2 Puisi Terbaik dari Manuskrip Puisi Biru Rindu versi Cocokpedia - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

2 Puisi Terbaik dari Manuskrip Puisi Biru Rindu versi Cocokpedia



Inilah 2 Puisi Terbaik dari Manuskrip Puisi Biru Rindu versi Cocokpedia menjadi postingan kali ini. Postingan spesial tepat di tanggal 1 Januari 2022. Sebelum itu mari kembali ke kata pengantar penulisnya berikut ini. 

Begitu panjang perjalanan hidup ini. Setiap langkah adalah momen suka dan duka. Setiap detik waktu adalah kerdipan cuplikan peran sebagai manusia. Setiap helaan nafas adalah percikan kenangan dan cita-cita. Setiap lelap adalah rindu. Segalanya terbaur dalam warna-warna kehidupan yang layak kita abadikan.

Dulu, butuh secarik kertas dan pena untuk menulis. Sekarang tidak lagi. Hanya butuh sumber energi listrik. Malas menulis pun cukup bersuara dan suara pun diterjemahkan dalam tulisan, maka mengabadikan setiap momen dari sekecil apa pun wujudnya adalah bentuk terindah dari syukur.

Apapun yang tertulis akan menjadi kelanjutan inspirasi. Berbagai kisah tak akan terputus, dan tak cukup kertas untuk melukiskan semua perjalanan ini. Menuliskan sebagiannya adalah keinginan untuk abadi.

Dari 103 judul puisi dalam manuskrip ini merupakan serpihan-serpihan kecil bingkai kehidupan. Suka duka, rindu cinta, marah benci, idealis curang, lurus menikung, semua adalah pernik-pernik kehidupan yang menjelma puisi.


Itulah kata pengantar dalam buku Manuskrip puisi Biru Rindu. Biru Rindu adalah simbolik betapa dalamnya lautan rindu yang diderita. Beberapa puisi telah kami posting dalam postingan yang berjudul Manuskrip Puisi: Biru Rindu. Kali ini akan secara berkala akan menyajikan puisi terbaik dalam manuskrip tersebut. 

Masing-masing postingan akan ditampilkan mungkin 2 puisi saja. Berikut puisi terbaik versi www.cocokpedia.net. 


Ya RasululLah

 

Yang lemah lembut memimpin tetangga

Yang ahli dalam menderma dan bermurah hati

Yang sebaik-baik makhluk

Yang suci dari dosa

Yang bagaikan bintang bercahya

Yang nurnya meninggikan derajat Adam

Yang menghindarkan Nuh dari bahaya topan

Yang memberikan kekuatan kepada Ibrahim

Yang di belakangnya terdapat tanda kenabian

Yang perintahnya dipatuhi awan

Yang dahinya cemerlang dan berambut hitam

Yang hidungnya mancung alif

Yang mulutnya seperti mim

Yang keningnya melengkung nun

Yang mendengar gerit kalam Lauh Mahfud

Yang pandangannya tembus ke langit tujuh

Yang harum tapak kakinya penyembuh unta

Yang diimani binatang Dhab

Yang pohon-pohon bersalam dengan hormat

Yang batu-batu berbicara kepadanya

Yang batang kurma menangis ditinggalkannya

Yang kedua tangannya tampak berkah

Yang hatinya tidak pernah tidur

Yang memaafkan bila disakiti

Yang diam bila dimusuhi

Yang berbicara dengan Allah tanpa penghalang

Yang melakukan Isra’ di malam hari

Yang hanya Allah penghiburnya

Yang menjadi rahmat bagi sekalian alam

Yang menjadi penghulu para nabi

Yang mulia keturunannya

Yang lurus perjalan hidupnya

Yang Allah dan malaikat bersolawat kepadanya

Yang ilmunya seluas laut

Yang tutur katanya adalah al Qur’an

Yang nurnya tercipta dua ribu tahun sebelum Adam

Yang yang lahirnya di Makkah

Yang hijrahnya di Madinah

Yang ummatnya sebaik-baik ummat

Yang sepertiga ummatnya tanpa hizab ke surga

Yang diciptakan sebelum segala sesuatu tercipta

Yang memenuhi alam dengan nurnya

Yang arsy pun bergoncang karena kelahirannya

Yang lahir dalam keadaan bersujud

Yang lahir dalam keadaan berkhitan

 

Ya RasululLah, salam alaika!

(Malang, Agustus 1999)


Puisi kedua adalah Di Balik Dinding itu ada Rahasia.


Di Balik Dinding Itu Ada Rahasia

 

di balik dinding-dinding itu

ada warna-warna

ada endapan suara-suara

mengendapkan kenangan maha indah

tak ada yang tahu

hanya seorang yang telah lama meninggalkannya

tak ada yang ‘kan menengok-nengoknya lagi

karena tak ada yang berani terluka

tak ada yang ‘kan membuka-bukanya lagi

selain terkelupas

                            sendiri

                                              oleh

                                                          takdir

di balik dinding-dinding itu

ada rahasia-rahasia

yang menyimpan gerak-gerak

yang menyimpan getar-getar lembut

menguatkan pori-porinya semakin kukuh

tak ada yang menyentuhnya

hanya seorang yang setia menikmati sakit maha indah

tak ada yang kan menyentuhnya lagi

karena tak ada yang mampu merobohkannya

selain rubuh

                      sendiri

                                  oleh

                                              takdir

(Malang, Mei 1999)

Itulah 2 puisi terbaik pertama versi cocokpedia. Puisi terbaik berikutnya akan diposting pada postingan-postingan selanjutnya. Terima kasih atas kunjungannya.

 

Sumber: https://www.cocokpedia.net/2021/12/manuskrip-puisi-biru-rindu.html

Posting Komentar untuk "2 Puisi Terbaik dari Manuskrip Puisi Biru Rindu versi Cocokpedia"