kelu rasanya sulit berbicara. 

Perempuan itu bahkan mengabaikan pertanyaanku. Dia menarik tanganku untuk dibawa naik menuju ruangan atas. Ini indah. Sangat indah. Terlihat ada taman yang luas dan indah banyak bunga dan pohon. Seperti taman yang berada di film kartun favoritku. Perempuan itu mengajaku bermain hingga aku dibuatnya lelah. Aku putuskan unuk pulang dan aku akan bermain kemari lagi besok. Perempuan itu menyetujuinya. 

Aku menceritakan kejadian ini kepada Ayah dan Ibu lagi-lagi mereka tidak percaya bahkan Ayah sempat marah padaku dan melarangku untuk keluar rumah. Namun entah daya tarik darimana aku kembali seakan-akan ditarik untuk berkunjung ke bangunan itu. 

Saat aku sudah sampai di bangunan itu, perempuan itu bahkan sudah menungguku di halaman rumah sambil menari. Kupikir dia memang seorang penari. Gerakan tarinya sangat gemulai. Perempuan itu kembali mengajakku masuk seperti sebelumnya, membawaku naik menuju taman itu. Tapi saat aku sedang menikmati pemandangan indah di taman itu. Dia mendekatiku dengan sebuah belati tajam di tangan kanannya. Bahkan kelewat tajam karena tampak jelas mengkilat. 

“Apa yang akan kamu lakukan.” Tanyaku terheran.

Sepertinya dia memang irit bicara namun tatapan matanya sepertinya menggelap dia mengarahkan belatinya kepadaku. Jantungku seakan-akan ingin melompat Aku sangat takut sekuat tenaga Aku mencoba berlari. Namu bagaimana bisa bangunan tua ini seperti kehilangan pintunya. Aku harus segera keluar dari sini, entah bagaimanapun caranya. Perempuan itu semakin mengejarku dan mengacungkan belatinya. Langkahnya jauh lebih cepat dari yang Aku kira. Andai saja Aku mendengarkan kata-kata Ayah pasti tidak akan seperti ini. Ayah tolong Aku. Ayah maafkan Aku. Kakiku sudah sangat sakit. Dan disinilah aku di bawah kolong meja. Terdengar jelas langkah kaki perempuan itu. Sebenarnya apa yang dia inginkan kenapa dia mau menancapkan belati itu padaku. Apa salahku. 

Braakkk.. meja tempatku bersembunyi ditendang olehnya. Tubuhku didorong hingga terhantam dinding. Ini sangat menyakitkan. Aku sudah tidak mampu lagi untuk menghindar. Perempuan itu dengan mudah meluncurkan belati itu padaku. 

Aaaa… Aku membuka mata dengan beratnya. Terdengar suara ketukan pintu. Bahkan cahaya matahari tanpa permisi menyusup ke kamarku. Jam dinding menjunjukan pukul 06.30. Ya Tuhan aku terlambat. Ah mimpi itu!

 

 



Widya Bekti Puspitarini
IG @widyabektip
Email: widyabekti85@gmail.com

Posting Komentar untuk "Cerpen Santai: Bangunan Tua"