Anak Pecinta Mentega - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anak Pecinta Mentega

Short Story by Ni Nyoman Ayu Nancy Indriani

Albert adalah anak pertama dari Hannah, seorang petani miskin yang sering sakit-sakitan. Sejak suaminya meninggal, Hannah bekerja membanting tulang sendirian demi menghidupi ke empat anaknya yang masih kecil-kecil. Hari itu Hannah, ibunya albert demam tinggi, walau gelisah Albert berusaha merawat Hannah dengan seadanya, mengompres dengan kain yang sudah dicelupkan kedalam campuran air hangat yang dibuatnya tadi. Albert berharap demam Hannah bisa turun. Sepanjang malam Albert terjaga memastikan mengganti kain kompres Hannah saat sudah dingin dengan kain hangat lagi.

 Adik-adik Albert sudah tertidur. Demam Hannah pun sudah turun. Hannah tiba-tiba bertanya pada Albert "apakah kamu sudah makan Albert?", "belum Ibu", jawab Albert. Kemudian Albert bertanya pada Hannah, "apakah Ibu lapar?,Ibu tenang saja nanti aku akan pergi ke kota untuk membeli makanan.” “ Albert maafkan ibu tidak bisa menyiapkan makanan untukmu dan adik-adikmu", kata Hannah dengan menyesal. Albert membalas "tidak apa-apa Ibu, yang penting Ibu istirahat dulu sekarang biar segera sembuh."




 Hari itu Albert terus berpikir mencari cara untuk mendapatkan obat dan makanan untuk keluarganya . Sejenak ia teringat akan Gwen, seekor sapi betina yang ada di kandang. Albert ingat, Gwen bisa menghasilkan susu. Kemudian dia segera pergi ke kandang dan memerah susu sapi tersebut. Setelah dirasa cukup, Albert kemudian menuang susu hasil perahannya itu kedalam wadah botol kaca yang bersih. Lumayan dari hasil memerah susu sapi Gwen, dia mendapatkan dua buah botol susu. " Susu ini bisa aku jual ke kota", pikir Albert dengan mata berbinar. 

Setelah selesai menyiapkan susu tersebut Albert kembali ke rumah dan menemui Hannah dikamarnya. Dengan hati-hati Albert menjelaskan rencananya kepada Hannah tentang keinginannya untuk pergi ke kota. Meski dengan berat hati Hannah terpaksa menyetujui niat putranya tersebut. Dini harinya Albert berangkat ke kota. Di perjalanan albert terus bernyanyi dan berdoa agar diberi petunjuk oleh yang Mahakuasa. Bagi Albert ini adalah perjalanan kesekian kalinya menuju kota, karena dulu dia sering membantu ibunya menjual hasil panen gandum ke kota, tapi sejak ibunya sakit-sakitan, hal itu tak memungkinkan lagi dilakukan. 

Perlu beberapa jam dari tempat tinggal Albert menuju kota. Menjelang pagi, Albert masih melanjutkan perjalanannya, udara terasa sangat dingin seperti menusuk tulang. Dengan menggendong tas yang berisi dua buah botol susu, Albert berjalan melewati jalan setapak yang ada di perbukitan. "Sedikit lagi aku akan sampai di jembatan yang menghubungkan desa dengan jalan utama ke kota", kata Albert lirih. Albert paham untuk melewati jembatan itu harus tetap tenang dan berani, karena ada jurang dibawahnya. Meskipun jurang itu tidak tampak terlihat dalam karena tertutup kabut. Sampailah Albert di bibir jurang, terdapat jembatan yg cukup besar yang menghubungkannya ke jalan utama menuju kota. Sebelum melangkahkan kakinya melewati jembatan itu, Albert berdoa memohon keselamatan dirinya.



 "kau dengar suara itu?, itu adalah suara yang paling merdu yang pernah kudengar", kata seorang peri ke peri yang satunya lagi. "Iya benar, selain memiliki suara yang merdu, dia sepertinya anak yang baik", sahut peri yang lainnya. Mereka adalah dua sosok peri hutan yang menjaga daerah itu. Peri-peri itu sangat suka mendengar suara doa dari anak-anak meski dalam hati sekalipun. " Ayo kita beri dia kejutan", kata peri yang satunya. "Baiklah, kita tunggu saat yang tepat," sahut peri yang lainnya.

 Setelah memanjatkan doa, Albert memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke jembatan itu. Semua berjalan lancar hingga Albert sampai di ujung jembatan, tampaklah jalan utama. Kedua sosok peri itu dari balik pepohonan sibuk membaca mantra, kemudian mengarahkan tongkatnya menuju tempat Albert berdiri. Tampak sekelebat cahaya yang menyilaukan mata, tiba-tiba ada gerobak kuda yang nyaris melintas di depan Albert, dia terkejut dan menghindar hingga terjatuh ke tanah. Tampak pengendara gerobak kuda itu segera menghentikan kendaraannya dan turun mendekati Albert. 

Orang itu pun sebenarnya terkejut melihat kehadiran seorang anak yang tiba-tiba melintas di depannya. "Hai nak, apakah kamu baik-baik saja? " tanya orang itu pada Albert, sembari membantu Albert untuk bangkit dari tempatnya terjatuh. Albert meringis menahan sakit di tangannya, sepertinya tangannya sedikit lecet. "Ya, hanya sedikit sakit", jawab Albert. Tiba-tiba Albert merasa ada yang mengalir dari tas-nya. Dan ternyata tas Albert basah oleh susu yang dibawanya. Dengan cepat-cepat Albert membuka tas-nya, dan mendapati salah satu botol susu yang dibawanya pecah, karena tertindih badannya saat terjatuh tadi. Beruntung masih ada satu botol susu yang tidak pecah, pikir Albert. 

Pengendara gerobak kuda itu kemudian berkata, "Maaf ya nak, tadi kudaku berlari sangat kencang hingga aku tak melihatmu melintas di depanku, kalau boleh tahu namamu siapa dan tujuanmu kemana nak? ". Albert kemudian menjawab, "Namaku Albert, aku mau ke kota untuk menjual susu supaya aku bisa membeli makanan dan obat-obatan untuk ibu dan adik-adikku”. Mendengar itu, pengendara gerobak kuda itu merasa kasihan. Tiba-tiba pengendara kuda itu berkata, "Bagaimana kalau aku yang membeli susu yang kau jual? Kebetulan aku butuh susu untuk membuat roti". Albert menjawab,"baiklah Pak, tapi aku cuma punya satu botol susu yang tersisa". 

Pengendara gerobak kuda itupun membalas sambil tersenyum, "itu tidak masalah". Kemudian dia memperkenalkan dirinya, "panggil aku Pak Tom, aku adalah seorang pembuat roti. Hari ini, aku mengejar waktu untuk cepat sampai di kota. Ayo Albert, akan kuantarkan kau ke kota, agar kau bisa segera membeli obat dan makanan disana". Seketika mata Albert berbinar. Hatinya sangat senang menerima tawaran itu. "Baiklah Pak Tom, terimakasih." sahut Albert.

 Albert memutuskan untuk ikut menumpang di gerobak kudanya Pak Tom ke kota. Albert berusaha duduk senyaman mungkin diantara celah-celah tumpukan karung-karung tepung.

Sepanjang perjalanan Pak Tom banyak bercerita tentang pekerjaannya sebagai seorang tukang roti, dia bercerita bahwa dia sangat menyukai pekerjaannya. Hingga menjelang siang sampailah mereka di kota. "Nah, Albert sekarang kita sudah sampai di kota, ini uang atas susu yang kau jual. Uang ini bisa kamu gunakan untuk membeli obat dan makanan untuk keluargamu." kata Pak Tom. "Terimakasih banyak Pak Tom, aku pamit dulu ya," kata Albert. "Sebentar Albert, ini untukmu,"kata Pak Tom sembari menyerahkan sesuatu ke Albert. "Apa ini Pak Tom?", tanya Albert. "Ini adalah roti buatanku, cobalah". 

Albert kemudian membuka bungkus roti itu dan..."hmmm..harum sekali aroma roti ini" kata Albert, segera dia memakan roti itu dengan lahap."Wah, roti buatanmu enak sekali Pak Tom". "Kamu suka?" tanya Pak Tom, Albert mengangguk. "Dan satu lagi, ini untukmu juga Albert", sembari menyerahkan bungkusan kain kepada Albert, "bukalah saat kau tiba di rumahmu". Tanpa banyak bertanya, Albert mengambil bungkusan kain itu dan memasukkannya kedalam tas-nya. "kalau kamu membutuhkan sesuatu carilah aku ke toko rotiku Tom"s Bakery namanya ada di pusat kota tak jauh dari sini".

"Terimakasih Pak Tom", kata Albert. " Sama-sama Albert", sahut Pak Tom. Setelah berpamitan dengan Pak Tom, Albert bergegas berkeliling kota untuk mencari keperluannya. Dia membawa sekantung penuh berisi makanan dan obat-obatan. Saat langit di angkasa mulai berwarna merah, akhirnya Albert sampai di rumahnya. Hannah, ibunya Albert dan adik-adiknya tampak sangat terkejut melihat kepulangan Albert. "Albert, akhirnya kamu pulang nak, Ibu sangat mengkhawatirkanmu". Albert kemudian mendekati dan memeluk Ibu dan adik-adiknya. "Ibu aku pulang, maaf membuatmu cemas. Ibu lihat Ibu aku banyak membawa makanan dan obat". "Darimana kamu mendapatkan semua ini?" tanya Hannah penuh selidik. "Ada seseorang yang baik hati yang bersedia membeli susu perah yang kubawa kemarin Ibu, " jawab Albert dengan tenang.

Berkat Albert, Malam itu dia dan keluarganya bisa menikmati makanan yang berkecukupan. Albert merasa sangat beruntung memiliki Gwen, si sapi betina yang bisa menghasilkan susu dan karena itu dia bisa bertemu dengan Pak Tom yang baik hati. Albert teringat dengan kantong kain pemberian Pak Tom, ia segera membukanya dan Albert kaget karena kantong itu berisi sebuah buku catatan, di dalam buku itu tertulis dengan detil berbagai macam resep roti dan kue termasuk cara pembuatan mentega dan lain-lain. Ini pasti punya Pak Tom pikir Albert. 

Keesokan paginya Albert memutuskan untuk mencari Pak Tom ke kota. Sesampainya di kota Albert berkeliling mencari Toko Pak Tom, tapi Albert tak melihat ada toko bertuliskan Tom’s Bakery. Beruntunglah ada seseorang yang mau menunjukkan tempat dimana toko itu berada. Awalnya Albert bingung karena toko itu sangat besar dan di pintunya terdapat tulisan Joy’s bakery. Tercium aroma harum roti dari dalam toko itu. Dari kecil Albert memang paling suka aroma roti mentega,. Albert kemudian masuk ke dalam toko roti itu dan seorang pelayan menghampirinya, “Hai nak, kamu sendirian? Dimana orang tuamu?” Tanyanya. “Aku kesini ingin bertemu dengan pemilik toko ini, Pak Tom, bisakah aku bertemu dengannya?” Tanya Albert. “Pak Tom?” Tanya pelayan itu kebingungan, “mungkin maksudmu Pak Joy, okay tunggu sebentar, akan kupanggilkan dia ya” jawabnya ramah. 

Pelayan itu kemudian bergegas pergi dan kembali lagi bersama seorang laki-laki yang sekilas wajahnya mirip Pak Tom, hanya saja orang ini terlihat lebih muda. “Halo nak, aku diberitahu ada yang sedang mencari pemilik toko, akulah orangnya, namaku Joy, ada yang bisa kubantu nak?”Joy menyapa Albert dengan senyum yang lebar. “Namaku Albert, aku kesini ingin bertemu dengan Pak Tom dan mengembalikan buku ini”, katanya sembari menyerahkan buku catatan itu ke tangan Joy. Mendengar itu Joy terperangah, dia segera memeriksa buku catatan itu, perlahan matanya mulai berkaca-kaca. 

“Darimana kamu mendapatkan buku ini Albert?” Tanya Joy. “Pak Tom yang memberikannya padaku kemarin Pak”, jawab Albert. “Bagaimana mungkin, beliau sudah tidak ada”. Jawab Joy heran. “Tapi kemarin aku melihatnya, dialah yang mengantarkanku ke kota dan menyerahkan buku ini kepadaku”, kata Albert tegas. Sejenak Joy terperanjat, ini benar-benar tidak masuk akal, pikir Joy. Ayahku sudah tidak ada kabar dari 10 tahun yang lalu. Terakhir dia pergi meninggalkan rumah dengan gerobak kuda kesayangannya. Dan sejak hari itu dia tak pernah kembali pulang. “Albert, bisakah kau tunjukkan tempatnya saat bertemu dengannya?”, Tanya Joy kemudian. Albert mengangguk, setelah itu mereka segera berangkat ke tempat pertama kali Albert bertemu dengan Tom. 

Tibalah mereka diatas jembatan itu. “Disinilah aku bertemu Pak Tom kemarin, saat itu aku hampir tertabrak gerobak kudanya”. Joy benar-benar kebingungan. Kemudian Joy melihat sekeliling ditempat itu. Lalu dia menyusuri jembatan itu dan melihat sesuatu di bawah jembatan. Dari atas jembatan Joy melihat sebuah gerobak yang sudah hancur. Ia mengenali gerobak itu, adalah milik Ayahnya. Hati Joy hancur, ia menangis. 

Kini Joy tahu dimana Ayahnya berada. Ia merasa sangat bersalah karena baru kali ini bisa menemukan Ayahnya yang telah hilang. Rupanya sepuluh tahun yang lalu Pak Tom mengalami kecelakaan. Gerobak kudanya terperosok ke dalam jurang saat melewati jembatan tersebut. Hari itu juga Joy mengerahkan tenaganya yang dibantu para pekerjanya untuk mengangkat jenazah Pak tom dari dalam jurang itu. Pak Tom akhirnya dimakamkan dengan layak di tempat pemakaman kota. 

Joy merasa sangat berterimakasih pada Albert. “ Albert, saya Joy merasa sangat berterimakasih yang sebesar-besarnya karena atas bantuanmu akhirnya saya bisa menemukan Ayah saya”, kemudian dia melanjutkan “ adakah yang kamu inginkan Albert?” Tanya Joy dengan tulus. Albert sejenak berpikir kemudian dia menjawab, “ sama -sama Pak Joy, oia Pak Tom pernah memberikanku sepotong roti yang sangat harum dan lezat, bisakah aku meminta lebih dan kubawa pulang untuk ibu dan adik-adikku?”, tanyanya polos. “Nak, hatimu sangatlah tulus, pasti kukabulkan permintaanmu, bahkan kamu bisa membawa rotiku sebanyak yang kamu mau Albert”, kata Joy riang. Beberapa saat kemudian, Joy berkata “Nak, maukah kamu membantuku dengan bekerja di toko rotiku?,” “Tentu aku mau Pak Joy” , jawab Albert dengan sukacita. 

Sejak Albert bekerja di toko Joy’s Bakery , kehidupan perekonomian Albert dan keluarganya mulai membaik. Banyak sekali pengalaman yang dia dapat dari tempatnya bekerja, dimulai dari cara membuat mentega, cara membuat roti dan membuat berbagai macam kue, itu tak sulit baginya karena Albert menyukai pekerjaannya. Tak terasa waktu terus berjalan. Tahun demi tahun berlalu. Albert tumbuh menjadi seorang pemuda yang baik. Kini Albert sudah dikenal sebagai Albert si tukang roti, karena keahliannya dalam membuat roti dan kue sudah tidak diragukan lagi. Karena ketekunannya , Albert dan keluarganya bisa meraih kehidupan yang lebih baik. 


Instagram: @ayunancy82 nancyayu82@gmail.com

Posting Komentar untuk "Anak Pecinta Mentega"