4 Pondasi Pendidikan Humanis Munif Chatib - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

4 Pondasi Pendidikan Humanis Munif Chatib


Seperti perubahan musim, pendidikan di Indonesia mengalami berkali-kali perubahan kurikulum. Ritual resminya ganti menteri, ganti kurikulum. Ganti kurikulum, juga ganti buku. Begitu adanya. Sekedar sebagai paragraf pembuka.

Kampanye kurikulum baru 2022 dengan nama kurikulum paradigma baru, kurikulum prototipe, atau entah apalagi namanya, disebut sebagai cikal bakal dari kurikulum nasional 2024 nanti. Kurikulum impian 2024 menurut menteri pendidikan merupakan hasil olahan dari kurikulum 2013, kurikulum darurat, dan kurikulum paradigma baru (prototipe) sekaligus. Terdengar sebagai gagasan luar biasa.

Baca: Sejarah Kurikulum




Tapi, dalam artikel ini tak akan membahas dua paragraf di atas. Artikel ini akan membahas tentang Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia, Orangtuanya Manusia, dan Kelasnya Manusia. Bila nanti ada kesimpulan ada kaitannya, tentu karena pembahasan ini masih dalam ranah pendidikan dan pembelajaran. Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia, Orangtuanya Manusia, Kelasnya Manusia, adalah 4 pondasi penting dalam pendidikan yang mendudukkan murid sebagai manusia.

Keempat pondasi dasar di atas menjadi judul dari Buku karya Munif Chatib. Munif Chatib adalah seorang praktisi pendidikan dan penulis buku tentang pendidikan dan konsisten di dunia pendidikan. Munif Chatib terlahir di Surabaya, 5 Juli 1969. Munif Chatib adalah pendiri Next Edu Indonesia.  Next Edu Indonesia sebuah lembaga konsultan dan pelatihan pendidikan untuk pengembangan berbagai jenjang sekolah di berbagai daerah di Indonesia.

Kembali ke 4 buku Munif Chatib. Keempat buku tersebut ibarat struktur bangunan dengan empat pilar atau selayaknya meja dengan empat kaki, benar-benar kokoh berdiri.

Keempat buku tersebut menebali suatu pendekatan dalam pendidikan yakni pendekatan humanis. Memposisikan murid sebagai manusia, bukan sebagai obyek dari percobaan kurikulum, bukan obyek dari kekuasaan guru dan sekolah, bukan robot, bukan alat modular yang bisa diremote control, dan bukan seonggok daging atau pelengkap perangkat kelas dalam sistem pembelajaran.

Gagasan pemerintah dengan munculnya Pelajaran Budi Pekerti, Pendidikan Moral Pancasila (jaman dahulu kala sekali), Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), peningkatan kompetensi religius dan sosial, visi misi pendidikan, bahkan segala undang-undang dan peraturan pemerintah dan kementerian pendidikan bermuara pada pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa (Pembukaan UUD 1945), pendidikan yang menciptakan kondisi selamat  dan bahagia (gagasan Ki Hajar Dewantara), pendidikan yang menyenangkan, dan ramah anak, dan sebagainya.

Hal tersebut juga sejalan dengan konsep siapapun menterinya, gagasan apapun yang menteri programkan misal merdeka belajar, pakem, learning to know, learning to do, dan learning to be. Semua make sense dengan gagasan dalam 4 buku karya Munif Chatib.

Tentu sangat tepat jika 4 judul buku karya Munif Chatib menjadi pondasi penyelenggaraan pendidikan yang manusiawi. Keempat buku tersebut juga bisa menjadi bekal bagi menteri yang tidak berlatar belakang pendidikan beserta jajarannya hingga tingkat kabupaten untuk merumuskan rencana strategis pendidikan jangka pendek, menengah, dan panjang.

Sekolahnya manusia berisi tentang  penciptaan kondisi dan atmosfir bagaimana manusia bersosialisasi, berinteraksi, berkonflik dan menyelesaikannya, bermusyawarah, saling berbagi, menjadi bagian masyarakat, menganggap sekolah sebagai rumah, menganggap murid adalah anak kandung, dan mampu membuat keputusan yang tepat pada waktu yang tepat (life skill). Sekolahnya manusia adalah panggung bagi murid bagaimana menjadi manusia yang utuh membentuk keluarga dan menebarkan rasa kekeluargaan. Selayaknya anak manusia. Nilai-nilai ditanamkan agar mereka tetap menjadi manusia sesuai kodratnya.

Kelasnya manusia berbicara tentang bagaimana guru manusia melayani kebutuhan yang beragam dari murid, yang juga manusia. Proses pembelajaran yang manusiawi dengan menitikberatkan perlakuan yang juga manusiawi.

Orangtuanya manusia juga mendukung platform sekolahnya manusia dan kelasnya manusia sekaligus. Tanpa dukungan orangtua, takkan banyak berguna visi misi dan tujuan utama pendidikan yang diselenggarakan sekolah. Pihak sekolah, guru, dan orang tua harus sepaham dan sepakat mengenai kebutuhan dan layanan yang diinginkan.

Gurunya Manusia merujuk pada guru harapan masa depan murid sebagai penerus perjuangan bangsa. Guru yang menganggap sekolah adalah rumah dan keluarga serta menganggap murid sebagai anak kandung sendiri. 

Lebih lengkapnya baca Profil Guru Masa Depan Harapan Bangsa sebagai gurunya manusia,

Murid sebagai manusia secara kodrati memiliki kemampuan mengolah raga, mengolah pikir, mengolah rasa, dan mengolah hati.

Secara kodrati pula, murid yang manusia, memiliki 8 kecerdasan alami seperti yang digagas Howard Gadner yakni kecerdasan verbal linguistik, Mathematics logic, visual spacial, intrapersonal,  interpersonal, Kinestetic, naturalistic, dan music.

Dengan kemampuan alamiah tersebut menegaskan bahwa keempat buku karya Munif Chatib mengingatkan kepada para guru bahwa setiap manusia diberikan berbagai kemampuan dan itu beragam. Konsep mendidik dengan berprasangka baik tentang kemampuan murid menjadi utama. Itu memberikan penekanan bahwa tidak ada anak yang terlahir nol kemampuan (zero skill). Tinggal bagaimana guru memunculkannya, mengolahnya, dan membuatnya bermanfaat bagi kehidupan anak saat ini dan kelak.

Hipno teaching menjadi bagian selanjutnya. Guru memberikan sugesti sekaligus melayani dengan hati hingga murid menjadi tahu, paham, bisa menerapkan, dan mampu membagikannya. Hipno teaching juga mampu menciptakan kondisi positive thinking, growth minded, enjoy learning, dan bermakna.

Murid sebagai manusia juga secara alami dapat membedakan mana yang baik mana yang tidak baik. Mana yang benar dan salah, tentu prototipe tersebut harus guru munculkan terus agar murid tetap sebagai manusia yang utuh.

Di banyak kesempatan, Munif Chatib memberikan seminar, talk show, kunjungan ke sekolah-sekolah, untuk memberikan pencerahan tentang bagaimana memperlakukan manusia dalam pembelajaran. Walaupun murid adalah seorang anak, tentu mereka juga manusia.

Munif Chatib memberikan contoh-contoh praktik baik, baik sebagai kepala sekolah atau guru dalam memberikan layanan pendidikan terhadap anak manusia (murid). Jika yang membaca tulisan ini adalah guru, ada baiknya memiliki keempat buku karya Munif Chatib tersebut.

Para guru, ingat, yang di hadapan bapak ibu guru semua mereka adalah manusia yang secara alami ingin diperlakukan sebagai manusia yang beradab dan mulia. Tak bisa seorang guru berbekal seadanya sebisanya dalam hal memberikan layanan publik berupa pendidikan. Di tangan gurulah keputusan terciptanya sungai yang mengalir atau lahar yang membinasakan.

Semua anak atau murid (manusia) adalah sebongkah perhiasan. Tinggal kreativitas bermakna dari guru dan orang tua akan diasah dan dibentuk menjadi apa. Apakah akan menjadi berlian, emas, permata, mutiara, atau intan? Atau malah mencetaknya menjadi batu.

Demikian sekilas tapi panjang mengenai 4 Pondasi Pendidikan Humanis dari 4 judul buku karya Munif Chatib yakni Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia, Orangtuanya Manusia, dan Kelasnya Manusia. Semoga paparan ini bermanfaat. Terima kasih atas kunjungannya di ruangguru.cocokpedia.net.

Posting Komentar untuk "4 Pondasi Pendidikan Humanis Munif Chatib"

  • Bagikan