Well-Dying - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Well-Dying

 

 

AKU melihat dua sinar di kejauhan. Sangat terang, menyilaukan. Mataku sakit. Sinar itu semakin mendekat, dekat, dan dekat.. Seperti mata monster dalam khayalanku. Aku begitu takut, tapi aku tak berani mengadu pada Abôji[1], karena kutahu, ia sama takutnya denganku. Wajahnya putihnya pasi. Aku juga tahu, ômma[2] berusaha menggapaiku dari jok depan, tapi ketika mata monster itu semakin mendekat, ia malah memilih menutupi wajah putihnya dengan kedua tangan. Aku sungguh takut, dan aku tak punya pilihan lain. Kupeluk erat-erat Chunhyang[3]-ku dan memejamkan mata di baliknya. Aku tak melihat apa-apa setelah itu, tapi cuping telingaku mampu merekamnya dengan baik. Bunyi jeritan itu… decitan… dan hantaman……

            BRUKKK!!!

            Aw!

Aku mendapati tubuhku di kolong tempat tidur. Basah, berpeluh. Aku gemetar. Aku takut, sungguh takut…

            Tidit…tidit…

Alarm menunjuk pukul 6. dua puluh lima menit lagi aku harus sudah berada di kantor. Aku berangkat tergesa. Sekujur tubuhku sakit sekali.

^^^

Aku melirik jam sekali lagi. Ah, cepat sekali! Sepertinya waktu 24 jam sehari sangat kurang buatku!

            Telepon di meja kerjaku tiba-tiba berdering, di antara berkas-berkas desain mesin yang berantakan.

            "Yôbo-seyo, Kimssi…"[4] dari atasanku.

            "Ada banyak keluhan untuk kita dalam minggu ini, Yu-Jin. Perangkat lunak rancanganmu untuk LCD-Queen terbaru sepertinya banyak yang menuai complain. Lightingnya lemah, visualnya kurang tajam, tengangannya juga terlalu tinggi. Dan 500 unit yang telah dikirim ke Seoul, 100 unit di antaranya dikirim kembali pada kita. Ini tidak sehat untuk perusahaan kita, Yu-Jin. Tolong selesaikan masalah ini!" suara Tuan Kim datar, tapi tegas. Satu hal yang membuatku menaruh sungkan padanya.

            "Mian hamnida, Kimssi…[5] akan saya cek perangkat lunaknya. Nanti akan kami uji coba kembali."

            "Ya, ya, secepatnya! Tidak ada waktu lagi, Yu-Jin."

            "Kûromyo[6]. Sekarang juga saya kerjakan." Aku menutup telepon dengan mendesah.

Kulirik jam di dinding ruang kerjaku sekali lagi. Hansi imnida[7]. Lagi-lagi, aku harus kehilangan jam istirahat siangku. Haffh!

            Kutinggalkan berkas-berkas desain dan keluar begitu saja. Tak kuhiraukan bunyi perutku yang keroncongan. Aku baru ingat, sejak semalam aku hanya makan sekerat roti.

            "Hwa-Yin!!"

Di luar, aku tak mendapati asistenku itu di meja kerjanya. Pasti dia sudah pergi makan siang.

            "Hwa-Yin-ûn ôdi kyesimnika?[8]" kutanyai setiap karyawan yang melintas. Tapi, tidak ada yang tahu. Menyebalkan! Ini membunuh waktuku.

            "Cari dia sekarang dan katakan aku menunggunya di ruang uji. Sekarang juga!" aku segera bergegas dan tak kuhiraukan wajah ketakutan Ni-Yun yang kuperintah. Memang, aku paling benci membuang waktu!

”HWA-YIIIN…!"

Sudah seperempat jam aku menunggu Hwa-Yin di ruang uji, tapi gadis itu belum muncul-muncul juga. Ini kali kedua aku menunggunya sangat lama ketika jam istirahat siang. Makan dimana dia?! Aturan di perusahaan ini, tidak seorang karyawan pun boleh keluar sebelum jam pulang. Aku jadi curiga!

            "HWA-YIIIN…!" aku berteriak  lagi dari ruang uji. Berharap setiap karyawan yang lewat mencarinya untukku. Ah! Sepertinya aku sudah kehilangan kesabaranku.

            "Ya, Yu-jin yôsa? Nûchoso mianhamnida[9]" Hwa-Yin menghadapku tergesa-gesa. Pasti dia dari toilet. Mukanya basah, sementara kedua tangannya tampak sibuk merapikan kerudung penutup kepalanya. Kurasa, kerudung itu yang membuatnya terlalu lama di toilet.

            "Kamu minat kerja, gak sih?! Kamu tahu aku paling benci membuang waktu, dan kamu telah membuang waktuku 47 menit 5 detik!" aku menghitung waktu di arloji.

            "Mian hamnida, yôsa." Suaranya pelan sekali. Dipelintirnya ujung kerudungnya gugup.

            "Sudahlah, kali ini kumaafkan. Siapkan semua perlengkapan dan berkas-berkas laporannya. Kita perlu menguji coba lagi  LCD-Queen. Ada system yang perlu kita perbaiki di software-nya. Siapkan catatan, dan ingat…" kalimat menggantungku menghentikan langkahnya sesaat.

            "…ini terakhir kalinya kau membunuh waktuku! Ingat itu!"

Hwa-Yin mengangguk takut-takut.

Aku mendengar desahan suaranya, sebelum ia benar-benar berlalu.

            "InsyaAllah…"

Mantra apa lagi itu?!

^^^

            Dua buah sinar di kejauhan. Seperti mata monster raksasa. Mendekat, seperti menarik pupil mataku. Aku menggigil ketakutan. Tubuhku gemetar. Chunhyang dalam pelukanku ikut bergetar. Monster itu menarik Abôji dan ômma jauh, semakin jauh….

            Abôji…  ômma…"

            Tanganku menggapai-gapai. Penuh darah. Merah…

            Seseorang merengkuhku, melindungiku di dadanya. Tangannya ringkih. Tapi, tiba-tiba ada yang mencekiknya dari belakang, dan membawanya pergi.

            "Halmôni…ANIYOOO!!!"[10]

Aaargh! Aku terjerembab di bawah ranjang. Mimpi itu datang lagi. Aku takut… sangat takut…

            Mungkin saat itu, aku terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi. Saat semua orang yang menjengukku di rumah sakit menangis, saat Halmôni membawaku ke rumah tuanya untuk tinggal bersamanya dan tidak bertemu Abôji dan ômma lagi setelah itu.

            "Halmôni, dimana Abôji dan ômma?" aku mengulang pertanyaan itu setiap saat, dan Halmôni akan selalu bilang, "Mereka sudah di surga, sayang. Mereka bahagia di sana."

Surga? Aku pernah mendengar ômma bercerita tentang surga, ketika menidurkankku dulu. Tempat yang indah. Banyak mainan dan bunga-bunga. Banyak makanan dan coklat. Tapi, kenapa ômma tidak mengajakku? Dia berjanji akan ke surga bersamaku. Dan kenapa Halmôni menangis?

            " Halmôni pasti bohong!" aku menggeleng-geleng. Dia  hanya ingin menghiburku agar tidak menangis.

            "Tidak, sayang." Halmôni mencoba merenkuhku, tapi kutepis tangan ringkihnya keras. Dia telah membohongiku!

            Abôji dan ômma telah mati! Telah mati! Aku mendengar Halmôni mengatakan itu pada tamu-tamunya yang sama tuanya dengan Halmôni. Diam-diam, aku selalu menguping di balik lemari kayu tua di ruang utama.

            "Yu-Jin, dengarlah…" Halmôni terisak, "Kita harus mati untuk menuju surga, sayang."

            "Bohong! Ômma tidak pernah bilang begitu padaku!"

            "Semua orang akan mati, sayang. Abôji dan ômma, kau dan aku. Karena kita semua akan ke surga."

            Tapi kenapa?!! Aku tak mengerti. Sama sekali tak mengerti!

Yang kumengeti, kematian telah merebut Abôji dan ômma dariku. Kematian membuat mereka meninggalkanku. Dan lihatlah, kematian juga mengambil Halmôni dariku, dua tahun kemudian. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, mati itu sakit! Masih kuingat desah napas Halmôni yang berat, desah napas kesakitan, dan wajahnya yang membiru, juga tubuh tuanya yang lemah. Kematian telah menyakiti Abôji,  ômma dan Halmôni.

            Aku takut… Aku tidak ingin mati! Aku tidak boleh mati. Aku harus hidup selamanya…

            "Itu tidak mungkin, Yu-Jin! Itu pikiran bodoh!" Mai-Yun menggeleng-geleng. Dia sahabatku sejak aku kehilangan orang-orang yang kucintai.

            "Wae?[11] Kenapa tidak mungkin? Aku telah bekerja. Kau tahu, kuhabiskan setiap waktuku untuk itu, dan membuatku punya banyak uang untuk makan, untuk ke dokter, untuk membayar uang asuransi keselamatan. Aku bisa membelinya, Mai-Yun. Aku tidak akan kelaparan, aku tidak akan sakit seperti Halmôni, aku tidak akan mati kecelakaan seperti Abôji dan ômma. Aku akan terus hidup, Mai-Yun. Aku akan membeli hidupku, berapa ribu won pun!"

            Mai-Yun tertawa mendengar ocehanku.

            "Aku serius, Mai yô-sa!" kuberikan tekanan di akhir kalimatku. Dia pikir aku bercanda?!

            "Kurasa, kau hanya butuh seorang psikiater, Yu-Jin"

            "Apa kau bilang?! Aku tidak gila, Mai!"

            "Aku tidak bilang begitu. Maksudku, kau hanya butuh seseorang yang bisa menenangkanmu, membawamu pergi dari trauma masa lalumu, dan paranoidmu. Kau tidak bisa selamanya begini!"

            "Tapi, aku tak butuh semua itu, Mai-Yun. Yang kubutuhkan hanya seseorang yang bisa menyakinkanku bahwa aku tidak akan mati. Aku akan hidup selamanya…"

            "Yu-Jin…" Mai-Yun menggeleng-geleng, "Berpikirlah lebih dewasa! Ketakutanmu itu sangat kekanakan!"

            "Kau tidak mengerti, Mai! Ketakutanku beralasan, aku yang merasakannya, dan kau tidak!"

            "Kau tahu? Kau pengecut, Yu-Jin! Kau lari dari sesuatu yang takkan pernah bisa kau hindari!"

            Ah!

            Aku mendesah. Bahkan sahabatku sendiri pun tak bisa mengerti. Tak ada gunanya lagi berdebat. Buang-buang waktu saja!

            Aku menarik arloji sekilas. Lima belas menit lagi aku harus tiba di flat. Ada desain baru yang harus segera kurancang.

            "Maaf, aku harus pulang, Mai."

            "Kau tidak makan malam dulu?"

Aku menggeleng, "Nanti saja…"

            "…Aku tidak punya waktu, ya kan?" Mai-Yun meneruskan ucapanku, kebiasaanku. "Dasar workcholic sejati" Ia menggodaku, mencairkan suasana kami yang kaku.

            "Chega chojirûn ire taedanbi mianhamnida.[12] Aku tidak bermaksud menyakitimu." Mai-Yun menatapku dengan tatapan menyesal.

Aku mengangguk, "Chebal kugôsûn ijoborisipsiyo![13]" Diselipkannya sebuah kertas bertuliskan alamat ke dalam tas cangklongku.

            Aku mengangguk tanpa melihatnya dan segera berlalu setelah membayar tar krem apel yang kami pesan dan naeng-myon pesananku untuk makan malamku di apartement nanti.

            "To mansipsiyo"[14] seruku sebelum menjalankan  mobilku, beradu dengan kendaraan lain di jalanan yang ramai.

            Hm, malam di Chungju selalu indah. Tapi, aku tak pernah menikmatinya. Itu hanya membuang waktu saja. Aku harus hidup seribu tahun lagi, dan aku harus bekerja untuk itu.

            Sekilas kulihat beberapa homeless di bangku-bangku taman kota yang kulewati. Menikmati malam sengan santainya. Bercengkrama sambil menghisap rokok dengan begitu nikmatnya. Asapnya mengepul, beradu dengan asap kendaraan di jalanan, membuat udara musim panas di bulan Juni semakin menghangat.

            Nyamannya hidup mereka! Tidak harus bekerja keras sepertiku untuk bisa hidup. Mereka pasti tidak pernah takut mati karena kelaparan, karena sakit, atau kecelakaan. Mereka tidak perlu membeli hidup mereka sepertiku. Kadang kupikir, pemerintah Korea tidak fair, mereka yang tidak bekerja keras justru mendapat tunjangan hidup. Ah, apa peduliku!

            Kularikan Skylineku menuju apartement. Rancangan desain mesin untuk produksi televisi terbaru Kimsun Industry telah menungguku. Harus kuselesaikan malam ini dan besok pagi harus kupresentasikan di depan Kimssi dan seluruh jajaran Direksi sebelum dirakit dan diujicoba. Sebagai kepala bagian teknik mesin, rancangan kali ini harus kubuat sangat sempurna. Sungguh, malam yang melelahkan!

^^^

            "HWA-YIIN…!!!"

Sepertinya, aku punya kebiasaan baru dengan bawahanku yang satu ini, meneriakinya setiap jam istirahat siang. Memang, ini di luar jam kerja. Tapi, aku tak punya pilihan.

            Presentasiku pagi tadi mendapat sambutan luar biasa, terutama Tuan Kim.

            "Hullyunghoguna!"[15] pujinya.

Aku tak sabar untuk merakitnya. Kali ini aku akan merakitnya dengan tanganku sendiri, dan kupikir, jam istirahat siang adalah waktu yang tepat, karena pasti tidak banyak karyawan di ruang perakitan. Tapi sepertinya ada sedikit masalah. Lagi-lagi, Hwa-Yin tidak ada di meja kerjanya. Padahal, tadi aku sudah membuat janji dengannya. Aku curiga, apa sebenarnya yang dilakukan gadis berpenutup kepala itu?

            "Kau lihat Hwa-Yin?" tanyaku pada seorang karyawan untuk kesekian kalinya.

20 menit 36 detik, dan semua orang yang kutanyai menjawab yang sama; TIDAK TAHU. Menyebalkan!

            "Anda mencari Hwa-Yin, yôsa?" seorang cleaning service bertanya takut-takut ketika mendengar teriakanku.

            "Ne.[16] dimana dia?

            "Sepertinya di ruang ganti karyawan."

            "Biar saya panggilkan, yôsa"

            "Jangan, saya saja" Kali ini aku yang akan mencarinya sendiri. Aku ingin memergokinya sekali-kali.

            "HWA-YIIIN!!! Kau benar-benar tidak professional!" kudapati gadis itu sedang bersimpuh dengan pakaiannnya yang serba putih. Ia berdiri tiba-tiba karena terkejut melihat kedatanganku.

            "Mian hamnida, yôsa. Saya butuh waktu 10 menit untuk menunaikan kewajiban saya" katanya gugup.

            "O? jadi, kau pikir menepati janji denganku bukan kewajibanmu?! Dengar! Kau bekerja padaku, dan kau harus professional jika masih ingin hidup dari gaji bulananmu. Persetan dengan kewajibanmu itu! Cepat berkemas! Kita sudah kehilangan 10 menit waktu kerja kita!"

            "Aniyo, yôsa! Saya lebih baik kehilangan 10 menit waktu kerja saya daripada harus kehilangan 10 menit waktu shalat saya!" Tak biasanya, Hwa-Yin membantah.

            "Sombong sekali kau! Sudah berani membantahku!

            "Maaf, Nyonya, saya memang bekerja untuk anda, itu untuk kehidupan dunia saya, tapi saya juga bekerja untuk Tuhan, untuk kehidupan saya setelah mati!"

            MATI? DIA BICARA MATI?!

            Tiba-tiba kepalaku pening, berdenyut-denyut. Potongan-potongan mimpi itu berkelebatan. Aku menutup telingaku.

            "Siapa yang akan mati?!"

            "Saya, Nyonya. Dan kita semua!"

            "Tidak! Aku tidak akan mati! Aku akan hidup selamanya…" Aku tak tahu bagaimana ekspersi ketakutanku, yang kutahu, suara Hwa-Yin tiba-tiba melunak dan menatapku iba. Baru kusadari, aku tergugu dalam dekapan tubuhnya. Aku menangis di bahunya. Ya, NYONYA YU-JIN, KEPALA BAGIAN TEKNIS MESIN MENANGIS DI BAHU BAWAHANNYA!!

            "Percayalah, Nyonya. Kita semua akan mati, tapi kita akan hidup kembali setelahnya, lebih lama dari ini. Hidup di sisi Tuhan di surga."

            Entah mengapa, aku merasa Halmôni hidup kembali dalam diri Hwa-Yin. Dan aku merasa tenang dalam dekapannya. Tenang sekali.

^^^

            Kubaca lagi alamat di selembar kertas yang diselipkan Mei-Yun ke dalam tas cangklongku malam itu. Ini kator pusat Korea Life Consulting, Co. Kubaca papan nama di atas pintu utamanya, Terapi Perkabungan. Kurasa, Mei-Yun sedang mengerjaiku.

            "muol dûrilkayo?[17]" seorang wanita menyambutku ramah.

Aku terpana sesaat. "Saya ingin terapi. Saya…" aku menceritakan masalahku, dan wanita itu mengangguk.

            Setelah menanyakan tinggi badanku, beberapa menit kemudian ia mengantarkanku ke sebuah ruang yang luas sekali. Ruang Temaram, begitu yang kubaca di pintunya. Seluas mata memandang, hanya deretan peti dan kerlip lilin. Kau melihat orang-orang tidur dalam peti yang terbuka. Berpakaian putih. Ada bunga seruni putih dalam genggamannya. Matikah mereka? Aku tiba-tiba takut.

            "Tenang, Nyonya, mereka tidak mati. Mereka tidur nyenyak sekali." Wanita itu seakan mengerti ketakutanku. "Ini yang kami sebut well-dying."

            Hm, well-dying? Sepertinya aku pernah mendengar kata itu. Sakaratul maut yang tenang. Ya, aku pernah membacanya di surat kabar Minggu.

            "Banyak pengusaha yang datang ke tempat ini setiap harinya untuk menenangkan pikiran. Well-dying menjadi trend kelas elit saat ini di Korea. Anda datang ke tempat yang tepat." Wanita itu berpromosi sambil mengantarku ke kamar ganti untuk memilih gaun putih yang cocok.

            "Wow, arûmdapguna! Anda cantik sekali!" pujinya setelah aku mengenakan gaunku.

            "Ini petinya." ia menunjuk sebuah peti kosong. Di dekatnya, seseorang menyalakan lilin.

            "Berbaringlah!'

Kalau saja bisa, aku ingin lari saat itu juga. AKU TAKUT! AKU TIDAK INGIN MATI!

            "Kita semua akan mati dan akan hidup setelahnya lebih lama lagi. Di sisi Tuhan di surga."

            Suara Hwa-Yin mendenging-denging di telingaku.

            "Ketakutan terbesar adalah ketakutan menghadapi ketakutan kita sendiri. Hadapilah ketakutan itu, yôsa!"

            Seperti ada kekuatan dari dalam peti yang menarikku. Tiba-tiba, aku telah berada di dalamnya. Berbaring yang bersidekap.

            Aku memejamkan mata. Setangkai bunga seruni putih diselipkan wanita itu di kedua tanganku yang bersidekap.

^^^

Dua buah sinar di kejauhan.

Seperti mata monster raksasa. Mendekat, seperti menarik pupil mataku. Aku menggigil ketakutan. Tubuhku gemetar. Chunhyang dalam pelukanku ikut bergetar. Monster itu menarik Abôji dan ômma jauh, semakin jauh….

Tanganku menggapi-gapai. Penuh darah, merah….

Halmôni merengkuhku, melindungiku di dadanya. Tangannya ringkih. Tapi, tiba-tiba ada yang mencekiknya dari belakang, dan membawanya pergi.

Aku menangis…menjerit…

Dan tiba-tiba…siluet bayangan muncul di antara setitik cahaya putih yang melingkari. Cahaya itu mendekat, semakin dekat. Teduh dan tidak menyilaukan.

Ia menarikku. Kerlip cahayanya melingkari tubuku. Aku bak seorang putri dikelilingi peri-peri.

Siluet sosok itu menarik tanganku. Aku mengenalinya dari ujung kerudungnya yang melambai-lambai.

Ia membawaku terbang. Terbang, tinggi sekali…ke suatu tempat yang indah. Penuh mainan dan bunga-bunga. Penuh makanan dan coklat. Juga penuh para malaikat.

Siluet itu. Suaranya mendengungkan sesuatu yang sering kusebut mantra.

Tapi kali ini merdu sekali…

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan[18]. Maka apabila telah datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.[19]

Tuhan, tolong ambil nyawaku…

Aku ingin hidup selamanya…di sisiMu…

-The End-

Cerita ini beberapa bagian ada dalam Kitab Kematian.

[1] Ayah

[2] Ibu, mama

[3] Boneka terpopuler di Korea

[4] Hallo, Tuan Kim…

[5] Maaf, Tuan Kim.

[6] Baik, Pak.

[7] Jam 1.00 siang

[8] Dimana Hwa-Yin?

[9] Ya, Nyonya Yu-Jin? Maaf saya terlambat.

[10] Nenek…Tidakkk!!!

[11] Kenapa?

[12] Maafkan atas apa yang telah kulakukan.

[13] Lupakan saja!

[14] Sampai jumpa.

[15] Excellent/ Bagus sekali!

[16] Ya.

[17] Ada yang bisa saya Bantu?

[18] QS.Al-Ankabût: 57

[19] Al-A'râf: 34



Sumber gambar:

https://kolekcijablogs.blogspot.com/

Posting Komentar untuk "Well-Dying"

  • Bagikan